
Hari ini Riska mulai melancarkan aksinya. Sepulang sekolah, dia memanfaatkan Keano agar dirinya bisa mendapatkan harta sebanyak-banyaknya dari Samuel.
Riska tidak ingin rugi sebab untuk bisa mendapatkan wajahnya sekarang, dia harus merogoh kocek berjumlah fantastis. Dari melakukan operasi plastik dan memalsukan semua data Keano serta membayar orang suruhan untuk memuluskan semuanya.
Di dalam mobil, Keano terlihat sumringah ketika Riska berkata akan mengunjungi Ayu. Dia sudah sangat rindu dengan Daniel walaupun baru dua hari yang lalu mereka berpisah.
Namun keceriaan itu seketika musnah ketika Riska melontarkan perintah yang tidak sejalan dengan hati Keano.
"Itu namanya berbohong Mom. Kean tidak mau." Jawabnya pelan.
"Kita membutuhkan kejelasan. Rumah itu akan menjadi hak mu Kean. Kalau kita tidak meminta surat rumahnya, mereka akan menipu kita."
Sangat tidak pantas permintaan Riska mengingat umur Keano yang masih duduk di bangku Taman kanak-kanak.
"Mereka tidak mungkin begitu Mom. Ibu Ayu sangat baik."
"Kamu tahu apa hah? Lakukan atau selamanya kamu tidak boleh berkunjung ke Adik Daniel."
"I iya Mom." Jawab Kean cepat.
Sejak dua hari tinggal terpisah. Riska jarang berada di rumah sehingga Kean terhindar dari kata-kata kasarnya. Namun di balik itu, Kean merasa sangat kesepian walaupun ada seorang pembantu yang di perkerjaan untuk mengurus keperluan nya.
.
.
.
Singkat waktu, setibanya di sana. Riska dan Keano di persilahkan menunggu selayaknya tamu pada umumnya. Tentu saja hal itu membuat Riska memasang wajah geram. Dia merasa iri pada Ayu dan ingin berada di posisinya.
Baru saja pintu lift terbuka. Kean berdiri dengan wajah bersemangat menyambut kedatangan Daniel yang tengah di gendong Ayu.
Sepertinya Samuel tidak ada..
"Hai Kean." Sapa Ayu ramah. Dia duduk di sisi Kean seraya mengusap lembut puncak kepalanya.
"Ibu Ayu." Kean memeluk Ayu sejenak lalu menyapa Daniel dengan sentuhan pada pipinya. Namun gerakan itu tertahan ketika tangan kanan Riska mencubit kaki Kean tanpa sepengetahuan Ayu.
Kean menoleh lalu menundukkan wajahnya sambil melirik. Ayu yang melihat gelagat Kean berubah, tentu saja merasa curiga.
__ADS_1
"Ada apa Kean?" Tanya Ayu pelan. Maniknya sempat menatap Riska.
"Apa benar itu rumah untuk Kean?" Pertanyaan tersebut membuat kening Ayu berkerut. Anak sekecil Kean tidak mungkin melontarkan pertanyaan itu tanpa arahan.
"Iya benar." Jawab Ayu meskipun bingung.
"Aku tidak menemukan surat rumahnya." Sahut Riska tidak sabar. Ayu menghela nafas panjang, mengetahui fakta jika ucapan yang di lontarkan Kean adalah perintah dari Riska.
"Dimas sudah menyimpannya Kak."
"Kenapa Dimas? Seharusnya di berikan padaku kalau memang itu hak Kean."
"Untuk apa Kak? Silahkan tinggal dengan damai di sana. Semua surat sudah di simpan dengan baik."
"Itu tandanya kau tidak ikhlas."
"Bukan begitu. Surat otomatis keluar kalau Kean sudah menginjak usia 18 tahun. Kak Riska lupa jika tidak memiliki hak? Rumah itu di peruntukan bagi Kean bukan Kak Riska." Jawab Ayu menjelaskan.
"Biar ku simpan."
"Tidak Kak."
"Aku akan berbicara pada Dimas sendiri."
Tujuan Ayu menyimpan surat rumah karena dia ingin melindungi hak Keano yang mungkin ingin di kuasai Riska. Apalagi keganjilan demi keganjilan sedikit-sedikit mulai terlihat sehingga Ayu mulai meragukan tentang status Riska terhadap Kean.
Apa dia mengambil anak dari panti asuhan? Sikap Kak Riska sangat tidak pantas. Seharusnya dia bisa menahan diri dan tidak memperalat Kean seperti itu.
"Kenapa?"
