
Daniel adalah nama panggilan yang di pilih. Hadirnya Daniel di tengah keluarga kecil Samuel dan Ayu membuat keduanya memiliki kesibukan baru.
Sekarang Ayu membenarkan ucapan Samuel. Sejak memiliki bayi, hari-harinya mulai di sibukkan. Dia tidak lagi merasa bosan di rumah atau memikirkan masa lalunya.
Hari ini tepat satu bulan setelah persalinan. Ayu terlihat keluar dari kamar mandi. Tatapannya langsung terfokus pada Samuel yang tengah menggendong Daniel di teras kamar.
Ayu merasa kalah, karena Samuel lebih pintar menenangkan Daniel saat sedang rewel. Rasanya Daniel sudah merasakan bagaimana hangatnya cinta Samuel pada keluarga kecilnya. Sehingga Daniel merasa nyaman ketika Samuel mendekapnya.
"Sebaiknya kamu tidur." Pinta Samuel sudah berada di dalam kamar menatap ke arah Ayu yang tengah menyisir rambutnya.
"Tidak Bee. Aku belum mengantuk."
"Semalam kamu kurang tidur."
"Kamu juga." Jawab Ayu cepat. Samuel selalu saja mendahulukan dirinya daripada kesehatannya sendiri.
"Kita bergantian. Kamu tidur dulu lalu aku."
"Apa dia akan bangun jika di letakkan pada box bayi?"
"Hm ya. Aku sudah mencobanya beberapa kali." Jawabnya tersenyum." Sebaiknya kamu tidur dulu dan kita bergantian." Samuel merasa kasihan pada wajah lelah Ayu meskipun dia juga cukup kelelahan. Sesuai janji, dia akan meringankan perkerjaan Ayu sebisa yang dia mampu.
Ayu beranjak lalu menghampiri Samuel dan memeluknya. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya seraya menghirup aroma tubuh Samuel kuat.
"Terimakasih Bee. Seharusnya ini tugasku. Aku berjanji hanya tidur sebentar."
Keduanya sudah berkomitmen untuk tidak memakai jasa baby sitter. Apalagi Daniel adalah anak pertama sehingga mereka ingin menikmati setiap momen yang ada.
"No Babe. Ini tugas kita." Ayu mendongak lalu mengecup bibir Samuel sebentar yang di balas dengan lummatan singkat.
"I love you so much Bee."
"I love you 1000 times more. Tidurlah."
"Hm." Ayu tersenyum simpul lalu berbaring di atas ranjang. Hanya sebentar saja, dengkuran halus terdengar berhembus karena rasa kantuk yang memang sejak tadi menyerang.
Samuel menguap lalu duduk perlahan di sofa. Dia mengambil bantal di pahanya untuk menopang lengannya agar tidak terlalu lelah.
"Mama sedang tidur. Kamu juga harus tidur dan jangan menangis. Bukankah kita akan menjaganya bersama?" Gumam Samuel lirih. Menatap wajah Daniel dengan bibir setengah terbuka.
Samuel kerapkali mengatakan itu. Dia menginginkan Daniel bisa menjadi penjaga Ayu seperti angannya dulu.
.
.
Beberapa saat kemudian. Samuel yang sebenarnya juga mengantuk tidak sengaja tertidur. Dia refleks terbangun saat Daniel bergerak dan mulai merengek.
Segera saja dia berdiri untuk mengambil asi yang sudah di siapkan. Beruntung, karena Ayu sanggup memenuhi kebutuhan asi Daniel sampai-sampai dia mampu menyimpannya untuk stok. Asi yang di hasilkan sangat banyak sehingga Ayu berinisiatif untuk memompanya lalu meletakkannya di dalam freezer.
Samuel kembali berjalan ke arah teras sambil memberikan asi lewat bantuan dot. Dia tidak ingin membangunkan Ayu karena rengekan suara Daniel.
.
.
.
.
Dua jam kemudian...
