
Samuel langsung menggenggam erat tangan Ayu tanpa menunggu persetujuan. Dia tahu jika wanita di sampingnya akan banyak melontarkan alasan akibat kebiasaan masa lalu nya.
"Kenapa tidak ke mini market saja Mas." Protes Ayu mengedarkan pandangannya, namun tiba-tiba Samuel melepaskan genggaman tangannya dan beralih menutupi bagian samping kepala Ayu.
"Jangan melihat ke kanan dan kiri."
"Kenapa?" Ayu menurunkan jemari Samuel tapi dengan cepat tangannya kembali ke posisi awal.
"Banyak lelaki tampan." Ayu menghela nafas panjang dan membuangnya kasar." Ingat Babe. Kita akan menikah." Imbuhnya semakin terdengar menggelikan.
"Kamu saja memaksaku Mas. Aku sebenarnya belum siap memiliki hubungan baru."
"Lebih cepat lebih baik. Tidak perlu berlarut-larut."
"Seperti kau tidak saja!!" Jawab Ayu ketus.
"Hehe iya. Aku merasa bodoh mengingat itu. Untung saja aku tidak bunuh diri sehingga kita bisa bertemu."
"Apa ada jawaban selain iya. Kamu ingin aku mengatakan itu?"
"Tidak Babe. Aku ingin kamu hanya mencintai ku saat sudah syah nanti. Lihatlah ke arahku saja. Aku pencemburu berat."
"Itu memang wajib di lakukan seorang Istri pada Suami nya."
"Itu juga yang sedang ku cari."
"Ya Mas. Aku akan berusaha."
"Hm terimakasih. Love you." Ayu seakan tidak mendengar dan hanya menatap fokus ke depan sesuai dengan keinginan Samuel.
"Berat Mas." Eluh Ayu lirih.
"Berjanjilah untuk tidak memperhatikan sekitar."
"Apa perlu aku menutup mata. Aku memperhatikan sekitar karena ingin melihat-lihat. Aku juga tidak seberapa cantik, jadi berhenti bersikap berlebihan."
"Kamu sangat cantik dan paling cantik. Di sana." Menunjuk ke sebuah swalayan dengan tangan yang kini kembali menggenggam erat.
Hati Ayu bergetar hebat entah merasa canggung atau karena dia sudah lama tidak melakukannya? Sejak tubuhnya lebih berisi, Dika hampir tidak pernah mengajaknya keluar rumah.
Sepanjang hari selalu di habiskan sendirian di dalam rumah. Menunggu kepulangan Dika dari kantor dan menyibukkan diri dengan mengurus keperluan Dika seperti, mencuci baju kerja dan mengsterika.
Seringnya Dika komplain pada pembantunya masalah baju, membuat Ayu terpaksa melakukan itu sendiri. Dia tidak menyukai keributan apalagi pembantunya seorang wanita tua yang seharusnya di hormati.
Ingatan ketika hubungan keduanya masih hangat terlintas. Setiap hari Dika menyanjungnya dengan pujian yang sanggup menghangatkan perasaannya. Di mana ada Dika di situ ada Ayu. Kata-kata itu kerapkali Dika lontarkan karena memang keduanya selalu keluar berdua.
Menghabiskan akhir pekan di hotel atau destinasi wisata terdekat. Sungguh kebahagiaan yang seharusnya sulit untuk di lupakan.
Namun perbuatan Dika seolah keduanya di pertemukan dengan cara instan. Kenangan dan kebersamaan yang terjalin lama harus terhempas karena hadirnya obyek baru yang terlihat lebih menarik.
Lamunan Ayu buyar saat pundaknya tidak sengaja menabrak seorang pegawai lelaki yang melintas. Pegawai itu terlihat terburu-buru dengan keranjang belanja yang tengah di pegang erat.
"Maaf Nona." Belum sempat Ayu menjawab, si pegawai akan melangkah pergi seakan dia tidak sepenuh hati dalam mengucapkan permintaan maaf.
"Kembali!!" Teriak Samuel menunjuk si pegawai yang langsung menoleh. Suara buruk itu sontak membuat Ayu mendongak." Kau tidak bisa pergi begitu saja! Kau menyakiti nya!" Protes Samuel berjalan menghampiri si pegawai.
__ADS_1
"Saya sudah minta maaf Kak." Jawabnya lirih.
"Ucapan itu kau sebut minta maaf?!" Samuel meraih kerah si pegawai yang terlihat ketakutan.
"Lalu bagaimana Kak." Tanyanya terbata.
"Aku tidak apa-apa Mas." Sahut Ayu berharap Samuel mau melepaskan cengkraman tangannya.
"Kau masih bertanya bagaimana!" Persepsi Ayu salah, sebab ternyata emosi Samuel masih terlihat meluap-luap seakan ingin memakan hidup-hidup anak laki-laki muda di hadapannya.
"Maaf Kak. Saya terburu-buru untuk menaruh ini di gudang. Saya tidak melihat jalan karena jika saya tidak cepat, saya akan terkena masalah."
"Kau mementingkan perkerjaan sampai harus melukai Istri ku!" Ayu mengerutkan keningnya. Dia merasa jika apa yang di lakukan Samuel sangat berlebihan.
"Mas sudahlah. Aku tidak terluka."
"Dimana Bos mu." Sama sekali Samuel tidak mendengarkan bujukan Ayu. Dia malah menyeret si pegawai menuju gudang belakang yang di maksud.
Tentu saja mereka menjadi sorotan, mengingat swalayan cukup ramai di hari Minggu. Ayu tidak mampu berprotes, dia hanya mengikuti kemana Samuel membawanya pergi.
