
Sore itu tepatnya setelah mandi, Ayu meraih dompet kecilnya juga kontak motor matic. Dia berjalan keluar dan melewati Dika yang kala itu tengah duduk di ruang tengah.
"Kemana?" Tanya Dika seraya beranjak. Dia meletakan ponsel barunya lalu berjalan menghampiri Ayu.
"Membeli buah." Ayu mencoba acuh namun tangan Dika menahannya.
"Ku antarkan."
"Tidak perlu." Ayu menyingkirkan tangan Dika dari pergelangannya.
"Kenapa? Meski aku ada niatan untuk berpisah. Tapi aku belum benar-benar melakukan itu. Bukankah kau akan berusaha merubah penampilan." Ayu tersenyum lalu memutar tubuhnya ke arah Dika.
"Nanti mobil mahal mu kotor. Aku lebih nyaman memakai motor matic ku sendiri."
Beruntung sekali sebab Ayu tidak mendengarkan kata Dika dulu, ketika dia menyuruhnya menjual motor matic butut miliknya. Ayu sangat menyanyangi motor yang di beli dari hasil kerjanya selama dua tahun.
"Kau mencoba membalas ku?"
"Tidak Mas. Ku fikir kau tahu jika aku bukanlah tipe wanita pendendam. Tapi sikap yang kau tunjukkan membuat ku sadar jika seharusnya aku tidak terlalu bergantung pada mu. Aku pergi." Ayu melanjutkan langkahnya sementara Dika mencengkram erat kepalanya yang mendadak panas. Dia tidak menduga jika ancamannya malah membuat Ayu bersikap dingin padanya.
Kau fikir aku tidak bisa hidup tanpa uangmu!
Ayu memacu motornya dengan kecepatan sedang. Meski hatinya hancur, Ayu tipe wanita yang pintar menyembunyikan kesulitannya.
Ah Tutup. Kalau membeli di supermarket nanti mahal.
Ayu terus melaju menyisir jalanan yang cukup ramai. Banyaknya para pekerja dan pegawai kantor yang pulang, membuat jalan raya sedikit macet ketika menjelang malam seperti sekarang.
Tidak apa. Sambil melepas penat.
Dessahan lembut lolos ketika toko buah kedua juga terlihat tutup. Ayu memarkir motornya di bahu jalan tanpa turun. Dia tengah mengingat letak toko yang lain.
"Sepertinya ada di daerah sana." Gumamnya kembali melajukan motornya.
Setelah tiba di tujuannya, Ayu kembali di buat kesal sebab tokonya tutup lagi.
"Ah! Kenapa tutup lagi!! Apa mereka sedang berdemo!" Gerutunya meraih ponsel di saku untuk menghubungi Mita.
📞📞📞
"Ada apa Ay.
"Kau tahu lapak buah yang buka hari ini.
"Untuk apa?
"Jawab saja. Aku sudah mendatangi lapak A,B dan C tapi semuanya tutup.
"Hahaha hahaha.
"Kenapa kau malah tertawa.
__ADS_1
"Kebetulan sekali.
"Apa yang kebetulan.
"Sekalian antar aku pulang. Karena kericuhan yang terjadi tadi. Cafe di tutup lebih awal.
"Kericuhan apa?
"Nanti ku ceritakan. Sudah lama kita tidak jalan bersama kan.
"Jadi aku harus menjemputmu.
"Tentu saja. Aku akan membatalkan pesanan ojek ku.
"Oke aku ke sana.
📞📞📞
Ayu memasukkan ponselnya lalu melajukan motornya menuju Cafe Delima. Jarak yang cukup dekat membuat Ayu sudah tiba dalam kurun waktu lima menit.
Mita tidak terlihat di depan, sehingga Ayu terpaksa memarkir motornya dan kembali di pertemukan dengan si juru parkir.
"Cafenya sudah tutup!" Ucap si juru parkir kasar. Dia ingin jika Ayu adalah wanita yang di jumpainya tadi pagi.
"Saya tahu Pak." Ayu tidak ingin menggubris. Dia melepaskan helm lalu menggantungkannya ke spion. Ayu duduk di atas motor berniat menunggu Mita di sana.
"Kalau sudah tahu kenapa parkir. Apa kamu tidak melihat kalau Cafe sudah tutup!" Menunjuk kasar ke arah Cafe yang memang sudah tutup dengan tulisan closed.
"Saya tahu Pak. Saya sedang menunggu..."
"Kalau menunggu di tempat lain saja! Ini itu area parkir khusus untuk pengunjung juga pegawai. Kalau kamu tidak berkunjung jangan parkir di sini." Ayu mendengus lalu berdiri menghadap Bimo.
"Dengarkan saya dulu. Apa Bapak menaruh dendam pada saya gara-gara tadi pagi?"
"Ya itu termasuk! Karena ulahmu tadi membuat saya kena semprot Mas Sam."
"Mangkanya Bapak itu harus jaga kesopanan. Saya rasa Bapak perlu berlatih untuk lebih menghargai seseorang dan berkata sopan."
"Kamu tahu apa! Cepat pergi sebelum saya menyingkirkan paksa motor mu!"
"Saya menunggu teman saya. Dia berkerja di sini."
