
Ayu menatap Samuel yang dengan telaten menyuapi Daniel. Dia rela makan sepiring berdua sementara Ayu melihat Samuel sebagai orang lain.
Beberapa kali dugaan terbesit tapi bibir Ayu bungkam. Sangat memalukan jika dia mengatakan soal tebakannya yang mungkin salah.
Apa dia Mas Sam? Ayu menatap tangan kekar Samuel. Berwarna gelap walaupun otot-ototnya sangat dia kenali. Tidak mungkin. Mas Sam kulitnya lebih terang. Dia juga tidak berkumis tapi kenapa sikap mereka mirip? Daniel bahkan sangat nyaman bersama nya..
"Apa makanannya tidak enak?" Pertanyaan Samuel membuyarkan lamunan Ayu. Membuat tangannya bergerak lalu memasukkan satu suapan makanan ke mulut.
"Biar Daniel ku suapi Mas."
"Dia sudah sangat nyaman. Sebaiknya kamu makan dan pesan lagi kalau memang kurang." Lagi lagi Ayu merasakan kenyamanan yang sama ketika dia bersama Samuel. Hal itu juga yang sedang di rasakan Daniel.
"Tidak." Ayu mengunyah makanannya perlahan sehingga membuat Samuel tercuri perhatiannya. Ingin rasanya dia menyuapi Ayu seperti yang sering di lakukan.
"Aku tidak akan bercerita pada siapapun. Istriku berada di luar kota. Dia tidak mungkin melihat kita kecuali aku bercerita." Tapi ternyata, Samuel belum berhenti menjahili Ayu sebab sebenarnya dia ingin Ayu kembali pulang.
"Ini tidak pantas Mas."
"Jika kamu tidak banyak bicara, mereka akan menganggap kita pasangan Suami Istri."
Kenapa aku selalu di hadapan kan dengan orang-orang tidak waras.
"Apa kau sedang menawarkan sebuah perselingkuhan?!" Tanya Ayu terdengar di tekan sementara Samuel memperlihat senyuman simpul.
"Memangnya Nona mau?"
"Tidak! Aku masih mencintai Suamiku!"
"Terus kenapa Nona berada di sini sendiri?" Ayu terdiam sesaat, memikirkan jawaban atas pertanyaan Samuel.
"Tidak perlu bertanya, bukankah kamu sudah tahu semuanya."
"Hm ya. Apa yang terjadi? Terus siapa wanita tadi?" Tanya Samuel berpura-pura tidak tahu.
"Dia.. Mantan Istrinya."
"Em terus? Suami Nona sedang berada di mana?"
"Bersamanya."
"Berarti Suami Nona ingin kembali pada masa lalunya."
"Aku kabur dari rumah. Aku tidak mau tinggal satu atap dengan wanita itu! Puas!" Karena terpancing emosi, Ayu melupakan Daniel yang sejak tadi fokus pada makanan.
"Seharusnya dia yang pergi."
__ADS_1
"Dia tidak mau."
"Usir saja. Kenapa harus Nona yang pergi dari rumah? Apa Nona siap kehilangan Suami?"
"Tentu ada alasannya. Kamu tidak perlu tahu. Aku yakin kalau masih berjodoh, kita akan bertemu lagi." Nada suara yang meninggi melambangkan ketakutan bergejolak di dalam hati Ayu.
"Hm kalau bisa? Seandainya dia memilih wanita itu dan meninggalkan Nona? Apa Nona mau denganku?" Ayu menelan makanannya kasar. Dia menatap tajam ke arah Samuel yang sejak tadi memperlihatkan senyuman.
"Tidak!"
"Daripada Nona sendirian."
"Astaga.. Kenapa kamu berkata seperti itu Mas. Bagaimana perasaan Istri mu kalau dia tahu."
"Dia akan marah tapi percuma, dia tidak mengikuti aturan yang ku buat. Dia lebih memilih menjauh daripada saling berdekatan." Jawab Samuel mencoba menyadarkan Ayu jika sosok Radit adalah Suaminya.
"Maksudnya bagaimana Mas?"
"Aku menyuruhnya pindah ke kota ini tapi dia tidak mau dan lebih memilih berjauhan dengan ku."
"Pasti ada alasannya."
"Tidak ada alasan yang bisa ku benarkan Nona. Menurut ku, jika kita sudah menikah maka kita harus selalu bersama dalam keadaan apapun. Mungkin dia tidak ingin tinggal di kontrakan panas itu dan lebih nyaman tinggal di rumahnya meski tanpaku." Samuel berusaha menyindir Ayu. Mengingatkan nya bahwa seharusnya Ayu tidak pergi dan melewati semuanya bersama-sama.
"Itu hanya tebakan. Bisa saja ada alasan lain."
"Kamu sangat mudah berpaling."