"Maksud dari pertanyaan Kak Riska?"
"Kau takut jika harta itu ku ambil. Dia anakku hei Ayu! Kau jangan egois seperti itu." Ayu tersenyum simpul. Ekspresi kesal yang di perlihatkan Riska malah membenarkan tebakannya.
"Saya akan menepati janji Kak. Setelah Keano dewasa, saya akan memberikan surat rumah juga beberapa aset yang menjadi haknya."
"Jangan sok kamu Ayu!" Teriak Riska beranjak dari tempat duduk. Tangannya terayun dan akan melayangkan tamparan namun tertahan oleh teriakan Samuel.
"Lakukan! Kau akan membusuk di penjara." Keano menunduk. Anak lugu itu sungguh tidak mengerti apapun dan situasi yang kerapkali terjadi di sekitarnya.
__ADS_1
"Kau benar-benar tidak adil Sam. Dia mencoba menahan hak dari Keano." Menunjuk ke arah Ayu.
"Apa fasilitas itu kurang! Kalau kau hanya membuat rusuh di sini, sebaiknya tidak perlu berkunjung." Segera saja Ayu merangkul kedua pundak Keano.
"Ayo ikut Ibu. Nanti sore baru pulang. Tidak apa kan Kean." Ayu berniat menanyakan beberapa hal pada Keano.
"Mom." Masih saja Keano berpamitan meskipun wanita yang di panggil Mama tidak sehangat dulu.
"Dimas akan mengantarkannya nanti sore. Sebaiknya Kak Riska pulang."
Ayu mengiring Keano ke belakang bersama Daniel. Sementara Samuel masih berdiri mematung dan berniat mengusir Riska pergi.
"Sebaiknya kau pulang." Ucap Samuel mengulang.
"Ayolah Sam jangan seperti ini. Aku hanya berpura-pura bersikap kasar agar wanita itu tidak mempengaruhi mu." Samuel mengangguk seraya tersenyum simpul.
"Ya. Itu memang perkerjaan mu. Kau wanita yang suka berakting dan juga berpura-pura."
Samuel ingat bagaimana lihainya Riska mengelabui nya dulu. Kebohongannya tertutup sangat sempurna sampai-sampai satu tahun lamanya, kecurangan dan penghianatan terbungkus rapi di balik senyum palsunya.
"Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?"
"Dia tidak pantas bersama mu. Kau terlalu buta karena cinta. Lihatlah tubuhnya..."
"Nyatanya aku bahagia." Sahut Samuel cepat." Aku membutuhkan kedamaian di sini." Menunjuk dadanya." Bukan di sini." Menunjuk sudut matanya.
"Munafik kamu Sam. Kamu itu Bos besar. Apa kau tidak malu mengajaknya ke pertemuan."
"Cantik tidaknya seorang Istri tergantung pada bagaimana cara Suami menghargainya. Aku merasa dia cantik dan otomatis semua orang juga akan berkata demikian. Hentikan hasutan mu. Jika aku menemukan bukti soal Keano. Akan ku jebloskan kau ke penjara."
Jawab Samuel seraya menghubungi si penjaga rumah dan memerintahkannya untuk menyeret paksa Riska. Demi menjaga hati, Samuel enggan menyentuh meski hanya terpaksa. Dia tidak ingin membuat Ayu merasa tersingkir apalagi sampai menyebutnya macam-macam.
Ah sebaiknya aku pergi saja. Kalau kebohongan ku terbongkar bagaimana? Tapi mustahil. Amsterdam sangat berada jauh dari sini. Mereka mungkin akan menganggap Keano sudah mati. Ini juga bukan kemauan ku. Pertemuan kami bukan di sengaja tapi memang takdir dari Tuhan.
Riska melenggang pergi meninggalkan tempat. Dia selalu saja menghindar ketika Samuel melontarkan ancaman tentang Keano.
Padahal sudah beberapa bulan Riska beradaptasi. Ingin menjadi Ibu yang baik hanya demi ambisi. Namun sikap arogannya kerapkali meluap-luap, apalagi Keano memang bukan darah dagingnya.
__ADS_1
Kasih sayangnya tentu tidak akan sama. Karena ikatan batin yang berbeda. Begitupun yang di rasakan Keano saat ini. Dia merasa asing dengan sosok Ibunya. Wajah keduanya hampir mirip tapi hati tidak dapat di bohongi. Meski Riska asli pernah berbuat jahat, namun Ibu tetaplah Ibu. Yang tidak akan tega memperlakukan anaknya buruk.
🌹🌹🌹