Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Teman di malam yang buruk


__ADS_3

Senyum Ibu penjual makanan mengembang. Segera saja dia berjalan menghampiri Ani lalu mengiringinya ke arah Samuel.


Ayu sendiri tidak bergeming dan hanya melihat situasi aneh yang terjadi di hadapannya. Raut wajahnya terlihat kesal sebab dia menganggap jika Samuel mencoba menunjukkan kekonyolan di hadapannya.


"Ini anak Ibu. Namanya Anisa. Panggil saja Ani."


"Samuel." Sam langsung menjabat tangan Ani sejenak.


"Cantik kan anak Ibu." Pujinya melirik malas ke arah Ayu yang sedang mencoba menahan diri untuk pergi. Bukan untuk alasan cemburu, tapi Ayu lebih baik berada di kontrakan untuk beristirahat daripada harus melihat adegan perjodohan.


"Hm cantik."


"Terus bagaimana Mas. Ibu jamin anak Ibu masih fresh." Ayu mulai tidak nyaman. Dia menghembuskan nafas berat seraya meminum es teh di hadapannya.


"Saya mencari yang tidak fresh asal bisa di nikmati." Sontak Ayu melirik dengan tatapan malas.


"Hahaha Mas Sam bercanda. Jaman sekarang itu sulit loh mencari gadis yang benar gadis." Tentu saja Ayu merasa tersinggung dengan ucapan tersebut apalagi mengingat hatinya yang sedang tidak baik.


"Saya bukan gadis Bu. Saya juga bukan calon Istrinya." Sahut Ayu ketus. Tidak biasanya dia meninggikan suara pada orang tua." Sebenarnya kita sedang makan atau apa Mas." Protes Ayu menggeser minumannya lalu berdiri.


"Jangan cemburu berlebihan. Aku hanya mencintai mu." Jawabnya seraya memaksa Ayu untuk kembali duduk.


"Cemburu apa?! Saya serius Bu. Saya bukan calon Istrinya." Menunjuk ke arah Samuel." Kalau Ibu berniat melakukan perjodohan. Silahkan, Mas Samuel masih singel kok." Ujar Ayu menjelaskan. Dia menolak mentah-mentah ucapan Samuel yang mengatakan dirinya tengah cemburu.


"Och Babe. Kamu mengemaskan sekali." Puji Samuel seraya meraih jemari Ayu lalu menggenggamnya.


"Jadi, Kak Sam sudah punya kekasih?" Tanya Ani terbata.


"Iya. Sudah."


"Em begitu." Manik Ani berkaca-kaca lalu pergi begitu saja tanpa perduli dengan teriakan si penjual makanan.


"Ibu pastikan kamu menyesal sudah memilih wanita ini." Menunjuk kasar ke arah Ayu.


Situasi apa sih ini. Ayu berusaha melepaskan cengkraman tangan Samuel.


"Tidak kali ini Bu. Saya yakin jika ini pilihan yang tepat."


"Pergi kalian. Ibu mau tutup!" Teriaknya geram.


"Gila sekali!" Gerutu Ayu mendengus." Kenapa Ibu mencampuradukkan masalah pribadi dengan perkerjaan. Apa pantas mengusir pelanggan seperti itu?" Ayu merasa jika sikap si penjual sangat tidak pantas apalagi ada beberapa orang yang tengah makan di sana.


"Terserah saya. Ini lapak saya dan jualan saya."


"Tenang saja Bu. Saya akan pergi." Samuel meletakkan satu lembar uang lima puluh ribu di atas meja.


"Jangan datang lagi."


"Astaga. Padahal saya sudah menjelaskan yang sebenarnya." Gerutu Ayu pelan.


"Sudahlah. Kita cari tempat lain." Samuel mengiring Ayu keluar dengan jemari yang masih menggenggam erat. Setibanya di luar, Ayu menarik kasar tangannya karena tidak nyaman melakukannya.


