Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Penjara terindah


__ADS_3

Berbagai pertanyaan sudah Ayu lontarkan tapi Samuel menjawabnya dengan sebuah senyuman dan rangkulan tangan. Sekuat apapun Ayu menjauhkan diri, lengan panjang Samuel tetap saja melingkar di pundak belakangnya.


Karena merasa kesal tidak di hiraukan. Ayu berdiam diri seraya menatap keluar jendela. Tangan Samuel di biarkan begitu saja. Mimik wajahnya berubah ketika mobil masuk ke sebuah pagar tinggi yang menjulang.


Pagar? Aku mau di bawa ke mana? Tentu saja Ayu sedikit ketakutan sebab keduanya baru berkenalan beberapa hari lalu. Samuel masih sangat asing baginya.


"Mas, tempat apa ini?" Gumam Ayu mendekatkan wajahnya pada kaca jendela.


Sebuah rumah yang lebih mirip istana berdiri kokoh di dalam pagar tinggi itu. Jarak antara rumah dan pagar sejauh lima puluh meter.


Ayu merasa takjub walaupun tegangan tinggi mulai menyerang. Dia belum memikirkan jika rumah di hadapannya adalah tempat tinggal Samuel sesungguhnya yang sudah lama di tinggalkan.


Rumah besar itu sangat terawat karena Samuel masih memperkerjakan para pembantu lengkap dengan tukang kebunnya. Mobil mewahnya juga terlihat masih berkilap walaupun sudah beberapa tahun tidak pernah terpakai.


Cklek..


Ayu menjauhkan diri dari sisi pintu ketika tangan Samuel terulur untuk memintanya turun.


"Ru rumah siapa ini Mas?" Tanyanya terbata dengan jantung berdetak hebat bahkan hampir copot. Apa Mas Samuel akan menjual ku ke pemilik rumah mewah ini.


Panggilan Samuel yang sudah berubah menjadi Tuan tidak juga membuat Ayu mengerti jika lelaki di hadapannya adalah pemilik rumah tersebut.


"Turun dulu. Nanti aku jelaskan di dalam."


"Tidak! Aku tidak mau turun. Antarkan aku kembali ke Cafe!" Samuel tersenyum lalu bersandar di body mobil. Dia sengaja berdiam untuk mendengarkan dugaan yang ada di dalam hati Ayu." Kau sudah mengincar ku kan? Aku memang tidak memiliki keluarga di sini tapi aku memiliki beberapa teman dekat di kota ini. Jika aku menghilang! Pasti mereka berusaha mencariku! Jangan macam-macam kamu Mas!!" Ayu tengah memikirkan hal buruk yang mungkin saja bisa terjadi. Seperti pembunuhan atau penyekapan yang berujung penjualan organ dalam tubuh.


"Kita bicarakan ini di dalam." Samuel menunduk lalu menyeret paksa Ayu agar keluar.


"Tidak Mas! Lepaskan! Aku wanita berpenyakitan! Organ dalam ku sudah rusak dan tidak bisa di jual!!"


Betapa jahilnya Samuel sebab tanpa menjawab celotehan Ayu, dia mengangkat tubuh itu lalu berjalan santai melewati pintu samping.


"Mas!! lepaskan!!" Ayu berusaha memberontak bahkan mengigit pundak Samuel keras namun perlakuan itu hanya di balas dengan senyuman hangat.


"Aku mohon Mas. Antarkan aku pulang!"


"Ini rumahmu." Jawab Samuel membuka sebuah kamar lalu menurunkan Ayu di sana.


"Tidak!" Ayu berusaha melarikan diri dengan menerobos tubuh Samuel tapi dengan gerakan cepat Samuel menutup pintu kokoh tersebut.


Blaaaam!!!


"Aku tidak mau!! Tolong keluarkan aku dari sini!!" Teriak Ayu mengendor pintu beberapa kali. Gerakannya terhenti ketika dia merasakan nyeri pada kedua tangannya." Aduh sakit sekali." Eluhnya meringis.


"Jangan melawan, dengarkan penjelasanku dulu." Samuel meraih kedua tangan Ayu untuk memeriksa.


