Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Belajar lebih sabar


__ADS_3

Mobil Samuel baru saja terparkir tepat pukul 11 malam. Dia meminta bantuan penjaga rumah untuk membawa buah ke dalam dapur.


Alangkah terkejutnya Samuel, ketika melihat Ayu tengah duduk di meja makan sambil menikmati es serut.


"Katanya harus ada potongan buahnya?" Tanyanya pelan. Raut wajahnya terlihat lelah karena seharian ini di sibukkan dengan acara syukuran yang harus di persiapkan sendiri tanpa bantuan orang baru.


"Ini buah Bee." Menunjukkan potongan jelly dengan berbagai macam warna.


"Maaf Tuan. Tadi Non Ayu saya tawarkan jelly terus dia mau. Daripada mengeluh lapar terus." Jawab Bik Ijah menimpali.


"Aku sudah mencari buah sampai ke ujung dunia." Eluh Samuel duduk lemah. Dia menuang air putih ke dalam gelas dan meneguknya habis.


"Kamu lama sekali Bee. Aku lapar." Jawab Ayu tanpa rasa bersalah.


"Sabar Tuan." Bik Ratih tersenyum begitupun Bik Ijah.


"Sepertinya harus lebih sabar Bik. Serius tidak ingin mencicipi satu buah saja. Aku susah payah mendapatkan nya." Ayu menggeleng, menyeruput sisa es lalu menggeser mangkuk kosongnya.


"Besok saja Bee. Sekarang aku kenyang dan mau tidur." Tanpa rasa sungkan, Ayu bergelayut ke punggung Samuel padahal sebelumnya dia selalu berprotes ketika Samuel menunjukkan kemesraannya di tempat umum.


"Satu potong saja. Please Babe." Jawab Samuel memohon.


"Aku sudah menghabiskan banyak jelly."


"Hm oke." Daripada terlalu banyak berdebat dan memicu kemarahan, Samuel memilih mengalah. Dia berdiri dengan tangan kanan menopang tubuh bawa Ayu dan berjalan keluar dapur.


"Kamu kesal padaku Bee?"


"Tidak. Mana mungkin begitu." Samuel sudah berniat menikmati setiap momen meskipun dia harus kelelahan di buatnya.


"Aku tadi sudah memesan beberapa potong baju. Mungkin besok paketnya akan datang."


"Kenapa cepat sekali." Samuel menempelkan telapak tangannya dan masuk ke dalam kamar. Dia menurunkan Ayu tepat di samping ranjang.


"Tokonya tidak jauh dari sini."


"Oh begitu." Samuel kembali mengangkat tubuh Ayu dan membaringkannya di atas ranjang." Aku harus membersihkan diri." Ucapnya akan beranjak namun tangan Ayu memegang lengannya.


"Sudah tiga jam lebih kamu meninggalkan ku. Lalu sekarang mau pergi lagi."


"Tiga jam? Kapan itu terjadi? Sejak tadi pagi aku bersama mu."


"Saat kamu keluar mencari buah."


"Hanya satu jam kurang Babe." Samuel memutuskan untuk berbaring di samping Ayu walaupun tubuhnya terasa tidak nyaman.


"Tiga jam Bee. Itu lama sekali. Aku kelaparan menunggu mu."


"Maaf. Aku harus mencarinya dulu." Samuel menelusup kan tangannya di bawah leher Ayu. Dia ingin menepati janji untuk lebih bisa bersabar menghadapi emosi Ayu yang naik turun dan keinginan anehnya." Tidak gerah?" Imbuhnya bertanya.


"Tidak Bee. Aku sengaja menambah pendingin ruangan agar kita bisa tidur saling berdekatan."


"Setidaknya, biarkan aku mengganti baju dulu Babe."


"Ini sudah wangi. Aku suka aroma tubuhmu Bee." Ayu menenggelamkan wajahnya seraya menghirup kuat-kuat aroma tubuh Samuel.


"Aku berkeringat.."


"Tidak. Aku suka. Biarkan aku tidur Bee. Ingat untuk tidak pergi meskipun untuk mengganti baju."


"Ya siap."

__ADS_1


"Hm." Ayu mengecup bibir Samuel sejenak lalu memejamkan matanya." Maaf aku tidak bisa memberikan jatah Bee." Gumam Ayu lirih.


"Itu hal mudah Babe. Aku lebih menyanyangi kalian daripada hanya sekedar memikirkan hal seperti itu."


"Terimakasih Bee."


"Sama-sama. Sekarang tidur, ini sudah larut."


Samuel berniat menunggu Ayu tidur baru mengganti baju. Tapi rupanya rasa lelah membuat kantuk menghampiri. Samuel mengelus rambut panjang Ayu sambil sesekali menguap. Matanya terasa berat walau mencoba di tahan. Sampai akhirnya Samuel di kalahkan dengan rasa kantuknya dan ikut terlelap tidur.


.


.


.


.


Keesokan harinya...


Samuel berjingkat ketika Ayu berteriak dengan posisi mata tertutup. Dia yang lebih dulu bangun langsung menghampirinya dan duduk di sisi ranjang.


"Kamu bermimpi apa?" Tanya Samuel memasang wajah panik.


"Aku masih hamil kan Bee." Jawabnya seraya menunduk, memeriksa keadaan bagian tubuh bawahnya. Tidak ada darah. Astaga aku hanya mimpi..


"Mimpi buruk?" Samuel menuang air putih lalu memberikannya pada Ayu.


"Mungkin terlalu takut Bee." Ayu mengambil gelas dari tangan Samuel dan meminumnya sedikit.


"Takut apa? Aku di sini."


"Itu, emm aku bermimpi keguguran." Jawabnya pelan.


