Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Sulit mengendalikan perasaan


__ADS_3

Ayu sengaja bangun pagi buta. Hari ini dia berkerja dan sebisa mungkin menyelesaikan perkerjaan rumah agar Bik Ratih fokus mengurus Daniel. Dia tidak ingin memberatkan perkerjaan Bik Ratih karena tidak yakin bisa memberikan gaji.


"Saya sudah beli nasi di warung Bik. Tapi ayam bakarnya belum di panaskan." Sampai saat ini, Ayu belum bisa menyalakan kompor gas. Itu karena Samuel terlalu memanjakannya, sehingga membuatnya nyaman dengan kebiasaan tersebut.


"Maaf Nyah Bibik kesiangan. Sebentar biar Bibik panaskan." Jawab Bik Ratih berjalan menuju kompor gas yang sudah tersedia sejak awal.


"Tidak apa Bik. Saya mandikan Daniel dulu ya."


Ayu menggendong Daniel sambil mempersiapkan keperluan untuk mandi. Ketika dia mengambil popok, terlintas ingatan tentang Radit yang sudah memberikannya bantuan semalam.


Meski sudah menolong, tidak seharusnya aku memikirkan dia terus-menerus. Ah Tuhan, kenapa Mas Radit mengingatkan ku pada Mas Samuel.


Ayu sudah menduga itu sejak awal. Tapi dia belum berani mengatakan secara langsung. Ayu takut kalau tebakannya salah.


Setelah memandikan Daniel dan sarapan pagi, Ayu berangkat untuk berkerja. Dia tidak ingin terlambat apalagi sampai membuat Pak Ridwan merasa kecewa.


Baru saja Ayu membuka pintu, suara Radit sudah menyapa. Dia memperlihatkan senyum canggung dan tidak berani menatap paras Radit berlama-lama.


Ah berdebar-debar lagi?


Perasaan yang sama ketika dirinya berada di dekat Samuel. Mungkin parasnya terlalu tampan, jadi rasa berdebar-debar masih saja ada walaupun satu tahun lebih mereka bersama-sama.


"Mas juga mau kerja." Jawab Ayu ramah.


"Iya." Ayu berpaling, dia merasa ada yang salah dari sorot mata Radit yang seakan tengah menatapnya begitu dalam." Mari Mas." Setelah tersenyum sejenak, Ayu melajukan motornya di ikuti oleh Radit alias Samuel. Tidak mungkin dia mengikuti ku.


Ayu menatap Samuel dari pantulan spion. Motornya tepat berada di belakangnya. Ingin sekali Ayu membuang fikiran negatif. Tapi kenyataannya, Samuel masih mengikuti sampai dirinya tiba di gudang. Samuel bahkan memarkir motor tepat di samping motor miliknya


"Kenapa Mas Radit mengikuti saya?" Tanya Ayu berusaha sopan. Meski dia sedikit kesal merasakan keanehan dari sikap Samuel yang berpura-pura menjadi Radit.


"Saya tidak mengikuti mu Nona." Jawabnya santai tanpa rasa bersalah.


"Buktinya ini?" Menunjuk ke arah motor.


"Aku berkerja di sini."


Berkerja di sini?


Ayu baru ingat jika kemarin John sudah memperkenalkan nama Radit yang bertugas memasarkan produk.


Aku berprasangka buruk lagi.. Eluh Ayu merasa malu. Tersenyum canggung dan merasa tidak enak dengan ucapan ketus yang terlanjur terlontar.


"Maaf Mas. Fikiran saya terlalu over negatif." Samuel tersenyum seraya mengangguk. Kepalanya menunduk, menatap Ayu berlama-lama.


Itu kebiasaan mu Babe. Aku merindukan ketika kamu merepotkan ku..


"Jadi kamu berkerja di sini?" Tanya Samuel balik.


"Ya Mas. Baru kemarin saya di terima." Ayu mulai tidak nyaman dengan tatapan sampai-sampai dia salah tingkah.

