Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Kesadaran Bu Erna


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa. Bu Erna keluar rumah untuk berbelanja di tukang sayur yang ada di ujung jalan. Sudah dua hari ini dia terbebani dengan bagaimana gelisah nya Alan menyikapi perusahaannya yang hancur dalam kurun hitungan hari.


Alan tidak menyangka kalau pengaruh nama Samuel sangat besar. Perusahaannya bahkan tidak mendapatkan orderan satupun sampai-sampai seluruh mesin terpaksa berhenti produksi.


Daripada harus membayar para pegawai yang menganggur. Alan merumahkan mereka dan melunasi gajinya dengan uang ganti rugi yang di berikan Dimas tempo hari.


Hidup anakku berantakan setelah Dika bercerai dari Ayu. Ya Tuhan. Apa ini adalah teguran. Kalau memang iya, aku menyesal sudah menjadi Ibu yang buruk.


"Hati-hati Bu." Sapa Bu Broto seraya menarik lembut lengan Bu Erna yang hampir saja tersandung batu.


"Terimakasih Bu Broto."


Bu Broto menyadari perubahan dari Bu Erna sejak dua Minggu lalu. Bu Erna lebih banyak berdiam di rumah dan enggan berkoar-koar seperti biasanya.


"Sama-sama Bu. Mau belanja?" Tanya Bu Broto ramah.


"Iya mau belanja."


"Kabarnya Alan sekarang di rumah ya."


"Iya Bu. Saya kan tinggal sendiri jadi Alan menemani saya."


"Syukurlah. Memang seharusnya salah satu dari anak menemani Ibunya. Terus bagaimana kabarnya Dika?"


"Istrinya sedang mengandung tapi dia malah di pecat. Mungkin anak Bu Broto bisa mencarikan perkerjaan?" Dengan segala kerendahan hati Bu Erna melontarkan pertanyaan tersebut. Padahal sebelumnya dia sangat angkuh dan selalu mengunggulkan anak-anaknya.


"Astaga. Em nanti saya tanyakan ya Bu. Kenapa sampai bisa di pecat? Padahal sudah menjadi Direktur."


"Mungkin karma Bu." Sontak Bu Broto menghentikan langkahnya. Dia menarik lengan Bu Erna lalu mengiringnya duduk di sebuah pos PKK.


"Jangan bicara macam-macam Bu. Kalau di dengar orang bagaimana. Mungkin ini musibah untuk mendewasakan seseorang." Sejak dulu sampai sekarang, Bu Broto selalu perduli pada keluarga Bu Erna semenjak Ayu menjadi Istri syah Dika.


Meskipun tanggapan Bu Erna sangat lain. Namun Bu Broto tidak henti-hentinya mengingatkan Bu Erna akan perbuatannya yang terkadang keterlaluan.


"Saya merasa musibah datang semenjak Dika menceraikan Ayu. Baru beberapa jam menikah, firasat itu sudah terasa ketika Istri Dika tidak memperbolehkan saya mendekat. Mereka sekarang tidak rukun Bu. Sering berdebat hanya karena masalah sepele. Tidak seperti ketika bersama Ayu. Anak itu sekalipun tidak pernah berkata kasar pada Suaminya dan saya walaupun saya sering kali berkata kasar padanya."


Bu Broto mengangguk-angguk membenarkan tapi tidak tega untuk menyalakan. Ayu satu-satunya alasan kenapa Bu Broto kerapkali mencampuri urusan keluarga Bu Erna. Karena dirinya tahu, Ayu sudah tidak memiliki orang tua dan pasti tidak memiliki tempat berkeluh kesah.


"Mungkin ini hanya teguran Bu karena Ayu memang anak yang tidak neko-neko. Saya yang tahu sendiri dia tidak pernah menerima pinangan lelaki lain walaupun saat itu Dika berada di luar kota. Itu kenapa saya menyayangkan perbuatan Dika yang tega meninggalkan nya untuk wanita lain. Mungkin Tuhan yang tidak terima karena saya yakin Ayu tidak akan memiliki sifat pendendam."


"Dia bahkan menyapa saya di depot itu. Dia sekarang sudah bahagia, semakin cantik dan saya baru menyadarinya sekarang." Sepanjang hari Bu Erna memikirkan kesalahannya. Ingin mengulang waktu tapi itu keinginan yang menurutnya sangat egois.


"Saya tidak bisa janji Bu. Nanti saya akan tanyakan soal lowongan kerja untuk Dika ya."


"Terimakasih ya Bu."

__ADS_1


"Sama-sama. Tetangga memang harus saling membantu."


Keduanya melanjutkan perjalanan menuju tukang sayur. Untuk pertama kalinya Bu Broto bisa mengobrol hangat dengan Bu Erna yang dulunya selalu bersikap kasar padanya.


🌹🌹🌹


Sesuai rencana, Minggu ini Samuel mengajak Ayu berlibur ke destinasi air terjun. Walaupun tangannya masih memakai perban, tapi Samuel tidak ingin mengingkari janji.


Tempat yang sama bersama orang berbeda. Ayu kembali di bawa mengingat sejenak kenangan pahit di air terjun tersebut. Ketika dengan tega Dika menyuruhnya untuk menahan rasa nyeri pada kulit kaki yang mengelupas.


Namun kali ini terasa lain. Sandal yang di gunakan Ayu sangatlah nyaman. Di tambah dengan sikap Samuel yang senang tiada menggenggam erat tangannya di sepanjang jalan terjal.


