
Setibanya di apartemen. Samuel membuka pintu agar udara di luar bisa masuk. Sementara Ayu langsung berjalan ke dapur kecil yang ada di sana untuk mengurusi jus alpukat miliknya.
"Bee, tidak ada gelas besar ya." Tanyanya setengah berteriak.
"Tidak ada. Aku jarang ke sini jadi tidak banyak perabotan nya."
"Ini tidak muat Bee. Gelasnya kecil sekali." Samuel menghela nafas panjang. Dia berjalan menghampiri Ayu lalu mengambil bungkusan jus dari tangannya.
"Di minum pakai sedotan Babe. Bukankah cara minumnya memang seperti ini?"
"Tidak." Ayu menggelengkan kepalanya cepat." Aku mau minumnya di gelas." Imbuhnya mengutarakan keinginannya.
"Ya sudah kita buka penutupnya saja."
"Aku mau gelas yang benar-benar gelas. Bukan gelas plastik."
Apa bedanya. Kenapa dia mempersulitnya? Kalau aku berprotes pasti dia marah.
Samuel membuka tutup gelas plastik lalu menuangkannya ke dalam gelas kecil.
"Begini." Tanyanya seraya menyodorkan gelas kecil berisi jus ke Ayu.
"Iya Bee." Jus di minum dalam satu kali tegukan. Tapi tiba-tiba Ayu merasakan mual hebat mengaduk-aduk perutnya sehingga dia membungkam mulutnya dengan tangan lalu berlari ke wastafel untuk memuntahkan jus nya." Hoooeeeeekkkk. Aduh..." Eluhnya memegang perutnya yang terasa di aduk-aduk.
"Sudah ku katakan kamu tidak menyukai ini." Tangan Samuel terangkat dan mengusap punggung Ayu lembut." Sebaiknya kita pergi ke dokter Babe. Aku khawatir." Segala dugaan mulai bermunculan. Samuel takut kalau Ayu kembali jatuh sakit mengingat suhu tubuhnya sedikit naik.
Samuel sama sekali tidak menebak jika apa yang Ayu rasakan merupakan tanda kehamilan. Itu karena pengetahuan soal itu tidak pernah dia ketahui.
Mantan Istri nya sangat sulit hamil sehingga meski umur pernikahan mencapai tiga tahun. Keduanya belum di karuniai anak.
"Kita pergi ke dokter ya." Rajuk Samuel mengambil tisu untuk membersihkan wajah Ayu dari sisa air keran.
"Coba beli testpack dulu Bee."
"Te testpack?" Tanya Samuel terbata.
"Hm ya. Seharusnya aku sudah datang bulan lima hari yang lalu."
"Serius Babe." Tanya Samuel memasang senyuman mengembang. Dia sangat menginginkan hadirnya seorang anak begitupun Ayu.
"Jangan senang dulu Bee. Ini hanya tebakan saja."
"Aku tidak percaya dia datang secepat ini."
"Jangan senang dulu. Kalau nanti hasilnya negatif bagaimana?"
"Ah terserah saja Babe. Kamu tunggu di sini. Aku akan membeli itu di minimarket bawah." Samuel berjalan keluar untuk membeli sebuah testpack sementara Ayu memilih duduk di sofa seraya mengusap-usap perutnya yang masih mual.
Semoga saja tebakanku benar..
Lima belas menit kemudian, Samuel datang dengan langkah tergesa-gesa. Tebakan kehamilan Ayu tentu membuatnya sangat bersemangat mengingat umurnya yang mencapai 31 tahun. Dia ingin hadirnya sebuah keturunan agar nantinya ada seorang anak yang bisa mewarisi semua ilmu dan hartanya.
"Cepat pakai Babe. Aku ingin tahu hasilnya." Ucap Samuel tidak sabar.
"Seharusnya memakainya saat bangun tidur."
__ADS_1
"Kenapa begitu?"
"Anjurannya memang seperti itu." Samuel mengangguk seraya membaca keterangan yang tertulis. Raut wajahnya terlihat kecewa sehingga membuat Ayu memutuskan memakai itu sekarang." Biar ku pakai satu. Untuk hasil yang lebih akurat kita lakukan besok pagi." Samuel tersenyum ketika Ayu mengambil satu testpack yang di beli.
"Beruntung aku membeli 3."
"Hm ya." Jawab Ayu belum beranjak.
"Nah sekarang menunggu apa? Kamu mau ku gendong?" Ayu menahan Samuel yang berniat bangun.
"Tidak."
"Lalu kenapa tidak ke kamar mandi?" Tanyanya pelan.
"Kalau negatif jangan kecewa ya." Kedua jemari Ayu menggenggam erat tangan kanan Samuel.
"Mana mungkin kecewa."
"Melihat kamu begitu bersemangat, aku malah takut mengecewakan mu."
"Itu perkerjaan Tuhan. Aku tidak akan kecewa apapun hasilnya. Ayolah Babe, setidaknya kamu membuatku sangat bersemangat hari ini."
"Hmm oke." Ayu beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Dia membuka kemasan testpack seraya menghembuskan nafas berat.
Rasanya sangat berdebar-debar ketika Ayu mulai membasahi ujung testpack dengan air seninya. Dia meletakkannya di sisi wastafel kamar mandi seraya bergumam memanjatkan doa.
