
Sudah sepuluh menit berlalu, Ayu belum juga berhenti mencari baju yang cocok. Sementara Sam yang terlihat rapi, duduk di sofa untuk menunggu Ayu selesai memutuskan.
"Apa mantan Istri mu tidak memiliki celana jeans Mas?" Tanya Ayu memutar tubuhnya.
"Kamu bertanya apa? Kenapa membahas wanita itu?"
"Bukankah gaun ini miliknya." Menyentuh gaun yang di pakai.
"Bukan. Mana mungkin aku menyimpan baju miliknya. Itu ku siapkan untukmu. Kenapa? Kamu tidak suka modelnya?" Samuel beranjak dari tempatnya dan berjalan menghampiri Ayu.
"Aku sudah tidak mau memakai gaun semacam ini. Mudah tersingkap dan itu berbahaya!" Samuel terkekeh kecil.
"Sebentar lagi saja. Apa bedanya."
"Dan lagi, itu bukan seleraku." Tapi selera Mas Dika.
"Aku sering melihatmu mengenakan gaun? Bagaimana mungkin kamu mengatakan itu Babe."
"Itu ku lakukan untuk menyenangkan hati Suamiku yang sekarang sudah menjadi orang asing." Sontak Samuel menddesah. Dia baru tahu kenyataan itu sekarang.
"Jadi. Ini bukan gaya berpakaian yang kamu sukai."
"Bukan. Paling tidak, beli beberapa baju setelan. Aku lebih nyaman memakai itu."
Segera saja Samuel membuka lemari lalu mengeluarkan gaun yang tergantung juga yang terlipat di dalam lemari.
"Ke kenapa Mas?" Tanya Ayu terbata.
"Masa lalu mu harus hilang tanpa berbekas. Aku akan membuangnya." Langsung saja Ayu menghentikan gerakan tangan Samuel dengan memegang lengannya.
"Tidak Mas. Biarkan saja. Jangan di buang." Cegah Ayu memperlihatkan wajah memohon.
"Kamu bilang tidak suka. Kita beli baju yang sesuai dengan keinginanmu. Buat dirimu nyaman." Ayu kembali menggantung gaun sementara Samuel terpaksa duduk lemah seraya melihat.
"Aku sudah terbiasa memakai gaun walaupun terkadang aku ingin mengenakan setelan. Jangan di buang Mas. Belikan beberapa setelan baju untukku saja." Jawabnya menata gaun yang terlipat lalu menutup lemari." Hingga sampai kita menikah. Gaun akan membahayakan." Imbuhnya lirih.
Ya sangat membahayakan. Hampir saja aku menghabisi mu kemarin malam.
"Kalau tidak nyaman jangan di pakai."
"Tapi sangat nyaman untukmu."
"Apa yang kamu katakan?"
"Jangan munafik. Aku tahu kalau lelaki itu menyukai sesuatu yang simpel. Kalau memakai gaun, bukankah lebih mudah membukanya." Aku tidak ingin membuatmu ikut memikirkan masa lalu ku Mas. Semoga aku cepat beradaptasi. Kamu lelaki yang baik..
"Iya tapi..."
"Aku memakai ini saja. Tidak apa kan." Tanya Ayu tidak ingin memperpanjang pembahasan yang menurutnya tidak penting.
"Nyaman?"
"Iya."
"Hm baik. Kita akan membelinya setelah fitting baju pengantin."
"Jangan lupa berpamitan dengan Pak Ahmad."
"Iya. Kita lakukan dengan cepat. Sore ini aku sudah memesankan perawatan kulit untukmu." Samuel berdiri lalu meraih jemari Ayu dan menggenggamnya.
"Apa kulitku bermasalah?"
"Tidak juga. Lakukan itu setidaknya satu Minggu sekali. Tapi karena satu Minggu lagi kita menikah, kamu akan melakukannya setiap hari. Kamu harus terlihat spesial nanti." Samuel menempelkan telapak tangannya pada layar kecil dan pintu pun terbuka.
"Terserah saja Mas. Aku berprotes juga tidak berguna. Ajarkan aku melakukan itu." Ayu merentangkan tangan kirinya ke hadapan Samuel.
"Melakukan apa?"
__ADS_1
"Membuka pintu dengan tangan."
"Tidak ada orang yang bisa membuka pintu menggunakan kaki." Jawab Samuel asal.
"Maksudku menempelkan telapak tangan."
"Kalau sudah menikah. Aku akan mengatur ulang deteksinya."
"Kenapa tidak sekarang."
"Aku tidak mau kamu keluar kamar ketika malam hari lalu pergi ke kamar lain untuk tidur." Ayu membuang nafas kasar seraya mendengus.
