Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Benci berubah simpatik


__ADS_3

Dua hari setelah insiden..


Ayu di perbolehkan pulang setelah Dokter memastikan tidak ada gangguan pada pernafasannya.


Selama dua hari, Samuel tidak beranjak dari ruang perawatan. Dimas semakin sibuk karena tugasnya bertambah. Dia selalu menyiapkan baju bersih dan makanan untuk Samuel yang masih khawatir dengan keselamatan Ayu.


"Bee aku ingin bertemu Tania." Pinta Ayu seakan tidak sabar.


"Kamu baru saja sembuh." Tolaknya pelan.


"Lalu bagaimana dengan janjimu?!"


"Aku sudah mencabut tuntutan. Dia sudah di rumah dan baik-baik saja."


"Janjimu akan mempertemukan ku." Samuel menddesah lembut. Ayu tidak dapat berhenti menagih ketika janji sudah terlanjur di ucapkan.


"Ya Janji. Biar ku tanyakan Dimas, di mana alamat Pak Wira." Keduanya melangkah keluar ruang perawatan. Terlihat Dimas bergegas berdiri untuk menyambut kedatangan Samuel." Alamat rumah Pak Wira." Tanya Samuel tanpa basa-basi.


"Untuk apa Tuan?"


"Untuk mengunjungi wanita itu." Samuel menunjuk Ayu dengan isyarat mata.


"Biar saya antar sekalian."


"Kau tidak banyak perkerjaan?" Dimas tersenyum. Perkerjaan nya bukan hanya banyak tapi menumpuk akibat insiden yang terjadi pada Ayu.


"Siang ini saya ada beberapa pertemuan. Jadi untuk pagi saya masih free." Sangat lelah..Tapi aku tidak mau mengecewakan Tuanku hehe..


"Hm ya sudah." Samuel berjalan melewati Dimas yang mengekor di belakang.


"Kamu sakit Dim?" Tanya Ayu menyadari wajah pucat Dimas akibat kurang tidur.


"Tidak Nona."


"Wajahmu pucat."


"Perkerjaan sedikit menumpuk Nona."


"Istirahat kalau lelah."


Aku bahkan tidak pernah libur satu hari pun.


"Dimas sudah terbiasa Babe." Sahut Samuel cepat.


Sudah terbiasa juga membutuhkan istirahat. Tapi kalau aku mengambil libur satu hari, perkerjaan semakin menumpuk dan aku akan kewalahan sendiri.


"Serius Bee. Wajahnya pucat." Samuel menoleh sejenak ke arah Dimas.


"Apa kamu butuh istirahat Dim?"


"Tidak Tuan. Saya baik-baik saja. Mungkin hanya kurang tidur." Dimas ingin sekali mengambil libur satu hari tapi perusahaan yang harus di awasi tidak hanya satu. Terkadang dalam satu hari, dia bisa bolak-balik ke beberapa kota kalau memang ada sesuatu yang genting.


Mobil melaju menuju kawasan perumahan yang berada di naungan Samuel. Rumah mewah yang ada di sana merupakan rumah dinas milik perusahaan. Dika belum mendapatkan jatah karena di anggap masih orang baru. Sementara Pak Wira, sudah bertahun-tahun berkerja sehingga dia berhak menghuni salah satu rumah mewah yang ada di sana.


Singkat waktu. Setibanya di tujuan, kedatangan mereka di sambut hangat oleh Pak Wira. Rasa terimakasih beberapa kali terlontar karena Samuel tidak membawa kasus itu meja hijau dan memilih jalur kekeluargaan.

__ADS_1


"Lupa untuk berjanji bersama-sama." Tolak Samuel ketika Ayu ingin menemui Tania di kamarnya sendirian.


"Ini pembicaraan wanita Bee. Mungkin dia tidak akan nyaman dengan kehadiranmu."


"Apa yang sedang kamu cari? Untuk apa kamu berusaha berbicara baik-baik dengannya. Kamu sudah tahu keadaannya kan." Pak Wira dan Dimas hanya mampu terdiam mendengar perdebatan kecil di hadapannya.


"Pintunya tidak akan di kunci."


"Kalau dia melukai mu? Dia itu stress." Ayu melirik ke arah Pak Wira yang tertunduk.


"Perasaan ku berkata lain." Tetap saja Ayu kukuh pada pendiriannya untuk berbicara dari hati ke hati bersama Tania.


Ada rasa takut terbesit namun Ayu merasa jika ini satu-satunya cara menarik simpatik Tania yang di sebutnya memiliki gangguan mental.


"Mungkin saja perasaan mu salah."


"Kamu ingkar janji." Dimas tersenyum karena pembicaraan selalu berputar-putar kalau Ayu tidak mendapatkan keinginannya.


"Kita sudah datang kesini dan kamu dengar dari Pak Wira kalau Tania baik-baik saja."


"Em ya oke." Ayu memalingkan wajahnya seraya melepaskan pegangan tangannya pada lengan Samuel." Sebaiknya kita pulang. Kunjungan ini tidak berguna." Ucapnya melancarkan ancaman.