Ayu bangun dengan panik. Dia merasa sudah terlalu lama tidur dan melupakan janjinya untuk bergantian menjaga.
"Why?" Tanya Samuel menatap ke arah Ayu.
"Daniel mana Bee?" Samuel menunjuk keranjang bayi dengan isyarat tangan.
"Astaga. Sudah siang. Kamu belum sarapan." Cepat-cepat Ayu menyikap selimut lalu turun dari ranjang.
"Kenapa sepanik itu?"
"Kamu belum sarapan pagi."
__ADS_1
"Kamu juga belum."
"Iya. Akan ku ambilkan." Ayu mengikat rambutnya sembarangan lalu berjalan keluar kamar.
.
.
.
Setelah hampir setengah jam berlalu. Ayu masuk dengan nampan dan satu piring penuh dengan makanan. Mereka terbiasa makan dalam satu piring semenjak hadirnya Daniel.
"Makan dulu. Mumpung Daniel tidur." Baru saja Ayu meletakkan nampan pada meja, suara rengekan Daniel terdengar.
Cepat-cepat Ayu menghampiri box bayi lalu mengendong Daniel untuk memberikannya asi. Dia duduk di sisi Samuel dan langsung menyusui.
"Kamu makan dulu nanti sisanya aku." Pinta Ayu pelan.
"Jujur saja Babe. Aku rindu ketika kamu hamil lagi." Jawab Samuel menyukai sifat Ayu ketika sedang hamil. Tidak pernah malu, selalu menggantungkan keinginannya dan yang paling penting adalah manja.
"Daniel saja masih kecil. Kenapa membahas hamil?"
"Bukan masalah hamil tapi kamu tidak malu-malu seperti sekarang."
"Aku tidak malu Bee."
"Kenapa tidak minta di suapi." Ayu tersenyum karena memang masih tersisa rasa canggung.
"Sudah punya anak Bee. Harus bersikap dewasa."
"Itu beda cerita. Meski kita sudah menua, aku ingin kamu manja padaku." Jawab Samuel menyodorkan satu sendok makanan.
"Tidak pantas Bee."
"Ini perintah Suami mu. Ingat itu."
"Hm iya. Setelah ini kamu tidur ya."
"Makan yang banyak agar asi nya semakin lancar." Selalu saja Samuel mengalihkan pembicaraan ketika Ayu menyuruhnya beristirahat. Kebahagiaan yang di rasakan Samuel sekarang, membuatnya sangat bersemangat meskipun lelah memang terasa.
"Aku tidak mengantuk Babe."
"Kamu juga jarang tidur."
"Bukan jarang tidur. Aku memang sulit tidur karena terlalu bahagia."
"Aku malah takut kamu sakit."
"Aku kuat. Lihatlah, dia lebih tampan dariku." Ayu tersenyum, mengusap pipi Daniel dengan ujung telunjuknya.
"Mirip kamu Bee."
"Ya. Tapi aku merasa dia lebih tampan."
"Astaga dia menguap." Ayu tersenyum seraya menutup bibir mungil Daniel dengan telunjuknya.
"Ah menggemaskan sekali."
Setelah memastikan Daniel tidur, Ayu beranjak dari tempat duduknya lalu menidurkan Daniel ke box bayi. Samuel menepuk-nepuk sofa di sampingnya. Ayu bergegas menghampiri untuk memenuhi panggilan dan duduk di sisi Samuel.
"Ada apa Bee?"
"Tidak apa. Kita jarang duduk berdua."
"Aku fikir kenapa. Aku akan meletakkan piring kotor ke bawah." Cepat-cepat Samuel meraih pergelangan Ayu untuk mencegah.
"Biarkan dulu. Kita belum melakukannya." Menunjuk ke bibir.
Ayu mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya, Samuel membalasnya dengan lummatan lembut.
"Aku belum bersih. Maaf." Ucap Ayu ketika Samuel menegakkan kepalanya.
"Aku tidak memikirkan itu. Terlalu bahagia karena kamu sudah memberikan kado spesial."
"Daniel?"
