
Ayu menyambut kedatangan Dika dengan wajah datar. Dia melepaskan jas juga membantu Dika melepaskan kemeja.
Seperti biasanya, Ayu segera menaruh baju kotor pada keranjang. Gerakannya tertahan ketika dia melihat noda merah yang menempel di beberapa bagian kemeja.
Sejauh ini?
Ayu memungut kemeja itu untuk memastikan noda tersebut. Ketika dia yakin tentang dugaannya. Terdengar helaan nafas panjang lolos dari rongga hidungnya.
Keterlaluan sekali. Apa ini parfum milik Tania?
Ayu meletakkan kembali baju kemeja lalu berjalan keluar kamar untuk mencari keberadaan Dika. Dia melirik malas ke arah Dika yang tengah bersantai seraya menonton televisi.
"Jangan permalukan aku Mas." Ujar Ayu duduk. Dika menoleh dengan wajah bertanya-tanya.
"Malu soal apa? Jangan memulai perdebatan. Aku baru saja pulang dan lelah." Jawab Dika mengelak.
"Oh." Ayu tersenyum tipis. Dia sedang menahan hatinya yang kembali tercabik.
Hubungan pernikahan sudah terjalin lima tahun, itupun melewati masa berpacaran selama dua tahun. Namun sikap yang di perlihatkan Dika, membuat Ayu menyadari jika waktu yang di habiskan bersama terasa sia-sia.
"Lelah berkerja atau berolahraga panas!" Jawab Ayu seraya menoleh dan menatap Dika tajam." Oke fine! Kita akan bercerai! Aku tidak bisa menolak itu jika memang kau tidak berselera padaku! Tapi.." Tangan Ayu terangkat dan menepuk pundak Dika dengan sedikit tekanan." Lakukan itu jika kita sudah benar-benar berpisah! Kau sebut aku menjijikkan tapi kau melakukan perbuatan yang lebih menjijikkan daripada aku!!!" Seakan merasa terancam. Dika menghela nafas panjang seraya memikirkan jawaban yang tepat untuk membalas perkataan Ayu.
Bodohnya aku. Seharusnya aku memeriksanya dulu. Pasti lipstik Tania tertinggal di kemeja itu.
"Apa kamu melakukan itu dengannya?" Tanya Ayu lirih.
"Siapa?"
"Wanita yang membuatmu menddesah semalam!" Dika tidak bergeming. Otaknya mendadak tumpul hingga dia tidak bisa menjawab.
Ayu memalingkan wajahnya. Dadanya terasa sesak meski sekuat hati dia mencoba untuk tidak menangis. Kenangan indah kebersamaan mereka, kini menjadi belati tajam yang siap menyayat hatinya.
"Bukan. Maaf. Aku tadi pergi ke tempat pelaccuran. Bukankah aku sudah bilang jika aku tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu. Aku masih mempertahankan mu. Tania bukan orang yang tepat untukku. Jadi aku mencari sembarangan wanita untuk memenuhi kebutuhan biologis ku." Ayu tidak bergeming. Wajahnya tertunduk sebab jawaban dari Dika tidak membuat perasaannya membaik.
"Mempertahankan hahahaha konyol sekali. Kau mempertahankan tapi menyakitiku. Untuk apa melakukan itu kalau nyatanya kau ingin meninggalkan ku." Lagi lagi Dika merasa terdesak. Dia yang sejatinya masih mencintai Ayu, tentu saja merasa takut jika Ayu meninggalkannya tanpa mau berusaha memperbaiki penampilan.
"Meninggalkan atau tidak. Itu tergantung kau! Kalau kau bisa membuat tubuhmu kembali ideal, aku akan menjadi Dika yang dulu." Sengaja, Dika membalasnya dengan ancaman. Dia begitu egois dan sangat menginginkan Ayu bisa kembali memiliki tubuh ideal seperti dulu. Dika tidak memikirkan bagaimana perasaan Ayu atas hinaan yang kerapkali terlontar akhir-akhir ini.
"Baik." Jawab Ayu tegas." Aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Tapi jika bentuk fisik ku tidak berubah setelah usaha yang ku lakukan. Aku menantikan gugatan cerai darimu." Ayu berdiri dengan gerakan kaku. Kepalanya menoleh dengan posisi sedikit tertunduk. Dia tengah menatap Dika yang seakan tidak menggubris kata-katanya." Oh ya Mas. Besok pagi aku mulai sibuk. Aku mendapatkan perkerjaan meski tidak seberapa bagus." Ayu merogoh saku dasternya lalu meletakan kartu kredit dan ATM di atas meja." Ambil itu. Aku takut menyentuhnya dan tidak bisa menggantinya." Kakinya terayun pergi meninggalkan Dika yang mencoba menyembunyikan ketakutannya akan ancaman Ayu.