"Babe jangan seperti ini. Kamu tidak malu bersikap kekanak-kanakan di depan mereka."


"Oh kamu malu Bee. Oke." Ayu beranjak berdiri lalu melangkah keluar. Samuel menghela nafas panjang seraya meremas kepalanya pelan.


"Em aku kalah." Gumamnya seraya berdiri lalu mengikuti langkah Ayu yang ternyata duduk di teras.


"Katanya boleh melakukan apapun." Eluh Ayu dengan nada merengek." Tapi nyatanya kamu malu." Imbuhnya membuat Samuel duduk berjongkok di sampingnya.


"Terus apa!"


"Aku hanya takut dia melukai mu."


"Kamu tidak percaya dengan kepekaan ku?" Menunjuk ke dadanya.


"Sangat percaya. Oke Babe. Daripada kita berdebat di depan rumah orang. Mari masuk, temui Tania dan kita pulang." Jawab Samuel mengulurkan tangannya yang langsung di sambut Ayu.


"Begitu dong Bee. Kamu harus mengalah, katanya ingin lebih dewasa."


"Hm dewasa. Silahkan selesai urusan mu Babe."


Pak Wira kagum melihat cara Samuel menyelesaikan masalah. Ingin sekali dia memiliki menantu yang bisa memperlakukan Tania dengan baik. Walaupun keinginan itu terasa jauh mengingat kegilaan Tania yang sulit di kendalikan.


.


.


Ayu berdiri di ambang pintu. Menatap Tania yang tengah berbaring di atas tempat tidur. Insiden kemarin membuatnya harus beristirahat total selama dua Minggu agar janin di perutnya bisa bertahan.


"Bagaimana keadaan mu." Sontak Tania menoleh ke arah Ayu.


"Baik." Jawabnya singkat. Tangan kanannya mengusap lembut perutnya. Dia orang yang sudah menolong kita Nak.


Seperti apa yang ada di fikiran Ayu. Tania sangat berterimakasih dengan pertolongan yang Ayu berikan. Kalau bukan tanpa Ayu, mungkin dia dan calon anaknya sudah tidak bisa di selamatkan.

__ADS_1


"Aku minta maaf Ayu." Untuk pertama kalinya. Tania merasakan penyesalan yang begitu dalam apalagi melihat beberapa perban masih terpasang di jemari Ayu.


"Sudah ku maafkan. Aku ke sini ingin melihat keadaan mu dan calon anakmu."


"Dia selamat berkatmu." Tania berusaha duduk lalu menyerbu Ayu dengan pelukan hangat.


"Aku lega karena pengorbanan ku tidak sia-sia."


"Kenapa kau baik padaku padahal..." Tangis Tania pecah. Entah karena efek kehamilan atau memang hatinya tersentuh. Tapi pertolongan Ayu berhasil menghancurkan obsesinya selama ini.


"Kamu lebih berhak hidup karena di perutmu ada satu nyawa yang tidak bersalah."


"Kenapa kamu memikirkannya."


"Dia tidak bersalah. Dia berhak hidup dan tidak berhak menanggung akibat perbuatan orang tuanya." Ayu masih menyimpan rasa penyesalan atas insiden keguguran yang menimpa nya. Seharusnya dia bisa lebih waspada untuk melindungi calon anaknya yang harus musnah karena keegoisan orang tuanya.


"Terimakasih Ayu."


"Sama-sama. Jaga dia dengan baik." Ayu melepaskan pelukan lalu mengusap lembut perut Tania. Semoga engkau segera menghadirkan malaikat kecil di rahimku ya Tuhan..


"Aku akan menjaganya."


"Em aku tidak bisa lama. Aku cukup senang melihat keadaan mu. Kamu harus berjanji untuk menjaga nya. Kalau perlu, tinggallah di sini sampai dia lahir." Tania mengangguk lalu kembali memeluk Ayu.


"Aku berjanji."


"Aku harus pulang Tania. Suamiku sedikit arogan." Masih saja Tania tidak melepaskan pelukannya.


"Aku jahat Ayu. Itu wajar. Terimakasih ya."


"Hehe. Iya sama-sama." Akhirnya Tania melepas pelukannya.


"Aku pamit."


"Hati-hati di jalan."


"Hm iya." Ayu beranjak dari tempatnya.


"Bisakah kita menjadi teman baik." Ayu kembali menoleh.


"Tentu saja."


"Em aku akan berkunjung kalau keadaan ku membaik."


"Hm iya. Bye Tania." Ayu melambai sejenak kemudian melangkah keluar kamar.


Aku harus membalas budi atas pertolongannya. Sekarang aku punya teman.. Ini lebih membahagiakan daripada apapun..


🌹🌹🌹


Demi ikutan event, aku buat cerita baru yang berjudul My Idol My Husband


Tolong ramaikan ya teman-teman 🥰


Tinggal klik foto profilku.

__ADS_1


Terimakasih 🥰


__ADS_2