Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Tamu tak di undang


__ADS_3

Baru saja Ayu dan Dika turun dari mobil, si penjaga rumah menghampiri mereka dengan langkah tergopoh-gopoh.


"Ada apa Pak?" Tanya Ayu melirik ke Dika yang sudah lebih dulu berjalan masuk.


"Ada tamu." Jawabnya tertahan sebab tamu tersebut mengaku sebagai sekertaris Dika.


"Siapa Pak?"


"Saya juga tidak tahu Nyah. Katanya sekertarisnya Tuan Dika." Mata Ayu sedikit melebar dengan tarikan nafas berat berhembus. Ingatannya soal semalam kembali melintas, sehingga terbesit rasa penasaran akan sosok wanita yang mau melakukan hal menjijikan bersama Suaminya.


"Ada perlu apa?"


"Katanya penting. Jadi saya suruh menunggu di dalam bersama Bibik."


"Oh ya sudah Pak. Terimakasih ya." Ayu tersenyum ramah kemudian melangkah masuk.


Sengaja dia memperlambat laju kakinya untuk menyiapkan diri akan pemandangan yang tentu akan membuat hatinya sakit.


Benar saja. Kini Dika tengah duduk bersama Tania dengan rok mini dan ketatnya. Ayu memastikan jika wanita yang tengah berbincang adalah wanita yang menddesah bersama Suaminya semalam.


"Maaf menganggu Nona." Ayu menghentikan langkahnya ketika Tania berjalan menghampiri.


"Tidak apa. Lanjutkan saja." Jawab Ayu mempersilahkan.


"Saya ke sini untuk memberikan berkas penting." Ayu tersenyum melihat berkas yang ada di tangan Tania.


"Ini bukan perusahaan. Ini rumah dan kamu tidak perlu bersandiwara." Ayu menatap lekat Tania yang memang jauh lebih menarik darinya. Tubuhnya ramping dengan kulit putih juga rambut ikal panjang, mirip artis Korea berinisial UI." Jika ingin bertemu Suamiku, silahkan. Tapi ingat! Jangan melakukan hal di luar batas di sini. Jika kalian ingin menddesah bersama, sebaiknya ke hotel saja." Ayu tersenyum kecut lalu melanjutkan langkahnya tanpa melirik ke arah Dika.


Waw. Ini lebih mudah.


"Sebaiknya kamu pulang." Pinta Dika lirih. Tentu saja dia takut melihat kemarahan dan senyum peringatan yang di perlihatkan Ayu.


Tiara berjalan menghampiri lalu menyerbu Dika dengan pelukan. Bibik yang seharusnya menyajikan makanan ringan, memilih mundur karena merasa sungkan.

__ADS_1


"Sudah di izinkan." Jawabnya seraya meniup wajah Dika lalu membelai pipinya dengan ujung telunjuknya. Tubuhnya semakin di rapatkan. Tania ingin menunjukkan pada Dika betapa sempurna tubuh rampingnya." Aku ingin lagi." Imbuhnya berbisik. Menjilat ujung telinga Dika dengan dessahan nafas panjang.


"Tidak. Sebaiknya kamu pulang." Kewarasan Dika terkoyak apalagi dengan sengaja Tania menuntun tangannya untuk membelai tubuhnya.


"Kamu tidak ingin mendengar jeritanku seperti tadi." Bisik Tania menempelkan bibirnya pada dada Dika yang masih tertutup kaos.


Tubuhnya sempurna sekali. Dika terbawa hasrat lalu mulai membelai pinggang Tania naik turun. Sesekali tangannya menekan kuat seakan tidak ingin penyatuan tubuh itu terlepas.


"Aaaaachhhhhh!!!!" Teriak Tania ketika sebuah tangan menjambak rambutnya lalu menghempaskannya ke lantai.


"Dasar manusia laknat!!" Ucap Ayu geram. Menatap Dika dan Tania secara bergantian." Sudah ku katakan untuk melakukan itu di tempat lain! Ini rumah! Bukan tempat pelaccuran!!" Dika mencengkram erat kepalanya tanpa membantu Tania yang berusaha berdiri.


"Sakit sekali." Eluh Tania memijat kepalanya. Ayu berjalan santai ke arahnya dengan senyum kecut.


"Sakit? Haha lucu. Kau hanya merasakan sakit pada kepalamu. Lalu, apa kamu memikirkan bagaimana sakitnya hatiku akibat perbuatan mu." Ayu mencoba mengatakan semuanya dengan sikap tenang. Dia ingin marah dengan cara elegan agar harga dirinya tetap terjaga.


"Bukan hanya aku saja wanita yang ada di hidup Pak Dika. Aku selalu melihat dia bergonta-ganti pasangan. Jangan menyalahkan ku."


"Ya aku tahu." Ayu memutar tubuhnya dan beralih menatap Dika." Bawa pergi dia. Silahkan lakukan kesenangan di tempat lain. Ini istana kita." Dika terkekeh kecil lalu berjalan mendekat dan menatap Ayu rendah.


"Aku serius. Ini Istana kita sebab aku masih menjadi Istri mu." Tangan Ayu terangkat lalu menepuk-nepuk pundak depan Dika lembut.