__ADS_1
"Ah sial! Bagaimana jika Ayu benar-benar meninggalkan ku." Gumam Dika memungut kartu di hadapannya." Aku yakin dia hanya sedang cemburu. Dia tidak akan bisa hidup tanpa uangku. Butuh waktu beberapa hari saja. Dia akan mengemis untuk meminta kartunya lagi." Dika memasukkan kartu pada kantung saku bajunya.
Sementara di dalam kamar, Ayu memilih berbaring dengan fikiran menerawang entah kemana. Beberapa kali matanya melirik ke arah pintu dan berharap Dika masuk untuk merajuknya. Tapi rasanya itu hanya ada di angan-angan saja.
"Percaya diri sekali. Aku bahkan asal bicara dan tidak tahu akan di terima berkerja atau tidak." Eluh Ayu menurunkan kakinya lalu duduk. Tangannya mengambil dompet kecil di meja untuk memeriksa sisa uang." Untung aku meminjam uang ke Mita. Jika tidak, aku makan apa besok. Aku tidak mau memakan sajian di dapur sebelum Mas Dika merajuk ku. Sebaiknya aku membeli buah untuk bahan jus nanti." Ayu membuka laci lalu meletakkan dompetnya di sana.
Baru saja dia berniat kembali berbaring. Suara ponsel membuatnya mengurungkan niatnya.
Bergegas saja Ayu berdiri lalu menerima sebuah panggilan dari nomer tidak di kenal.
📞📞📞
"Halo. Siapa ya?
"Aku Samuel.
"Samuel?
"Yang di Cafe.
"Oh Mas Sam. Ada apa Mas?
"Syukurlah Tuhan. Terimakasih Mas.
"Hm sama-sama. Nanti seragamnya menyusul ya.
"Oke Mas Siap. Terimakasih.
📞📞📞
Karena terlalu senang, Ayu mematikan panggilannya begitu saja tanpa memperdulikan Sam yang saat ini memasang wajah kecewa.
Dia sudah bersuami Sam. Kau mengharapkan apa!!
"Kenapa Mas?" Tanya Mita penasaran.
"Setidaknya jangan memutuskan panggilan sebelum aku mengucapkan sama-sama." Jawab Sam lirih. Dia memperlihatkan senyumnya yang teduh.
"Hahahaha maafkan teman saya Mas. Terkadang dia tidak sadar melakukannya."
__ADS_1
"Tenang saja. Aku tidak apa." Mita mengangguk pelan. Matanya kembali buta ketika dia bisa menikmati paras Sam dari dekat.
Mita sempat menaruh hati pada Sam sejak awal berkerja di sana. Paras Sam begitu tampan, di tambah dengan sikap gentle yang di perlihatkan.
Berbeda dengan Farel yang sejatinya hanya seorang penjilat. Dia kerapkali melaporkan jika ada sedikit kesalahan yang di lakukan para pegawai.
Sementara Sam sendiri lebih fokus melihat peningkatan jumlah pengunjung yang bertambah. Dia tidak menekan teman-temannya untuk bersikap kaku. Sam lebih mementingkan kenyamanan. Menurutnya, jika para pegawai bisa menyukai perkerjaan yang di geluti, maka hasil maksimal yang akan di capai.
Itu alasan kenapa Sam sanggup membangun perusahaan besar. Bukan hanya ulet tapi sikap kepemimpinannya membuat segala perkerjaan yang di geluti bisa berkembang.
Sayang sekali aku sudah bertunangan. Andai saja Mas Sam tidak banyak hutang. Aku pasti mau menjadi pacarnya haha.
Sengaja Mita memilih mundur, ketika salah satu temannya bercerita fakta soal Sam dan kesulitannya. Mita tidak ingin beban hidupnya bertambah hanya karena rasa ketertarikan akan ketampanan Sam.
"Umur Mas Sam berapa?"
"Aku sudah tua." Jawabnya seraya mengelap kotoran di meja.
"Berapa sih Mas."
"Untuk apa bertanya itu?"
"Bertanya saja Mas. Kita sudah menjadi partner kerja hampir tiga bulan. Tapi aku tidak tahu berapa umur Mas Sam sebenarnya."
"30 tahun." Mita tertawa kecil seraya mengangguk-angguk.
Wah matang hehehehe..
"Tua kan?"
"Dewasa Mas bukan tua."
"Kau bercanda. Di umur segitu, aku belum juga menemukan pasangan yang bisa menerima keadaan ku apa adanya."
"Sabar Mas. Mungkin jodohnya tertutup awan hitam. Eh!" Mita menegakkan posisi duduknya ketika Farel melintas." Pengawas killer nya muncul Mas. Aku ke sana dulu yang dari pada kena semprot." Mita bergegas berdiri untuk berkeliling daripada harus mendapatkan fatwa dari Farel.
Bukan tertutup awan hitam. Tapi tertutup orang lain..
🌹🌹🌹
__ADS_1