.
.
.
"Bagaimana?" Ucap Samuel lirih. Menebak jawaban dari mimik wajah yang di perlihatkan Ayu. Mungkin belum saatnya. "Kita bisa memeriksa nya besok pagi lagi. Mungkin saja hasilnya akan berbeda." Imbuh Samuel memeluk lembut tubuh Ayu berusaha memberikan kekuatan.
"Aku juga belum yakin Bee. Aku akan memakainya satu kali lagi."
"Hm ya. Kalaupun nanti negatif. Kita harus tetap berusaha. Aku tidak ingin kamu bersedih kerena hal itu." Samuel mengusap lembut rambut panjang Ayu dengan raut wajah kecewa. Dia tidak ingin menunjukkan itu pada Ayu.
"Positif Bee." Jawab Ayu lirih. Cepat-cepat Samuel memegang kedua pundak Ayu dan menegakkan tubuhnya.
"Positif?" Tanya nya mengulang. Ayu mengangkat testpack berwarna putih untuk menunjukkan hasilnya.
"Ya positif Bee." Air mata lolos begitu saja. Sejak tadi Ayu memang ingin menangis tapi bukan karena bersedih melainkan tangis haru.
"Serius. Ini positif?"
"Kita ulangi besok pagi untuk memastikan."
"Tidak. Kita harus cek di Dokter kandungan."
"Belum tentu benar."
"Pokoknya kita pergi ke Dokter kandungan untuk memastikan."
Ayu membiarkan saja ketika Samuel menggiring nya keluar apartemen. Walaupun dia merasa malas untuk pergi ke Dokter namun hasil testpack yang di lihat, membuatnya ikut bersemangat.
__ADS_1
Singkat waktu. Setelah menjalani pemeriksaan juga USG, Dokter menyatakan jika Ayu benar-benar hamil.
"Dinding rahimnya sudah melebar Tuan." Imbuh Dokter menjelaskan." Usia kandungan berkisar 4 sampai enam Minggu. Saya sarankan untuk lebih banyak beristirahat dan mengurangi kegiatan di luar. Apalagi Nona Ayu pernah mengalami keguguran." Rasanya luar biasa senang ketika dokter menjelaskan secara rinci tentang kehamilan Ayu.
"Jadi benar Dok hamil?" Tanya Samuel mengulang lagi dan lagi.
"Iya Tuan. Nona Ayu hamil." Samuel tersenyum mengembang menoleh ke arah Ayu dengan tatapan yang begitu dalam.
"Kamu dengar Babe. Tuhan mematahkan ketakutan mu." Dokter hanya tersenyum seraya menulis resep vitamin untuk Ayu.
"Ini resep yang harus di tebus."
"Terimakasih Dok."
"Sama-sama. Jangan lupa di baca buku panduannya dan kontrol setiap bulan secara rutin." Imbuhnya tersenyum.
"Baik Dok permisi." Keduanya berjalan keluar ruangan lalu memberikan resep obat di apotik yang tepat berada di sampingnya. Karena mengantri, Samuel menggiring Ayu duduk terlebih dahulu sambil menunggu namanya di panggil." Apa yang kamu rasakan?" Tanya Samuel menggenggam jemari Ayu erat.
"Sudah dua hari aku sulit mengendalikan emosi Bee."
"Apa itu termasuk efek dari kehamilan?"
"Aku tidak tahu. Efeknya bermacam-macam tapi aku merasa sedikit sensitif. Aku mencoba menahannya tapi..." Ayu menghela nafas panjang mengingat kejadian tadi pagi." Seperti yang terjadi tadi pagi. Aku kesal melihat mu menolak keinginan ku." Imbuhnya pelan.
"Bukankah biasa kamu memang ingin selalu di turuti."
"Perasaan ini lebih menghantam kuat Bee. Seperti ingin mengendalikan."
"Jangan di tahan. Kalau kamu ingin marah, tidak apa." Jawab Samuel cepat." Kita harus mengadakan sedikit pesta untuk merayakan ini." Samuel mulai merencanakan sesuatu untuk mengutarakan rasa syukur nya.
"Pesta?"
"Ya mengundang para tetangga untuk makan-makan." Ayu tersenyum simpul.
"Itu bagus Bee. Tapi tidak perlu mengundang lainnya."
"Orang terdekat saja."
"Tidak punya. Hanya Bibik Lena."
"Lalu Mita?" Ayu menghembuskan nafas berat.
"Kau memikirkan Mita!" Nada bicara Ayu seketika berubah sehingga Samuel sontak menoleh cepat.
"Bukan memikirkan. Aku hanya bertanya karena mungkin kalian masih berteman."
"Kami sudah tidak berteman!!"
"Ya baik maafkan aku Babe."
"Aku tidak mau mengundang Mita atau wanita yang lain. Hanya ada boleh Bapak-bapak juga laki-laki!" Tuhan sedang memberikan gambaran pada Samuel atas sikap posesif yang biasanya di terapkan untuk Ayu.
"Ya baik. Em aku akan menebus obat lalu pulang."
"Biar aku. Pegawainya perempuan kan." Ayu berdiri lalu berjalan ke loket untuk mengambil obat nya.
__ADS_1
🌹🌹🌹