Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Lagi! Hanya untukmu..


__ADS_3

Mita berjalan menghampiri Ayu lalu membisikkan sesuatu yang langsung membuatnya menatap ke arah sesuai perintah. Betapa terkejutnya dia ketika menyadari keberadaan Dika yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Mas. Bukankah kamu berjanji untuk tidak mengundangnya." Tanya Ayu seraya menyambut uluran tangan para tamu.


"Dia berkerja di salah satu perusahaan kita. Sangat tidak mungkin kalau aku meninggalkannya." Ayu menghembuskan nafas berat. Rasa sakit itu tetap saja ada karena perasaan kecewa akan sosok Dika masih bertengger di hatinya." Masih sakit? Aku merasakan itu Babe." Hembusan nafas berat yang terasa, membuat emosi Samuel terkoyak." Kamu tahu.. Hatiku ikut merasa sakit." Imbuhnya pelan.


"Jangan berfikir macam-macam Mas. Sekarang kamu Suami ku. Aku hanya masih merasakan kekecewaan."


"Itu kenapa kamu harus memintanya bersujud di kakimu."


"Tidak Mas. Tolong usir dia pergi dari sini. Aku tidak mau melihatnya." Tolak Ayu memang tidak ingin lagi melihat wajah Dika.


"Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah. Aku tidak ingin masa lalu mu tertinggal meski hanya sebutir debu."


"Terserah. Aku tidak mau bertemu dengannya." Samuel mendengus dan mulai mengeluarkan jurus ampuhnya.


"Ayo pulang dan biarkan dia berfikir kalau kamu masih mencintai nya." Sontak Ayu membulatkan matanya. Ancaman Samuel selalu bisa membuatnya tidak berkutik.


"Aku mulai menyukaimu Mas. Mana mungkin seperti itu."


"Hm." Ayu menahan lengan Samuel yang berusaha mengajaknya pergi.


"Apa mau mu Mas?" Tanya Ayu mencegah kepergian Samuel dengan memegang erat lengannya.


Mengembalikan rasa percaya diri mu..


"Ucapan penyesalan yang keluar dari mulutnya."


"Itu tidak mungkin terjadi. Dia lelaki yang tidak ingin di salahkan."


"Aku yakin dia masih mencintaimu." Ayu tertawa kecil. Dia tidak peka dengan tatapan yang di perlihatkan Dika.


"Dia memilih wanita karena lebih cantik dariku."


"Kamu paling cantik di sini."


"Karena aku Istri mu."


"Not Babe. Kamu memang sangat cantik."


Setelah ucapan tersebut terlontar, tidak ada pembicaraan. Ayu merasa sungkan pada Bik Lena juga Paman Ano jika mereka memperlihatkan perdebatan. Sementara Samuel sendiri, sesekali memperlihatkan senyum ejekan pada Dika agar targetnya merasa semakin kesal.


.


.


.


Beberapa jam kemudian. Samuel mengiring Ayu berjalan ke sebuah meja setelah mengantarkan kepergian Paman dan Bibik nya. Meja tersebut di penuhi dengan para relasi yang cukup mengenal Samuel.


"Saya ucapakan selamat Pak Sam. Akhirnya bisa menemukan tambatan hati setelah sekian lama sendiri." Ujar salah satunya menjabat akrab tangan Samuel di ikuti oleh lainnya.


"Terimakasih atas kehadirannya." Jawab Samuel seraya melirik ke Dika yang sejak tadi tidak beranjak dari tempat duduknya walaupun Tania mengajaknya pulang.

__ADS_1


"Kami yang merasa terhormat bisa di undang ke sini. Sudah lama Pak Sam tidak terlihat di perusahaan." Ayu memilih diam dan berusaha bersikap biasa saja walaupun Dika tengah duduk di belakangnya.


"Ada perkerjaan penting yang harus saya lakukan. Itu kenapa saya jarang datang ke perusahaan."


Hati Dika kian memanas ketika Samuel sengaja menyibak rambut panjang Ayu hingga memperlihatkan tanda kepemilikan menghiasi leher belakangnya.


Samuel terkekeh dalam hati. Rencananya berjalan mulus sebab hanya Dika yang bisa melihat tanda merah tersebut.


