Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Mulai cemburu


__ADS_3

Ines yang baru saja pulang dari perkerjaannya, menghentikan langkahnya ketika menyadari keberadaan Samuel.


Awalnya dia memperhatikan sosok itu dari kaca jendela restoran, untuk memastikan kalau lelaki itu benar-benar Samuel.


"Siapa wanita di sampingnya? Setahuku dia tidak punya pacar? Apa adiknya? Cih! Penampilannya norak." Umpat Ines memutuskan masuk. Dia memesan makanan dan berpura-pura tidak sengaja bertemu untuk mengorek informasi. Apa dulu Samuel berpura-pura memiliki banyak hutang? Kenapa dia melakukan itu? Ah perfect sekali untuk di jadikan pasangan. Tampan dan kaya..


Ines memperhatikan lekat kegiatan Samuel bersama Ayu sambil menunggu pesanannya di buat.


"Berapa Kak." Tanya Ines mengeluarkan dompetnya.


"239 ribu."


"Ambil kembaliannya." Ines mempercepat langkahnya menuju meja Samuel dengan harapan besar." Samuel? Astaga kebetulan sekali. Aku boleh bergabung kan? Aku makan sendirian tadi." Ujarnya langsung duduk tanpa menunggu di persilahkan.


Samuel tidak menjawab dan hanya mengunyah makanannya pelan seakan dia tidak melihat siapapun di hadapannya. Dia menganggap Ines bukanlah seseorang yang penting namun perasaan itu berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan Ayu.


Apa dia mantan Istrinya? Astaga.. Cantik sekali.


Ayu malah tersenyum tipis menyambut sapaan Ines. Dia merasa canggung bahkan raut wajahnya terlihat menegang.


"Apa kamu tinggal di apartemen itu atau sekedar singgah?"


Samuel masih tidak bergeming sehingga membuat Ayu mendongak, menatap wajah garangnya dari samping.



Mas Sam kelihatannya tidak suka. Itu berarti wanita ini adalah mantan Istrinya? Kenapa harus bertemu lagi? Bagaimana kalau Mas Samuel kembali padanya.


Kini kegagalan rumah tangga menjadi momok mengerikan bagi Ayu akibat rumah tangga pertamanya yang berantakan.


"Ma Mas.."


"Sebentar lagi aku selesai Babe." Jawab Samuel cepat. Sontak Ines memperlihatkan wajah tidak suka saat menyadari jika Ayu bukanlah adiknya.


"Oh kalian berpacaran?" Celoteh Ines lagi.


"Saya Istrinya." Samuel membuang nafas kasar ketika mendengar jawaban yang di lontarkan Ayu.


"Tidak perlu di jawab." Sahutnya mempercepat kunyahannya. Dia masih saja tidak mau menyisakan makanan sedikitpun sesuai dengan nasehat Ibunya.


"Padahal baru dua Minggu lalu kita bertemu. Jadi kamu bukan pegawai Cafe itu?"


"Masih banyak tempat, kenapa duduk di sini?" Jawab Samuel tegas namun matanya terlihat tidak menatap ke arah Ines. Dia berusaha menjaga perasaan Ayu yang mungkin akan cemburu.


"Aku makan sendirian, ku fikir bisa bergabung dengan kalian."


"Kau bahkan tidak bertanya dan langsung duduk." Menunjuk kasar ke Ines.


"Aku minta maaf atas sikapku dulu." Ayu menddesah lembut. Perkataan Ines semakin memperkuat dugaan nya. Samuel sendiri hanya tersenyum simpul penuh hinaan." Lelaki itu sudah bersuami dan sekarang aku menyesal." Imbuhnya tidak mempedulikan keberadaan Ayu yang sudah menjelaskan akan statusnya.


"Kau sedang bicara apa!"


"Aku yakin kalau kamu pasti sakit hati saat itu."

__ADS_1


"Memangnya kau siapa sampai-sampai membuatku sakit hati?"


"Sudahlah Sam. Jangan berpura-pura dan meminta wanita ini mengaku sebagai Istri mu."


"Sebaiknya Mas selesaikan masalahnya dulu. Aku akan menunggu di luar." Ujar Ayu berdiri di ikuti Samuel.


"Hm kita pulang." Sosok Ines benar-benar tidak penting sehingga Samuel memutuskan untuk pergi walaupun nasi di piringnya belum habis.


"Aku tahu wanita itu bukanlah tipe mu." Sahut Ines sontak membuat Samuel geram. Dia meraih gelas berisi air putih lalu menyiratkan nya ke arah Ines.


"Tutup mulutmu jallang!" Teriak Samuel dengan mata memerah.


"Apa yang kau lakukan! Bajuku jadi basah!!"


"Itu karma instan! Jangan pernah menyapa lagi! Aku merasa terhina!" Samuel mengiring Ayu keluar restoran meninggalkan Ines yang berteriak-teriak seperti orang gila. Penampilan menjadi sesuatu yang penting sehingga Ines sangat panik sampai-sampai harus meninggalkan tempat menuju ke toilet terdekat.


.


.


.


"Tidak baik begitu Mas."


"Dia sok tahu Babe."


"Bukankah dia memang tahu segalanya tentangmu." Jawab Ayu pelan. Pegangan tangannya mulai merenggang sebab hatinya merasa tidak rela.


"Sudah tahu jawabannya kan." Samuel menoleh. Kepalanya tertunduk menatap wajah tidak suka yang Ayu perlihatkan.


