Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Kembali berseteru


__ADS_3

Sesuai arahan, Ayu menerima pesanan juga menyajikan makanan. Banyak pengunjung Cafe yang bertanya perihal gaun yang di kenakan Ayu. Tapi Ayu menjelaskan jika seragam miliknya belum selesai di jahit.


"Kerja bagus. Aku yakin kau lebih handal dariku hehe." Puji Mita seraya berdiri di samping Ayu.


"Tinggal melayani saja."


"Ingat ya Ay, kalau Mas Farel sudah datang. Kita tidak boleh mengobrol seperti ini. Nanti kena semprot." Ayu tersenyum lalu mengalihkan pandangannya dan baru menyadari jika sejak tadi Sam memperhatikannya sesekali.


Segera saja Ayu berdiri tegak, dia menyeret lembut lengan Mita lalu mendekatkan kepalanya pada telinga.


"Kau yakin hanya Mas Farel saja yang tidak bisa di ajak negoisasi." Ayu mengira jika Samuel tengah memperhatikan cara berkerjanya. Dia sama sekali tidak berfikir akan ketertarikan Samuel.


"Iya. Kenapa sih?" Jawab Mita lirih.


"Sepertinya Mas Sam sedang memperhatikan ku. Apa tidak masalah kita berdiri di sini."


"Tidak ada pengunjung baru, jadi tidak masalah." Mita memperhatikan Sam yang seolah tengah sibuk berkerja." Mas Sam sibuk kok. Lihatlah." Ayu melirik ke arah Sam. Dia memang terlihat sibuk namun entah kenapa Ayu merasa yakin jika Sam tengah memperhatikannya tadi.


"Dia melihatku tadi."


"Mungkin tidak sengaja saja. Mas Sam orangnya baik kok. Asal kita berkerja sesuai arahan, tidak masalah jika mengobrol seperti sekarang." Ayu mengangguk seraya tersenyum dan sesekali memperhatikan Sam yang masih terlihat memperhatikannya.


Mungkin karena aku anak baru, jadi aku masih berada di bawah pengawasan. Sebaiknya aku tidak banyak menganggur.


Ayu beranjak lalu menghampiri meja yang sudah di tinggalkan. Dia membereskan piring serta cangkir kotor yang ada di sana lalu membawanya ke dapur.


"Eh anak baru." Sapa Faris, lelaki yang memiliki tugas mencuci piring.


"Ya Mas." Jawab Ayu mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Kalau semua waiters memakai gaun seperti kamu. Mungkin Cafenya semakin ramai." Ayu menunduk untuk memperhatikan gaunnya lalu tersenyum. Dia merasa jika ledekan itu cukup wajar mengingat bajunya yang berbeda dari waiters lain.


"Maklum Mas. Saya tidak tahu kalau langsung di beri seragam jadi saya pakai baju asal."


"Oh begitu. Siapa namamu? Aku Faris." Mengulurkan tangannya.


"Saya Ayu." Menyambut uluran tangan sebentar lalu menariknya lembut.


"Ayu. Hmmm.. Boleh minta nomer WhatsApp?"


"Maaf Mas. Saya sudah bersuami." Tolak Ayu sopan.


"Aku fikir masih singel. Maaf ya."


"Oke Mas tidak masalah. Saya ke depan dulu."


"Hm silahkan Ayu." Faris bersandar pada samping tempat pencuci piring seraya memperhatikan Ayu dari belakang." Ck Ck Ck ku fikir masih singel. Body nya bikin gemes saja hehe." Sontak Faris menegang ketika ada sebuah tangan bertumpu pada pundaknya." Ma maaf Mas Farel." Ujarnya seraya menoleh." Oh Mas Sam. Aku fikir Mas Farel." Faris tersenyum lega ketika melihat Sam berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Aku memang tidak berhak menegur terlalu keras di sini. Tapi bukan berarti aku membebaskan kalian untuk tidak berkerja disiplin." Seakan menjadi seorang bodyguard. Diam-diam Samuel memperhatikan setiap orang yang berinteraksi dengan Ayu.


"Maksud Mas Sam apa?"


"Banyak berkerja daripada berbicara." Samuel tidak menyukai ketika Faris memperhatikan kepergian Ayu dengan tatapan nakal.


"Sudah ku lakukan Mas."


"Aku melihatmu mengobrol tapi lihatlah perkerjaan mu." Menunjuk ke cucian piring yang menumpuk.


"Aku hanya berkenalan sebentar dengan Ayu Mas."


"Di sini tempat berkerja. Kau boleh melakukan itu ketika perkerjaan mu selesai." Sam menggeser piring kotor lalu pergi meninggalkan Faris yang tengah menggaruk-garuk kepalanya.


"Aneh. Mas Sam kenapa sih? Biasa nya juga begini. Kan stok piringnya masih banyak." Eluh Faris bergegas mencuci piring daripada terkena masalah.


Samuel kembali ke depan untuk menyiapkan beberapa pesanan dan tentu saja memperhatikan Ayu dalam diam. Dia tengah mencuri pandang meski keinginan itu berusaha di tolak.


Pertemuannya dengan Dika kemarin membuat Samuel mati-matian membunuh perasaan kagumnya pada sosok Ayu. Dia tidak ingin merusak hubungan seseorang apalagi keduanya sudah berada di tahap pernikahan.


