
Di sebuah gedung VIP. Rangkaian bunga ucapan selamat menghiasai sepanjang jalan yang mengarah pada gedung tersebut.
Para tamu undangan mulai berdatangan tidak terkecuali awak media. Puluhan ajudan di kerahkan untuk memagari area gedung agar media tidak menerobos masuk.
Mereka menyebut Samuel sebagai pengusaha misterius yang tidak ingin di ketahui sosoknya. Padahal berbagai pencapaian berhasil dia raih. Itu yang membuat para media ingin mengetahui sosok Samuel.
Mobil mewah Dika baru saja tiba. Ya. Itu adalah mobil yang di beli dengan uang pemberian Dimas tempo hari.
Seperti tamu lainnya, Dika di sambut ramah oleh seorang lelaki yang bertugas membuka pintu mobil.
Walaupun di dalam undangan tidak di perkenankan membawa kado. Banyak dari para relasi membawa kado termasuk Tania yang rela memberikan cincin berlian miliknya sebagai kado.
Tujuan mereka sama. Ingin menarik simpatik Samuel agar jalinan kerja sama semakin erat dan banyak dari mereka menginginkan jabatan naik.
Inilah sesuatu yang Samuel benci. Orang di sekitar memang selalu memasang senyuman ketika bertemu dengannya. Tapi di balik itu, Samuel tahu kalau senyuman itu bertujuan menutupi kemunafikan yang ada di hati masing-masing.
"Kenapa tidak mengajak Istrinya Pak." Sapa seorang lelaki. Pak Wira hanya mampu menddesah lembut seraya pergi begitu saja seakan dia tidak mau mendengar pembicaraan memalukan itu.
"Saya ini Istri nya." Sontak wajah si lelaki berubah aneh.
Kok malah Bu Tania yang menjadi Istrinya? Apa Pak Dika menikah lagi? Walaupun aku tidak hafal wajah Istrinya tapi aku yakin bukan Bu Tania orangnya.
"Oh hehe Maaf Bu Tania."
"Panggil aku Nona! Aku tidak setua itu." Dika menghembuskan nafas berat seraya memberi peringatan Tania untuk diam saja.
"I iya maaf Nona. Permisi Pak Dika." Tania menatap tajam kepergian si lelaki yang di ketahui menjabat sebagai staf biasa.
"Bisakah kamu diam Niah. untuk apa berdebat? Bukankah kau ingin menarik simpatik si pemilik. Kalau dia tahu betapa buruknya sifat mu. Bagaimana mungkin dia bisa tertarik."
"Aku tidak mau ada orang yang menyamakan ku dengan wanita itu!"
"Kau seharusnya bisa menerima. Kau merebut ku darinya. Itu resiko yang harus kau ambil." Tania melirik malas seraya mendengus.
"Kau menikmati tubuhku sayang."
"Ya kamu cantik." Tapi tidak bisa mengalahkan kecantikannya. Kenapa aku masih saja merasa menyesal..
Terpaksa, Dika melontarkan pujian agar Tania berhenti berbuat gila. Dia duduk di salah satu kursi seraya menatap sekitar. Menunggu kedatangan mempelai yang belum tampak datang.
Sementara di luar. Mobil pengantin mulai memasuki area parkiran. Para wartawan semakin gencar untuk meliput meskipun dari jarak jauh.
"Seramai ini Mas. Lantas mereka yang membawa kamera itu siapa?" Tanya Ayu menghembuskan nafas berat untuk mengendalikan rasa gugupnya. Tidak pernah terbayangkan olehnya berada di posisinya saat ini.
"Mereka wartawan."
"Hah." Ayu menoleh cepat." Memangnya Mas Sam artis?" Tanya Ayu bingung.
"Yang di sorot media bukan hanya artis tapi orang seperti ku. Itu kenapa aku menyembunyikan identitas dan wajah. Aku tidak mau di repot kan dengan permasalahan media." Samuel meraih masker yang sudah di siapkan lalu mengenakannya pada Ayu." Lepas itu ketika sudah berada di dalam gedung." Pinta Samuel yang juga mengenakan masker.
Samuel lebih dulu turun, lalu di ikuti oleh Ayu. Bibik Lena dan Mita sengaja berangkat lebih dulu untuk mengelabuhi media yang pasti tengah mencari-cari informasi.
"Kenapa mereka berdiri seperti patung Mas." Tanya Ayu berbisik. Menatap para ajudan yang berdiri tidak bergerak untuk mengiringi perjalanan mereka.
__ADS_1
"Penasaran sekali?"
"Tidak juga."
"Berarti tidak perlu ku jawab."
"Undangan ini bersifat tertutup Nona. Satu undangan untuk dua orang dan harus melalui proses ketat. Mereka bertujuan menghalangi mata kamera agar tidak bisa menjangkau ke area sini." Sahut Dimas menjelaskan.
"Memang tidak ada habisnya kalau menyangkut kata media."
"Hm. Kita tidak akan bisa bebas berpergian."
"Tapi mereka mirip seperti manekin." Dimas tersenyum simpul dan dapat melihat kepolosan dari ucapan yang di lontarkan Ayu.
Itu kenapa Tuanku begitu cepat jatuh cinta.
Setelah mencapai pintu utama, Samuel membantu Ayu melepaskan masker. Mita dan Bik Lena sudah menunggu begitupun Cika juga Paman Ano.
"Cantiknya anakku." Puji Bik Lena menelungkup wajah Ayu." Semoga selalu bahagia." Ayu menghembuskan nafas berat seraya tersenyum.