Sam membuka pintu mobil untuknya. Tanpa berprotes, Ayu masuk walaupun jawaban Samuel membuat hatinya kesal.
Lirikan malas kembali di suguhkan ketika Samuel sudah masuk dan mulai melajukan mobilnya.
"Aku hanya ingin kita tampil serasi pada acara pernikahan kita. Itu kenapa aku mengurung mu untuk satu Minggu ini. Agar kita dekat walaupun aku yakin kamu belum menyukaiku."
Ayu menghela nafas panjang. Dia kembali salah menebak akan niat Samuel. Fikiran Ayu hanya tertuju pada hal negatif seperti sentuhan fisik atau Samuel menginginkan kejadian malam itu terulang lagi.
"Aku akan menghormati mu Mas." Samuel mengangguk-angguk." Tapi.." Ayu melihat pantulan kaca mobil yang memperlihatkan tubuh berisi miliknya." Aku terlihat tidak fresh. Aku memang pernah mengalami keguguran dan sejak hari itu, dia berubah sikap." Imbuhnya menjelaskan.
"Kamu cantik. Sangat. Berhenti menjelek-jelekkan bentuk fisikmu. Aku menerimamu apa adanya."
"Bagaimana kalau mereka bilang kita tidak pantas bersama?"
"Yang menjalani kita, bukan mereka." Aku akan membuat mu sangat di hargai agar rasa tidak percaya diri itu musnah dari fikiran mu. Kamu sangat cantik Babe. Apalagi apa yang ada di dalam hatimu? Aku sangat menyukai nya..
"Hm." Jawab Ayu singkat. Dia menyadari kalau saat ini Samuel tengah berada di puncak kekaguman padanya. Namun di balik itu semua, terbesit kerisauan yang mulai di pertanyakan pada hati kecil Ayu. Apa Mas Samuel akan bertahan sampai maut memisahkan. Aku ingin pernikahan ini terakhir kali untukku..
"Aku tidak akan menjelaskannya. Terserah jika kamu tidak percaya."
"Apa tempatnya jauh Mas?" Ayu mengalihkan pembicaraan sehingga nafas Samuel terbuang kasar. Dia merasa jika pembicaraan selalu saja terputus begitu saja, tanpa adanya rasa saling terbuka.
"Aku mencari yang dekat." Samuel melapangkan hati seluas-luasnya karena dia memaklumi sikap Ayu yang sudah kehilangan kepercayaan pada suatu hubungan.
"Sudah sampai."
Samuel memarkirkan mobilnya lalu keduanya turun dan masuk ke dalam butik. Kedatangan mereka di sambut ramah oleh pemilik butik yang sudah mengenal Samuel dengan baik.
"Senang sekali bisa melayani anda kembali Tuan." Ucapnya seraya memperhatikan Ayu dari atas sampai bawah. Wah.. Bentuk tubuhnya dewasa sekali..
Si pemilik malah melontarkan kekagumannya pada sosok Ayu. Dirinya sudah lama menginginkan tubuh tidak terlalu kurus selayaknya tubuh milik Ayu.
"Kemarin Dimas sudah memberikan contoh gaun kan?"
"Sudah Tuan. Mari saya perlihatkan desainnya. Saya juga akan mengukur kembali tubuh Nona agar nantinya bisa pas saat di kenakan." Tangannya mengambil map biru lalu membukanya dan menunjukkannya pada Samuel.
"Bagaimana Babe. Kamu suka desain yang mana?" Samuel menyodorkan beberapa kertas pada Ayu.
"Terserah saja Mas. Aku tidak mengerti hal seperti ini." Ucap Ayu polos.
"Tunjuk yang paling kamu sukai."
"Pengelihatan orang lain lebih jeli dalam menilai." Ayu melihat ke arah si pemilik butik." Buatkan gaun yang menurut anda pantas." Imbuh Ayu seraya tersenyum.
"Em saya tergantung Tuan saja." Samuel menyerahkan map juga beberapa lembar desain pada si pemilik.
"Dia benar. Anda lebih memahami mana yang pantas."
Si pemilik tersenyum lalu menyodorkan sebuah desain gaun yang menurutnya sangat cocok untuk Ayu.
"Ini gaun pilihan saya." Ayu mengambil selembar kertas tersebut lalu memandanginya." Gaun itu sangat cocok untuk karakter Nona." Ayu masih tidak memahami gambar yang di berikan padanya.
"Memangnya karakter saya seperti apa."
"Sederhana namun elegan. Ada beberapa poin yang akan saya tambahkan agar nantinya gaun ini terlihat sangat spesial."
__ADS_1
"Saya pilih ini." Daripada harus mendengarkan penjelasan yang tidak Ayu mengerti. Langsung saja Ayu memutuskan untuk memilih desain gaun tersebut.