__ADS_1


"Em begitu." Entah kenapa, Samuel mulai menyukai permainan kali ini. Rasanya sangat menyenangkan bisa memberikan sedikit pelajaran untuk Ayu yang berani melangkahkan kaki untuk pergi darinya.


Ayu tidak juga memahami kekuasaan Samuel seperti apa. Dia fikir bisa dengan mudah bersembunyi. Padahal setelah beberapa jam kepergiannya, Samuel berhasil melacak lokasi kontrakan.


Awalnya Samuel begitu bernaffsu untuk bertemu, tapi Dimas menyadarkannya. Dimas menebak jika masih ada Riska di dalam kehidupan mereka, mungkin Ayu tidak mau kembali. Apalagi Mita menguatkan dugaan tersebut sehingga scenario mulai di rancang.


"Kenapa bisa kebetulan ya." Ayu menatap aneh ke arah Radit yang tengah terkekeh.


"I iya Mas. Bukankah terasa aneh." Jawab Ayu lirih.


"Mungkin kita jodoh hehe." Wajah Ayu kian terlihat aneh." Maaf hanya bercanda." Imbuhnya tersenyum.


"Oh ya Mas, saya tahu kok. Em.. Saya duluan."


Cepat-cepat Ayu melangkah masuk tanpa menoleh. Dia yakin jika sekarang Samuel masih memperhatikannya.


Aku merasa Mas Radit punya niat buruk..


Tentu saja Ayu menebaknya begitu. Keduanya masih saling mengenal kemarin tapi Radit yang merupakan Samuel, sudah menunjukkan sikap sok kenal dan hal itu membuat Ayu tidak nyaman.


"Ach! Maaf." Pekik Ayu tidak sengaja bertabrakan dengan John karena tidak fokus dengan langkahnya.


"Astaga Ayu, hati-hati." John mengulurkan tangan seraya menatap kedatangan Samuel dengan sebuah senyuman.


Beruntung, Ayu tidak menerima uluran tangan tersebut. Dia berusaha menjaga diri. Ayu menganggap sudah berhasil menjauhi Samuel padahal sosok itu masih saja berusaha menjaganya.


"Maaf Mas melamun." Jawab Ayu tertunduk. Dia melirik ke Samuel yang sudah berjalan menuju ke arahnya.


"Mari Mas." Setelah tersenyum canggung, Ayu melanjutkan langkahnya sementara John dan Samuel terlihat berdiri saling berhadapan.


"Kau ingin kehilangan tangan." Ujar memperingatkan. Dia memelankan suaranya meski ingin sekali berteriak apalagi paras John cukup tampan.


"Apa salahnya menolong."


"Tentu saja salah. Itu tidak sesuai dengan scenario." John terkekeh. Untuk pertama kalinya dia melihat wajah cemburu Samuel yang merupakan teman SMA nya.


"Aku sudah baik memperbolehkan mu melakukan syuting di sini." Ledeknya lagi.


"Aturannya bukan seperti itu John."


"Oke Radit, aku sadar diri kalau wanita tadi adalah Istri temanku. Jadi jangan berprasangka buruk padaku, aku serius ingin membantu."


Awalnya Samuel meminta bantuan pada Pak Ridwan karena dia tahu jika Pak Ridwan orang yang sopan dan bisa di percaya. Namun niatnya berbelok ketika Samuel mengetahui jika ternyata John adalah putra tunggal dari Pak Ridwan.


Keduanya berpisah saat John memutuskan kuliah di luar negeri. Memang keduanya bukan teman dekat tapi John sangat kagum dengan kepribadian Samuel sehingga dirinya berusaha mendekat.


"Jaga sikap dan matamu. Jangan biarkan dia curiga." Ucap Samuel mengingatkan


"Ku rasa sikapmu yang akan membuatnya curiga."

__ADS_1


"Aku tidak bisa menahan diri." Samuel menghela nafas panjang. Ingin rasanya dia memaksa Ayu kembali pulang namun kehadiran Riska membuat niatnya tertahan.


