Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Menguatnya kecurigaan


__ADS_3

Sembari menunggu momen yang tepat. Ayu sengaja mengajak Keano mengobrol santai sambil bermain mobil-mobilan. Dia tidak langsung melontarkan pertanyaannya karena memikirkan mental Keano yang mungkin akan terganggu.


"Ibu boleh bertanya Kean?" Ucap Ayu seraya mengusap lembut puncak kepala Kean untuk memberikannya rasa nyaman.


"Bertanya apa Bu?"


"Em Kean pernah berpisah dengan Mama dalam waktu yang lama." Kean menggeleng cepat." Coba Kean ingat-ingat lagi." Imbuh Ayu berusaha berkata lembut.


"Tidak pernah Ibu. Memangnya kenapa?"


"Oh tidak. Ibu hanya ingin tahu saja."


"Tapi Mama memang banyak berubah. Dulu Mama marah ketika Kean berbuat nakal dan tidak baik. Tapi sekarang dia selalu marah walaupun Kean tidak nakal." Ayu melirik sebentar ke Samuel yang baru saja datang.


Mungkin Kak Riska sedang kesulitan ekonomi sampai-sampai Keano yang di jadikan sasaran kemarahannya..


"Memangnya dulu baik?"


"Ya Ibu. Mama wanita yang paling baik dan selalu melindungi Kean." Ayu menghela nafas panjang. Jawaban Kean sangat membingungkan mengingat sikap Riska yang kerapkali kasar pada Kean.


Tapi mental seseorang juga bisa terkoyak akibat kesulitan ekonomi. Jadi Ayu masih berusaha melontarkan pertanyaan karena belum mendapatkan jawaban.


Apa mungkin sikap seorang Ibu bisa sebanyak itu berubah? Aku pribadi tidak mungkin tega melakukannya..


"Em sejak kapan Ayahmu meninggal dunia?" Tanya Ayu lagi.


"Tidak tahu Bu."


"Kenapa tidak tahu?"


"Terakhir bertemu saat dia mengantarkan Kean berangkat sekolah. Lalu ketika aku pulang. Mama bilang jika Papa sudah meninggal." Jawab Kean polos dan sesuai apa yang di lihat.


"Apa Ayah Kean sakit."


"Tidak. Papa sangat sehat saat pagi harinya."


"Mungkin Kean tidak tahu."


"Kean tidak tahu. Mama bilang, Papa sakit, Kean sudah tidak pernah bertemu Papa lagi. Mama juga tidak memperbolehkan Kean ke pemakamannya sebelum datang ke Indonesia." Ayu dan Samuel saling melihat. Keduanya memikirkan sesuatu yang sama. Postingan yang di temukan Tania semakin terlihat ganjil.


Tanpa berlama-lama, Samuel meletakkan ponsel di hadapan Kean dan menunjukkan foto tangkapan layar yang menunjukkan postingan sebuah akun.


"Kamu bisa membaca." Ujar Samuel dingin.


"Bee. Apa ini." Ayu akan merebut ponsel tapi Kean lebih dulu mengambilnya.

__ADS_1


"Kean bisa baca." Jawabnya sambil komat-kamit membaca postingan." Kean tidak pernah menghilang." Imbuhnya polos. Ayu menghela nafas panjang, dia sangat takut psikologi Kean terganggu.


"Coba kamu ingat-ingat." Samuel berusaha berkata selembut mungkin karena memang seharusnya anak kecil di hadapannya tidak pantas di jadikan pelampiasan amarah.


"Kean tidak pernah hilang. Kean hanya pindah rumah bersama Mama semenjak Papa meninggal. Sejak saat itu Mama terlihat aneh."


"Pemarah?" Tanya Ayu lembut.


"No Ibu. Em.. Kean seperti bersama orang lain." Ayu dan Samuel kembali saling melihat.


"Bukankah ini Mama mu." Ayu menunjuk foto Riska.


"Iya. Hanya wajahnya yang sama. Tapi Mama banyak berubah." Ayu mengambil ponsel dari tangan Kean.


"Em baiklah." Tiba-tiba saja Kean memegang erat lengan Ayu sambil memasang wajah cemas.


"Tolong jangan bilang Mama kalau Kean berkata itu. Dia akan marah pada Kean nanti."


Terpatri jelas ketakutan pada mimik wajah Kean sehingga membuat hati Ayu semakin di liputi kekhawatiran. Sosok yang seharusnya menjadi pelindung bagi buah hatinya, malah berubah menjadi momok menakutkan. Hal itu memang bisa saja terjadi. Tapi Ayu tetap ingin tahu dan tergelitik hatinya.


"Tidak Kean. Ibu akan jaga rahasia tapi Kean juga tidak boleh bicara pada Mama atas pertanyaan ini. Bagaimana?"


"Kean janji Ibu."


