Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Berbohong untuk kejutan besar


__ADS_3

Kedatangan Tania dan Dika langsung di sambut hangat oleh Pak Wira. Keduanya di persilahkan masuk dan kini mereka tengah berada di ruang tengah.


"Kenapa Ayah tidak bercerita?" Tania merasa tidak sabar dan segera melontarkan kekesalan.


"Cerita apa?"


"Perusahaan itu!" Pak Wira menghela nafas panjang mendengar suara kasar Tania.


"Ayah tidak pernah bercerita karena kamu tidak pernah bertanya. Memangnya ada masalah apa sampai-sampai kamu semarah itu." Dika memilih berdiam dengan wajah ketus. Dia bahkan malas melihat ke arah Pak Wira yang seharusnya di hormati.


"Properti apa yang Ayah punya. Apa rumah ini milik Ayah?" Seakan tertusuk belati, hati Pak Wira terasa nyeri ketika mendengar kegilaan yang kembali Tania perlihatkan. Ada sesal terbesit walaupun rasa sayang pada Tania benar-benar tulus.


"Ayah masih hidup. Kenapa kamu bertanya masalah itu sayang?"


"Aku harus tahu harta apa yang ku dapatkan saat Ayah sudah tiada nanti." Pak Wira menghela nafas panjang seraya mengangguk-angguk.


"Tidak ada. Ayah tidak memiliki apapun. Istri, anak apalagi harta. Kamu satu-satunya harta yang Ayah miliki." Tania membuang nafas kasar seraya menatap geram ke Pak Wira.


"Sia-sia sekali aku menjadi anakmu kalau kenyataannya seperti ini." Umpat Tania kasar. Tangannya menunjuk ke wajah Pak Wira yang teduh.


"Hentikan sayang. Ayah sudah merawat mu sejak kecil." Pak Wira masih berusaha berkata lembut. Dia mengetahui mental Tania yang memang memiliki gangguan.


"Itu tidak berguna! Aku menginginkan perusahaan itu!"


"Maaf. Itu bukan milik Ayah." Jawab Pak Wira seraya berdiri." Sebaiknya kalian pergi dari sini daripada harus membuat onar." Pak Wira sudah sangat lelah menghadapi kegilaan demi kegilaan yang Tania perbuat. Dan apa yang di katakan Tania hari ini, adalah puncak kekesalannya walaupun dia tidak membalas ucapan Tania dengan teriakan.


"Ayah mengusirku?"


"Kita harus bercerai!" Sahut Dika juga merasa kecewa. Tania menoleh begitupun Pak Wira.


"Apa maksud Pak Dika?"


"Saya merasa tertipu! Dia mengancam saya dengan perkerjaan sehingga saya terpaksa mau menjadi Suaminya." Menunjuk ke Tania." Dan ternyata itu bukan perusahaan anda?" Dika tersenyum kecut menatap rendah Pak Wira.


"Jangan harap kamu melakukan itu Dik." Jawab Pak Wira kembali duduk.


"Kenapa tidak bisa?"


"Karena jabatan saya lebih tinggi daripada anda." Sahut Pak Wira tidak ingin perpisahan terjadi. Dia yakin jika Tania tidak akan berhenti dan akan membuat keonaran yang lebih gila lagi." Menggugat cerai, berarti jabatan anda akan saya geser." Sontak Dika melebarkan matanya.


"Bapak jangan sok ya!"


"Saya di percaya untuk mengelola perusahaan itu sepenuhnya. Pengaruh saya sama halnya dengan pemilik perusahaan yang bisa memecat atau menaikkan jabatan sesuai dengan keinginan saya."


"Sial!!!" Umpat Dika mencengkram erat kepalanya lalu berjalan keluar.


"Aku kecewa Ayah!"


"Terserah sayang. Ayah sudah memberikan kehidupan terbaik dan sekarang tanggung jawab mu bukan lagi ke Ayah tapi, Dika Suami mu." Tania berdiri dan pergi begitu saja tanpa berpamitan.


🌹🌹🌹🌹


Setelah kejadian tidak terduga tadi sore, membuat fikiran Ayu menjadi tidak tenang. Apa karena dia baru sadar jika Samuel memiliki paras tampan? Tidak! Sebab sejak awal pertemuan Ayu sangat sadar pada paras tampan yang di miliki Samuel.