"Terimakasih sudah mempercayakan pilihannya pada saya."
Setelah meletakkan map, si pemilik kembali dengan sebuah buku dan meteran kain. Samuel duduk di salah satu kursi, sementara Ayu tengah di ukur.
"Tubuh anda bagus sekali. Bagaimana cara mendapatkan nya?" Sontak Ayu tersenyum aneh seraya menunduk menatap si pemilik butik yang memiliki tubuh ideal.
"Tidak bagus."
"Sudah sejak lama saya ingin terlihat lebih berisi. Saya sampai mengkonsumsi suplemen makanan agar berat badan saya bisa bertambah." Ayu mengangguk-angguk dan mencoba tidak merespon." Maaf jika saya membuat anda tidak nyaman." Imbuhnya merasa tidak enak.
"Ah bukan begitu. Saya malah merasa kalau tubuh anda sangat bagus."
"Hahaha. Anda bercanda Nona. Mungkin untuk sebagian besar orang menyukai tubuh kurus ini. Tapi pasangan saya menginginkan agar tubuh saya lebih berisi."
"Apa anda sudah memiliki anak?" Tanya Ayu pelan. Walaupun kesal, Ayu mencoba membalas obrolan akrab si pemilik butik.
"Saya memiliki dua orang anak."
"Oh.. Beruntungnya. Tubuh anda tidak berubah."
"Mungkin terlalu banyak perkerjaan sehingga saya sulit untuk menambah berat badan."
"Saya malah berdiet agar tubuh saya bisa sekecil anda." Ayu kagum pada bentuk tubuh ramping yang di miliki si pemilik butik. Pinggangnya selebar kertas HVS dengan kulit putih terawat.
"Begitu? Padahal tubuh Nona sangat ideal. Tapi sepertinya Nona tidak menyukainya."
Aku menyukai apapun yang Tuhan berikan padaku..
"Sudah selesai." Sahut Samuel tidak menginginkan obrolan berlanjut dan harus membuat Ayu merasa tersinggung.
"Sudah Tuan. Maaf, Saya menjadi sok akrab." Jawabnya merasa tidak enak.
"Tidak perlu meminta maaf. Kita hanya sibuk."
"Em ini sudah selesai."
"Pembayarannya akan di urus Dimas. Kami permisi." Samuel menggiring tubuh Ayu berjalan keluar dengan cara merangkul kedua pundaknya." Kalau tidak nyaman. Jangan merespon perkataannya." Imbuh Samuel mulai melajukan mobilnya.
"Aku tidak apa Mas. Dia tidak mengerti apapun. Seharusnya Mas biarkan saja kami mengobrol."
"Perkataan itu hanya akan mengecilkan hatimu. Manusia memiliki kekurangan masing-masing. Kamu hanya perlu mencari tempat tinggal yang mampu menerima keadaan mu."
"Hm iya. Tapi rasanya Tuhan tidak adil..."
"Tuhan selalu adil dan selalu memilihkan jalan terbaik untuk kita." Sahut Samuel cepat. Ayu menoleh dengan wajah datar." Jangan paksa aku untuk membuat perhitungan dengan lelaki itu! Apa kamu ingin aku berbuat sesuatu agar dia menarik ucapannya ketika dia merendahkan mu?" Perasaan tidak sabar ingin memiliki seutuhnya. Membuat Samuel merasa kesal ketika Ayu memperlihatkan wajah tidak baiknya seperti yang terlihat sekarang.
"Aku tidak ingin membahasnya Mas." Jawab Ayu kembali menatap lurus.
"Tapi kamu masih memikirkan ucapannya."
"Terlalu dini untuk bisa melupakan kesakitan itu. Aku masih berusaha. Tolong bantu aku tanpa melibatkan dirinya. Aku sudah tidak mau lagi membahasnya. Dia sudah ku anggap sampah yang semestinya harus di buang!"
Samuel menghela nafas panjang. Dia kembali terbawa arus emosi dan rasa cemburu hingga membuat sifat aslinya terlihat.
"Ku fikir kamu orang yang sabar Mas."
"Aku akan sabar pada tempatnya."
"Aku malah takut kamu akan melakukan KDRT padaku." Samuel menoleh cepat lalu terkekeh dengan dengusan nafas berat.
"Tidak mungkin itu terjadi Babe."
"Kamu emosian."
"Untuk hal yang tidak baik seperti..." Samuel membuang nafasnya kasar." Aku tidak akan membahasnya. Kita ke Cafe untuk berpamitan lalu membeli kebutuhan mu." Imbuh Samuel lemah.
__ADS_1
🌹🌹🌹