
Siang itu, Dika terlihat berjalan keluar perusahaan dengan mobil barunya. Dia berniat pergi ke rumah Bu Erna dan membicarakan perihal yang Ayu bicarakan semalam.
Setibanya di rumah, Bu Erna menyambut kedatangan Dika dengan muka masam. Sudah bisa di pastikan jika sesungguhnya Bu Erna membenci perbuatan Dika.
"Ada apa sih Ma." Dika duduk santai seraya mengendurkan dasi.
"Mama tidak pernah punya anak seperti mu!"
"Maksud Mama apa?"
"Jangan terlalu banyak alasan Dika. Kamu tahu maksud Mama! Kalau memang kamu tidak lagi menyukai Ayu, sebaiknya kamu ceraikan dia. Jangan bermain belakang dan membuat Mama malu!" Dika tersenyum tipis menatap Bu Erna yang tengah duduk di hadapannya.
"Dia cinta pertama ku."
"Memangnya kenapa kalau dia cinta pertama mu?"
"Aku sulit membencinya. Aku hanya sedang bermain-main saja. Sejauh ini aku belum menemukan seorang wanita yang bisa menggantikan posisi Ayu." Bu Erna mendengus seraya membuang nafasnya kasar. Dia tidak ingin terlibat namun Bu Erna juga tidak mau di permalukan oleh sikap Dika.
"Mama tahu kau sudah kehilangan selera. Untuk apa di pertahankan."
"Aku sedang mempertahankannya. Aku yakin jika dia akan menuruti kemauanku."
"Mustahil. Obat pemberian Mama bahkan tidak di minum."
"Obat apa?"
"Pelangsing. Kau fikir Mama lupa bagaimana selera mu."
"Oh. Dia akan meminumnya setelah ini. Aku yakin Ayu tidak ingin kehilanganku." Sungguh di luar dugaan jika Dika berfikir sejauh itu hanya demi membuat Ayu menurunkan berat badan.
"Ya terserah. Mama tidak ingin ikut campur."
"Itu bagus. Lain kali jangan ceritakan padanya. Seharusnya dia tidak tahu."
"Mama lakukan itu agar Ayu mau meminum obat pemberian Mama dan menjadi Istri idaman mu. Apa kata tetangga jika sampai tahu kamu bersama sembarangan wanita di luaran sana." Tidak ada pembelaan untuk Ayu. Sebab Suami dan mertuanya hanya memikirkan ego masing-masing. Mereka tidak ingin tahu bagaimana perasaan Ayu dan lebih memikirkan keinginan mereka sendiri.
"Dia sekertaris ku. Bilang saja jika itu masalah perkerjaan."
"Tapi dia lebih cocok menjadi Istri mu."
__ADS_1
"Cocok dari segi fisik. Untuk sikap, aku tidak ingin memiliki Istri yang hanya pintar bersolek." Sesuai ucapannya sendiri. Dika memang sedang bermain-main dengan Tania sebab sesungguhnya dia masih mencintai Ayu, cinta pertamanya.
Sejak awal bertemu, Dika menganggap jika Ayu seorang wanita yang sempurna untuknya. Dia tidak hanya cantik, tapi bisa mengerjakan pekerjaan rumah meski untuk memasak, Ayu tidak pandai melakukannya.
Apalagi Ayu bukalah wanita yang suka berfoya-foya, dia menyukai kehidupan sederhana sehingga membuat Dika berkali-kali berfikir jika ingin menggantikan posisi Ayu dengan wanita lain.
"Kau sudah di angkat menjadi direktur. Kau bebas memilih dan lepaskan Ayu."
"Jabatan akan hilang seiring berjalannya waktu. Kalau nanti aku jatuh miskin, Istri seperti Ayu sangat bisa di andalkan." Bu Erna menddesah seraya menggelengkan kepalanya menatap Dika. Dia baru menyadari jika pemikiran anak bungsunya begitu rumit.
"Ah sudahlah. Tujuanmu ke sini hanya untuk itu?"
"Ayu sedang ku hukum. Dia sudah merusakkan ponsel mahal milikku. Kalau dia datang ke sini untuk meminjam uang, jangan berikan padanya. Aku ingin mengajarkan sebuah tanggung jawab agar dia bisa ku tundukkan nantinya." Bu Erna mengerutkan keningnya. Dia menatap Dika tidak percaya seakan baru mengetahui fakta buruk soal anaknya.
"Lalu kau suruh dia mengganti uang ponsel itu?"
"Hm dia akan mencari perkerjaan agar tidak berdiam di rumah terus menerus. Itu akan membuat lemak di tubuhnya berkurang. Aku pamit Ma." Dika mencium punggung tangan Bu Erna kemudian melenggang keluar.
"Ya hati-hati." Bu Erna menatap kepergian Dika dengan helaan nafas panjang.
🌹🌹🌹
Pak Ridwan menatap Farel dan Sam secara bergantian. Dua orang kepercayaannya berseteru hebat hanya karena hal yang tidak jelas.