"Sebaiknya kita pulang Mas."

__ADS_1


"Kita belum makan."


"Aku sudah kenyang mendengar suara buruk Ibu tadi."


"Itu bukan alasan yang tepat. Kamu suka nasi goreng?" Tanyanya menawarkan.


"Entahlah. Aku sudah lama tidak memakan itu."


"Kamu harus mencoba nasi goreng langganan ku. Harganya kaki lima tapi rasanya bintang lima." Samuel menunjuk sebuah gerobak nasi yang terletak tidak jauh dari sana.


Terpaksa Ayu mengikuti langkah Samuel meski tas miliknya berhasil di rebut. Tidak ada gunanya menolak sebab Ayu rasa Samuel memiliki banyak cara untuk memaksanya.


Hanya lima menit menunggu, dua porsi nasi goreng lengkap dengan es jeruknya tersaji di hadapan mereka.


Aromanya enak sekali. Dulu setiap gajian, Ayah selalu membelikan ku ini.


"Kenapa di lihat saja? Mau ku suapi?"


"Tidak Mas." Ayu meraih sendok lalu mulai memakan nasi goreng di hadapannya.


"Harus habis ya."


"Ini banyak sekali."


"Apa kamu masih memikirkan program diet mu?"


"Tidak Mas. Tapi, aku tidak ingin bertambah buruk jika nanti aku di pertemukan lagi dengan.." Aku harus tetap menjaga pola makan ku untuk membuktikan pada Mas Dika jika Ayu bisa secantik dulu.


"Itu tidak akan terjadi sebab aku sudah bersamamu."


"Dia bahkan sudah menertawakan ku tadi. Dia berfikir jika aku memilih mu. Bagaimana nantinya kalau penampilan ku semakin buruk?"


"Dia bukan Suami mu lagi. Untuk apa kamu memikirkan aturannya. Yang harus kamu fikirkan adalah yang ada di depan, yaitu aku." Ayu menddesah kemudian meletakkan sendoknya lalu bersandar pada kursi kayu." Jika hidup bersamaku. Tidak ada aturan yang akan menyiksamu. Kamu bisa makan sesukamu. Tiga kali sehari bahkan lebih." Imbuh Samuel menjelaskan soal pemikirannya.


"Haha. Aku akan berubah menjadi bola sepak yang mudah di tendang. Mas Samuel berkata itu karena ingin menggombal dan membual lalu menjeratku." Ujar Ayu menuduh.


"Untuk masalah menjerat, aku sedang melakukannya. Tapi untuk masalah bentuk fisik. Asalkan kamu setia dan tidak berhubungan dengan lelaki lain, aku bisa menerima apapun keadaan mu." Ayu tersenyum. Dia memiringkan tubuhnya menatap Samuel yang tengah mengunyah nasi goreng.


"Manis sekali Mas. Aku tersanjung." Jawab Ayu berpura-pura.


"Aku hanya membutuhkan kesetiaan. Berikan padaku dan kamu akan mendapatkan hidup yang teramat manis nantinya." Ayu malah terkekeh. Dia masih beranggapan jika apa yang di katakan Samuel adalah candaan." Kamu tidak percaya." Imbuhnya menatap fokus ke arah Ayu.


"Mas Samuel bercandanya keterlaluan."


"Aku tidak sedang bercanda. Mintalah padaku, aku akan membuktikan semuanya."


"Ya. Bawa aku keluar dari keterpurukan ini. Buat aku jatuh cinta dan kau akan mendapatkan kesetiaan dariku!" Samuel tersungging seraya mengangguk. Apa yang sedang ku katakan!!


"Titah mu akan ku wujudkan segera." Senyum mengembang yang Samuel perlihatkan membuat Ayu menegakkan posisi duduknya lalu kembali makan.


"Aku tidak mudah melupakan sesuatu yang sudah lama ku miliki."


