
Warning!!! Ada adegan sensitif nya😁
Bagi yang tidak suka hal semacam itu, harap di skip tanpa meninggalkan komentar 🥰🙏
Happy reading 🌹
Pukul tiga sore, mobil Dika terlihat meninggalkan area perusahaan. Dia ingin cepat sampai ke rumah untuk menanyakan perihal perusahaan yang ternyata bukan milik Pak Wira.
Tentu saja Dika mempermasalahkan itu sebab hingga saat ini dia belum mencintai Tania. Dika hanya menuruti naffsu dan hasrat tanpa adanya perasaan cinta.
Ayu masih menjadi satu-satunya wanita yang menghuni hatinya walaupun perpisahan sudah jelas akan terjadi.
"Taniaaaa!!!" Teriak Dika melempar sembarangan tas kerjanya seraya mengendurkan dasi.
Bibik langsung berjalan menghampiri untuk memberitahu posisi Tania yang kini ada di kamarnya. Segera saja Dika menaiki anak tangga dan mendapati Tania tengah melakukan perawatan tubuh di kamar.
"Haii sayang." Sapa Tania.
"Sebaiknya anda pergi." Pintanya pada seorang wanita muda berseragam yang bertuliskan salon tempatnya berkerja.
"Tapi ini belum selesai."
"Pergi kataku!!" Teriak Dika membuat si pegawai mengemasi barang-barangnya lalu pergi keluar kamar.
Braaak!!!!
Pintu tertutup keras. Kini tatapan tajam Dika berfokus pada Tania yang malah berdiri menghampiri dengan hanya memakai baju dallamnya.
"Kamu ingin itu sayang?" Dika menampis kasar tangan Tania yang akan menyentuh dadanya.
"Kau menipuku?" Tanyanya dengan suara lantang.
"Menipu apa?"
"Ayahmu bukan pemilik perusahaan itu." Tania mengerutkan keningnya. Selama ini dia menganggap jika perusahaan itu milik Pak Wira.
"Itu perusahaan nya."
"Lantas ini." Menunjukkan undangan tepat di depan wajah Tania. Segera saja undangan itu di ambil lalu di baca." Itu adalah pemilik perusahaan! Lantas kau mengakui itu sebagai aset Ayahmu." Tania menggenggam undangan lalu meraih ponsel mahalnya.
Tidak mungkin Ayah berbohong padaku..
📞📞📞
"Ya sayang.
"Apa benar perusahaan itu bukan milik Ayah?
"Kamu bicara apa sayang.
"Perusahaan Ayah. Dika berkata itu bukan milik Ayah?
"Memang bukan. Ayah hanya mengelola saja.
Raut wajah Tania berubah kecewa. Selama ini dia mengetahui jika perusahaan itu adalah milik Pak Wira. Ayah angkat yang sudah sejak lama di incar.
"Ayah tidak pernah bercerita.
"Untuk apa bercerita. Yang penting Ayah bisa mencukupi kebutuhan keluarga.
"Ya Ayah.
📞📞📞
Tania mengakhiri panggilan begitu saja. Dia merasa kecewa juga tertipu. Padahal dia berharap jika nanti Pak Wira meninggal, perusahaan itu akan menjadi miliknya. Mengingat dia satu-satunya anak angkat Pak Wira yang memang tidak memiliki keturunan.
"Jangan pura-pura kamu Niah!!"
__ADS_1
"Aku juga baru tahu Dik. Setahuku itu perusahaan Ayah."
"Jika tahu begini, aku tidak mau menikah denganmu. Ayahmu dan aku memiliki jabatan yang setara!" Wajah Tania berubah masam.
"Kau Suami ku! Itulah faktanya. Aku mencintaimu Dika, sangat!"
"Aku masih mencintai Ayu!"
"Aku tidak perduli dengan perasaan mu! Aku mencintai mu dan kau harus selamanya bersamaku!!" Tania membuka lemari lalu mengambil baju dan langsung di kenakan.
