Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Obsesi Alan


__ADS_3

Alan bersenandung lirih sambil menepuk-nepuk setir mobil lembut. Di tengah kesibukannya, dia menyempatkan untuk makan siang bersama Mita.


Namun di balik itu semua, terselip sebuah alasan yang cukup gila. Alan memilih Mita dan sangat menginginkan menjadikannya Istri karena ada beberapa sikap Mita yang cenderung mirip seperti Ayu.


Cara Mita berfikir, kesederhanaannya mengingatkan dia pada sosok Ayu apalagi sekarang dia tahu kenyataan kalau keduanya bersahabat.


"Aku tidak akan melepaskannya apapun yang terjadi." Gumam Alan tersungging lalu membuka pintu untuk Mita dari dalam.


"Maaf Mas lama." Ujar Mita duduk dan mengenakan sabuk pengaman.


"Tidak apa. Mau makan di mana?" Tanya Alan mulai melajukan mobilnya.


"Terserah Mas."


"Sudah berapa lama kalian saling mengenal?" Mita menoleh karena tidak mengerti dengan siapa yang di maksud Alan.


"Siapa?"


"Ayu?"


"Teman dari SD. Dulu Ayu sempat mengontrak di dekat rumahku sebelum akhirnya pindah."


"Oh. Itu kenapa kalian banyak memiliki kesamaan." Mita tersenyum. Dia tidak merasa keberatan atas pemikiran Alan." Kenapa aku tidak pernah melihatmu bersamanya waktu aku masih tinggal dengan Mama?" Tanya Alan lagi.


"Kami putus hubungan sejak Ayu menikah. Dia jarang menghubungi apalagi untuk bertemu."


"Aku harap kamu bisa belajar banyak darinya. Ayu sosok wanita yang baik dan sangat patuh pada Suami nya walaupun Dika tidak layak untuk di patuhi." Mita mulai merasa tidak nyaman sebab sejak pertemuannya dengan Ayu, Alan selalu saja menyelipkan nama Ayu di setiap pembicaraannya." Sayang sekali dia sudah menikah lagi." Gumam Alan tidak sengaja mengucapkannya.


"Kalau belum menikah Mas?"


"Sayang untuk di lewatkan. Wanita cantik itu banyak, tapi yang hatinya baik itu sulit di cari."


"Jadi maksudnya? Hatiku busuk. Begitu?" Alan menoleh seraya tersenyum. Obsesinya pada sosok Ayu membuatnya tidak menyadari jika perkataannya bisa menyakiti hati Mita.


"Jangan salah paham. Ayu sudah ku anggap sebagai Adikku sendiri. Aku bersyukur ada lelaki baik yang menikahinya." Kenapa bukan aku saja. Kulit Ayu sangat putih dan menggemaskan tidak seperti Mita yang kulitnya coklat.


Mungkin benar kalau Alan lebih bisa bersikap dewasa. Tapi saudara tetaplah saudara yang pasti memiliki sedikit kemiripan seperti yang tengah bergejolak di hati Alan.


Aku merasa ada sesuatu yang berubah semenjak Mas Alan bertemu Ayu. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Aku Mita Mas, bukan Ayu. Walaupun kami bersahabat, kami memiliki banyak perbedaan." Jawab Mita dengan nada ketus. Dia yang sejatinya sangat mencintai Alan tentu merasakan kecemburuan.


"Paling tidak, sedikit ada kesamaan."


"Kami berbeda."


"Itu kenapa kamu harus belajar banyak dari Ayu agar kamu tahu bagaimana tipe wanita idamanku."


"Sebaiknya kita putar balik Mas." Pinta Mita tiba-tiba.


"Kenapa?"


"Sejak kemarin kau membicarakan Ayu dan Ayu padahal aku sudah berusaha menerima semua kekurangan mu.".


"Jangan marah. Aku hanya kagum padanya. Bukankah kamu tahu sekarang dia sudah bersuami?"


"Ya. Lalu? Untuk apa membicarakannya?"

__ADS_1


Walaupun Mita memiliki tubuh lebih ramping dan profesional dari Ayu. Namun dari segi wajah juga warna kulit Mita kalah telak.


"Katamu akan menjadi seseorang sesuai dengan keinginan ku?"


"Tapi bukan untuk menjadi orang lain."


"Hm iya maaf. Kita sampai. Jangan marah ya." Alan tersenyum lalu turun dari mobil bersama Mita.


Setelah memesan, keduanya duduk di salah satu tempat yang ada di luar resto.


"Aku mau ke toilet sebentar Mas." Mita membawa tas kecil miliknya sementara ponselnya di tinggalkan.


Alan celingak-celinguk untuk memastikan keadaan aman. Dia mengambil ponsel Mita lalu mencari kontak milik Ayu dan mengambilnya diam-diam.


Kenapa kau tidak menjadi Istriku saja Ayu. Sampai saat ini aku tidak bisa berhenti menggilai mu.


🌹🌹🌹


Di tengah acara makan siang. Seorang wanita muda tiba-tiba menghampiri meja Ayu dengan sopan. Dia menjelaskan kalau dirinya merupakan seorang mahasiswa yang sedang melakukan ujian praktek.


Samuel yang tidak sepenuhnya percaya, meminta tanda pengenal si wanita untuk di jadikan bukti.


"Ini identitas saya Kak. Saya benar-benar mahasiswa dan bukan ingin menipu."


"Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Ayu ramah.


