
Dika duduk lemah di sofa seraya membuang nafasnya kasar. Beberapa saat kemudian, Tania terlihat baru saja turun dan langsung duduk di samping Dika.
"Ayah sudah bercerita padaku." Ucap Tania pelan.
"Padahal aku tidak tahu menahu soal uang itu."
"Ayah akan memberikan bantuan untuk hidup kita selanjutnya."
"Hah serius?!! Kau mengampangkan nya?!! Ini seperti mimpi buruk Niah!! Mati-matian aku meraih jabatan tapi harus hancur karena uang sialan itu!!"
"Asal kita selalu bersama."
"Kau memang tidak waras!!" Menunjuk kasar ke Tania.
Kesetiaan Tania sudah mendarah daging. Dia tidak takut untuk hidup seperti apapun, asalkan Dika sudah di dapatkan apalagi sekarang di perutnya tengah ada janin dari buah cinta mereka.
"Hm terserah kau menyebut ku apa, tapi! Jauhi wanita itu! Apa perlu ku musnahkan nyawanya agar kau tidak lagi menemui nya?"
"Siapa yang kau maksud?"
"Wanita buruk rupa itu! Kau menemuinya kan semalam?"
"Aku sekedar melihat keadaannya! Dia buruk sekali!! Aku tidak akan mau bertemu dengannya walaupun kau menyuruhku sekalipun." Senyum Tania seketika merekah. Tentu saja dia merasa senang dengan jawaban Dika.
Tiba-tiba, bunyi bel pintu memenuhi ruangan. Bibik berlari kecil keluar untuk melihat siapa yang datang. Beberapa saat kemudian, Bibik kembali dengan wajah panik berjalan menghampiri Dika.
"Siapa Bik?"
"Polisi Tuan." Sontak mata Dika membulat. Seharusnya dia tidak lagi di panggil karena tuduhan yang sudah di cabut sejak kemarin.
"Ada apa?"
"Saya tidak tahu Tuan." Dika berdiri di ikuti oleh Tania. Keduanya berjalan ke depan untuk menemui dua polisi berseragam lengkap tersebut.
"Ada apa lagi Pak?"
"Maaf saudara Dika. Anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan anda. Ini surat penangkapannya." Sebuah amplop di sodorkan. Dika langsung membukanya dengan saliva tertelan kasar.
"Bukan saya pelakunya Pak!" Teriak Dika tidak terima.
Sial! Apa ini perbuatan mereka? Seharusnya aku hilangkan saja nyawa wanita itu! Dia tidak tahu sedang bermain-main dengan siapa? Batin Tania tidak sanggup menerima penangkapan Dika.
"Apa ada buktinya Pak?"
"Saudara Vivian sudah mengingat semuanya. Dia melihat saudara Dika yang telah melakukan perbuatan itu dan sengaja merusak CCTV untuk melancarkan aksinya." Dika mengalihkan pandangannya ke arah Tania.
"Bukankah seharusnya kau yang di penjara!!!"
"Kamu bicara apa sayang?" Tania tersenyum simpul lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Dika." Kamu ikut mereka dulu. Sisanya biar ku urus." Bisiknya tersenyum simpul.
"Mari saudara Dika."
__ADS_1
Walaupun tidak yakin, Dika tetap saja mengikuti perintah dua polisi tersebut. Dengan wajah tertunduk, dia di masukkan ke dalam mobil polisi.
Dika merasa hidupnya semakin berantakan sejak dia meninggalkan Ayu seakan sosok itu dulu menghalau kesialan nya.
๐น๐น๐น
Sambil menunggu Samuel yang masih bersiap, Ayu memeriksa pesan balasan dari Mita yang terlihat ganjil. Tidak seperti biasanya, Mita menolak panggilan darinya dan hanya membalasnya dengan pesan yang begitu singkat.
Mungkin hanya perasaanku saja.
"Memikirkan balasan pesan itu lagi?" Seketika Ayu mendongakkan kepalanya lalu berdiri.
"Iya Bee. Tapi mungkin perasaan ku saja." Ketika Ayu memegang lengan Samuel dan hendak menggiringnya keluar. Langkahnya tertahan karena Samuel tidak beranjak dari tempatnya sehingga membuat Ayu kembali memutar tubuhnya." Ada yang tertinggal?" Tanyanya lirih.
"Jangan memancing mata nakal lelaki." Setelah menjawab dengan kata-kata tersebut. Samuel meraih tisu lalu menyapu bibir Ayu lembut.
Terlihat noda lipstik langsung menempel di tisu. Hal itu memicu Ayu melontarkan tebakan pada produk yang ternyata tidak tahan air.
Namun ucapan tersebut tertahan sebab Samuel mellumat bibirnya untuk membersihkan sisa lipstik yang menempel.
"Berlemak sekali Babe. Ini tidak nyaman." Protes Samuel yang bibirnya ikut terlihat merah. Ayu malah tersenyum lalu membersihkan bibir Samuel dengan ibu jarinya.
"Memang sedikit aneh Bee. Ini lipstik yang baru ku beli tadi."
"Kenapa rasanya lain?"
"Mungkin produk palsu?" Jawab Ayu malah tertawa kecil.
"Aku juga." Sahut Ayu cepat. Dia meraih tisu kotor dari tangan Samuel lalu beranjak untuk membuangnya.
"Kalau kamu tahu? Kenapa di beli?"
"Hanya kasihan Bee. Wajahnya sudah sangat lelah. Mungkin saja produknya belum laku hari ini. Jadi ku buang sedikit uangmu untuk membantunya." Samuel tersenyum lalu mengusap puncak kepala Ayu.