"Aku cukup tampan untuk membuatmu melupakan si pendek itu. Kau bahkan menddesah kan namaku semalam." Ayu menghentikan kunyahannya dengan gerakan kaku.

__ADS_1


"Aku lupa Mas. Jangan bahas dosa itu."


"Tidak mungkin aku melupakan itu. Kamu cantik sekali sampai benihku tidak sengaja keluar." Ayu membungkam mulut Samuel sebab merasa malu dengan pembahasan soal malam yang di anggapnya terkutuk.


"Astaga Mas! Apa pantas membicarakan itu."


"Aku tidak tahu." Samuel malah menghirup kuat aroma telapak tangan Ayu yang ada di bibirnya sehingga membuat Ayu menarik kembali tangannya.


"Mas sudah berjanji untuk tidak membicarakannya."


"Yub Babe. Kita bicarakan itu nanti. Sekarang, habiskan makanannya dulu."


Ayu belum mengerti tentang rencana gila yang sudah Samuel persiapkan. Dia sudah mengukuhkan niat untuk berhenti dalam pencarian dan melabuhkan cintanya pada Ayunda.


🌹🌹🌹


Seperti apa yang di rasakan Ayu, kini Dika tengah di liputi perasaan gelisah padahal keputusan berpisah mutlak pilihannya.


Rentetan kenangan kenangan bersama Ayu melintas, menambah rasa ragu yang mulai terbesit di hati.


Dika meneguk kopi hangatnya yang hampir habis, sesekali tarikan nafas berhembus seraya fokus menatap keluar jendela kamar.


"Bagaimana jika keputusan ini salah?" Gumamnya kembali meneguk kopi.


"Itu keputusan yang benar sayang. Terimakasih ya." Sahut Tania menyerbu Dika dengan pelukan.


Tentu saja Dika terkejut melihat kedatangan Tiara. Sejak tadi siang, dia tidak pergi kemana pun bahkan ponsel miliknya sengaja di matikan.


Dika ingin sejenak merenung untuk menimbang-nimbang keputusan yang di ambilnya tadi.


"Kenapa kau di sini?" Siapa yang memberitahu? Mama bahkan tidak tahu masalah ini..


"Merayakan hari bahagia kita. Aku tahu kamu sudah mengusirnya dari rumah. Oh sayang, aku mencintaimu." Ucapnya seraya menempelkan bibir merahnya pada pipi Dika.


"Kamu tahu darimana?" Dika tidak mengerti tentang sifat buruk Tania jika sudah terobsesi pada satu nama.


"Apa itu penting." Tania mulai merapatkan tubuhnya dengan cumbuan ringan pada dada bidang Dika.


"Sebaiknya kamu pulang. Tidak pantas jika ada seseorang yang melihat kita." Tolak Dika menjauhkan tubuh Tania lalu duduk lemah di sofa.


"Aku tidak perduli dengan orang lain. Sekarang, dunia ini hanya milik kita. Hanya ada kita berdua sayang." Tania duduk di pangkuan Dika dengan kedua kaki terbuka.


"Aku bahkan belum resmi bercerai." Dika membuang muka namun tidak menolak perlakuan Tania yang berusaha menggodanya.


"Kamu masih ragu?"


"Aku sudah lama bersamanya. Apa kamu tidak bisa mempertimbangkan semuanya. Jangan libatkan masalah pribadi dengan perkerjaan."


Tania menegakkan posisi duduknya seraya menatap Dika tajam. Dia tidak menyukai kebimbangan yang di lontarkan Dika.


"Kamu menikmati ini. Lihatlah sayang, milik mu sudah menegang."


"Ini hanya pelampiasan. Ah Niaaah hentikan. Aku tidak ingin tersandung masalah."

__ADS_1


Tania tersenyum simpul lalu mulai membuka satu persatu kancing dress-nya. Kebimbangan Dika membuatnya harus melakukan rencana lanjutan agar Dika segera bisa di miliki.


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2