
Meski obat sudah di konsumsi, Ayu hanya mengalami penurunan suhu tubuh sedikit. Dahinya bahkan masih terasa panas meski keadaannya lumayan membaik. Dia sudah bisa membuka matanya dan makan bubur buatan Bik Ratih.
"Apa kita pergi ke rumah sakit saja?" Ujar Samuel sesekali memeriksa dahi Ayu yang duduk lemah di hadapannya.
"Sabar Bee. Baru minum satu kali obatnya. Jadi reaksinya belum seberapa terasa." Samuel mengangguk lalu menyodorkan satu sendok bubur hangat." Kenapa kamu tadi minta maaf? Padahal ini bukan salahmu." Tanya Ayu pelan.
"Tentu saja salahku Babe. Tidak becus menjagamu sampai-sampai kamu sakit seperti sekarang."
"Memang sudah waktunya sakit. Jangan menyalahkan diri sendiri. Penjagaan mu sudah sangat baik. Sampai-sampai aku menjadi sangat manja dan lembek. Itu didikan yang salah Bee." Jawab Ayu mulai mengomel.
"Sudah ku katakan. Akan ku berikan yang terbaik."
"Terlalu baik. Aku bercita-cita menjadi Ibu yang kuat untuk anak-anak ku."
"Kamu memang kuat. Masih pusing?" Samuel meletakkan mangkuk kosong lalu mengusap lembut pipi kanan Ayu.
"Pusing, lemas, aku ingin tidur lagi."
"Hm." Samuel membantu Ayu untuk berbaring, begitupun dirinya.
"Jangan dekat-dekat Bee. Nanti kamu tertular."
"Tidak." Samuel mendekap erat tubuh Ayu dan sesekali mengecup puncak kepalanya.
Tidak dapat di pungkiri jika Ayu merasa sangat nyaman. Tangannya mulai melingkar erat di perut Samuel sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidangnya.
"Bagaimana dengan pertemuannya Bee."
"Aku pulang sebelum pertemuannya selesai."
"Katanya penting?"
"Aku khawatir. Melihatmu terus berbaring dan tidak menyentuh sandwich buatan ku."
"Bagaimana kamu bisa tahu."
"CCTV. Aku memperhatikan mu dari sana."
"Di kamar ini?"
"Iya."
"Di mana?"
"Tempat tersembunyi. Sudahlah, sebaiknya kamu beristirahat."
"Maaf Bee. Aku merepotkan mu lagi."
"Tidak Babe. Ini momen terbaik."
"Ya tentu saja." Jawab Ayu lirih.
"Kamu harus cepat sembuh. Agar bisa pergi berkuliner lagi. Kalau perlu, kita ke sekolah dasar dekat sini. Di sana sangat banyak makanan anak kecil kesukaan mu." Ayu tertawa kecil seraya membenamkan kepalanya pada dada Samuel.
.
.
.
Setelah memastikan Ayu tidur, Samuel beranjak dari tempatnya. Dia berjalan keluar kamar sambil membawa mangkuk kotor bekas bubur.
Sejak tadi pagi Samuel belum sarapan, tapi rasa lapar tidak terasa sampai sekarang. Keadaan Ayu adalah alasan kenapa dia tidak berselera menyentuh makanan.
"Bik tolong buatkan kopi yang pahit." Pinta Samuel meletakkan mangkuk di cucian kotor.
"Takarannya Tuan."
__ADS_1
"Dua sendok teh kopi dan satu sendok teh gula."
"Baik Tuan."
"Antarkan ke kamar ya." Samuel berjalan keluar dapur lalu kembali masuk ke dalam lift untuk menuju ke kamarnya. Pintu sengaja tetap di buka, agar Bik Ratih tidak perlu menombol bel pintu yang bisa menggangu tidur Ayu.
Samuel berjalan mendekati ranjang untuk memeriksa suhu badan Ayu yang tidak berubah. Terbesit rasa khawatir sampai-sampai dia memandangi wajah Ayu berlama-lama.
"Maaf Tuan. Kopinya." Suara Bik Ratih menghentikan kegiatannya.
Samuel memutar tubuhnya lalu berjalan menghampiri Bik Ratih untuk mengambil kopi.
"Em Tuan mau di siapkan menu apa untuk makan siang."
"Tidak perlu Bik."
Apa Tuan sudah makan di luar? Tapi tidak mungkin karena Nyonya Ayu berada di rumah.
"Saya belum lapar. Bibik istirahat saja."
"Tuan hanya sarapan sandwich tadi."
"Itu sudah cukup."
"Ya sudah. Permisi Tuan.," Samuel menutup pintu dan meletakkan kopi panasnya di atas meja. Dia duduk di sofa lalu meraih laptop untuk memeriksa laporan baru.