Akibat perseteruan itu, membuat suasana Cafe menjadi ricuh bahkan para pelanggan memilih pergi daripada harus terlibat di dalamnya.
"Jadi kalian bertengkar hanya karena lamaran ini." Pak Ridwan meletakkan dua amplop coklat di atas meja.
"Maaf Pak. Teman saya lebih dulu melamar tapi dia berusaha memasukkan orang bawaannya." Menunjuk ke arah Farel.
"Singkirkan!" Farel menampis kasar tangan Sam." Orang bawaan ku lebih berpengalaman daripada orang bawaan mu!!" Pak Ridwan menghela nafas panjang. Dia tidak mengerti situasinya hingga membuat emosi kedua anak buahnya tersulut.
"Temanku lebih dulu melamar Farel. Kau jangan begitu. Aku sudah menjanjikan perkerjaan padanya."
"Itu bukan urusanku! Orang bawaan ku sudah berpengalaman sehingga kita tidak perlu melatihnya!"
"Cukup!!!" Teriak Pak Ridwan geram. Farel dan Sam menoleh cepat lalu menundukkan kepalanya." Kalian menganggap saya patung?" Imbuh Pak Ridwan.
"Maaf Pak." Jawab Sam lirih.
__ADS_1
"Saya fikir kalian itu dewasa tapi kenapa hanya karena masalah itu kalian membuat Cafe menjadi ricuh seperti tadi. Saya harus cepat-cepat pulang hanya karena masalah ini. Astaga.." Eluh Pak Ridwan mencengkram erat kepalanya yang sempat ikut mendidih.
"Kasihan teman saya Pak. Dia sangat membutuhkan perkerjaan ini." Ah apa yang ku lakukan. Kenapa aku menjadi tidak terkendali hanya karena ingin membela Ayunda. Aku bahkan baru melihatnya tadi. Mungkin aku merasa kasihan karena dia sedang membutuhkan uang untuk menggantikan ponsel Suaminya.
Sam menddesah lembut, rasa simpatik yang timbul membuat perasaan merasa aneh. Sejak dia mendengar ucapan Ayu yang lebih memilih Suaminya menjadi staf biasa. Membuat hatinya tergelitik seakan ada daya tarik yang mendorongnya untuk terlibat di dalam.
Sosok wanita seperti itu yang sedang ku cari. Aku yakin jika Ayu tidak hanya memikirkan materi dan materi. Ya apa ini? Aku sedang memikirkan Istri milik orang lain!!
Sam menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Fokusnya teralihkan ketika otaknya kembali memikirkan Ayu sehingga membuatnya tidak mendengar panggilan dari Pak Ridwan.
"Samuel." Pak Ridwan menepuk pundak Sam.
"Ya Pak."
"Kamu tidak mendengar penjelasan saya?" Farel melirik malas ke arah Sam.
"Apa yang Bapak bicarakan."
"Saya akan menerima orang bawaan kalian berdua, baik yang berpengalaman ataupun tidak. Salah satu dari mereka tempatkan pada dapur untuk membantu Chef Riko, sementara satunya sebagai waiters." Sam mengangguk seraya tersenyum.
"Orang bawaan saya biasa menjadi waiters Pak." Raut wajah Sam kembali berubah masam.
"Bagian waiters untuk temanku sedangkan teman mu membantu Chef Riko memasak. Bukankah dia berpengalaman."
"Berpengalaman melayani orang, bukan memasak." Pak Ridwan kembali menghembuskan nafas berat.
"Harusnya kau jelaskan secara detail."
"Untuk apa menjelaskan itu padamu!"
"Jika kalian tidak juga berhenti. Aku tidak akan menerima keduanya." Pak Ridwan menggeser amplop sehingga membuat keduanya panik.
"Ah tidak Pak. Saya mohon terima dia."
"Maka dari itu, berhentilah berdebat." Sam dan Farel kembali tertunduk meskipun emosi masih meluap-luap di dalam hati keduanya." Saya harap kalian bisa berfikir dewasa. Bukankah kalian tahu jika saya sibuk dan mengandalkan kalian untuk mengelola Cafe ini." Sam mengangguk dengan helaan nafas panjang. Rasanya sangat menyesal ketika dia menyadari kebodohan yang di lakukannya tadi." Saya harus kembali. Kalau nanti kalian bertengkar lagi. Saya akan memecat kalian." Pak Ridwan berjalan keluar ruangan sementara Sam dan Farel masih berada di tempat duduknya.
"Tidak biasanya kau begitu. Aku curiga dan menebak jika wanita itu adalah pacarmu." Sam berdiri lalu menatap tajam Farel.
"Jangan bicara omong kosong. Kalau tadi Pak Ridwan tidak datang. Kau akan menghabiskan banyak uang untuk membetulkan wajahmu." Farel meraba wajahnya yang babak belur. Sam sendiri beranjak pergi daripada emosinya harus kembali terkoyak akibat ulah Farel.
__ADS_1
🌹🌹🌹