"Amin Bik."
"Ini kado sederhana dari Bibik. Em pukul tujuh nanti, Bibik sudah harus pulang. Besok pagi Cika sekolah."
"Buru-buru sekali." Ayu menyerahkan kado pada Dimas." Membolos satu hari saja Cika." Pintanya menatap Cika.
"Besok ada ulangan harian Tan. Aku tidak mau membolos. Nanti peringkat ku turun."
"Ya sudah oke." Para kru pengatur acara masuk. Mereka mulai menyusun formasi selayaknya rombongan pengantin lainnya.
Ayah Samuel juga anak tunggal, itu kenapa dia tidak memiliki keluarga seperti paman atau Bibik. Samuel hidup dengan di kelilingi orang munafik.
Sekarang dia mencoba membangun keluarga kecil bersama orang yang tepat. Harapannya begitu kecil. Samuel menginginkan seorang pendamping yang bisa menemaninya di saat apapun. Memiliki keturunan untuk meramaikan suasana rumah yang sudah lama mati.
Suasana yang tadinya hening kini berubah menjadi riuh ketika pintu kokoh di buka. Ayu kembali di buat takjub dengan dekorasi mewah gedung.
Ini seperti di film...
Pujian itu terlontar, ketika banyak bunga berterbangan mengiringi langkah mereka.
Bunga itu datang dari mana?
Ayu mengedarkan pandangannya ke atas untuk mencari orang yang bertugas menebarkan bunga.
"Kamu mencari apa?" Tanya Samuel berbisik.
"Siapa yang menebarkan bunga." Samuel menarik nafas panjang seraya tersenyum.
"Itu turun dari langit." Apa kamu tidak menyadari keberadaannya Babe. Ahh.. Wajah itu membuatku sangat bersemangat. Telan bulat-bulat penyesalan mu!!
"Ada atapnya Mas. Bagaimana mungkin turun dari langit." Samuel tidak menjawab dan malah menumpukan tangan pada jemari Ayu yang tengah memegang lengannya.
Sesuai keinginan. Hati Dika terhantam kuat ketika menyadari akan kebenaran sosok si mempelai wanita. Sontak dia berdiri dengan tatapan mata tajam.
__ADS_1
Hatinya seakan terbakar saat melihat senyum jahat yang Samuel perlihatkan.
"Tidak mungkin.." Gumamnya lirih.
"Bukankah dia wanita itu?" Bukan hanya Dika. Sebab Tania juga di buat terkejut dengan kenyataan kalau Istri dari pemilik perusahaan merupakan mantan Istri Suaminya.
Semoga saja doamu terkabul Mas. Akan ada pengusaha kaya yang akan menyukai ku nanti!!
Hanya pengusaha bodoh yang mau dengan wanita seperti mu.
Memori perdebatan melintas. Kata-kata yang di lontarkan asal-asalan kini menjadi kenyataan.
Ayu, wanita yang di sebutnya menjijikkan kini bersanding dengan Samuel, seorang lelaki yang di fikirnya sebagai pegawai Cafe. Kehadiran Dimas juga menguatkan prasangka soal sosok Samuel sebenarnya.
Berarti uang itu darinya? Entah kenapa Dika seketika mendengus. Dia menyesal sudah menerima uang yang bertujuan untuk merendahkannya.
"Apa dia pemilik perusahaan?" Tanya Dika pada salah satu rekan kerjanya.
"Lantas siapa lagi Pak? Saya juga baru melihatnya. Saya fikir Pak Dimas pemiliknya. Tapi ternyata dia orang suruhan."
"Dia lelaki miskin itu?" Sahut Tania cepat. Angan-angan untuk merebut simpatik langsung runtuh seketika. Itu karena kebenciannya pada Ayu yang masih melekat sampai sekarang.
Dia cantik sekali.
Dika memperhatikan lekuk tubuh Ayu yang terlihat lebih ramping. Di tambah dengan kulit seputih susu yang semakin bersinar.
Aku yakin kamu belum melupakan ku..
"Kita pulang Dik." Tania menarik lengan Dika kasar saat menyadari tatapan mata Dika yang sejak tadi berfokus pada Ayu.
"Aku yakin dia masih mencintai ku seperti apa yang ku rasakan sekarang." Gumam Dika tidak menyadari kemarahan yang terlihat dari raut wajah Tania.
"Kamu bicara apa Dika!"
"Sudah ku katakan aku masih mencintainya. Dia itu cinta pertamaku." Sebelum tangan Dika mengarah pada Ayu. Segera saja Pak Wira menurunkannya.
"Lakukan kebodohan kalau memang kamu ingin kehilangan perkerjaan." Bisik Pak Wira mengancam.
"Anakmu itu tidak waras!" Menunjuk Tania.
"Kamu sudah memilih hidup bersama nya. Jangan berulah Dika. Kita bukan siapa-siapa tanpa Pak Samuel." Pak Wira juga terkejut ketika melihat Istri dari si pemilik perusahaan adalah mantan Istri Dika. Tapi dia berfikir realistis. Dia tidak ingin kehilangan perkerjaan sehingga ancaman pada Dika terpaksa di lontarkan.
Aku sangat menyesal Ayu. Seharusnya hanya aku yang boleh berada di samping mu. Bukan lelaki asing itu!!
🌹🌹🌹
Maaf ya teman-teman. Kondisiku tidak memungkinkan untuk doubel update...
Kalau kondisinya sudah normal..
Aku akan update 2 kali di jam 5 pagi dan 10 siang..
__ADS_1
Terimakasih dukungannya 🌹🌹