Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Kerendahan hati Ayu


__ADS_3

Malam itu Dika menyempatkan diri untuk menengok Vivian dengan cara sembunyi-sembunyi. Dia tidak tahu kalau sampai saat ini orang suruhan Tania masih membututi nya.


Setibanya di ruang perawatan. Langkah Dika tertahan ketika melihat Farel berada di sana. Apalagi seluruh wajah Vivian terlihat di perban.


Sial! Pasti wajahnya hancur. Sebaiknya aku pergi saja. Aku tidak mau berurusan dengan wanita buruk rupa.


Tepat di saat Dika memutar tubuhnya. Suara Vivian memanggil namanya.


"Pak Dika." Terpaksa, Dika kembali memutar tubuhnya karena terlanjur ketahuan.


"Ku fikir kamu sendirian, ternyata sudah ada yang menjaga." Jawab Dika beralasan. Dia melangkah mendekat sesekali melirik ke tatapan tajam Farel.


"Untuk apa kau ke sini?"


"Menjenguknya. Bagaimana keadaan mu?" Vivian meraih lengan Dika lalu memegangnya erat ketika Dika mendekat.


Menjijikkan sekali!


Tanpa rasa bersalah, Dika melirik malas ke arah wajah Vivian yang berbalut perban. Padahal kejadian yang menimpa Vivian akibat perbuatan Tania, Istrinya.


"Aku tidak baik. Aku fikir kamu tidak akan datang." Tatapan Vivian beralih pada Farel." Sebaiknya kau pulang saja. Aku sudah ada dia." Vivian menyangka kalau Dika masih ingin melanjutkan hubungannya setelah insiden tersebut. Dia tidak tahu kebusukan lelaki yang saat ini berada di sampingnya.


"Tidak bisa Vivian." Dika menyingkirkan tangan Vivian lalu memundurkan tubuhnya.


"Maksudmu?"


"Kamu tahu aku sudah beristri kan. Aku hanya sekedar menjenguk dan tidak bisa bermalam di sini." Wajah Vivian sontak berubah kecewa. Dia mengira jika percintaan kemarin sanggup menghadirkan perasaan suka di hati Dika. Apalagi mengingat ketika Dika memujinya dengan indah. Ucapan itu cukup membuat Vivian terhanyut sampai-sampai dia merelakan tubuhnya di jamah tanpa tarif.


"Ku fikir hubungan kita istimewa. Bukankah kamu ingin bercerai dari Istri mu?"


"Aku sudah berbaikan. Em.. Aku pergi, semoga keadaan mu cepat membaik." Dika tersenyum tipis seakan tengah menertawakan lalu berjalan keluar ruangan.


Farel mendengus seraya menatap malas ke arah pintu ruangan. Kecurigaannya pada Dika masih saja melekat apalagi saat itu Dika satu-satunya orang yang berada di apartemen yang tidak bisa sembarang di masuki.


"Kamu berharap apa darinya." Ucap Farel tegas.


"Hubungan yang spesial." Jawab Vivian lirih. Jabatan dan ketangguhan Dika ketika di ranjang, menjadi poin tertinggi bagi Vivian.


"Berhentilah Vian. Dia sudah berkeluarga."


"Kau jangan munafik Farel! Aku tahu semua keburukan mu juga."


"Iya. Tapi kamu masih jadi prioritas untukku."


"Aku tidak. Kau payah. Perkerjaan mu buruk, tidak menghasilkan banyak uang. Gajiku bahkan lebih besar!!" Farel menghembuskan nafas berat. Selama ini dia mati-matian mencari perkerjaan sampingan hanya untuk memenuhi kebutuhan Vivian yang menyukai barang branded.


"Meski begitu, aku akan membahagiakan mu. Apapun caranya! Walau aku harus jadi perampok sekalipun!"

__ADS_1


Hatiku sakit sekali! Mas Dika sudah tidak mau lagi bersama ku! Aku tidak terima! Aku tidak mau dia di miliki wanita lain termasuk istrinya.


"Penjarakan Dika atas inside yang menimpaku." Ucap Vivian dengan wajah datar. Setelah Istrinya meminta cerai. Aku akan mencabut tuntutannya dan kita bisa selalu bersama tanpa ikatan.


"Serius?" Tanya Farel tidak menyadari jika dirinya sedang di manfaatkan.


"Ya. Aku sakit hati Farel. Dia harus bertanggung jawab atas musibah ini."


"Akan ku usahakan. Walaupun tidak ada bukti, aku akan menyeret dia ke dalam penjara."


"Hm. Aku akan memberikan kesaksian palsu." Vivian tersenyum simpul di balik balutan perban. Perkenalan singkat dengan Dika, membuat perasaannya sedikit tidak waras.


Cinta memang segila itu. Banyak manusia lupa diri karena cinta. Saling menjatuhkan bahkan saling membunuh hanya agar kesakitan nya bisa terbalas. Keindahan akan kata cinta, bisa menghanyutkan perasaan juga bisa menjadi belati tajam yang siap menikam.