"Ini istana ku. Seharusnya aku bebas bermain di sini." Sengaja Dika mengatakan hal tersebut. Dia ingin Ayu cemburu buta hingga sanggup memicu semangatnya untuk berubah menjadi seramping tubuh Tania.


"Hm kau benar." Ayu menurunkan tangannya lalu meraih tisu seakan tengah membersihkannya. Hal itu semakin membuat Dika geram sebab Ayu seakan menganggap tubuhnya kotor." Lakukan itu saat kita sudah bercerai. Bukankah aku berjanji untuk berubah." Imbuhnya membuang tisu sembarangan.


"Tapi kau tidak berhak mengaturku!" Menunjuk kasar wajah Ayu.


"Oke baik. Silakan lanjutkan. Aku akan memanggil para warga juga ketua RT."


"Untuk apa?"


"Untuk membuktikan antara yang salah dan benar." Ayu hendak melangkah keluar tapi tangan Dika mencegahnya.

__ADS_1


"Kau ingin mempermalukan ku?"


"Jika kau menganggap perbuatanmu benar. Untuk apa merasa malu Tuan." Ayu menepis kasar tangan Dika seakan ingin melanjutkan niatnya.


"Oke. Aku akan pergi sesuai keinginan mu!!" Langkah Ayu terhenti dengan raut wajah datar, tubuhnya memutar ke arah Dika dan seketika wajahnya berubah berseri-seri. Ayu benar-benar tidak ingin terlihat lemah di mata Suaminya meski hatinya sangat hancur melihat kenyataan di hadapannya.


"Silahkan."


"Ayo Nia." Ajak Dika berjalan lebih dulu. Tania tersenyum simpul lalu berjalan mendekati Ayu.


"Aku melihat tubuhmu bergetar. Apa kau sedang menahan amarah dan rasa cemburu Nona." Ujar Tania meledek.


"Aku sudah bersamanya selama bertahun-tahun. Itu hal yang wajar mengingat dia adalah Suamiku. Tapi bagaimana dengan dirimu sendiri. Apa kamu sekarang merasa menang karena Dika tergoda olehmu?" Tania tertawa kecil lalu mimik wajahnya berubah dengan cepat seakan dia memiliki dua kepribadian.


"Aku sengaja menggoda Dika. Dia datang di saat aku membutuhkan seseorang untuk bersandar. Kau tahu apa artinya?" Tania memperlihatkan senyuman jahat." Akan ku buat Dika melupakanmu dan hanya memikirkan ku!! Camkan itu!!" Tania mendorong sedikit pundak Ayu kemudian melanjutkan langkahnya.


Ayu menghela nafas panjang lalu duduk lemah di atas sofa. Tubuhnya bergetar hebat setelah kenyataan buruk akan Dika terungkap di depan matanya.


"Sabar Nyah. Minum dulu." Ayu menoleh, mencoba memperlihatkan senyum pada pembantunya.


"Terimakasih Bik." Ayu meraih gelas lalu meminumnya sedikit.


"Sama-sama. Bibik rasa, Tuan Dika keterlaluan Nyah. Walaupun Bibik tidak ingin Nyonya dan Tuan berpisah, tapi kalau sudah berani membawa pacar ke rumah itu kesalahan fatal." Bibik tidak perduli akan perkerjaannya yang mungkin terancam hilang ketika perpisahan antara Dika dan Ayu terjadi. Tapi sejak awal berkerja, dia menganggap Ayu sebagai anaknya sendiri sehingga menimbulkan perasaan iba ketika melihat kejadian yang pasti menyakiti hati Ayu.


"Saya hanya sedang mempertahankan hubungan pernikahan saya Bik." Ayu meletakkan gelas di atas meja lalu bersandar lemah di sofa. Aku sendiri bingung harus bersikap bagaimana? Aku bahkan sudah tidak memiliki keluarga di sini. Aku juga tidak yakin jika Mas Dika benar-benar menyukai wanita itu. Dia hanya sedang bosan dengan penampilanku.


"Bibik doakan yang terbaik Nyah."


"Iya Bik. Tolong buatkan jus untuk makan malam. Saya membersihkan diri dulu. Nanti letakkan saja di dalam kulkas. Biar saya yang mengambilnya sendiri."


"Baik Nyah." Ayu tersenyum lalu melangkah pergi menaiki tangga." Apa tidak lemas. Setiap hari cuma minum jus. Makan siang pun jarang sama nasi. Duhh Gusti, kasihan Nyonya." Gerutu Bibik. Dia sangat tahu bagaimana pola makan Ayu yang di rasa terlalu tidak masuk akal.


Bibik merasa jika bentuk tubuh Ayu masih terlihat ideal, jadi untuk melakukan diet ketat, itu sesuatu yang terdengar aneh.

__ADS_1


Hampir setiap hari, Ayu jarang mengkonsumsi nasi. Dia lebih lebih banyak minum jus atau salad tanpa mengukur bagaimana kondisi tubuhnya. Apalagi kini Ayu mulai mengkonsumsi obat pemberian Bu Erna. Sehingga membuat keseimbangan tubuhnya semakin tidak baik.


🌹🌹🌹


__ADS_2