
Dengan wajah tegang Dika memenuhi panggilan dari Tim penyidik untuk menanyakan kesaksian perihal kejadian yang menimpa Vivian.
Umpatan di dalam hati terjadi berulang kali ketika para polisi tidak percaya pada kesaksian Dika yang mengatakan Tania lah pelakunya.
"Kami belum menetapkan anda sebagai tersangka Pak. Kami hanya ingin menanyakan keperluan Bapak datang ke sana." Tania yang kala itu duduk di samping Dika, tersenyum simpul seakan tidak ada penyesalan.
"Itu masalah pribadi kami Pak. Bapak bisa bertanya pada Vivian kalau kami tidak terlibat masalah apapun."
"Hm Pak itu benar. Sangat tidak mungkin Suami saya melakukan hal mengerikan semacam itu." Sahut Tania melontarkan pembelaan.
"Baik untuk sementara waktu Bapak bisa pulang tapi di bawah pengawasan kami. Setelah Nona Vivian siuman dan memberikan kesaksian. Kami akan membebaskan saudara Dika jika memang saudara tidak bersalah."
Setelah bersalaman, mereka berjalan keluar dari kantor polisi. Dika tidak berkomentar banyak, dia melajukan mobilnya serta melirik Tania tajam.
"Kau lihat akibat perbuatan mu! Aku hampir di penjara!!"
"Tenang saja Dik. Mengelabui mereka adalah perkerjaan mudah. Aku pastikan kau tidak akan terlibat masalah." Dika menghela nafas panjang lagi dan lagi. Kebencian pada sosok Tania semakin membesar. Ingin rasanya dia langsung menggugat cerai namun janin di kandungan Tania membuatnya tidak mampu berbuat apapun.
Aku harus mencari cara untuk menyingkirkan janin itu!
🌹🌹🌹
Setelah lelah melihat-lihat semua sudut perusahaan, Samuel mengajak Ayu pulang sekalian mencari makan siang. Rencananya untuk bermalas-malasan menjadi berantakan namun Ayu cukup senang dengan pengalaman yang di dapatkan hari ini.
"Oh tidak Mas. Jangan lagi." Protes Ayu ketika mobil Samuel berbelok ke sebuah restoran padang.
"Bukankah kamu suka masakan penuh bumbu. Di sini sajiannya enak."
"Ya. Tapi aku takut khilaf."
"Asalkan kamu suka. Untuk alasan lain tidak di terima." Samuel turun lalu membukakan pintu untuk Ayu. Keduanya berjalan masuk dan memesan." Saya pesan paket lengkap." Ujar Samuel memesan.
"Baik Kak, silahkan di tunggu." Ayu mencubit lembut pinggang Samuel.
"Kenapa lagi?"
"Kenapa paket lengkap sih Mas."
"Agar kamu puas makannya. Tenaga mu pasti habis setelah tadi." Ayu duduk lemah di salah satu kursi di ikuti oleh Samuel. Ketika Ayu akan mengikat rambutnya sembarangan, segera saja Samuel menurunkan tangannya untuk mencegah." Ingin memberitahu mereka soal tanda kepemilikan?" Terlihat Ayu tersenyum simpul karena baru menyadarinya.
"Iya maaf aku lupa." Samuel kembali gelisah dan memutuskan untuk duduk di sisi Ayu saja. Tangan kirinya terselip di antara rambut Ayu yang menjuntai seraya memainkan jarinya di sana.
Tubuh Ayu di tegakkan untuk mencari posisi nyaman. Dia membiarkan kegiatan Samuel bahkan menikmati nya. Sesekali keduanya saling melihat lalu melemparkan senyuman dengan rona merah di wajah.
Jika bukan di tempat umum, mungkin bibir keduanya sudah saling terpaut. Hasrat percintaan masih terasa menggebu-gebu walaupun mereka selalu mencapai kepuasan di akhir percintaan.
__ADS_1
"Silahkan." Sontak Ayu menoleh ketika mendengar suara seseorang yang cukup di kenali. Dia terkejut melihat Bu Erna adalah orang yang menyajikan makanan pesanannya.
"Bu Erna?" Sapa Ayu lirih. Bu Erna mendongak dengan wajah berubah pucat. Dia tersenyum sejenak lalu cepat-cepat pergi dari hadapan Ayu. Kenapa Bu Erna berkerja.
"Bukankah dia Mama dari lelaki itu." Ayu menghela nafas seraya menatap Bu Erna yang sudah masuk ke dalam.
"Kenapa sampai berkerja? Apa Mas Dika tidak memberikan uang?" Gumam Ayu merasa iba meskipun dulunya Bu Erna tidak pernah memperlakukannya dengan baik.
"Itu bukan urusanmu lagi Babe."
"Iya Mas." Ayu kehilangan selera makan. Sorot matanya masih sesekali menatap ke pintu di mana Bu Erna masuk. Dia tahu, jika Dika satu-satunya anak yang kini menopang hidup Bu Erna.
Kakak satu-satunya yang bernama Alan, belum juga kembali dari perantauannya hingga sekarang. Entah masih hidup atau mati sebab Alan tidak memberikan kabar sedikitpun.
Lokasi ini juga jauh dari rumah. Kenapa Bu Erna berkerja di sini?
Samuel mendengus, menyadari kegelisahan yang Ayu perlihatkan.
"Kamu masih perduli?" Tanyanya lirih.