"Mana ku tahu kalau kamu tidak mengatakannya." Kepalanya kembali di tegakkan dengan mata yang sesekali memperhatikan.


"Seharusnya kamu mengatakannya Mas. Aku tidak apa, kita berdua memang punya masa lalu." Nada bicara Ayu mulai meninggi. Seharusnya Samuel merasa takut namun nyatanya dia malah senang ketika Ayu memperlihatkan wajah cemburunya untuk pertama kali." Aku tidak ingin ada yang di tutup-tutupi Mas." Kali ini Ayu benar-benar akan melepaskan lengan Samuel tapi dengan cepat di cegah.


"Aku selalu terbuka. Bukankah aku sudah menjelaskan kalau aku pernah menikah. Kenapa kamu marah hanya karena wanita tidak penting itu." Ayu berhenti, menatap Samuel tajam.


"Meskipun mantan, dia juga pernah ada di hidupmu Mas." Samuel terkekeh dan sudah bisa menebak tentang apa yang tengah bersarang di otak Ayu.


"Lelaki yang di pilih mantanku tinggal di Amsterdam. Dia tidak lagi di Indonesia. Itu berarti mantanku sudah tinggal bersamanya di sana. Dia juga tidak akan mungkin berani menampakkan wajahnya. Kasus itu sempat ku bawa ke meja hijau. Dia sengaja tinggal di sana untuk lari dari hukum yang sebenarnya sudah ku cabut." Ayu menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya.


"Lalu? Siapa wanita itu?"


"Bukan seseorang yang penting."


"Dia berkata mengenalmu."


"Cemburu pada seseorang yang berbobot. Wanita itu hanya pellacur jalanan saja." Ayu malah mendorong pundak Samuel lembut.


"Jadi kamu sering memakai jasa pellacur Mas?" Lagi lagi Samuel terkekeh. Ucapan polos Ayu selalu membuatnya terhibur.


"Benihku sangat berharga. Tidak mungkin aku memberikannya untuk sembarang wanita."


"Mas sendiri yang berbicara seperti itu!"

__ADS_1


"Dia memang seperti itu. Tapi aku tidak pernah berhubungan dengannya."


"Tidak tahu! Aku tidak tahu dan ingin pulang!" Ayu melanjutkan langkahnya begitupun Samuel yang masih memegang jemarinya erat.


"Aku sudah berkata jujur. Kamu semakin terlihat cantik ketika sedang cemburu."


"Mana mungkin cemburu!"


"Nafas berat itu menandakan kalau perasaan mu sedang sakit."


"Jangan sok tahu Mas!"


"Aku Suamimu. Ingat itu Babe." Ayu menddesah. Dia lupa diri sampai-sampai meninggikan suaranya." Bukankah kamu dengar aku memakinya tadi. Itu karena dia menghina mu. Aku kesal ketika ada seseorang yang asal bicara dan sampai menyakiti hatimu. Tidak masalah jika aku di pandang buruk, asalkan kamu tidak." Ayu mengendalikan perasaannya yang bergemuruh akibat kekesalannya. Wajah garang Samuel menandakan jika dirinya benar-benar marah pada Ines.


"Aku memang buruk. Seharusnya aku tadi memakai dress."


"No no no Babe. Baju semacam ini lebih bagus. Pakai dress nya di rumah saja. Biarkan hanya aku yang menikmatinya." Seakan kebakaran jenggot, Samuel mengatakan itu dengan nada cepat.


"Kamu pengusaha Mas."


"Tidak ada yang tahu soal itu." Jawab Samuel berbisik.


"Kalau tidak sengaja bertemu relasi mu."


"Kita kabur." Ucapnya asal. Samuel ingin mengimbangi betapa banyaknya protesan yang di lontarkan Ayu.


"Karena malu dengan penampilan ku?"


"Tidak. Kamu sangat cantik."


"Lantas untuk apa kabur?"


"Media akan tahu." Samuel merangkul pundak Ayu erat seraya mengusap-usap bahunya lembut." Sampai kapan kamu kehilangan rasa percaya diri?" Imbuhnya kembali menyalahkan Dika atas apa yang di rasakan Ayu sekarang.


"Andai ponselku tidak kamu hancurkan Mas. Kamu akan tahu bagaimana bentuk tubuhku dulu." Dari perkataan wanita tadi. Aku membenarkan jika Mas Dika memilih meninggalkan ku.


"Hm ya. Andai kita lebih dulu di pertemukan. Mungkin kamu bisa mensyukuri dengan apa yang Tuhan berikan." Samuel menghembuskan nafas berat seraya tersenyum.


"Aku bersyukur Mas."


"Hm dia tidak dan masih mempengaruhi cara kerja otak mu." Ayu terdiam seraya menatap lurus ke depan dan tidak sengaja melihat pemandangan yang cukup mengejutkan.


Mas Dika?


Segera saja Ayu berhenti melangkah untuk menghindari pertemuan. Dia memberikan isyarat tangan pada Samuel namun ternyata Dika sudah menyadari keberadaannya.


Siapa wanita itu? Apa Mas Dika berselingkuh lagi?


Bukan bermaksud mencampuri, tapi kenyataan di hadapannya membuktikan jika Dika yang di kenal dulu memang sudah jauh berubah.


Bukan aku yang salah tapi memang Mas Dika yang tidak pernah puas dengan satu wanita..


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2