
Daniel kembali memperlihatkan sikap pengertiannya. Dia tidur dengan tenang dari pukul sembilan malam sampai pukul enam pagi sehingga Ayu bisa memenuhi janjinya pada Samuel.
Ayu tampak masih mengantuk dan harus terpaksa bangun karena suara tangis Daniel. Dengan mata menyipit dia mengangkat Daniel dari box bayi lalu mengendong nya.
"Haus ya sayang. Sebentar Mama buatkan su.." Ucapan Ayu tertahan sebab ternyata Samuel sudah lebih dulu melakukan niatnya tersebut. Selalu saja dia yang bangun lebih dulu. Ah.. Aku lelah sekali..
"Masih mengantuk." Tanya Samuel mengambil alih Daniel untuk memberikannya susu. Tidak lupa dia memberikan kecupan pada sekitar wajah Ayu.
"Sedikit Bee. Aku terkejut tadi." Eluhnya duduk lemah di sofa. Ayu mengambil segelas air lalu meneguknya sementara Samuel duduk di sampingnya.
"Saat ku tinggal keluar Daniel masih tidur. Maaf, menganggu tidurmu padahal kemarin aku berjanji mengurusnya." Selalu saja Samuel memberikan kenyamanan hati yang pasti sanggup menghangatkan perasaan Ayu.
"Itu bukan salah mu Bee. Seharusnya aku tadi bangun lebih awal. Kalau seperti ini malah tidak bisa mencuci."
"Sudah." Jawab Samuel cepat." Setelah ini kamu mandi lalu kita sarapan pagi. Kamu bisa tidur lagi." Imbuhnya sontak membuat Ayu tersenyum aneh.
"Sudah apa?"
"Aku sudah mencuci baju kotor Daniel."
"Pakai tangan?" Ayu selalu mencuci baju Daniel dengan cara manual. Menurutnya itu lebih bersih.
"Ya pakai tangan."
"Ish serius Bee? Pasti mesin cuci kan." Samuel mengulurkan tangannya dan memberi isyarat Ayu untuk menciumnya. Aroma sabun khusus bayi menyeruak sehingga membuat bibir Ayu tersungging." Terimakasih ya Bee." Imbuhnya menghadiahkan kecupan pada pipi.
"Sama-sama Babe."
"Em aku akan menyiapkan air untuk Daniel mandi."
Bagaimana cinta yang di hadirkan Ayu pada Samuel tidak besar jika sikap hangat yang di tujukan untuknya begitu mendamaikan perasaan. Ayu sangat takut kehilangan perhatian yang mungkin sulit di temukan pada sosok lain.
Keduanya terasa saling menguatkan. Mencoba menghadirkan perasaaan sebesar-besarnya, perhatian sebanyak-banyaknya karena rasa takut ingin kehilangan yang sama-sama bersarang di hati masing-masing.
.
.
.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ayu baru mengingat Keano. Cepat-cepat dia mengendong Daniel lalu berjalan keluar kamar. Bibirnya tersungging ketika dirinya sudah melihat Keano duduk menunggunya di salah satu kursi yang terletak di depan kamar.
"Maaf Kean. Ibu belum terbiasa jadi melupakan mu."
"Tidak apa Ibu. Kean tadi sudah mandi." Ayu mengusap lembut puncak kepala Keano untuk merapikan rambutnya. Dia merasa kasihan dengan Keano yang seakan kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya.
Lihatlah Bee. Kasihan sekali anak ini. Aku tidak keberatan merawatnya jika memang Kak Riska terbukti bersalah..
"Kean sekolah pukul delapan." Imbuhnya mengingatkan." Seragam Kean ada di rumah Mama." Ucapan tersebut membuat Ayu tersadar dari lamunannya.
"Em sekolahnya libur selama satu Minggu Kean." Sengaja Ayu berbohong demikian. Dia tidak ingin Kean keluar dari rumah dan membuat Riska memiliki kesempatan untuk mengambilnya lagi.
"Benarkah Bu?"
"Iya. Kemarin Mama Riska bilang pada Ibu."
"Wah. Aku bisa main seharian dengan Adik Daniel." Jawabnya bersemangat.
"Tentu saja. Kita sarapan pagi dulu lalu bermain."
"Ya Ibu. Kean mau di suapi."
"Hm Ibu suapi." Ayu mengiring Kean masuk ke dalam lift sementara Samuel masih sibuk dengan teleponnya.
📞📞📞
"Ya Tuan. Menurut informasi, Istrinya tidak menghilang dan hanya anaknya saja.