"Mas jangan." Pinta Ayu berbisik. Dia mencoba menyingkirkan tangan kekar yang menari-nari di tengkuknya namun gagal. Samuel seakan tidak mendengar permintaannya dan asyik mengobrol dengan relasinya.


"Aku tidak menyangka kamu bisa menikah secepat ini." Sahut Dika sudah berdiri di samping Ayu dan Samuel. Sontak semua orang yang duduk di sana menoleh ke arah sumber suara.


Sudah ku katakan agar mengusirnya saja. Aku yakin dia akan mengarang cerita untuk mempermalukan kita Mas.


Wajah Ayu berubah pucat meski mencoba di sembunyikan. Dia tidak ingin memperlihatkan ketakutannya pada Dika.


"Sebaiknya kita pergi Dik." Dengan kasar Dika menampis tangan Tania tanpa memperdulikan akibatnya.


"Aku belum memberikan selamat pada mantan Istriku." Seketika wajah relasi berubah aneh. Beberapa dari mereka cukup mengenal Dika yang memiliki jabatan sebagai Direktur pemasaran. Akan ku buat kau malu Samuel! Bagaimana pendapat mereka kalau mereka tahu kau menikahi wanita bekas ku!!


"Kita sudah selesai Mas. Tidak ada pembicaraan lagi. Sebaiknya kau pergi. Aku tidak membutuhkan ucapan selamat darimu." Dika membuang nafas kasar. Rasa cemburu mulai tidak terkendali padahal Ayu bukan lagi Istrinya.


"Tidak Ayu. Ini belum selesai."


"Apa yang belum selesai. Kau tidak berhak lagi mengatur ku. Silahkan pergi dan urusi kehidupan kita masing-masing."


"Sekarang aku tahu kenapa kau memilih dia daripada aku. Apa karena kau tahu dia seorang Bos besar?"


"Bukankah kau sendiri yang bilang jika dia tidak pantas menjadi Istri seorang Direktur." Imbuh Samuel malah membuat perdebatan semakin memanas. Dia tidak lagi peduli dengan pendapat relasinya dan lebih mementingkan psikologi Ayu yang hancur akibat perbuatan Dika." Lalu. Untuk apa kau berkata seperti itu sekarang. Ayunda memang tidak pantas menjadi Istrimu. Dia hanya pantas menjadi Istri ku." Para relasi mulai bergumam membicarakan perdebatan yang ada di hadapan mereka. Bukan untuk memberikan pembelaan pada Dika, melainkan Samuel. Mereka tidak percaya jika Samuel tega merebut seseorang dari tangan Suaminya tanpa alasan yang kuat.


"Kau bangga mendapatkan wanita bekas ku!"


"Sangat bangga. Hatimu sakit melihat ini bukan." Samuel meraih jemari Ayu dan mencium punggung tangannya lembut." Semua orang punya masa lalu. Yang pasti, dia sekarang milikku bukan milikmu." Emosi Dika terkoyak. Perasaannya pada Ayu tidak main-main. Ayu masih sangat spesial di hatinya mengingat sosok itu merupakan cinta pertamanya.


"Aku yakin kau masih mencinta ku. Ayo katakan Ayu. Kalau itu benar, aku akan menceraikan wanita ini." Ucapan yang di lontarkan Dika, menyayat hati Tania dan menambahkan rasa benci pada sosok Ayu.


"Tidak."


"Aku tahu kau sedang berbohong. Aku mengenalmu dengan sangat baik."


"Kau tidak mengenalku sejak lama. Anggap pertemuan kita sebagai kesalahan dan pembelajaran."


"Sampai saat ini aku masih mencintaimu." Ayu tersenyum sinis dengan tatapan tajam. Dia sungguh muak mendengar pembelaan berbau busuk yang di lontarkan Dika.


"Haha konyol. Aku membenci cinta hanya karena dirimu."


"Itu membuktikan kalau kau belum mencintai nya." Menunjuk kasar ke arah Samuel.


"Tapi dia mencintai ku." Jawab Ayu cepat.


"Cinta kalian bertepuk sebelah tangan." Dika berusaha terkekeh untuk meredam rasa amarahnya.