🌹🌹🌹


Keesokan harinya...


Ayu menyiapkan kopi untuk pertama kali. Hari ini dia sudah bisa bangun lebih awal daripada Samuel. Hanya ada kopi sebab dirinya tidak bisa membuat sandwich.


Baru saja dia akan membangunkan Samuel, bunyi ponsel membuatnya membelokkan langkahnya.


Tertera nama Dimas di sana sehingga Ayu mengambil ponsel tersebut lalu berjalan menghampiri Samuel yang masih berbalut selimut.


"Bee. Dimas menelfon." Ucap Ayu seraya mengusap lembut lengan kekar milik Samuel.


"Setengah tujuh."


"Tumben sekali." Segera saja Samuel menerima panggilan tersebut.


📞📞📞


"Ada apa Dim?


"Banyak barang menghilang di cabang bagian timur.


"Di tempat lelaki sialan itu!


Ayu menghembuskan nafas berat dan akan beranjak namun tangan kiri Samuel menahannya dengan melingkar erat di pinggangnya.


"Apa kamu tidak bisa mengatasinya sendiri?


"Sebaiknya Tuan sempatkan datang sebentar. Pelakunya sudah di temukan tapi saya tidak bisa memberikan keputusan.


"Kenapa hah?


"Saya tidak tega Tuan karena pelakunya Pak Ipul. Satpam yang sudah lanjut usia. Tapi barang yang sudah di curi cukup banyak.

__ADS_1


"Ya sudah aku akan ke sana.


"Baik Tuan. Saya tunggu kedatangannya.


📞📞📞


"Ada apa Bee?" Tanya Ayu ingin tahu. Samuel meletakkan ponselnya lalu memberikan kecupan singkat pada pipi Ayu sebelum menjawab pertanyaan.


"Pengkhianatan Babe. Apalagi.. Banyak orang munafik di sekitar kita." Mimik wajah Samuel terlihat kesal jika ada sebuah masalah yang menyangkut pengkhianatan. Ayu sedikit paham karena beberapa kali Samuel menunjukkannya.


"Korupsi lagi?"


"Hm semacam itu. Padahal dia sudah lanjut usia tapi kenapa kelakuannya seperti itu!!" Sontak Ayu menoleh cepat.


"Pelakunya orang tua Bee?"


"Iya. Aku harus pergi sedikit lama. Jika masalah ini tidak di selesaikan sampai akarnya, akan berlanjut nantinya." Samuel berdiri di ikuti oleh Ayu yang langsung merapikan tempat tidur.


"Aku ikut Bee." Pinta Ayu lirih. Emosi Samuel yang terkadang tidak terkontrol menjadi alasan utamanya untuk ikut. Dia tidak ingin Samuel menjadi lelaki yang tidak bisa menghormati orang tua bahkan sampai mengumpatnya.


"Tidak. Kamu di apartemen saja. Paling lama hanya dua jam." Sementara Samuel menolak keinginan Ayu karena di perusahaan itulah Dika berkerja.


"Kenapa tidak boleh? Apa di sana banyak staf wanita?"


"Aku tidak tahu Babe. Aku jarang ke sana karena itu kantor cabang."


"Ya sudah aku ikut."


"Di sana ada lelaki sialan itu. Kalau kamu bisa menegakkan kepala saat bertemu dengannya. Kamu boleh ikut." Ayu membalikkan tubuhnya seraya tersenyum ke arah Samuel.


"Tidak perlu di tegakkan Bee. Posisiku sekarang sudah terlihat jelas. Tujuanku ke sana karena aku takut kamu terbawa emosi." Daripada nanti Mas Samuel bersikap kasar pada orang tua. Lebih baik aku ikut walaupun ada kemungkinan akan bertemu Mas Dika.


"Mungkin aku sama seperti mu. Pengkhianatan itu membuatku tidak bisa mengontrol emosi sampai saat ini."


"Itulah manfaatnya aku harus ikut. Aku tidak mau kamu bersikap kasar pada orang tua. Itu bukanlah sifat yang ada pada lelaki dewasa." Ayu berjalan perlahan lalu menyerbu Samuel dengan pelukan hangat.


"Hm ya Babe." Kamu sangat berbeda darinya. Sifat mu begitu rendah hati tidak sepertinya yang berbalut kesombongan.


"Aku hanya bisa menyediakan kopi hangat Bee."


"Biar ku buatkan sandwich nya. Makanan beratnya menyusul." Karena tidak ingin melepaskan pelukannya. Samuel mengangkat tubuh Ayu ikut bersamanya.


Aku mengingat sumpah serapah mu Mas. Ada pengusaha bodoh yang sudah menjadikanku Istri. Sekarang terlihat jelas siapa yang di tuduh bodoh atau benar-benar bodoh.


Ayu tersenyum simpul, menyandarkan kepalanya ke pundak, seraya sesekali memberikan kecupan singkat pada leher Samuel yang tengah memoles roti dengan selai coklat dan kacang.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2