
Setelah kepergian Kean dan Riska. Ayu bernafas lega namun ada sedikit rasa yang mengganjal di hati. Dia khawatir pada Keano yang mungkin akan menjadi sasaran kemarahan Riska.
Ayu seringkali melihat Keano di marahi hanya karena kesalahan kecil seakan Riska tidak memiliki rasa sayang pada anak kandungnya. Namun kecurigaan itu mungkin tidak akan membuat Ayu risau kalau dia tahu jika Riska hanya wanita peniru.
"Why?" Tanya Samuel menatap Ayu yang tengah memakaikan baju untuk Daniel.
"CCTV sudah kamu pasang Bee?" Tanyanya mengingatkan.
"Hm sudah. Kenapa khawatir sekali? Sangat tidak mungkin dia melukai anaknya sendiri."
"Mungkin saja Bee. Banyak orang tidak waras sekarang. Bibik juga sering memergoki Kak Riska memarahi Keano bahkan mengurungnya. Sebenarnya aku kasihan, tapi..." Ayu menghembuskan nafas berat. Mencoba menghilangkan kekhawatiran agar kehidupan pernikahannya kembali berjalan normal.
Tapi apa bisa itu terjadi. Sebab nyatanya dia sudah menyanyangi Keano selayaknya anaknya sendiri. Apalagi Keano tergolong anak yang penurut. sekalipun dia tidak pernah nakal walaupun Keano selalu mengucapkan janji untuk tidak nakal.
"Dia bukan anakku." Ujar Samuel berharap kerisauan Ayu lenyap.
"Aku mau menerima nya sebagai anak asalkan Kak Riska pergi."
"Itu hanya strategi wanita itu."
"Entahlah Bee. Aku kasihan pada Keano. Dia hanya anak kecil yang tidak seharusnya di libatkan pada masalah orang dewasa."
"Sudahlah." Samuel mengangkat Daniel lalu menggendongnya." Kita bisa memantaunya dari sini. CCTV sudah terhubung dengan ponselmu." Imbuh Samuel menjelaskan.
"Ponsel yang baru atau yang lama."
"Yang lama Babe." Samuel mengingat ketika dirinya menyamar sebagai Radit namun itu semua gagal. Dia tidak tahan dan terpaksa mengakhiri penyamarannya sendiri." Ini lebih baik daripada kamu kabur dari rumah. Akan ku pastikan keselamatan Keano. Dimas sudah memasang beberapa camera tersembunyi." Ayu membereskan peralatan mandi Keano lalu berjalan ke nakas untuk menggambil ponselnya.
"Mana Bee." Ayu menunjukkan layar ponselnya.
"Ini." Menyentuh sebuah menu." Lihatlah, semua bisa terpantau kan." Ayu tersenyum, melihat mobil hitam yang terlihat baru saja tiba. Itu berarti rumah mereka cukup jauh dari lokasinya sekarang.
"Hm ya Bee. Terimakasih ya."
"Sama-sama Babe. Sebaiknya kamu mandi lalu kita makan malam di luar." Ayu tersenyum lalu meletakkan ponsel di atas laci. Sedikit lega meski terbesit perasaan khawatir. Aku yakin ini yang terbaik. Aku tidak mau ada wanita lain berada di sekitar hubungan rumah tanggaku..
🌹🌹🌹🌹
Sementara di rumah barunya. Riska menatap kesal Keano yang tengah duduk di tepian ranjang. Dia menganggap kejadian saat ini adalah kesalahan Keano yang tidak becus melakukan perannya.
__ADS_1
Kehadiran Riska membuat kepala Keano menunduk. Dia takut melihat tatapan Riska yang seakan ingin memakannya hidup-hidup.
"Mana janjimu!" Tanya Riska kasar.
"Maaf Mom. Kean tadi sudah berbicara dengan Ibu Ayu."
"Kalau seperti ini, Daniel akan merebut perhatian mu dari Papi Samuel." Sungguh Kean tidak mempermasalahkan hal itu. Dirinya lebih takut pada perubahan sikap Riska yang sekarang begitu kasar padanya.
"Tidak apa Mom. Em.. Papi juga tidak menginginkan Kean."
"Mama yang rugi Keano!! Papi Samuel akan menelantarkan mu."
"Ibu Ayu bilang jika Kean tetap bisa bersekolah, itu berarti Papi tidak akan menelantarkan Kean."
"Dia berbohong! Dia ingin menyingkirkan mu dari sana." Kean terdiam sementara Riska berjalan keluar kamar saat mendengar suara bel pintu berbunyi.
Kenapa Mama bersikap kasar padaku? Kean tidak nyaman. Kean takut. Kean ingin bersama Ibu Ayu saja..
Di ruang tamu, Riska duduk saling berhadapan dengan seorang lelaki berjaket biru. Dia meletakan sebuah amplop coklat yang langsung di ambil oleh si lelaki.
"Hanya memantau kan?" Ucapnya pelan.
"Ya. Laporkan kegiatan apapun yang mereka lakukan."