"Saya ingin menawarkan produk ini kak." Mengeluarkan lima macam lipstik dengan warna berbeda." Ini waterproof dan tahan selama 24 jam. Jadi kalau Kakak ada acara yang membutuhkan waktu panjang, tidak perlu khawatir karena lipstik ini hanya perlu di gunakan satu kali." Ayu yang tidak tahu menahu tentang dunia make up, percaya begitu saja bahkan memilih warna yang menurutnya bagus.


"Berapa harganya?" Tanya Ayu seraya masih memilih.


"Murah kok Kak, hanya 75 ribu saja."


"Tidak ambil 2 Kak. Mungkin ingin warna yang lain?"


"Hm ya sudah aku ambil 2." Samuel hanya bisa memperhatikan seraya menikmati makan siangnya.


"Terimakasih ya Kak. Permisi, maaf sudah menganggu." Ayu tersenyum ramah sampai si wanita benar-benar pergi.


"Bibirmu sudah merah. Untuk apa memakai itu?" Tanya Samuel mulai berceloteh. Dia melirik ke wajah Ayu yang menurutnya sudah sangat cantik.


"Agar tidak pucat Bee. Warnanya berbeda kok."


"Hm terserah Babe. Kamu bisa membeli barang sesuai keinginan mu. Pin dari ATM adalah tanggal pernikahan kita."


"Terimakasih Bee. Tapi aku tidak akan keluar kalau tanpamu. Aku merasa ATM itu tidak perlu, uang cash saja sudah cukup."


"Ya jangan coba-coba untuk keluar tanpa seizin ku."


"Hm iya."


"Kamu bisa belanja lewat online."


"Kalau aku membutuhkan barang, akan ku lakukan."


Benar-benar terlalu sederhana. Dia bahkan belum minta apapun sejauh ini..


Samuel tidak menyadari jika dulunya Ayu di asuh oleh kedua orang tua yang menyuguhkan kesederhanaan. Hal itu membuat Ayu enggan memikirkan keinginan yang berlebihan. Asal dia bisa hidup baik bersama Suami nya, itu sesuatu yang menurutnya sudah lebih dari kata bahagia.

__ADS_1


"Apa kita langsung pulang Bee?" Ayu menggeser piringnya yang kosong.


"Kamu punya tujuan lain?"


"Tidak Bee, pulang saja."


"Hm aku akan menyelesaikan pembayaran lalu pulang." Samuel beranjak dari tempatnya di ikuti oleh Ayu. Dia berdiri tepat di samping Samuel yang tengah bertransaksi.


Namun tiba-tiba saja dia beranjak pergi ketika melihat seseorang yang cukup di kenalnya.


"Mbak Elis?" Sapa Ayu mengabaikan peringatan Samuel yang berusaha menghentikannya.


Elis berhenti lalu menoleh ke arah Ayu dengan tatapan tajam. Penampilannya terlihat lusuh dan tidak terawat.


"Oh kau!" Jawab Elis ketus.


"Mbak ingat aku?"


"Tentu saja ingat. Kau adalah wanita yang sudah menghancurkan hubungan pernikahan ku dengan Mas Alan!" Sontak Ayu membulatkan matanya dengan bibir setengah terbuka.


"Mbak bilang apa? Bukankah Mbak Elis yang meminta cerai karena tidak tahan dengan Bu Erna?"


"Mana bisa tahan kalau kenyataannya Mas Alan lebih menyukai Adik iparnya daripada Istrinya sendiri. Aku pernah bicara dengan Bu Erna tapi dia tidak perduli padaku! Dia juga tidak perduli pada nasib Mila cucunya sendiri." Ayu mengulurkan tangannya dan berusaha meraih jemari Elis namun di tampis kasar.


"Aku baru mengetahui ini Mbak."


"Aku tidak perduli dan tidak ingin perduli lagi! Jangan menyapaku! Kita tidak pernah saling mengenal." Nafas Ayu terhenti sesaat seraya menatap kepergian Elis dengan motor bututnya. Kenyataan yang di dengar sangat mengejutkan baginya sebab selama ini dia tidak menyadari gelagat ketertarikan yang di perlihatkan Alan.


"Kenapa ceritanya berbeda?" Sahut Samuel yang ternyata sudah berdiri di belakang Ayu.


"Aku tidak tahu Bee. Aku juga baru mendengar itu." Segera saja Ayu meraih ponselnya dan berniat menghubungi Mita. Namun matanya terbelalak ketika beberapa pesan dari nomer tidak di kenal tertera di layar ponselnya.


💌Ayu? Apa ini nomer mu?


💌Aku Mas Alan.


💌Kenapa kamu tidak menjawab?


💌Save nomernya ya❤️


Sontak Samuel meraih ponsel Ayu lalu memblokir nomer milik Alan.


"Dasar keluarga gila!" Umpat Samuel kesal." Aku sudah curiga sejak awal bertemu kemarin. Dia memujimu dengan cara tidak normal." Imbuhnya menimpali.


"Bolehkah aku bertemu Mita malam ini Bee? Aku ingin memperingatkan dia untuk tidak berhubungan lagi dengan Mas Alan."


"Biarkan saja. Kalau mereka menikah, dia akan berhenti mengusik mu."


"Tidak Bee. Mita harus memutuskan hubungannya. Aku tidak mau dia merasakan kegagalan seperti yang ku alami."


"Aku bisa apa kalau itu keinginan mu. Akan ku antarkan tapi nomormu harus kembali di ganti setelah kamu membuat janji dengan Mita."


"Ya Bee. Terserah."


"Hm kita pulang." Ayu memegang erat lengan Samuel sambil sesekali menempelkan bibirnya di sana. Dia ingin meredam rasa cemburu yang pasti sudah bergejolak di hati Samuel.


Mungkin Mas Sam benar. Banyak orang munafik di sekitar kita..

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2