"Ya mungkin. Aku sudah berkata jujur padanya."

__ADS_1


"Itu tidak akan membuatmu bahagia. Harusnya kalian saling mencintai." Ayu menarik nafas panjang untuk mengendalikan amarahnya.


"Rumah tangga kita dulu juga tidak bahagia padahal kau mencintaiku. Kau menyebut ku tidak menarik, tidak membuat mu berselera bahkan kau tega berkata jijik. Lalu? Cinta seperti apa yang kau bicarakan? Jangan membuat onar dan menjelekkan namanya hanya untuk pembelaan atas nama baik mu."


"Itu kesalahan. Aku hanya menggertak agar kau mau berusaha memperbaiki penampilan."


"Itu kenapa Tuhan memisahkan kita."


"Tinggalkan dia. Aku akan menerima mu apa adanya."


"Kau yang harus melupakan niatmu. Kau bukan lagi orang yang wajib ku patuhi. Kesempatan itu sudah menghilang."


"Ini belum terlambat."


"Sudah sangat terlambat. Kau fikir, aku akan melepaskannya." Sahut Samuel tersenyum simpul." Silahkan membicarakan keburukan ku pada dunia. Sudah ku katakan aku tidak perduli." Ayu menyembunyikan wajahnya pada pundak tegap Samuel. Rasa lelah untuk berdebat dengan sosok Dika masih kental terasa.


"Aku akan risen dari perusahaan agar kau tahu kalau aku masih mencintaimu." Hati Dika masih berharap Ayu bisa memaafkan kesalahannya setelah melontarkan ucapan tersebut.


"Hm silahkan. Jika kamu keluar dari sana, aku pastikan kau tidak akan di terima berkerja di manapun." Samuel menunjuk para relasi yang merupakan pemilik beberapa perusahaan dengan isyarat mata.


Dika merasa terdesak. Dia mendengus lalu pergi begitu saja di ikuti oleh Tania.


Ayu tertunduk lemah. Dia merasa sungkan dengan sifat buruk yang Dika perlihatkan di tempat umum seperti sekarang.


"Sudah ku katakan untuk mengusirnya Mas." Ucap Ayu lirih." Dia memang seperti itu." Imbuhnya tanpa melihat sekeliling.


"Sudah percaya ucapan ku?"


"Ucapan apa?"


"Dia masih mencintaimu."


"Tidak penting membahas itu. Sekarang yang terpenting adalah pendapat teman-teman mu."


"Aku harap perasaan mu membaik setelah ini. Kamu tidak boleh lagi merasa rendah apalagi kehilangan rasa percaya diri." Ayu menegakkan pandangannya. Dia baru menyadari tujuan Samuel memancing kemarahan Dika.


"Kenapa masih memikirkan itu?" Tanya Ayu dengan nada merengek.


"Karena kamu masih memikirkannya." Manik Ayu mulai berkaca-kaca. Tentu saja dia merasa terharu akan perhatian yang Samuel perlihatkan.


Dia sampai rela di permalukan seperti tadi. Ya Tuhan.. Hilangkan segera sisa perasaan yang mengganjal ini. Aku tidak ingin mengecewakannya..


"Jangan berurusan dengannya hanya untuk ini. Aku baik-baik saja." Ayu membenamkan wajahnya pada dada bidang Samuel karena tidak sanggup menahan air mata.


"Kalau ada yang ingin memutuskan kerja sama, silahkan ajukan pada Dimas. Saya akan mengsetujui tanpa pertimbangan." Samuel mengangguk sejenak lalu mengangkat tubuh Ayu dan berjalan pergi.


Para relasi saling melihat satu sama lain seraya tersenyum. Keputusan bodoh kalau sampai mereka memutuskan kerja sama dengan lelaki sebijak Samuel.


"Padahal masih ingin mengobrol tapi Pak Sam lagi lagi tidak ada waktu." Ucap salah satunya seraya meraih ponsel mahalnya.


"Beliau sangat sibuk. Mungkin lain waktu kita bisa bertemu." Para relasi saling berjabat tangan kemudian membubarkan diri menuju mobil mewah mereka masing-masing.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2