"Lantas siapa yang bersama Keano?
"Saya belum memahaminya Tuan. Tapi Mr Stefan Hansson memang kehilangan anak saja.
"Wanita itu bilang jika Suaminya sudah meninggal. Apa kamu sudah menghubungi nya?
"Belum Tuan. Saya tidak berani lancang.
"Buat jadwal pertemuan untuk Stefan tapi jangan bicarakan masalah ini dulu. Aku ingin tahu apa wanita ini benar-benar Riska atau bukan.
"Baik Tuan. Saya hubungi jika sudah ada kabar.
__ADS_1
"Hm terimakasih.
"Siap melayani Tuan.
📞📞📞
Samuel mengantongi ponselnya lalu berjalan keluar kamar sambil menebak tentang siapa Riska sebenarnya. Namun fikirannya tidak sanggup menjangkau sebab paras milik Riska palsu sangatlah mirip.
Setibanya di ruang makan. Samuel duduk seraya menatap ke Keano yang tengah makan. Dia merasa bersalah karena selama ini sudah melampiaskan kekesalannya pada sosok yang tidak bersalah.
"Ada apa Bee?" Tanya Ayu pelan.
"Tidak ada." Jawab Samuel tersenyum simpul." Nanti saja kita bicarakan. Ada anak-anak." Imbuhnya seraya membalik piring di hadapannya.
"Setelah ini kamu ada pertemuan?" Tanya Ayu pelan.
"Tidak Babe. Aku akan tetap berada di rumah sampai masalah ini jelas." Ayu tersenyum lega. Dia memang khawatir soal keselamatan Keano dan Daniel meskipun kunci sensor sudah di aktifkan.
"Aku hanya takut."
"Aku tahu. Itu kenapa aku tidak akan pergi. Sekarang kamu makan." Samuel menyodorkan satu sendok penuh makanan. Dia masih tidak melupakan untuk mengutamakan Ayu.
"Kamu makan duluan Bee."
"Tidak. Kamu tahu aku tidak suka di tolak."
"Aku sudah tidak menyusui." Ayu melahap suapan pemberian Samuel.
"Lantas kenapa? Aturannya sudah paten. Daniel dan kamu harus makan dulu baru aku. Itu tidak bisa di ganggu gugat." Jawaban seperti sekarang kerapkali di lontarkan sebanyak Ayu menolaknya.
Sementara Riska sendiri tengah kebingungan akibat gertakan yang di lontarkan Ayu. Seharusnya dia bisa langsung kabur saja namun ambisinya belum tercapai sedikitpun. Hal itu membuat Riska mencoba bertahan sebentar lagi untuk menemukan cara mendapatkan setidaknya sertifikat rumah mewah yang sekarang di huni.
"Tidak boleh gagal. Aku sudah banyak berkorban untuk bisa merebut Samuel. Ya Tuhan! Ku fikir pertemuan ku dengan Riska adalah jalan terbaik untuk rencana ku." Eluhnya mengigit kuku tangannya dengan wajah gelisah.
Riska mengingat bagaimana kejinya dia yang sudah memalsukan obat seorang pengusaha kaya sampai merenggang nyawa. Padahal pengusaha itu dengan tulus mencintainya namun obsesinya untuk menjadi Istri Samuel kian menggebu.
Seharusnya dia berhenti saja. Menikmati hidup dengan harta peninggalan dari si pengusaha yang otomatis jatuh ke tangannya. Namun rupanya niat itu kembali menggebu ketika dirinya tidak sengaja berjumpa Riska asli saat berlibur ke Amsterdam.
Keduanya berbincang akrab sampai-sampai Riska asli tidak sadar sudah menceritakan masa lalunya pada si peniru. Akhirnya, si peniru memutuskan melakukan operasi plastik. Memalsukan data yang hampir mirip dengan asli.
__ADS_1
"Aaaaaghhhh!!! Bagaimana bisa aku mendapatkan sertifikat rumah ini kalau aku saja tidak bisa masuk ke ke sana!!" Umpatnya menggila. Kepalanya terasa pecah memikirkan cara untuk mencapai rencananya." Aku harus menyusun rencana tambahan kalau seandainya gagal. Aku tidak mau tertangkap dan masuk ke dalam penjara." Tanpa Riska sadari, kegiatannya di rekam oleh pembantu yang berkerja di sana. Setelah mendapatkan cukup bukti, dia mengirimkan video tersebut pada Dimas.
🌹🌹🌹