"Dasar wanita gila!!" Umpat Dika lantang.
"Terserah! Temani aku menemui Ayah. Aku akan menanyakan hal ini secara langsung!!" Tanpa menunggu persetujuan, Tania meraih pergelangan tangan Dika dan menyeretnya keluar. Aku harus mengetahui properti apa saja yang di miliki Ayah! Sia-sia aku menjadi anaknya tapi ternyata dia orang tua yang miskin!!
Tania berasal dari sebuah panti asuhan. Pak Wira adalah donatur tetap di panti asuhan tersebut meski atas nama perusahaan.
Saat itu Tania masih duduk di bangku SMP tapi kegilaannya sudah tampak padanya. Dia terobsesi ingin memiliki keluarga kaya raya agar kehidupannya bisa membaik dan memiliki kejelasan.
Sore itu Tania tidak sengaja melihat banyaknya uang yang di sumbangkan oleh Pak Wira. Dan sejak hari itu, dia mencuri perhatian Pak Wira dengan berpura-pura menjadi anak yang baik dan penurut hingga membuat Pak Wira terkesan.
Rencana itu berhasil. Pak Wira mengadopsi Tania untuk menjadi anak angkatnya sehingga kehidupannya berubah 90 derajat lebih terhormat hingga sekarang.
🌹🌹🌹🌹
Ayu mengerutkan keningnya ketika pegawai salon kecantikan yang akan merawat tubuhnya menyuruhnya untuk membuka baju dallam.
"Memangnya harus ya?" Tanya Ayu pelan.
"Iya Nona. Agar otot-otot pada tubuh Nona bisa rileks."
"Berarti aku hanya memakai kain ini?" Menyentuh kain panjang yang menutupi tubuhnya.
"Iya seperti itu Nona."
Mungkin tidak masalah. Mereka wanita kan..
Dia benar-benar tidak akan masuk kan?
Ayu menyuruh Samuel menunggu di luar. Dia tidak ingin Samuel melihatnya dengan keadaan terbuka seperti sekarang.
"Silahkan berbaring Nona." Pinta salah satu pegawai.
"Hm." Ayu membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap.
Awalnya dia cukup tegang tapi setelah pemijatan di lakukan, Ayu merasa sangat nyaman bahkan mulai menikmatinya.
"Tubuh Nona sudah sangat halus. Tapi calon pengantin harus tampil cantik." Ucap si pegawai mencoba mencairkan suasana.
"Terlalu berat Kak." Jawab Ayu asal.
"Ini kesukaan para lelaki." Ayu tersenyum tipis dan kembali teringat bagaimana Dika menghina bentuk tubuhnya.
"Tidak semuanya Kak."
"Haha iya. Tapi sebagian besar lelaki menyukai tubuh yang berisi seperti milik Nona."
"Sudah lama menggeluti perkerjaan seperti ini Kak." Ayu tidak ingin terbawa suasana dengan mengalihkan pembicaraan.
"Lumayan Nona. Hampir lima tahun."
"Em.. Hoaaaaammmmmmm." Si pegawai tersenyum dan sengaja tidak melontarkan pertanyaan agar Ayu bisa terlelap. Ini sangat nyaman. Aku jadi mengantuk.
Selang beberapa menit, Ayu terlelap. Dia tidak pernah melakukan kegiatan semacam ini. Ayu tidak tahu-menahu soal mempercantik diri dan lebih nyaman tampil apa adanya.
.
.
__ADS_1
.
Satu setengah jam kemudian...
Si pegawai membereskan perlengkapan bersamaan dengan terbukanya pintu kamar.
"Sudah selesai Tuan." Ujarnya tersenyum.
"Pembayarannya sudah ku transfer."
"Terimakasih Tuan. Saya permisi." Samuel menatap kepergian si pegawai salon lalu menutup pintunya pelan.