"Oke. Silahkan nikmati waktu berdua. Aku sudah mempersiapkan berkas palsu di dalam."


"Hm." Samuel melanjutkan langkahnya sementara John masih berdiri terpaku menatapnya.


"Segila itu dia mencintai sampai-sampai harus merubah gudang ini menjadi perusahaan kecil. Astaga.. Kapan cinta menghampiri ku." Gumam John melangkah pergi seraya melirik sebentar ke arah beberapa orang yang di tugaskan menjadi karyawan bohongan.


Di dalam ruangan, hati Ayu seketika menegang ketika Samuel baru saja masuk. Dia kembali salah tingkah juga takut jika Samuel berbuat macam-macam.


Di mana Mas John? Apa dia meninggalkan ku dengan lelaki ini? Kenapa aku jadi takut.


"Pak John menyuruhmu memasukkan berkas yang ada di atas meja ke dalam laptop." Pinta Samuel duduk. Tidak ada penyekat karena memang perusahaan kecil itu hanya bagian dari sandiwara.


"Ya Mas." Jawab Ayu lirih.


"Sudah tahu caranya?" Tanyanya lagi. Kapan semua ini berakhir.


Tanpa sadar, Samuel kembali menatap Ayu dengan sangat dalam. Padahal seharusnya dia bisa menahan diri agar penyamarannya tidak terbongkar.


"Kemarin Pak John sudah memberikan pelatihan singkat." Ayu melirik sebentar ke arah Samuel yang terlihat kesal setelah dirinya mengatakan soal pelatihan.


"Kamu suka?" Tanyanya sambil membuang nafas kasar. Menunjukkan sorot mata tajam menusuk.


Apa dia psikopat?


"Maksudnya?" Tidak heran Ayu melontarkan pertanyaan tersebut. Sikap Samuel terasa sangat aneh mengingat keduanya baru saja bertemu kemarin.


"Suka ketika Pak John memberikan pelatihan." Ayu mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan ganjil dari Samuel. Mana bisa aku tahan Babe. Kau lihat? Aku cemburu padamu. Bagaimana mungkin kamu tega meninggalkan ku? Sudah ku katakan, perasaan ku hanya untukmu tapi kenapa kau tidak percaya.


"Saya tidak paham Mas, eh Pak."


"Panggil Mas saja." Jawab Samuel ketus.


Lelaki itu semakin terlihat aneh?


"Aku hanya tidak ingin kamu terbujuk rayuan John. Dia itu playboy." Ujarnya menjelaskan. Mimik wajahnya mencerminkan rasa cemburu yang membakar hatinya.


"Saya sudah bersuami Mas."


"Meski begitu. Godaan di luar itu sangat banyak." Samuel kembali menghela nafas panjang. Dia berusaha mengendalikan rasa cemburunya namun gagal.


"Saya tahu. Terimakasih sudah mengingatkan. Tapi saya berkerja hanya untuk anak saya bukan menerima godaan."


"Ya maaf Ba... Em Nona Ayu." Hampir saja! Dasar mulut sialan!!


"Ya Mas." Ayu kembali fokus lagi layar laptopnya sementara Samuel tidak melakukan apapun dan malah bertingkah gelisah.


Kenapa dia semakin terlihat aneh saja. Baru saja mengenal sudah berani mencampuri urusan padahal kita sama-sama memiliki pasangan. Buang fikiran buruk mu Ayu. Kamu harus semangat berkerja untuk Daniel. Mungkin saja Mas Radit sekedar mengingatkan.

__ADS_1


Ayu mencoba tidak melirik apalagi melihat. Dia tidak ingin membuat Samuel salah menebak dengan tatapannya. Seharusnya Ayu menuruti kata hatinya yang sejak awal mampu mengenali jika Radit adalah Suaminya sendiri.


🌹🌹🌹


__ADS_2