"Hm Ibu juga janji." Ayu mengeluarkan jari kelingking yang langsung di sambut hangat oleh Kean." Bisa jaga Adik Daniel sebentar? Ibu ingin bicara sesuatu dengan.. Em Papa." Ayu menepuk pundak Samuel yang sontak membuang muka dengan nafas terbuang kasar. Dia tengah menahan amarah mendengar sebutan nama yang di lontarkan Ayu.


Ayu mengiring Samuel berjalan sedikit menjauh. Dia ingin membicarakan kekhawatiran yang ada di dalam hati dan fikirannya.


"Bee. Aktifkan kunci sensor lagi." Ucapnya langsung.


"Khawatir dengan anak itu?" Jawab Samuel menebak.


"Ada dua kemungkinan. Bisa saja wanita itu saudara kembar Kak Riska atau dia memang Kak Riska yang kini mengalami gangguan mental. Kamu dengar penjelasan Kean? Dia berbahaya jika hidup bersama wanita itu."


Samuel menghembuskan nafas berat. Keinginan Ayu tentu menjadi pertimbangan sulit untuknya apalagi jika harus kembali melihat Kean berkeliaran sambil memanggilnya Papi.


"Wanita itu anak tunggal. Dia juga hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya sudah meninggal."


"Apapun alasannya. Wanita seperti itu biasanya nekat Bee. Aku kasihan dengan Keano."


Samuel tidak langsung menjawab. Dia menghembuskan nafas berat lagi dan lagi sambil memperhatikan Keano yang menang pintar menjaga Daniel.


Di umurnya yang masih kecil, Keano sudah menunjukkan sikap dewasa pada seseorang yang lebih muda darinya. Itu kenapa Daniel hampir tidak pernah menangis ketika bermain bersama Keano.


"Bee.." Rajuk Ayu lagi.

__ADS_1


"Ada syaratnya."


"Apa itu?"


"Suruh dia memanggil ku Om saja. Jangan Papa ataupun Papi. Dia bukan anakku." Tentu saja Samuel melontarkan ucapan tersebut. Kepekaan hatinya semakin menguat soal tebakannya pada Keano yang memang bukan anaknya.


"Baik Bee. Terimakasih ya." Ayu menjinjit lalu mengecup pipi Samuel sejenak.


"Itu belum selesai."


"Apa yang belum?"


"Persyaratannya." Tiba-tiba saja sebuah ide muncul agar Samuel bisa memanfaaatkan situasi.


"Terus?"


"Kita sudah menikah satu tahun lebih. Em apa kamu tidak memahami kesukaan Suamimu ini."


Ayu tersenyum. Sejauh ini Samuel selalu memperlakukannya dengan baik namun dengan balasan yang menurutnya mudah. Selain kesetiaan yang harus di berikan. Ada satu hal yang dominan pada Samuel ketika biduk rumah tangga mulai terjalin.


"Asal jangan marah kalau Daniel bangun dan menghancurkan rencana mu." Samuel terkekeh seraya mengangguk-angguk.


"Mana mungkin aku marah. Kalian berdua itu prioritas ku."


"Memang tidak marah tapi mengeluh." Ayu kerapkali mendengar dengusan nafas berat ketika Daniel tiba-tiba terjaga ketika Samuel ingin menambah durasi percintaan mereka.


"Tidak Babe. Itu hanya sesuatu yang wajar terjadi. Saat kita sudah bersemangat dan seseorang mematahkannya. Ugh.. Percayalah.. Rasanya sangat tidak nyaman." Ayu tersenyum dengan rona merah di wajah. Masih saja dia memperlihatkan mimik wajah itu karena sikap manis yang selalu Samuel suguhkan.


"Hm cepat aktifkan kunci sensor nya. Biarkan Keano tinggal di sini sampai semuanya jelas. Kalau memang Kak Riska memiliki gangguan mental. Lebih baik di bawa ke rumah sakit jiwa saja daripada harus melukai Keano."


"Siap Babe. Apapun hanya untuk mu."


"Aku akan memberitahu Keano." Samuel hanya mengangguk seraya menatap kepergian Ayu. Dia juga merasakan keganjilan setelah mendengar cerita dari Keano.


Sebaiknya ku beritahu Dimas. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi? Aku juga merasakan hal yang sama. Aku merasa asing melihat gelagat Riska.


Sejak awal Samuel sudah menyadari perubahan sikap Riska dan beberapa hal yang sangat dirinya kenali. Dari cara berjalan, berbicara dan beberapa tingkah laku yang menurutnya aneh.


Namun Samuel menganggap jika itu semua adalah efek dari perpisahannya. Apalagi keduanya sudah tidak berjumpa bertahun-tahun lamanya.


Jika dia bukan Riska? Lalu siapa?


🌹🌹🌹


Maaf para reader 😁🙏

__ADS_1


Aku belum bisa doubel update karena kesehatan ku tidak mendukung.


Terimakasih dukungannya 🥰🥰


__ADS_2