"Sudah ku katakan. Di dunia ini sangat banyak kemunafikan."
"Hm. Tapi kemunafikan tidak perlu di balas dengan buruk. Yang penting bukan kita pelakunya." Jawab Ayu seraya menggiring Samuel keluar apartemen.
"Aku tidak nyaman berada di sekeliling orang semacam itu."
"Lebih baik jujur tapi terlihat buruk."
"Iya. Kamu ternyata sangat pintar." Puji Samuel seraya menekan tombol lift.
"Tidak Bee. Aku bodoh karena tidak pernah masuk peringkat 10 besar saat waktu sekolah."
"Sekarang semua sudah berubah. Kamu menjadi peringkat satu di hatiku." Ayu kembali tertawa kecil untuk kesekian kali seakan dia mulai bisa melepaskan masa lalunya secara perlahan.
"Tapi prestasi mu sangat banyak. Aku melihat penghargaan di kantor juga kamar kita." Rasanya sungguh senang saat Samuel mendengar Ayu menyebut kamarnya dengan kamar kita.
"Tuhan maha tahu. Tidak mungkin jika orang bodoh di jodohkan dengan orang bodoh atau sebaliknya. Hidup mereka akan berjalan datar tanpa kejutan." Ayu mengangguk-angguk seraya tersenyum. Dia tidak keberatan jika dirinyalah orang yang di sebut bodoh.
__ADS_1
.
.
.
..
Mobil Samuel melaju meninggalkan area apartemen menuju Cafe di mana mereka membuat janji. Sengaja, Ayu tidak bertemu di tempat Mita berkerja agar sahabat satu-satunya itu bisa berfikir jernih ketika dia melontarkan kekhawatirannya soal Alan.
Setibanya di sana. Ayu di buat syok dengan wajah ketus yang Mita perlihatkan. Awalnya dia berfikir jika mungkin Mita sedang menghadapi masalah atau Alan memutuskan hubungan. Namun ketika pelukannya di tolak, seketika hati Ayu berkedut nyeri.
"Duduk saja. Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak punya banyak waktu." Untuk kesekian kali, Mita melontarkan kata-kata yang sanggup mengiris hatinya.
"Mau bertemu Mas Alan?" Tanya Ayu lirih. Melirik ke arah Samuel yang sengaja menunggu di mobil untuk memberikan ruang bagi Mita yang mungkin merasa sungkan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Jawab Mita ketus.
"Em begini. Aku mau memperingatkan mu saja. Lebih baik kamu fikirkan masak-masak soal hubunganmu dengan Mas Alan. Aku merasa, dia memiliki sifat yang sama dengan Mas Dika." Sontak Mita menatap tajam ke arah Ayu seraya membuang nafas kasar.
"Aku tidak menyangka kau tega mengatakan ini setelah ucapan mu kemarin."
"Aku juga baru tahu tadi. Aku tidak sengaja bertemu dengan..."
"Kau menyukai Mas Alan kan!!" Sahut Mita geram. Hati yang lebih dulu terbakar cemburu menyulut kemarahan dan rasa kesal tidak beralasan.
"Ap apa yang kamu katakan Mit? Aku berkata ini karena demi kebaikan mu."
"Kebaikan ku atau kebaikan mu? Aku tidak akan melepaskan Mas Alan walaupun kau berusaha merebutnya. Aku tidak menyangka jika kau suka mencari pusat perhatian dengan tutur katamu yang sok lembut dan perbuatan mu yang sok baik itu!!"
Ayu terdiam sesaat, menatap manik Mita yang di penuhi dengan kebencian.
Apa yang terjadi? Kenapa dia lebih dulu marah padahal sebelumnya Mita tidak pernah berkata sekasar ini..
"Katakan Mit? Kenapa kamu malah marah padaku? Tidak mungkin kalau tuduhan mu itu benar. Aku juga sudah memiliki Suami." Jawab Ayu pelan. Dia mencoba menekan kekesalannya agar pembicaraannya tidak di dengar Samuel.
"Seharusnya sejak dulu aku tidak berteman denganmu!" Tunjuk Mita kasar." Kau menghalangi semua lelaki yang mau mendekat denganku!" Imbuhnya semakin tidak terkendali.
"Menghalangi?" Ujar Ayu balik bertanya.
Tanpa Ayu sadari, terdapat setitik rasa iri yang timbul sejak keduanya bersahabat. Setiap kali Mita menyukai teman lelakinya, tapi si lelaki selalu saja memanfaatkannya hanya untuk bisa dekat dengan Ayu.
Mita berusaha menepis perasaan tersebut karena sikap Ayu yang cenderung baik padanya. Dia bahkan berusaha untuk melupakan pertemanannya dan mencari sosok lain ketika Ayu menikah dengan Dika. Tapi lagi-lagi Mita tidak sanggup menemukan wanita setulus Ayu.
Bahkan saat perceraian terjadi, Mita merasakan kebahagiaan sebab itu kali pertama dia melihat Ayu berantakan karena masalah cinta. Dia menutupi semuanya dengan rapi, seakan ikut merasakan kesakitan itu. Seakan perduli, padahal Mita sempat tertawa lepas di atas penderitaan Ayu.
๐น๐น๐น
Kesehatan ku kembali terganggu ๐mungkin untuk satu Minggu ke depan aku tidak bisa doubel update ๐๐
Tapi aku akan berusaha untuk terus up setiap harinya walaupun hanya satu part๐ฅฐ
__ADS_1
Terimakasih dukungannya..