Dari arah pintu, datanglah Farel bersama seorang wanita yang lengkap dengan baju seragamnya. Matanya langsung teralihkan ketika dia melihat Ayu.


Kening Farel berkerut, menatap heran ke arah Ayu seraya mengingat-ingat pertemuannya kemarin sore.


Bukankah dia wanita yang berseteru dengan Bimo? Batinnya bertanya lalu berjalan menghampiri Ayu yang tengah mengelap meja. Tubuhnya sangat menggemaskan. Apa dia wanita bawaan Samuel?


"Kamu lupa memanggil ku apa."


"Iya ish! Maaf."


Wanita yang di ketahui bernama Nina itu ternyata pacar baru Farel. Hanya demi sebuah perkerjaan, dia rela menjadi kekasih Farel dengan gaya berpacaran yang begitu bebas. Nina tidak sadar jika Farel tengah memanfaaatkan keluguannya.


"Bukankah kamu wanita kemarin." Ayu menghentikan perkerjaannya lalu memutar tubuhnya ke arah Farel.


"Oh, kamu.."


"Aku Farel, penanggung jawab di sini."


"Saya Ayu." Jawab Ayu melirik wanita kurus di samping Farel.


"Kamu bawaan Sam?"


"Hm iya Mas."


"Seharusnya kamu itu membantu Chef Riko." Sebisa mungkin Farel berkata lembut sebab dia sedikit tertarik dengan bentuk tubuh Ayu yang padat. Sangat menyenangkan jika bisa meremasnya..


"Mas Sam menyuruh saya menjadi waiters."

__ADS_1


"Aku yang lebih berkuasa di sini bukan Samuel. Sebaiknya kamu membantu Chef Riko." Agar aku bisa melihat bagaimana ketika tubuhnya berkeringat.


Tanpa aba-aba, Farel meraih pergelangan tangan Ayu yang tentu saja langsung di tolak. Ayu menarik tangannya kebelakang hingga tanpa sengaja menyentuh tubuh Samuel yang sudah berdiri di belakangnya.


"Maaf Mas." Ucap Ayu merasa tidak enak. Menatap Samuel yang sorot matanya fokus ke arah Farel.


"Oh ternyata." Farel tersenyum kecut ketika menyadari keberadaan Samuel.


"Yang berkuasa hanya Pak Ridwan. Kita berdua hanya pesuruh. Jangan menganggap dirimu lebih unggul."


"Jadi dia wanita bawaanmu." Menunjuk ke arah Ayu.


"Bersikap yang sopan. Jangan membuat semuanya menjadi memanas." Jawab Samuel memperingatkan. Hatinya seakan terbakar ketika dia melihat Farel menyentuh tangan Ayu sembarangan.


"Aku hanya ingin mengantarkannya ke dapur. Dia akan membantu Chef Riko."


"Orang bawaan mu yang akan membantu Chef Riko. Dia tetap di sini."


"Tidak bisa begitu Sam. Kau jangan melangkahi senior mu." Samuel tersenyum kecut dengan sorot mata tidak terlepas dari Farel.


"Oh. Aku tidak pernah menganggap mu sebagai senior sebab kau tidak Ayal seperti seorang bocah yang sedang bermain menjadi bos besar di sini." Ucapan tersebut sontak membuat raut wajah Farel berubah geram.


"Jaga mulutmu Sam! Kau hanya orang baru di sini." Semua perhatian kembali tertuju pada keduanya. Sementara Ayu yang tidak mengerti akan situasi berfikir jika apa yang terjadi akibat kesalahannya.


"Siapa yang lebih dulu datang. Itu yang berhak menempati posisi sebagai waiters." Bukan tanpa alasan Sam memilih Ayu mengisi posisi waiters. Dia merasa kasihan pada Ayu jika berlama-lama berada di dalam dapur yang panas.


"Orang bawaanku lebih berpengalaman daripada dia." Kembali menunjuk Ayu.


"Mas Sam, ingat pada peringatan Pak Ridwan kemarin." Sahut Mita yang mendengar soal pengumuman perihal Sam dan Farel.


Pak Ridwan berkata agar para pegawai melapor jika keduanya kembali berseteru bahkan mereka terancam di keluarkan.


"Biar saja aku di keluarkan hahaha. Orang tuaku kaya sementara kau akan di jebloskan ke dalam penjara karena hutang orang tuamu!!" Tanpa perasaan Farel mengatakan hal tersebut meski Samuel tidak merespon ucapannya dan cenderung tidak perduli.


"Lebih baik aku di keluarkan daripada membiarkanmu tidak berlaku adil pada pegawai." Jawab Sam santai.


"Oke. Jadi mari kita selesaikan. Siapa yang kalah! Dia harus mengakui kesalahannya!!"


Tepat di saat keduanya akan baku hantam. Ayu berdiri tepat di antara keduanya.


"Saya akan membantu Chef Riko." Sahut Ayu cepat.


"Tapi.."


"Tidak ada perdebatan lagi. Saya akan ke dapur lalu kalian tidak perlu membuat keonaran. Mencari perkerjaan sangatlah susah. Permisi." Ayu membawa nampan lalu berjalan masuk ke dalam dapur.


"Dia saja tidak masalah! Kenapa kau yang sok!!" Ujar Farel tersenyum tipis. Samuel hanya diam seraya menatap kepergian Ayu.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2