
Pagi itu di meja makan. Ayu menatap lekat ke arah Dika yang tengah makan dengan lahapnya sementara di hadapannya hanya ada segelas jus tanpa gula.
Rasanya sangat tidak adil, mengingat Ayu terpaksa mengkonsumsi jus yang dulunya tidak di sukai hanya demi ingin menuruti keinginan Dika.
"Sudah kamu minum obat dari Mama."
"Belum."
"Jangan sampai lupa atau Tania akan menggantikan mu menjadi ratu di sini." Ayu meraih gelas lalu meneguk jus dalam sekali nafas. Ucapan Dika terdengar begitu panas membelai telinga.
"Aku minta untuk tidak terlalu bebas berhubungan. Aku sudah berusaha menuruti permintaan mu. Jika kerja kerasku tidak kau imbangi, aku tidak ingin melakukannya." Dika menelan salivanya kasar. Sejak semalam dia memikirkan ancaman yang di lontarkan Tania padanya.
Seharusnya dia pulang kemarin malam, tapi kegilaan Tania membuatnya terjebak dalam situasi sulit. Tania sengaja merekam aktivitas panas mereka dan mengancam akan menyerahkannya pada Direktur utama jika Dika tidak menuruti permintaannya untuk tetap tinggal.
"Iya."
"Jauhi wanita itu! Aku berjanji akan berubah!"
"Iya. Apa kau tuli." Ayu menghela nafas panjang. Ucapan Dika terdengar semakin kasar dengan sikap yang sudah berubah drastis.
Dulu dia memilih Dika untuk menjadi sandaran hati karena sikap lembut dan dewasanya. Namun sejak inside keguguran terjadi, Dika berubah menjadi sosok lelaki yang kasar dan sulit di ajak berbicara baik.
Sebesar itu pengaruhnya? Aku tahu jika kamu mengidolakan wanita yang memiliki tubuh ramping. Tapi apa harus kamu berubah sikap seperti sekarang hanya karena bentuk tubuhku yang tidak sesuai harapan mu?
"Tahun-tahun yang sia-sia." Jawab Ayu lirih.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak menyangka jika penampilan menjadi tolak ukur untukmu Mas. Bukankah kita sudah melewati tujuh tahun bersama? Apa kebersamaan itu harus hancur karena bentuk fisik saja."
Dika terdiam sesaat. Apa yang di lakukan sekarang hanya sebuah gertakan untuk Ayu. Dia sama sekali tidak berniat meninggalkan Ayu meskipun nantinya bentuk tubuh Ayu tidak berubah.
"Aku sedang mencoba mempertahankan mu."
"Ya aku bosan mendengar itu."
"Aku memang sedang melakukannya."
"Tapi penilaian itu terlalu rendah. Ku fikir cintamu tidak sedangkal itu!" Dika kembali terdiam sesaat untuk memikirkan jawaban atas ucapan Ayu.
"Aku sedang mengajarkan bagaimana caranya menjaga cinta. Aku kehilangan selera dan sudah seharusnya kamu berusaha memperbaikinya." Ayu mengangguk-angguk seraya tersenyum getir. Tentu saja Dika tidak ingin di jadikan tersangka atas semuanya.
"Hm.. Aku sudah selesai." Ayu berdiri seraya membawa gelas kosongnya." Hari ini aku mulai berkerja. Aku pulang jam tujuh malam. Aku sudah berbicara pada Bibik untuk menyiapkan segala keperluan mu saat kamu pulang nanti. Semoga harimu menyenangkan." Ayu tersenyum tanpa menatap. Rasa kecewa yang menerpa, membuatnya enggan melihat ke arah Dika yang dulunya menjadi satu-satunya lelaki di hatinya.
__ADS_1
Jangan terpengaruh Dika. Kau harus ingat jika ini demi kebaikan hubungan pernikahan kalian.
Dika menutup mata hatinya rapat. Kegilaannya akan bentuk fisik, merubahnya menjadi seorang Suami yang begitu tega pada Istri yang seharusnya di ayomi. Dika benar-benar menginginkan Ayu bisa berubah seperti dulu. Wanita sempurna bukan hanya dari bentuk fisik tapi hati dan perbuatannya. Ambisi itu membuat Dika menjadi lupa. Jika kesempurnaan memang tidak pernah ada pada diri manusia.
Sementara di kamar. Ayu memindahkan tumpukan baju untuk mengambil celana jeans miliknya yang sudah lama tersimpan.
Sejak menikah, dia tidak lagi menggunakannya karena jarang keluar rumah. Apalagi Dika menyukai saat dia mengenakan gaun. Hal itu membuat Ayu melupakan gaya berpakaiannya dulu.
"Apa masih muat." Gumamnya duduk di tepian ranjang lalu berusaha memasukkan kakinya.
"Tidak akan muat!" Sahut Dika berdiri di ambang pintu.
Ayu berdiri lalu menaikan celana jeans dengan daya dan upaya. Dia baru menyadari jika bentuk tubuhnya sudah jauh berubah.
"Hahaha tidak muat kan? Sudah sadar bagaimana bentuk tubuhmu sekarang? Kau tidak melihat itu karena tertutup daster besar mu itu." Imbuh Dika lagi. Dia masuk ke dalam kamar lalu membuka lemari untuk mengambil jas juga dasi.