__ADS_1
"Yup Babe." Samuel menekan tengkuknya lalu kembali melummat bibirnya lagi dan lagi. Ayu semakin menggeser tubuhnya mendekat. Dia merasa bahagia karena Samuel tidak berubah sikap walaupun bentuk tubuhnya belum pulih.
Lummatan yang tadinya lembut berubah sedikit panas sampai-sampai nafas keduanya tersengal. Namun ketika Samuel akan mencumbui leher, Ayu menjauhkan kepalanya.
"Tidak Bee. Aku belum bersih." Ucapnya mencegah.
"Hanya berciuman Babe."
"Kamu akan turun ke..." Dengan lembut Samuel membaringkan tubuh Ayu lalu menindihnya.
"Aku rindu suara dessahan mu."
Samuel kembali melancarkan serangan membuat beberapa kali tubuh Ayu menggelinjang akibat ulahnya. Dessahan tentu saja lolos berkali-kali meskipun sekuat hati Ayu menahan. Dia takut mengganggu Daniel dan membuat tidurnya tidak nyenyak.
Tapi ternyata, Daniel tidak bergerak atau merasa terganggu. Padahal sesekali Ayu menddesah hebat ketika Samuel memberikan tanda kepemilikan. Tangannya juga aktif bergerak, membelai lembut tubuhnya dan menghilangkan kewarasan.
Tubuh Ayu menggelinjang dengan kedua tangan mendekap erat kepala Samuel. Nafasnya memburu dengan keringat pada wajahnya sebab tanpa menyentuh area sensitif, Samuel berhasil membuatnya mendapatkan pelepasan.
"Terimakasih Babe."
"Ini tidak adil Bee. Kenapa berterimakasih?"
"Mendengar suaramu saja sudah lebih dari cukup." Samuel menyeka keringat pada wajah Ayu lalu memberikan beberapa kecupan.
"Aku harus membersihkannya."
"No Babe. Mumpung Daniel tidur, kita tidur oke." Samuel mendekap tubuh Ayu di atas sempitnya sofa.
"Katanya 40 hari baru bersih."
"Ya aku tahu."
"Aku malah kasihan padamu."
"Aku baik-baik saja. Aku bahagia sekali." Ayu tersenyum, mencari posisi nyaman dan menumpukan kepalanya pada lengan Samuel." Tinggal anak perempuan." Imbuhnya.
"Kita tunggu sampai Daniel sedikit besar."
"Tergantung kapan Tuhan memberikan. Aku tidak ingin kamu menunda kehamilan."
"Iya Bee. Sekarang kamu tidur."
"Hm kamu juga. Love you Babe."
"Love you to Bee." Samuel mendekap erat tubuh Ayu seraya membelai rambut panjangnya. Entah kenapa angannya melayang begitu jauh. Seakan merasakan firasat akan sesuatu yang mulai berjalan mendekat.
Semoga Tuhan senantiasa menjaga hubungan kita..
๐น๐น๐น
Season 1 Tamat!!!
Hoii reader...
Ini adalah part terakhir dari season 1๐๐
Terimakasih untuk support dan dukungannya...
Sesuai niat awal, season 2 akan ku gabungkan walaupun aku tidak langsung update...
Aku butuh waktu beristirahat sejenak๐๐Sambil merangkai alur ceritanya..
Semoga kalian tidak bosan menyimak bagaimana kehidupan Samuel dan Ayunda selanjutnya...
Maaf jika novelnya tidak sempurna. Puebi berantakan, penyampaian cerita yang kurang menarik soalnya aku hanya modal keyakinan dan imajinasi ๐
Nantikan season 2 yang akan menampilkan Istri pertama Samuel๐
Apa ceritanya akan seperti di film ikan terbang๐คญ๐
Yang penasaran jangan di hapus dari favorit ya...
Komen di bawah kalau ingin lanjut supaya aku bisa semangat mempercepat update ๐๐
Terimakasih...
__ADS_1
Bye bye๐๐ฅฐ