"Antarkan aku pulang Mas. Aku mohon, aku takut hiks hiks hiks." Ayu mulai terisak, dia menyadari jika tidak ada gunanya melawan. Rumah itu terasa sunyi dan jauh dari keramaian. Teriakan tidak akan berguna mengingat ruangan kamar juga kedap udara.


"Duduk dulu. Biar ku tunjukkan sesuatu." Ayu menggelengkan kepalanya seraya bersandar pada daun pintu." Hm oke sebentar." Samuel berjalan menuju nakas lalu mengambil selembar foto dari dalam laci. Dia memberikan foto tersebut pada Ayu.


Terlihat seorang anak laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengan Samuel berada di antara lelaki dan wanita paruh baya.


"Apa ini?" Ayu masih juga tidak mengerti.


"Itu fotoku ketika aku masih sekolah menengah atas. Mereka adalah kedua orang tuaku. Lihatlah sekitar." Ayu menegakkan pandangannya dan melihat beberapa foto Samuel berada di sana.


Ini rumahnya. Mustahil..


"Ini kamarku dan satu Minggu lagi menjadi kamar kita." Ayu menatap Samuel dengan sisa air mata sehingga membuat Samuel mengangkat tangannya untuk membersihkannya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi Mas. Kalau rumahmu sebesar ini, untuk apa kamu berkerja menjadi pelayan Cafe?" Samuel menghela nafas panjang. Dia tersenyum mendengar cara fikir Ayu yang polos.


"Untuk menemukan mu."


"Memangnya Mas Samuel sudah mengenalku sebelumnya."


"Astaga Babe hehehe. Aku sengaja menjadi pelayan Cafe agar aku bisa mencari seseorang yang tulus padaku."


"Jadi Mas Samuel menyamar?"


"Benar sekali. Kamu lebih pintar dari apa yang ku bayangkan." Ayu melirik malas lalu mendorong tubuh Samuel lembut untuk memberikan jarak.


"Hutang itu?"


"Tidak ada. Itu hanya karangan ku saja."


"Mas Sam menipu?"


"Ya sedikit. Tapi aku bermaksud baik. Terlalu banyak kemunafikan sehingga aku harus melakukan itu untuk menemukan seseorang yang tepat."


Kenapa jadi mirip cerita saja! Apa aku sedang bermimpi atau terlalu stres karena pernikahan Mas Dika?


Ayu mencubit pipinya sendiri yang terasa sakit. Dia kembali mendongak ke arah Samuel.


"Sudah paham?" Tanya Samuel memastikan.


"Iya."


"Kita duduk." Ayu di giring menuju sofa. Dia duduk di sana seraya memperhatikan Samuel yang tengah membuka korden kamar dan pintu juga jendela teras kamar.


Ini bukan rumah tapi istana. Seharusnya aku sudah bisa menebak dari paras tampan yang di miliki Mas Samuel..


"Aku hanya memiliki minuman bersoda di sini. Kamu mau." Tanya Samuel menawarkan.


"Tapi kamu mau?"


"Iya mau." Samuel meletakkan satu botol minuman yang sudah terbuka segelnya.


"Silakan. Setelah perasaan mu tenang, kita berbelanja untuk mengisi kulkas dengan makanan kesukaan mu." Ayu tidak bergerak, dia menatap minuman yang ada di atas meja dan Samuel secara bergantian." Why?"


"Ini seperti mimpi Mas. Aku tidak pernah membayangkannya."


"Aku nyata. Aku bukan fatamorgana yang hanya ada di fikiran mu."


"Aku.."


"Katakan."


"Aku merasa tidak pantas berada di sini." Rumah yang di miliki Samuel melambangkan berapa banyak harta yang di miliki. Pintu kamarnya bahkan terkunci hanya dengan menempelkan telapak tangan saja.


"Why?"


"Terlalu sempurna." Jika parasnya di padukan dengan statusnya sebagai pegawai Cafe, mungkin aku masih merasa pantas. Tapi rumahnya.. Aku pastikan jika Mas Samuel bukan orang biasa..