Sebelumnya, dia tidak mempermasalahkan ketika Samuel menatapnya berlama-lama. Tapi malam ini semua terasa begitu lain. Tatapan Samuel seakan mulai menembus relung hatinya yang tengah tertutup awan hitam.


"Ini baru pertama tapi hasilnya sungguh sangat cantik." Puji Samuel untuk kesekian kali. Memperhatikan kulit Ayu yang semakin terlihat halus.


"Besok lagi Mas?" Tanya Ayu berusaha untuk mengendalikan rasa yang meledak-ledak.


"Hm iya. Sampai pernikahan berlangsung. Sekarang, aku ingin bertanya perihal mahar. Kamu ingin berapa?"


"Terserah Mas." Jawabnya cepat.


"Itu tidak boleh. Harus sesuai keinginanmu." Ayu terdiam sesaat untuk memikirkan mahar yang tepat untuk pernikahannya yang ke dua.


"Dua juta saja cukup Mas."

__ADS_1


"Jangan asal menjawab."


"Aku tidak tahu. Aku sudah berkata terserah tapi Mas Sam tidak menerima."


"Aturannya memang seperti itu Babe. Fikirkan dengan baik." Ayu kembali terdiam seraya memperhatikan acara televisi di hadapannya.


"Seharga dengan kesetiaan." Sontak Samuel menoleh seraya tersenyum.


"Itu tidak bisa terukur."


"Ya sudah dua juta saja. Mas tidak bisa memenuhinya kan." Samuel mengangguk-angguk dan memikirkan balasan dari jawaban asal-asalan yang Ayu lontarkan.


"Kalau aku bisa?"


"Berapa? Coba sebutkan." Tanyanya menantang.


"Tidak bisa ku sebut. Tapi aku tahu maksud mu."


Aku saja tidak tahu apa yang sedang ku ucapkan. Kenapa dia malah berkata itu?


"Mas mengerjai ku lagi?"


"Mana pernah aku berbuat itu. Aku hanya merasa nyaman bersama mu sehingga aku menunjukkan siapa diriku dan semua Kegilaan ku."


"Hm."


"Jadi maharnya seharga kesetiaan?" Tanya Samuel mengulang.


"Iya."


"Aku suka itu. Kamu wanita termahal yang pernah ku kenal. Akan ku siapkan besok." Ayu mencoba bersikap tenang seraya memikirkan tentang apa yang di maksud Samuel.


"Akan ku lihat."


"Iya Babe. Em hari ini undangan sudah ku sebar."


"Dengan uang, semuanya bisa lebih mudah. Tidak masalah kan jika aku mengundang semua staf di perusahaan?"


Ayu yang tidak tahu tentang perusahaan Samuel tentu tidak mempermasalahkan keinginannya untuk berbagi kebahagiaan. Jika dia mengetahui salah satu dari mereka adalah Dika, tentu saja Ayu akan menolak itu mentah-mentah.


"Tapi jangan mengundang dia."


"Aku paham. Aku hanya mengundang staf dan orang terpenting di perusahaan." Termasuk orang yang kau panggil dengan sebutan dia.


"Iya Mas terserah."


"Itu kenapa kamu harus tampil cantik. Tunjukkan pada semuanya jika kamu wanita yang sempurna dan tidak memiliki kekurangan sedikitpun."


"Kekuranganku sangat banyak."


"Semua itu akan terhempas ketika dunia mengetahui jika kamu milikku." Ayu tertawa kecil lalu meraih cemilan untuk mencairkan suasana.


"Mas seperti penguasa dunia saja."


"Dunia bisnis Babe."


"Apa nama perusahaan Mas Sam."


"Aku tidak yakin itu perusahaan ku." Ayu mengerutkan keningnya seraya menoleh.


"Kenapa begitu Mas?"


"Dimas yang mengurus sementara aku hanya fokus pada kehidupan ku sendiri." Samuel tidak ingin memperlihatkan keunggulannya sehingga dia mengucapkan sesuatu yang akan membuat Ayu berfikir, jika dirinya hanyalah Bos yang suka menyuruh-nyuruh.


"Mas Sam malas sekali."


"Iya. Apa kamu menyesal?" Godanya seraya terkekeh kecil.