"Halah alasan saja! Dasar plin plan." Ayu melongok ketika Bimo langsung menendang motornya hingga terguling.
"Aaaaaaaa tidak! Motorku!!!" Teriaknya reflek." Bapak bagaimana sih!!!!" Tentu saja Ayu marah besar, itu motor kesayangan yang di beli dari jerih payahnya sendiri.
"Motor butut saja. Cepat pergi!" Wajah Ayu semakin panik ketika dia melihat cairan menetes dari motornya.
"Nah bocor kan! Bagaimana ini Pak." Eluhnya duduk berjongkok dan menyentuh cairan oli.
Waduh rusak beneran. Padahal tadi niatnya hanya menakut-nakuti.
__ADS_1
"Itu karena motormu yang sudah rusak." Dengan teganya Bima berniat untuk pergi namun Ayu tidak membiarkannya begitu saja. Dia menghadang langkah Bima menuntut pertanggungjawaban.
"Eh mau pergi! Enak saja! Ganti rugi!" Menunjuk ke arah motornya.
"Ganti rugi apa! Kalau kamu langsung pergi, ini tidak akan terjadi. Ini semua salahmu!" Jawab Bimo tidak ingin di salahkan.
"Saya menunggu teman saya! Bukankah Saya sudah menjelaskan itu!"
"Tidak tahu!" Bimo mendorong pundak Ayu dan berusaha menyingkirkan nya. Tubuh Ayu terdorong cukup keras hingga membuat tubuhnya hampir terjungkal.
Tapi dengan kemampuan bertahan dan skill terpendamnya. Ayu mengayunkan kakinya cepat lalu menendang punggung Bimo hingga membuatnya tersungkur di tanah.
Kericuhan yang terjadi, membuat sebagian pegawai yang belum pulang berhamburan keluar.
Farel yang kala itu akan bersiap pulang, berjalan ke area parkir untuk melihat.
"Dasar wanita sinting!!!" Teriak Bimo geram. Wajahnya penuh dengan tanah begitupun baju dan celananya yang terlihat kotor.
"Bapak harus bertanggung jawab dengan motor saya!!" Menunjuk ke arah motor. Mita yang baru saja keluar, langsung panik dan bergegas lari menghampiri Ayu.
"Kau fikir aku takut!!" Dengan tubuh sempoyongan, Bimo berusaha membalas perbuatan Ayu.
"Bapak fikir saya juga takut!!!" Ayu juga tidak ingin kalah, dia berniat melawan Bimo jika memang di perlukan.
"Berhenti! Ada apa ini?" Teriak Farel melerai.
"Ini Mas, ada wanita sinting!!" Menunjuk ke arah Ayu yang pergelangan tangannya sudah di pegang erat Mita.
"Bapak yang sinting! Motor saya rusak tapi Bapak malah kabur!!" Jawab Ayu menghembuskan nafas berat. Dia tengah menahan emosi yang semakin bergemuruh di hatinya.
"Kau siapa? Kenapa berada di area parkir Cafe." Tanya Farel menatap Ayu dari atas sampai bawah.
"Dia teman ku Mas." Jawab Mita lirih." Apa yang terjadi? Kenapa begini?" Tanya Mita berbisik. Dia takut jika kejadian ini akan menjadi masalah yang berbuntut panjang.
"Itu kenapa saya mengusir nya Mas. Di sini kan khusus parkir pegawai juga para pengunjung. Kalau hanya menunggu teman sebaiknya parkir di bahu jalan saja." Sahut Bimo berusaha lari dari kesalahannya. Tujuannya agar dia mendapat pembelaan dari Farel tanpa bertanggung jawab atas perbuatannya.
"Itu benar! Apa kau tidak lihat tulisan itu!" Menunjuk ke papan pengumuman.
"Oke saya bersalah! Saya baru tahu jika para pegawai Cafe ini sangat tidak ramah!" Farel menghela nafas panjang seraya masih memperhatikan lekuk tubuh Ayu yang menurutnya cukup menggoda.
"Bukan tidak ramah Nona. Itu peraturannya."
"Lantas motor saya bagaimana? Orang tua ini sudah merusaknya sampai olinya bocor!" Menunjuk ke Bimo.
"Sepedanya saja yang sudah rusak Mas. Saya tidak melakukan apapun." Jawaban dari Bimo membuat emosi Ayu membuncah. Di tambah dengan masalah hidup yang beberapa kali menerpa semakin menambah panas hawa di otaknya.
"Dasar orang tua sialan!! Kau yang merusak motorku! Kenapa sekarang kau berkata itu!" Mita menelan salivanya kasar. Dia mencengkram erat lengan Ayu seraya berusaha menurunkan emosi Ayu.
"Mana buktinya! Motor mu jatuh sendiri tadi." Jawab Bimo masih mengelak." Dia itu wanita yang saya ceritakan tadi pagi Mas. Dia memang tukang membuat onar!" Bimo yang memang begitu patuh pada Farel tentu mendapatkan pembelaan khusus.
"Sebaiknya kau pergi Nona, tidak ada bukti. Jika kau tidak pergi, aku akan memanggil polisi." Ancam Farel tersenyum. Dia kembali memperhatikan lekuk tubuh Ayu seakan sedang menerka sesuatu yang ada di dalamnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