Kakinya mendekati ranjang di mana Ayu berbaring di sana. Samuel duduk di sisi ranjang, seraya memperhatikan kulit lengan Ayu yang terlihat berkilap.
Ah Babe.. Kulitmu akan semakin halus.
Samuel mengeluarkan telunjuknya lalu menyentuh kulit Ayu dengan ujung jarinya.
Sontak Ayu membuka mata seakan merasakan ancaman yang akan Samuel lakukan.
"Kenapa Mas Sam masuk!" Ayu duduk seraya menutupi tubuh bagian depan dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Sudah selesai jadi aku masuk. Biarkan aku menyentuhnya." Cepat-cepat Ayu berdiri.
"Tidak boleh menyentuh sebelum menikah." Jawab Ayu ketus.
"Sedikit saja Babe. Aku ingin tahu hasilnya sesuai atau tidak dengan uang yang ku keluarkan." Jawab Samuel beralasan.
Sangat banyak kejutan yang di perlihatkan oleh lelaki ini. Awalnya aku berfikir jika dia sosok lelaki yang tidak banyak bicara. Tapi setelah beberapa waktu dengannya. Dia menyebalkan dan sangat jahil.
Ayu kembali di kejutkan dengan keberadaan Samuel yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya. Tangan kanannya melingkar lembut pada leher Ayu sehingga tubuh keduanya berdekatan tanpa celah.
"Apa yang akan Mas lakukan?" Ayu berusaha keluar dari kalungan tangan Samuel.
"Terus saja. Apa kamu ingin aku menyentuh dua benda di bawah lenganku ini." Niat Ayu seketika musnah. Dia kembali pada posisi semula dan memilih pasrah dengan apa yang akan di lakukan Samuel.
"Jangan Mas. Aku tidak memakai..."
"Aku tahu." Sahut Samuel cepat. Tangan kirinya mulai menyentuh lengan Ayu lembut hingga membuat pemiliknya hampir melenguh.
Tidak! Jangan keluarkan suara atau semua ini akan berlanjut!!
Samuel sengaja melakukannya berulang kali karena dia merindukan suara dessahan Ayu malam itu.
Satu kali saja Babe...
Ayu mengigit bibir bawahnya, tidak kuasa menahan darah yang berdesir hebat. Dia merasa terlalu cepat untuk bisa merespon. Namun hasrat yang terkoyak membuatnya sadar jika mungkin dia mulai menginginkan Samuel.
"Kenapa kamu diam Babe?"
"Apa yang kamu inginkan Mas."
"Sedikit dessahan."
"Tidak Mas. Ini tidak benar. Aku juga belum.." Ucapan Ayu tertahan, ketika dia merasakan hangat bibir Samuel yang menempel di pundaknya.
"Belum apa? Kenapa berhenti?" Samuel tidak berhenti menghentikan permainannya sebelum mendapatkan sesuatu yang inginkan.
Lengannya di turunkan dan mulai meremas benda kenyal yang menggantung bebas hingga membuat si pemilik melenguh.
"Egh.. Mas.." Segera saja Samuel melummat bibir Ayu yang terbuka dengan nafas memburu. Balasan permainan membuat Samuel melupakan janjinya untuk tidak menyentuh Ayu. Namun sesuatu di luar kuasanya terjadi." Ach Mas leherku!!" Sontak Samuel melepaskan lummatannya lalu memeriksa leher Ayu.
"Maaf. Aku terlalu bersemangat." Jawabnya menyesal.
"Posisinya tidak bagus."
"Cari posisi nyaman." Ayu membaca situasi lalu bergegas berlari kecil menuju kamar mandi dan menutup pintunya keras. Braaaakkkkk!!! Walaupun dia menikmati sentuhan namun Ayu masih ingin menjaga jarak sebelum pernikahan terjadi." Ach tubuhku rasanya terbakar." Samuel duduk lemah seraya menatap ke pintu kamar mandi. Dia berharap Ayu kembali untuk mengulang kegiatan panas tadi.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