"Kamu akan membuatnya lebih sempurna."


"Tidak Mas."


"Jawab saja iya."

__ADS_1


"Fikirkan lagi."


"Sudah Babe. Setelah kita resmi. Kamu adalah harta paling berhargaku. Ini semua tidak penting, itu kenapa aku rela hidup sederhana untuk mencari sosok seperti mu." Jawab Samuel melontarkan alasannya.


"Aku terlalu biasa saja Mas. Aku tidak berprestasi, bekas orang lain dan bukan wanita terhormat."


"Aku membenci kesempurnaan di luar. Aku menyukai apa yang ada di dalam hatimu."


Tentu saja Ayu terenyuh dengan alasan Samuel walaupun hatinya belum siap menerima sosok baru.


"Aku tidak mau di rendahkan lagi." Jawab Ayu pelan.


"Siapa yang merendahkan mu."


"Sekarang belum. Tidak tahu nanti." Perkataan buruk Dika masih menempel lekat di otaknya. Ayu tidak ingin lagi terlalu menumpukan harapan pada seseorang.


"Itu pembahasan yang tidak penting."


"Itu penting."


"Aku tidak mungkin melakukan itu."


"Beri aku waktu Mas. Paling tidak satu bulan."


"Tidak. Dimas sudah menyiapkan pernikahan kita."


"Terlalu cepat."


"Lakukan adaptasi ketika kita sudah menikah. Niatku baik, aku ingin membahagiakan mu."


"Ini pemaksaan."


"Ya. Aku menyukai caramu memperlakukan mantan Suamimu." Ayu memperlihatkan senyuman aneh ketika Samuel berpindah duduk di samping nya." Ini pemaksaan yang akan berujung manis. Aku akan mencintaimu sepanjang waktu dan kau wajib menjadikanku satu-satunya." Imbuhnya meraih dagu Ayu lalu mengangkatnya sedikit.


Wajah tampan Samuel kini tepat berada di hadapannya. Ayu menegang dengan jantung berdetak tidak beraturan.


Mas Samuel tampan sekali dan wangi..


"Aku takut mengecewakan."


"Aku tidak akan kecewa selama kamu masih setia." Samuel menempelkan bibirnya dan memberikan lummatan singkat untuk menunjukkan perasaan yang sudah tumbuh teramat dalam." Aku hanya meminta satu hal." Ayu menutup bibirnya rapat meski manik keduanya bertemu.


"Apa Mas." Tanyanya singkat lalu kembali menutup rapat bibirnya.


"Terima kegilaan ku nantinya. Aku sedikit tidak waras jika sudah menyukai sesuatu."


"Contohnya?"


"Em Babe. Buka bibirmu sedikit. Biarkan aku masuk." Ayu mendorong tubuh Samuel menjauh.


"Gila kamu Mas." Ayu kembali memperlihatkan lirikan malas dengan wajah ketus.


"Malam itu kamu menikmatinya bahkan membalas ciumanku."


"Aku tidak sadar! Jika sadar, mustahil aku melakukan itu."


"Hm oke." Samuel berdiri seraya tersenyum. Sebaiknya kamu beristirahat. Untuk sementara, kamu tidak boleh berkeliaran jadi aku akan mengunci pintu kamar ini."


"Kamu mengurung ku?"

__ADS_1


"Hanya sampai kamu bisa menerima semuanya dan tidak berniat kabur." Samuel menunduk dan memberikan kecupan singkat pada puncak kepala Ayu." Silahkan obrak-abrik kamar ini jika memang kamu ingin mencari biodata tentangku. Semua tersimpan di meja kerjaku." Menunjuk sebuah pintu di sebelah kanan." Yang pasti, aku tidak akan menjual organ dalam mu. Aku pergi dulu. Love you." Samuel melangkah pergi lalu menempelkan tangannya pada layar pintu. Ayu memperhatikannya dan langsung berdiri ketika Samuel sudah benar-benar pergi. Dia meniru gerakan Samuel. Tentu saja pintu tidak bisa terbuka dan menunjukkan tanda silang.


🌹🌹🌹


__ADS_2