Satu fakta yang baru saja terlihat. Temperamen Samuel berubah menjadi buruk ketika miliknya tersentuh. Padahal wajah itu tadinya teduh juga hangat. Lalu tiba-tiba berubah menjadi garang hanya karena kejadian kecil yang seharusnya bisa terselesaikan dengan kata maaf.
"Ada apa ini." Tanya seorang lelaki berpakaian rapi.
"Didiklah pegawai mu!" Samuel mendorong tubuh si pegawai sampai hampir terjungkal." Dia menyakiti dan menyentuh Istriku hanya karena ini." Samuel menumpahkan isi keranjang lalu menginjak-injaknya.
"Saya tidak sengaja Pak. Saya terburu-buru karena takut Bapak marah. Saya juga sudah minta maaf."
"Kau berkata itu karena tidak tahu caranya minta maaf seperti apa!!" Menunjuk kasar ke arah pegawai yang berdiri tertunduk dengan tubuh gemetar.
Dasar!! Pasti dia sengaja mencari masalah karena ingin di gratiskan. Lelaki berpenampilan rapi itu malah menatap rendah ke arah Samuel. Dia kerapkali menghadapi masalah seperti ini sehingga tuduhan itu langsung terlintas.
"Sebaiknya Tuan jujur saja." Ucapnya tersenyum kecut.
"Jujur apa?"
"Saya sudah sering menghadapi orang yang tidak ingin membayar dengan cara seperti ini. Jangan begitu Tuan. Pekerja seperti mereka itu harus mengganti barang yang hilang setiap bulannya. Mereka juga patungan ketika ada pelanggan semacam anda yang berpura-pura marah karena ingin barang gratis."
Bugh!!
Tidak banyak bicara, Samuel melayangkan pukulan yang langsung membuat lelaki berpenampilan rapi itu tersungkur di lantai.
"Panggil Bos mu! Sangat tidak mungkin kau pemilik tempat ini!" Tantang Samuel dengan suara lantang.
"Mas, sebaiknya kita pulang." Sahut Ayu berdiri di hadapan Samuel. Dia cukup takut melihat situasi yang terasa semakin memanas.
"Kau akan ku tuntut!!" Teriak si lelaki berdiri dengan sudut bibir berdarah.
"Ya lakukan! Kau akan kehilangan pekerjaan setelah ini." Samuel meraih ponselnya lalu menghubungi sebuah kontak bertuliskan nama Plaza Aurora.
Situasi apa ini? Kenapa Mas Sam tidak mendengar rajukanku.
📞📞📞
__ADS_1
"Hm Swalayan yang ada di dalam plaza anda.
"Sewanya berakhir tahun depan Pak.
"Saya minta itu sekarang.
"Tidak bisa. Saya akan terkena masalah karena kontak perjanjian.
"Akan ku bayar dua kali lipat.
"Dendanya saja limapuluh juta.
"Kau ingin aku menyegel usahamu!!
"Tapi dendanya.
"Akan ku bayar penuh! Tapi kosongkan tempat ini sekarang!
"Baik. Sepuluh menit lagi saya akan sampai.
📞📞📞
Si lelaki berpakaian rapi malah tertawa mengejek. Dia menganggap jika penipu zaman sekarang semakin lihai dalam melancarkan aksinya.
Aku yakin ponselnya tadi mati.
Namun setengah jam kemudian, wajah berseri-seri dengan luka lebam itu berubah menjadi wajah penuh air mata. Swalayan itu terancam di tutup dengan sebuah tuntutan denda sebesar 100 juta.
Si pegawai di anggap mencemarkan nama baik dengan menyebut Samuel seorang penipu. Belum termasuk sentuhan ketidaksengajaan yang di anggap penganiayaan membuat si lelaki berpakaian rapi bersimpuh di hadapan.
"Ampuni saya Tuan. Saya memiliki seorang Istri dan satu orang anak yang harus di hidupi." Rajuknya terisak.
"Saya mohon pertimbangan semuanya Pak. Saya meminta maaf atas perbuatan pegawai saya tapi jangan tutup usaha saya." Pengembalian dana yang di lakukan pemilik plaza tentu memaksa pemilik swalayan untuk menutup usahanya detik itu juga.
"Saya bahkan tidak membiarkan nyamuk menyentuhnya. Lalu dia meremehkan perbuatannya tadi dan menyebut saya penipu!"
"Ampun Tuan. Ampun. Saya menyesal."
Kasihan sekali mereka yang tidak ikut melalukan kesalahan.
Ayu memutar otak, mencoba mencari cara agar bujukannya bisa di dengar Samuel yang sejak tadi tidak mendengarkannya meski jemari miliknya di genggam erat.
Terpaksa.. Semoga tidak terdengar aneh..
Ayu mengusap-usap punggung tangan Samuel seraya melontarkan ucapan yang langsung bisa menurunkan emosi Samuel yang meluap-luap.
"Sayang. Aku mohon maafkan mereka." Ucap Ayu dengan wajah memerah. Setengah mati dia menahan rasa malu ketika ucapan itu terlontar.
"Baiklah Babe. Hanya untukmu."
Wajah si pemilik Plaza, pemilik Swalayan dan para pegawai langsung berubah aneh saat dengan mudahnya Samuel mengiyakan permintaan Ayu, wanita yang di akui sebagai Istri.
Padahal sudah satu jam mereka berusaha merajuk Samuel untuk mencabut tuntutan, namun itu tidak sanggup meluluhkan hati Samuel walaupun banyak pegawai yang terancam kehilangan perkerjaannya.
Haha konyol! Serius dia berkata itu. Itu juga terjadi pada pemikiran Ayu yang terheran-heran melihat Samuel yang luluh hanya karena dia memanggil dengan sebutan sayang.
__ADS_1
🌹🌹🌹