__ADS_1


"Sangat tidak berguna jika aku menyesal."


"Hmm." Samuel meraih pinggang Ayu lalu menarik tubuhnya agar keduanya duduk berdekatan." Kenapa berjauhan." Imbuhnya seraya mengambil cemilan di tangan Ayu.


"Tidak baik seperti ini Mas." Protes Ayu lagi.


"Kamu membalasnya tadi. Apa itu berarti kamu sudah mencintai ku?" Ayu membuang nafas kasar seraya melirik malas. Dia tidak ingin mengakui ketertarikan di dalam hatinya yang mulai tumbuh.


"Belum."


"Tidak apa. Aku akan sabar."


"Sabar seperti apa? Mas tadi barusan memaksaku." Protes Ayu ketus.


"Aku tidak memaksa. Bibirmu terbuka dan ingin ku masukin."


"Tapi Mas melakukan itu sampai-sampai aku terbawa arus."


"Itu permulaan yang bagus. Aku mengganti aturannya. Menikah, bersentuhan lalu jatuh cinta hehe." Cepat-cepat Ayu berdiri, tapi dengan cepat juga Samuel mengembalikannya pada posisi semula.


"Aturan itu sudah jauh bergeser Mas. Bersentuhan, menikah lalu..." Ayu menolak serta merta kata-kata cinta walaupun hanya sekedar ucapan.


"Why? Kamu selalu menghentikan pembahasan tanpa ada ujungnya."


"Aku malas!"


"Malas jatuh cinta?" Ayu mengangguk dengan tatapan fokus ke depan." Denganku?" Anggukan kembali di berikan." Yakin? Kata mereka aku sangat tampan." Ayu gagal mengendalikan perasaannya hingga membuat mimik wajahnya terlihat gugup.


"Ya tampan."


"Itu memudahkan mu Babe. Lihat aku, jangan terlalu kaku." Ayu masih tidak menoleh karena keangkuhan yang masih menjadi pelindung perasaannya.


Samuel berdiri lalu mengambil sebuah kursi kayu dan duduk tepat di hadapan Ayu. Tangan kanannya meraih remote lalu mematikan televisi sehingga suasana kamar menjadi hening.


"Aku mengantuk." Ujarnya seraya berusaha berdiri.


"Jangan menghindar." Samuel mengapit kedua kaki Ayu dengan kaki panjangnya sehingga dia tidak mampu bergerak.


"Mas melakukannya lagi! Ini tidak benar! Ini tidak boleh! Lepaskan!" Teriak Ayu seraya berpaling untuk menghindari tatapan Samuel.


"Kita akan menikah besok."


"Konyol! Mas bicara omong kosong agar aku bisa memberikan itu!"


"Tidak honey. Itu pesta pernikahannya dan akadnya akan di lakukan besok."


"Secepat itu?"


"Ya. look at me." Dengan menahan perasaan bergetar nya, Ayu menoleh dan membalas tatapan manik Samuel.


"Apa yang perlu ku lihat?" Jawab Ayu dengan wajah menegang walaupun mencoba di sembunyikan.


"Aku."


"Untuk apa sih Mas?"


"Besok hubungan kita akan resmi."


"Lepaskan aku agar aku bisa tidur lebih awal."


"Iya." Samuel berdiri lalu mengangkat tubuh Ayu dan membaringkannya di atas ranjang." Selamat beristirahat. Aku keluar sebentar untuk menanyakan beberapa hal pada Dimas." Ayu memalingkan wajahnya seraya menutup bibirnya dengan kedua tangan ketika Samuel mendekatkan wajahnya untuk memberikan kecupan singkat pada dahinya." Hehe takut sekali." Imbuhnya berdiri tegak.


"Aku takut terpengaruh Mas." Segera saja Ayu menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


"Anggap saja sebagai latihan untuk malam panjang kita besok. Love you Babe." Samuel melangkah pergi meninggalkan Ayu yang wajahnya terlihat semakin menegang.


"Secepat itu? Aku sedang mempersiapkan untuk satu Minggu tapi ternyata besok sudah harus menjadi Istrinya." Bukan kantuk yang Ayu dapatkan. Dia malah berguling-guling di atas tempat tidur saat membayangkan dirinya melayani Samuel selayaknya bakti seorang Istri pada Suaminya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2