"Seharusnya dia tidak memberikan celah agar aku tidak mengatakan ini pada wanita lain." Sindir Samuel lagi. Apa kamu sadar akan kesalahan mu Babe. Ayo pulang kembali ke rumah. Kita hadapi wanita itu bersama-sama. Bukankah kamu yang tidak memperbolehkan ku mengusirnya? Lalu sekarang kau meninggalkan ku? Apa menurutmu ini adil?
"Setia tetap saja setia."
Tentu saja dia keras kepala. Aku ingin melummat bibirnya yang mengerucut itu hehe...
"Ya wanita selalu saja benar."
"Tidak juga." Ayu melongok ketika melihat makanan milik Samuel terlihat berantakan akibat ulah Daniel. Nasi berceceran di atas meja sementara wajah Daniel penuh saus." Astaga Daniel." Ayu membuka tasnya lalu mengambil tisu basah yang selalu tersedia sejak Daniel ada. Dia beranjak dari tempatnya lalu duduk tepat di sebelah Daniel dan memangku nya.
Samuel tidak berkomentar, dia memunguti nasi yang berceceran lalu memakannya. Tentu saja Ayu sontak menoleh melihat lelaki yang menurutnya asing tidak jijik memakan nasi bekas Daniel.
"Sebaiknya kamu pesan lagi Mas."
"Tidak baik membuang makanan." Tanpa peduli pada tatapan sekitar, Samuel memakan sajian ayam krispi yang sudah tidak berbentuk dan berbalut air liur Daniel.
"Apa kamu Mas Sam!!!" Tiba-tiba saja Ayu melontarkannya.
__ADS_1
"Siapa dia?" Ayu mengambil satu lembar tisu basah lalu mengusap pergelangan tangan Samuel. Dia berharap warna gelap pada kulitnya memudar.
"Kenapa tidak bisa?" Runtuk Ayu kesal.
"Kamu sedang melakukan apa Nona." Mengagumkan Babe. Kamu mengenaliku tapi biarkan semuanya berlanjut.
"Kenapa tingkah laku mu seperti dia!"
"Dia siapa?" Warna ini hanya bisa hilang dengan cairan itu. Air tidak akan mampu menghapusnya.
"Entahlah." Ayu menghentikan gerakannya dan kembali fokus membersihkan tangan dan mulut Daniel. Itu kulit asli! Apa yang ku fikirkan? Sangat tidak mungkin dia Mas Sam. Kulitnya saja berbeda.
"Aem Ma."
"Sudah sayang. Kamu harus ganti baju setelah ini." Gumam Ayu mencoba tidak memperdulikan Samuel.
"Sebaiknya kamu lanjutkan makan biar Daniel ku urus." Samuel kembali mengambil alih Daniel tanpa persetujuan.
"Ya Mas." Terpaksa Ayu mengucapkannya. Dia ingin menghabiskan makanannya lalu pulang.
Rasa yang sedang bergejolak di hatinya terasa aneh. Ayu sangat nyaman meski dia mencoba memantapkan hati jika Radit bukanlah Samuel.
Jangan terbawa arus Ayu. Ingat. Dia sudah memiliki Istri dan anak.
🌹🌹🌹
Riska melakukan berbagai cara untuk bisa membuka kamar utama. Namun hasil yang di dapatkan nihil sebab kamar tersebut merupakan kamar pribadi Samuel dan Ayu. Dia yakin jika semua surat-surat penting berada di dalam sana sehingga niatnya begitu menggebu-gebu.
"Bukankah itu tidak sopan Mom?" Tegur Keano polos. Menatap Riska yang terasa asing untuknya. Keano merasa jika Riska tidak sehangat dulu.
"Mama sedang memperjuangkan hak mu." Jawabnya ketus.
"Aku sungguh tidak mengerti Mom. Kenapa kita tidak kembali ke Amsterdam?" Celotehnya lagi." Aku rindu Papa." Sontak mata Riska membulat. Dia berjalan ke Keano lalu membungkam mulutnya dengan kasar.
"Sudah Mama katakan untuk tidak membicarakan itu!!" Jawabnya berbisik.
"Dulu Mommy tidak pernah mengajarkan berbohong tapi sekarang Mommy malah menyuruh Kean berbohong." Celotehnya semakin membuat Riska geram.
"Tutup mulutmu!"
Riska menyeret Keano dengan kasar lalu mengurungnya di kamar. Terdengar Keano berteriak meminta maaf tapi Riska hanya bersandar di daun pintu.
"Sorry Mom. I'm sorry."
"Jangan harap bisa keluar! Kau di hukum." Jawab Riska melangkah pergi dengan kunci di tangannya. Bik Ijah menghela nafas panjang. Merasa kasihan melihat Keano yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari Ibunya. Biasanya Ayu yang membela. Tapi kini Bik Ijah hanya bisa terdiam dan pasrah.
__ADS_1
Apa Nyonya Riska bukan Ibu kandungnya? Ya Tuhan, kasihan Keano..
🌹🌹🌹