"Cepat pergi. Hubungi nomerku dan jangan datang ke sini lagi." Si lelaki memasukkan amplop coklat pada saku jaketnya dan melangkah keluar rumah. Enak saja kalian ingin hidup tenang. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi...
🌹🌹🌹
Mobil Samuel melakukan mobilnya menuju restoran yang sudah lebih dulu di reservasi. Seakan ingin merayakan kepergian Riska. Samuel merencanakan sebuah momen makan malam spesial tanpa sepengetahuan Ayu.
Tidak ada niat buruk. Sejak kedatangan Riska, dia sangat merasa terganggu bahkan takut jika Ayu meninggalkannya hanya karena masalah tersebut. Samuel bersyukur, sebab Ayu bisa mengambil langkah tegas untuk mengusir Riska dan Keano dari Istana mereka.
Setibanya di lokasi. Ayu tersenyum ketika menyadari Samuel memilih rumah makan kesukaannya. Bukan hanya sajian menggoyang lidah. Restoran itu juga menyajikan tempat sangat nyaman untuk para pengunjung.
"Kamu tahu aturannya Bee. Di sini harus reservasi tempat satu hari sebelumnya." Ucap Ayu berjalan di samping Samuel yang sengaja memelankan laju kakinya untuk mengimbangi kaki pendek Ayu.
"Itu jadi urusan ku. Kamu lupa kalau aku tidak akan menyulitkan mu."
"Wah iya. Kita harus memesan menu masing-masing satu." Tentu saja Ayu antusias menyambutnya. Makanan yang di sajikan sesuai dengan seleranya.
__ADS_1
"Aem Ma." Celoteh Daniel mengalungkan kedua tangannya ke leher Samuel.
"Iya sayang. Kita makan besar hari ini."
Samuel bersyukur di berikan kemudahan untuk menyenangkan hati Ayu yang menurutnya sangatlah gampang. Hanya dengan iming-iming makanan sedap, wajah sumringah Ayu sudah di perlihatkan.
Mereka memasuki saung dari bambu dan di dalamnya sudah tersedia menu yang Samuel pesan. Sebelum berangkat Samuel sudah memesan menu makanan agar Ayu bisa langsung menikmatinya.
Beruntung, sebab Daniel memiliki selera makan yang sama. Meski begitu Ayu membatasi tingkat kepedasan walaupun Daniel menginginkannya.
"Tidak sayang. Ini sambal." Cegah Ayu mengambil mangkuk sambal dan menjauhkannya dari jangkauan Daniel.
"Au Ma." Celotehnya berdiri untuk mengambil mangkuk sambal. Cepat-cepat Ayu menyembunyikan mangkuk tanpa sepengetahuan Daniel.
Sontak saja Daniel memasang wajah kesal sambil mencari keberadaan si mangkuk. Samuel dan Ayu tertawa kecil, melihat tingkah konyol Daniel yang di anggap menggemaskan.
"Hilang ya sayang."
"Iang Ma."
"Sudah Mama buang. Sekarang lanjutkan makannya ya." Ayu mengambil piring milik Daniel dan meletakkannya di samping piring miliknya.
"Aem Ma." Daniel melupakan mangkuk sambal dan kembali fokus ke piring miliknya.
"Wajahnya mirip denganku dan selera makannya mirip seperti mu."
"Iya Bee. Kenapa bisa ya." Jawab Ayu tersenyum.
"Karena dia anak kita. Lihatlah Kean. Wajahnya tidak mirip denganku begitupun sikapnya. Apa kamu masih menganggap dia anakku?"
Samuel mengingat jika dirinya jarang menyentuh Riska semenjak perselingkuhan terendus. Walaupun begitu, Samuel masih berharap Riska berubah dan memilih bertahan beberapa bulan. Sampai akhirnya Riska kabur ke Amsterdam dengan membawa harta juga hasil penjualan perusahaan.
"Walau begitu. Lihatlah dia sebagai anak kecil. Aku juga bukan Ibunya, bukan juga sanak saudara nya. Tapi aku tidak ingin egois dengan melibatkan dia pada masalah orang dewasa. Dia anak yang baik, penurut dan sama sekali tidak nakal. Kamu juga lihat sendiri ketika dia menjaga Daniel dengan sangat baik."
Samuel menghela nafas panjang. Sebenarnya dia tidak membenci Kean tapi tuduhan Riska membuatnya menyimpan dendam.
"Lihat dia sebagai anak kecil yang butuh di lindungi dan perlakukan lembut." Imbuh Ayu menginginkan Samuel bisa melunakkan hatinya sedikit saja ketika Kean mengajaknya mengobrol.
"Aku semakin ingin membuatkan Adik untuk Daniel." Jawab Samuel pelan.
__ADS_1
"Hm amin." Tepat di saat ucapan itu terlontar. Tania menyapanya dengan senyuman hangat. Dia berdiri di ambang pintu saung sambil menggendong Abyan.
🌹🌹🌹