"Kamu belum makan Bee?" Tanya Ayu lirih. Kondisi tubuh yang tidak baik membuatnya tidak dapat tidur lelap walaupun matanya terasa berat.
"Kenapa? Apa semakin pusing?" Jawab Samuel balik bertanya. Dia berjalan menghampiri Ayu dan memeriksa kondisinya.
"Aku baik-baik saja. Kenapa di periksa terus menerus."
"Kamu masih demam. Bagaimana mungkin kamu sebut itu baik." Nafas terbuang kasar. Samuel merasa tidak sabar dan ingin segera melihat Ayu membaik.
"Tapi sudah lebih baik Bee. Cepat makan, kamu belum makan siang kan?"
"Ini demam biasa. Aku hanya sedikit lemas. Tidak perlu terlalu khawatir." Ayu menebak jika Samuel kehilangan selera makan karena keadaannya. Dia merasakan sendiri bagaimana dalamnya perhatian yang di berikan padanya selama ini.
"Aku ikut tersakiti. Bagaimana bisa aku makan." Jawab Samuel lirih.
"Terimakasih atas perhatiannya Bee. Tapi tetap harus makan. Kalau kamu ikut sakit bagaimana?"
"Kamu yang akan merawat." Ayu menghela nafas panjang.
"Kalau aku sakit, bagaimana bisa merawat mu?"
"Aku berjanji akan lebih kuat darimu walaupun kita sama-sama sakit." Tentu saja Samuel punya ratusan jawaban agar Ayu berhenti khawatir.
"Bakso pesanan ku Bee?"
"Ada di dapur. Aku menyuruh Bibik menyimpannya."
"Tolong bawa ke sini."
"Kamu lapar? Bukankah tadi baru saja makan."
"Mau bagaimana lagi kalau lapar. Kamu tahu kan makan ku banyak." Jawab Ayu beralasan.
"Hm biar ku panaskan dulu."
"Dengan satu piring nasi." Imbuh Ayu pelan.
"Hehe. Serius?"
"Iya serius. Cepat Bee. Aku lapar sekali."
"Sebentar ya." Tidak ada kata lelah ataupun mengeluh. Samuel harus kembali ke bawah untuk menuruti permintaan Ayu.
__ADS_1
.
.
.
Sepuluh menit kemudian, Samuel datang dengan nampan di tangannya. Terpaksa dia memanaskan bakso sendiri karena Bik Ratih terlanjur beristirahat.
"Babe. Apa kamu tidur?" Tanya Samuel meletakkan nampan di atas meja.
"Tidak. Aku menunggumu." Dia harus makan.
"Makan di sini ya. Takut kuahnya tumpah." Samuel menghampiri Ayu. Dia menyikap selimut lalu mengangkat tubuh Ayu dan mendudukkannya di sofa.
Sangat pusing, tapi Ayu mencoba menahannya sebentar agar bisa merajuk Samuel untuk makan.
"Bagaimana caranya makan Babe. Aku tidak pernah dengar bakso di makan dengan nasi."
"Seperti makan dengan sup ayam. Tuangkan kuah dan bakso ke dalam piring Bee."
"Oh baik." Setelah melakukan apa yang Ayu perintah, Samuel kembali menyuapi Ayu tanpa di minta." Enak?" Tanya Samuel seraya tersenyum.
"Enak. Em.. Sekarang kamu yang menghabiskan sisanya." Pinta Ayu pelan.
"Hehe. Tidak. Bukankah kamu yang minta menu ini?"
"Iya."
"Katanya lapar? Kenapa aku yang harus menghabiskan nya. Aku belum lapar."
"Kamu tidak mau memakan sisa ku? Ya sudah buang saja." Jawab Ayu sengaja menggertak. Dia sedang berusaha membuat Samuel makan.
"Mana mungkin begitu? Aku mau memakan sisa makanan mu."
"Makan kalau mau."
"Kamu sedang mengerjai ku?"
"Makan kalau mau. Hanya itu perintahnya."
Jurus yang sangat ampuh sebab Samuel langsung memakannya tanpa berani lagi berprotes. Ayu tersenyum lalu bersandar lemah pada pundak Samuel.
"Sengaja?" Tanya Samuel seraya mengunyah.
"Hm. Walaupun tidak enak, asal makan Bee."
"Enak."
"Karena sisa ku?"
"Ya tentu saja. Terimakasih."
"Untuk apa?"
"Membuat aku lapar."
"Aku hanya tidak mau kamu sakit." Jawab Ayu dengan mata terpejam.
"Tidurlah. Nanti ku pindahkan."
"Tapi harus habis ya."
"Iya siap."
Jantung Samuel berdebar-debar seakan dirinya kembali jatuh cinta pada sosok yang bersandar lemah di pundaknya. Perhatian yang Ayu berikan dengan cara sederhana, membuat perasaan cintanya semakin dalam.
🌹🌹🌹
__ADS_1