Mungkin Mas Dika benar. Sejak kapan aku berkembang sebesar ini.
Ayu melepas kembali Jeansnya. Dia melipatnya lalu meletakkannya.
Sangat tidak mungkin jika aku mengenakan gaun saat berkerja. Tapi aku tidak memiliki baju lagi selain gaun.
"Aku pergi. Silahkan introspeksi diri agar aku bisa berselera padamu lagi." Ayu menatap kepergian Dika dengan raut wajah datar. Dia membereskan bajunya lamanya dan meletakkannya kembali pada tempatnya.
"Kemarin motor, sekarang baju. Darimana aku punya uang untuk membeli itu?"
Singkat waktu. Setibanya Ayu di Cafe. Kedatangannya di sambut oleh Mita dengan tatapan heran. Keduanya bertemu di parkiran Cafe sehingga Bimo juga menyadari kedatangannya.
Wanita itu lagi.
"Hei apa ini?" Memegang sedikit gaun Ayu.
"Celana jeans ku tidak muat semua."
"Kenapa tidak bilang. Aku bisa meminjamkan celana milik Kakakku."
"Sudah terlanjur Mit." Ayu melanjutkan langkahnya seakan tidak ingin terlalu memikirkan penampilan tidak pantasnya. Terlalu banyak masalah yang menerpa sehingga membuatnya ingin membebaskan fikiran untuk hari ini.
"Kenapa tidak bersemangat?" Mita meraih lengan Ayu dan melingkarkan tangannya.
"Masalah nya tetap sama. Kau tahu kalau aku tidak suka banyak bicara. Aku benar-benar menyesal sudah menikah muda." Sam yang sudah lebih dulu datang, langsung teralihkan ketika Ayu melangkahkan kakinya masuk.
Kenapa dia memakai gaun? Tentu saja Sam bertanya-tanya perihal itu. Apalagi seragam berupa kaos sudah di persiapkan untuk Ayu.
__ADS_1
"Bukan pernikahannya yang salah tapi pemikiran Dika yang tidak waras."
"Ku anggap begitu." Cepat-cepat Ayu berjalan menghampiri Sam ketika menyadari keberadaannya. Dia ingin membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan kejadian kemarin." Mas Sam." Panggil Ayu seraya berlari kecil.
"Ya Ay, ada apa?" Jawab Sam ramah.
"Saya Mita maaf atas sikap Suami saya kemarin."
"Bukankah aku sudah memaafkannya."
"Entahlah Mas. Saya merasa tidak enak."
"Aku benar-benar sudah melupakan itu." Ayu mengangguk seraya tersenyum." Oh ya. Ini seragam mu." Imbuh Sam seraya menyerahkan sebuah kaos berwarna merah dengan logo tulisan Cafe Delima.
"Eh iya seragam." Ayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal." Itu Mas. Saya minta maaf lagi karena saya tidak bisa memakai seragam ini langsung." Sam malah tersenyum. Dia menyukai kepolosan yang di perlihatkan Ayu.
"Kenapa begitu?"
"Celana jeans nya kekecilan semua Mas." Sahut Mita terkekeh kecil begitupun Sam yang ikut tersenyum.
"Nanti saya akan membeli beberapa jeans sepulang kerja."
"Ya sudah tidak masalah. Asal gaunmu sopan. Sebab owner-nya begitu menjaga kesopanan terutama pegawai wanita."
"Oh iya Mas. Terimakasih."
"Hm sama-sama. Kamu letakkan tas dulu lalu temui aku. Nanti akan ku jelaskan perkerjaan yang harus kamu lakukan."
"Baik Mas siap."
"Mari Mas Sam." Mita menarik lengan Ayu dan mengiringinya ke belakang tepatnya di ruangan karyawan." Mas Sam itu paling ganteng di sini. Aku dengar sejak dia berkerja di sini, Cafe ini semakin ramai." Ujar Mita menjelaskan.
"Kelihatannya memang berwibawa Mit."
"Bukan hanya berwibawa tapi dia itu selalu adil dalam bersikap. Tidak seperti Mas Farel yang kerjanya cuma ngomel saja. Sayangnya.."
"Sayang kenapa?"
"Kabarnya, Mas Sam itu punya banyak hutang dan menjadi tulang punggung keluarga. Mungkin itu yang membuat dia tidak menikah sampai sekarang."
"Itu bukan masalahnya. Mas Sam belum bertemu seseorang yang tepat. Kalau masalah hutang dan yang lain, itu bunganya orang hidup. Asal kita bersama orang yang tepat. Tidak perduli hidupmu sesulit apa, pasti akan ringan nantinya." Mita melirik malas sebab apa yang di katakan Ayu tidaklah sesuai bayangan.
"Itu sih cuma mitos. Sekarang terbukti kamu. Apa yang kamu dapatkan dari Dika? Dia tidak melihat kebaikanmu yang sudah menemaninya dari nol. Sekarang coba katakan Ay. Apa kamu berfikir kalau Dika bukan orang yang tepat?" Ayu menoleh sejenak kemudian kembali menatap ke arah depan.
__ADS_1
"Aku sedang mencari jawaban. Jika Tuhan membuktikan dia bukan orang yang tepat. Aku yang akan menggugat cerai." Aku masih yakin jika Mas Dika hanya khilaf sesaat.
🌹🌹🌹🌹