"Aku selalu perduli pada semua orang tua yang memiliki kesulitan Mas."
"Sangat tidak mungkin. Memangnya berapa biaya hidup orang tua? Gaji lelaki itu sangat besar."
"Aku tidak ingin mencela. Tapi gaji lelaki itu sudah mencapai 130 juta. Bagaimana mungkin dia memberikan uang lima juta setiap bulannya." Ayu menelan makanannya pelan. Selama ini dia tidak tahu menahu dengan masalah gaji. Ayu menerima berapapun yang Dika transfer di ATM miliknya tanpa berprotes.
"Uang itu hampir tidak tersentuh. Aku membeli kebutuhanku dengan uang sisa belanja yang di berikan Bibik." Memang keterlaluan. Dia bahkan selalu mengingatkan untuk berhemat padahal aku tidak pernah pergi berbelanja sendiri..
Penjelasan dari Samuel membuat mata hati Ayu terbuka. Dia tahu jika Tuhan tidak mungkin asal membelokkan takdirnya. Ayu merasa yakin akan keputusan Tuhan yang pasti terbaik untuknya.
Wanita baik akan berjodoh dengan lelaki baik juga...
Perkataan Mamanya kembali melintas di fikiran. Bersamaan dengan keluarnya Bu Erna dari belakang untuk membawa masakan yang sudah matang.
Aku tidak pernah keberatan memiliki mertua seperti Bu Erna dan Suami seperti Mas Dika. Tapi mungkin Tuhan yang tidak bisa menerima itu semua sampai-sampai perpisahan ini terjadi..
Samuel melambaikan tangan kanannya ke seorang pelayan. Dia ingin membuat perasaan Ayu kembali membaik walaupun harus menghadirkan Bu Erna.
"Tolong panggil Ibu yang baru saja masuk itu." Pinta Samuel pelan. Ayu menoleh seraya tersenyum, dia kagum dengan kepekaan yang di miliki Samuel.
"Apa dia melakukan kesalahan Kak? Dia memang tidak bisa berkerja dengan benar."
"Tidak." Sahut Ayu cepat." Saya mengenalnya dan ada sesuatu yang ingin saya tanyakan." Imbuhnya menjelaskan.
"Baik sebentar."
__ADS_1
"Terimakasih Mas." Ayu meraih jemari Samuel lalu mengecup punggung tangannya.
"Sebenarnya aku tidak suka tapi.. Sama-sama Babe."
Ayu menyambut kedatangan Bu Erna dengan sopan meski mimik wajah Bu Erna terlihat masam.
"Untuk apa memanggilku? Kamu mau pamer?" Celetuk Bu Erna ketus. Samuel membuang muka sambil melirik malas.
"Pamer apa Bu? Saya ingin bertanya. Kenapa Ibu berkerja di sini?"
"Itu bukan urusanmu."
"Saya tidak memahami kenapa Bu Erna begitu membenci saya. Saya hanya ingin bertanya, apa Mas Dika tidak memberikan jatah bulanan." Raut wajah Bu Erna seketika berubah. Dia merasa takut dengan ancaman Tania dan lebih memilih berkerja di masa tuanya.
Dia masih saja bersikap sopan padaku. Sementara Tania? Duh Gusti.. Sekarang Ayu kelihatan cantik sekali. Bahkan lebih cantik dari Tania mengingat sifatnya yang baik dan sopan..
"Kebutuhan Tania itu banyak. Dika tidak bisa memberikan uang jatah bulanan untuk ku." Aku harus berbohong. Aku malu sudah salah memilih menantu.
"Itu sudah kewajiban Bu. Seharusnya Mas Dika bisa membaginya."
"Sudahlah Ayu. Tidak perlu sok perduli."
"Saya perduli karena Ibu orang tua. Untuk masalah Mas Dika dan kehidupan nya. Saya memang tidak mau tahu." Bu Erna berdiri dengan wajah tertunduk.
"Aku harus kembali berkerja. Nikmati saja makanan mu. Anggap kita tidak saling mengenal." Ayu menatap sendu kepergian Bu Erna. Sejak dulu sampai sekarang, kebaikannya selalu saja di abaikan.
"Sudah puas Babe? Lihatlah kenyataannya. Dia tidak ingin kamu mencampuri urusannya."
"Bu Erna itu punya penyakit tekanan darah tinggi Mas. Dia memang gampang marah dan tersinggung." Tidak ada yang bisa ku lakukan lagi. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Mas Sam dengan tetap perduli pada Bu Erna.
"Anaknya saja tidak perduli Babe."
"Hm iya." Ayu tersenyum simpul." Makanannya di bungkus saja. Aku kehilangan selera makan." Pintanya pelan.
"Tidak perlu. Kita cari tempat lain." Samuel berdiri begitupun Ayu.
"Lalu makanannya?" Menunjuk ke meja.
"Itu rejeki para pelayan." Ayu mengikuti langkah Samuel seraya sesekali menoleh seakan dia sadar kalau Bu Erna tengah memperhatikannya dari balik jendela kecil.
Meskipun Ayu belum memberikan cucu. Tapi aku baru sadar kalau dia adalah sosok menantu yang sempurna. Karena hidup dengan wanita berhati baik itu lebih baik daripada berpenampilan baik..
Hanya sesal yang tersisa. Bu Erna tidak mau kembali melakukan kesalahan dengan kembali mengusik kehidupan Ayu.
🌹🌹🌹
__ADS_1