"Iya tapi apa bisa aku mengatur mimpi."


"Ingat pesan Bibik Lena. Jangan terlalu banyak beban fikiran apalagi memikirkan masa lalu."


"Aku hanya takut." Ayu kembali menunduk untuk memeriksa bagian bawah tubuhnya.


"Tidak ada apapun."


"Mimpinya terasa nyata."


"Itu hanya mimpi karena kamu terlalu memikirkan keburukan. Sekarang kamu bangun lalu mandi dan sarapan." Ayu menurunkan kakinya seraya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mau sarapan."


"Bibik sudah memasak."


"Aku tidak suka Bee."


"Kamu harus makan yang banyak agar bayi nya sehat."


"Bagaimana lagi kalau tidak berselera. Aku tidak mau mencium aroma masakan!!" Jawabnya ketus. Berdiri lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Samuel menghela nafas panjang lalu membereskan tempat tidur. Dia memutuskan menunggu dan berharap Ayu mau makan nasi sedikit saja.


.


.

__ADS_1


Setengah jam menunggu. Ayu keluar dengan handuk kimono nya. Dia berjalan ke lemari lalu mengambil sebuah dress.


Ayu menanggalkan handuknya dan menggantinya dengan dress. Tanpa memikirkan bagaimana terkoyaknya hasrat Samuel ketika melihat adegan tersebut.


"Kalau tidak mau makan masakan, lalu kamu mau sarapan apa?" Samuel malah memungut handuk kimono lalu meletakkannya ke dalam kamar mandi.


"Roti atau cake Bee."


"Seharusnya kamu menambah porsi makan, bukan mengurangi nya."


"Mau bagaimana lagi kalau mual. Di paksa juga tidak bisa." Padahal dulu waktu hamil, aku sangat berselera makan. Tapi kenapa seperti ini.


"Hm ku buatkan sandwich ya."


"Iya. Tidak perlu di sisir ya. Aku malas." Menunjuk ke arah rambut.


"Biar ku bantu." Samuel menekan lembut pundak Ayu agar kembali duduk di kursi rias." Nanti rambut mu rusak." Imbuhnya mulai menyisir.


"Kalau rusak tinggal di potong."


"Sayang sekali. Sudah sepanjang ini."


"Tapi akhir-akhir ini aku malas merawatnya. Terkadang hanya ku ikat sembarangan."


"Ada aku. Tenanglah. Biar ku bantu menyisirnya atau perlu ku bantu membersihkannya." Jawab Samuel tidak mempermasalahkan hal itu.


"Tapi kamu meninggalkan ku mandi Bee."


"Semalam aku tidak mandi. Jadi bangun tidur langsung mandi."


"Katanya membantu membersihkan?!"


"Ya maaf. Kita turun dan sarapan." Samuel meletakkan sisir lalu membantu Ayu berdiri.


🌹🌹🌹


Tania memutar kunci lalu menurunkan gagang pintu kamar utama. Langsung saja Dika menyerbu keluar dengan keadaan wajah hancur.


"Kabur saja kalau kau ingin semuanya bertambah buruk!! Menurutmu siapa yang mau menerima keadaan mu sekarang kalau bukan aku!!!" Sontak Dika menghentikan laju langkahnya lalu menatap Tania geram.


"Kau wanita sinting!!! Aku menyesal menikah denganmu!!"


"Aku terpaksa Dika. Aku melakukan ini demi anak kita demi kehidupan kita selanjutnya. Berhenti berharap pada Ayu. Dia akan jijik melihat wajah buruk mu." Tania mendekat lalu mengusap bagian pipi Dika yang terlihat melepuh.


"Ayu tidak serendah itu dalam menilai sesuatu!!"


"Ya. Dia memang wanita yang baik. Aku sudah merasakan sendiri bagaimana kebaikannya. Itu kenapa kau tidak boleh menganggu kebahagiaan nya!!" Dika terkekeh nyaring dan Tania membalasnya dengan senyuman simpul.


"Kau sok perduli padahal kau adalah wanita yang patut di jauhi!!" Menunjuk kasar ke wajah Tania yang masih terlihat buruk karena efek kehamilan nya.


"Setidaknya aku mengerti bagaimana caranya berbalas budi. Berani menganggu mereka, ku patahkan kaki mu."


"Ya lakukan! Agar aku jadi tidak berguna!"


"Itu lebih baik. Kau dengar baik-baik." Tania menekan kata-katanya seraya menjinjit untuk membisikkan pesan terakhir dari Samuel." Ayu sekarang sedang hamil. Itu berarti kau sudah tidak memiliki kesempatan lagi. Menurutmu dia masih mencintaimu sekarang? Tidak Dika. Cintanya sudah berpindah pada Suami nya Samuel. Lalu kau berharap apa? Pergi dari sini lalu menjadi gelandangan?" Hati Dika terasa terbakar ketika dia mendengar berita kehamilan Ayu.


"Lalu kau merusak wajahku untuk apa? Aku bahkan tidak bisa berkerja dengan keadaaan seperti ini!" Dika terduduk lemah. Mulai terisak, merasakan sayatan pada hatinya saat sadar Ayu sudah berada jauh tidak tergapai. Bayangan memperbaiki hubungan rasanya runtuh karena kini Ayu tengah mengandung anak Samuel.


"Itu lebih baik daripada kau berkeliaran mencari sembarangan wanita. Untuk masalah hidup kita ke depan. Ayah memberikanku modal. Kita akan membuka usaha kecil-kecilan."


"Apa ada jawaban lain selain terserah!!!" Jawab Dika kasar, menatap tajam Tania dan memutuskan untuk kembali masuk.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2