"Sudah terasa nyeri?" Tanya Samuel beberapa kali. Ingin memastikan jika kaki Ayu masih kuat untuk melangkah.


"Ini tidak seberapa terjal Bee."


"Seharusnya kamu menerima bantuan ku."


Terlalu ramai. Malu sekali jika di gendong.


"Ini juga akan sampai."


"Hm iya." Lima menit kemudian keduanya sudah tiba di lokasi air terjun. Suasananya begitu ramai sampai-sampai Samuel kesulitan untuk mencari tempat duduk." Kamu pernah ke sini." Tanya Samuel seraya mengusap-usap sebuah batu agar Ayu bisa duduk di sana.


"Pernah."


"Bersama siapa lagi Bee."


"Mungkin teman."


"Temanku hanya Mita dan sekarang sudah tidak."


"Ada aku. Kamu tidak butuh teman." Samuel mengusap lembut puncak kepala Ayu yang tengah tersenyum menatap sekitar.


"Gadis-gadis itu memperhatikan mu." Ayu menangkap pemandangan segerombolan gadis yang tengah bermain-main di air terjun. Mereka terlihat mencuri pandang ke arah Samuel. Sebenarnya bukan hanya mereka, sebab sejak tadi Samuel sudah menjadi obyek menarik bagi kaum hawa.


"Ayo turun." Samuel mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia merasa pembahasan itu tidak penting.


"Agar mereka bisa melihat apa yang ada di dalam tubuhmu." Sontak Samuel menoleh seraya tersenyum. Membalas tatapan Ayu yang mulai menusuk.


"Untuk menikmati tempat ini."


"Sudah kita lakukan. Apa enaknya berendam bersama banyak orang." Protes Ayu ketus. Bukan hanya Samuel yang tidak ingin tubuhnya terekspos, sebab dirinya juga tidak ingin melihat banyak wanita menikmati indahnya bentuk tubuh Samuel.


"Lalu bagaimana cara kita menikmati tempat ini?"

__ADS_1


"Sebaiknya kita berjalan-jalan di sekeliling daripada mata mu ternodai karena gadis-gadis itu." Ayu berdiri lalu menyeret paksa Samuel untuk mengikutinya.


Apa dia tidak mengerti. Kalau sudah lama perasaan ku membatu. Aku tidak berselera melihat gadis manapun apalagi mereka. Ugh tapi.. Dia cemburu, aku senang sekali.


"Seharusnya kamu memakai masker Bee."


"Ini terakhir kali kita ke sini. Suasananya sangat tidak nyaman. Bukan hanya aku yang sedang di perhatikan tapi kamu juga."


"Apa menariknya mereka."


"Itu juga yang sedang ku rasakan. Apa menariknya mereka? Kamu satu-satunya obyek yang ingin ku lihat."


Aku kembali bersikap egois. Ini akibatnya kalau terlalu di manjakan. Aku menjadi tidak terkendali dalam bersikap..


"Hm ini terakhir kali kita ke sini." Jawab Ayu lirih. Dia baru sadar jika bukan hanya Samuel saja yang menjadi pusat perhatian tapi dirinya juga.


"Hari ini kita harus menikmatinya. Sudah terlanjur datang. Bukankah dunia hanya milik kita Babe."


"Lalu. Bagaimana cara menyingkirkan orang-orang itu?"


"Anggap saja tidak ada."


"Mana bisa Bee."


"Tentu saja bisa." Samuel menunduk, mengangkat sedikit dagu Ayu lalu mengecup sebentar samping bibirnya. Tentu saja Ayu panik, dia menjauhkan wajah Samuel yang kini tengah terkekeh kecil.


"Ini tempat umum astaga."


"Bukankah kamu selalu lupa diri ketika aku melakukan itu." Jawab Samuel dengan tatapan nakal.


"Tapi tidak di tempat umum."


"Apa salahnya. Kita sudah menikah."


"Aku tidak menyangka kalau ternyata kamu lelaki yang sangat jahil. Selalu saja menertawakan ku seperti itu." Samuel tersenyum simpul seraya mengangguk-angguk. Tidak semua orang mengetahui sifat aslinya. Dia enggan menunjukkannya karena merasa kurang nyaman.


"Percayalah. Aku hanya bersikap seperti ini ketika bersama mu."


"Ku fikir kamu lelaki yang tidak suka bercanda." Meski sejak awal Samuel terlihat ramah, tapi Ayu tidak menyangka jika Samuel memiliki sisi jahil yang cukup tinggi." Kamu juga pemaksa yang handal." Samuel kembali terkekeh. Dia membenarkan hal tersebut.


"Jika tidak ku paksa, mana mungkin kita bisa bersama."


"Berarti kamu tidak percaya takdir?"


"Percaya. Tidak mungkin kita di pertemukan tanpa adanya campur tangan Tuhan. Tapi, aku tidak sabar kalau terlalu lama menunggu sehingga aku harus berlari cepat untuk menghampiri takdir itu sebelum seseorang lebih dulu datang."

__ADS_1


Ayu sadar jika mungkin pemaksaan Samuel adalah bagian dari takdir tersebut. Pemaksaan itu membawa Ayu berjalan menuju lelaki yang tepat. Lelaki yang tidak hanya mencintai kelebihannya tapi juga menerima kekurangannya.


🌹🌹🌹


__ADS_2