
Ayu memejamkan mata sesekali mendesis saat merasakan hawa panas pada tubuhnya. Sungguh sial baginya sebab hari ini Mita tidak berkerja karena suatu hal.
"Ada apa Ay?" Tanya Farel tersenyum, menatap wajah Ayu yang terlihat memerah.
"Tidak ada apa-apa Mas." Jawabnya sesekali mengusap tengkuknya. Bibirnya di rapatkan untuk menahan desisan.
"Kamu pulang bersama siapa Ay?"
"Saya akan menghubungi Suami saya." Setelah membereskan gelas. Ayu bergegas berjalan menuju belakang untuk mengambil tasnya tanpa perduli dengan perkerjaan dapur yang belum selesai.
Karena tubuh yang tidak terkontrol, membuatnya beberapa kali menabrak sisa pegawai lain yang juga berniat untuk pulang.
Aku harus menghubungi Mas Dika. Kenapa aku ingin melakukan itu!! Apa yang terjadi padaku?
Bruuuuuuukkkkk
Tubuh Ayu terkulai di lantai ketika tidak sengaja dia menabrak Sam. Segera saja Sam duduk berjongkok untuk menolong Ayu sambil mengulurkan tangannya.
"Maaf." Ucap Sam tertahan. Warna merah pada wajah Ayu sangat di kenali mengingat perburuan cinta yang sudah sejak lama terjadi.
Obat perangsang?
"Tidak apa Mas. Saya yang salah." Cepat-cepat Ayu berdiri lalu masuk ke ruangan karyawan untuk mengambil tas.
Dengan sengaja Sam mengikuti dan berdiri di ambang pintu ruang karyawan.
"Ayo cepat angkat Mas." Eluh Ayu mengusap-usap seluruh tubuhnya dengan tangan kirinya.
📞📞📞
"Ya ada apa?
"Mas tolong jemput aku. Sssssssssssssssttttt.. Panas sekali.
"Tidak bisa. Bukankah aku sudah bilang ada rapat malam ini. Aku sudah mengirimkan pesan padamu.
"Tolong Mas. Rasanya panas sekali. Mungkin karena aku terlalu lama tidak kau sentuh.
Kewarasan Ayu terbabat habis akibat obat perangsang yang mulai menjalar. Dia yang tidak tahu menahu soal itu, mengira jika apa yang di rasakan karena Dika sudah lama tidak menyentuhnya.
"Kau bilang apa.
"Jemput aku. Beri aku sebuah sentuhan malam ini, tolong!
"Kau sedang bicara apa sih? Apa kau sekarang benar-benar gila! Aku sibuk! Besok kita bicarakan masalah tadi pagi di rumah.
Tut.. Tut.. Tut..
📞📞📞
"Ah Tuhan!!!" Eluh Ayu mencengkram erat ponselnya seraya mengigit bibir bawahnya.
Sam yang masih mengintai, cepat-cepat bersembunyi ketika mendengar derap langkah kaki seseorang.
Siapa yang memberi Ayu obat perangsang itu?
Farel keluar dari lorong dan langsung masuk ke dalam ruangan karyawan untuk menemui Ayu. Dia mengira jika Cafe sudah benar-benar sepi sehingga Farel mulai melancarkan rencana bejatnya.
"Kau sedang tidak sehat. Biar ku antarkan pulang." Tawar Farel melirik ke bagian dada Ayu. Dia sangat menyukai bentuk tubuh Ayu yang padat berisi.
__ADS_1
"Tidak Mas terimakasih." Sebisa mungkin Ayu menolak keinginan untuk menuntaskan hasrat yang membara. Dia berjalan tertatih melewati Farel yang kembali menghadang langkahnya.
Jangan di cegah! Aku sudah tidak tahan! Aku kenapa?
Ayu berdiri terpaku. Tangannya terus saja mengusap seluruh tubuh. Dia berusaha menghilangkan hawa panas yang tidak kunjung meredah.
"Aku tahu kamu kesepian Ayu. Biar ku bantu menuntaskannya."
Tentu saja kewarasan Ayu terkoyak ketika dengan sengaja Farel membuka sedikit kemeja dan memperlihatkan apa yang ada di dalam.
Apa aku semurah ini? Tapi aku ingin itu..
Perlahan tangan Ayu terangkat dan hendak menyentuh dada bidang Farel. Tapi sebuah tangan menghantam tubuh Farel hingga terpelanting membentur loker pegawai.
Braaaakkkkk
"Keji sekali kau Farel!!!" Teriak Sam geram." Kau yang sudah membuatnya seperti ini!!" Ayu hilang kesadaran ketika punggungnya tersentuh dada bidang Samuel.
Telinganya mendadak tuli seakan naffsunya sudah benar-benar mengelabuhi otak dan tubuhnya.
"Panas sekali. Ini benar-benar tidak nyaman. Tolong aku." Ucap Ayu di sela deru nafas yang memburu.
Kedua tangannya menggalung erat pada pundak Sam dengan bibir setengah terbuka. Dia mulai mengecup dan mencumbui leher di hadapannya tanpa perduli dengan pemiliknya.
"Ini tidak benar!!!" Gumam Ayu mendorong tubuh Samuel dengan sempoyongan. Dia berusaha mengembalikan kesadarannya agar tidak melakukan perbuatan yang tidak seharusnya.
"Kau akan ku tuntut atas ini!!!" Menunjuk ke arah Farel lalu merangkul kedua pundak Ayu dan mengiringinya keluar.
"Jangan sentuh Aku Mas, ini tidak boleh." Protes Ayu sesekali mendesis, memejamkan mata dan mengigit bibir bawahnya. Tubuhnya semakin tidak terkendali hingga dia mengigit lengan Samuel dan berusaha meredam hasratnya.
"Sialan kau Samuel!!!" Farel bangun dengan tubuh sempoyongan namun kembali ambruk. Pukulan itu cukup membuat kepalanya pusing dan berkunang-kunang sehingga Farel memutuskan untuk berbaring.
Terpaksa, Samuel membawa Ayu ke kontrakan miliknya. Dia tidak ingin melihat Ayu menjadi tontonan sebab beberapa kali Ayu berusaha membuka kancing kaos seragam yang di kenakan.
"Panas sekali.. Sentuh aku Mas." Ayu memukul-mukul lengan Samuel lalu menggigitnya sesekali.
Apa Tuhan sedang membukakan jalan yang sesat? Ah apa ini? Mana mungkin Tuhan menunjukkan jalan yang sesat.
Samuel tidak bergeming, dia masih menimbang keinginan untuk membantu Ayu menuntaskan hasratnya. Tapi karena Samuel bukanlah lelaki brengsek, dia berusaha mencari jalan keluar.
"Akan ku hubungi Suami mu." Ujarnya mengambil ponsel sementara Ayu menggeliat seperti cacing kepanasan.
Sebagai lelaki normal yang sudah lama tidak melakukan sentuhan fisik. Tentu pemandangan di hadapannya membuat otak Samuel berubah sangat keruh. Apalagi dia memang memiliki ketertarikan pada Ayu.
"Iya Mas cepat.. Akhu sudah tidak tahan."
Aku juga tidak tahan jika kau terus seperti itu..
"Ini kontaknya."
"Ya Mas itu."
Ayu memeluk erat kedua kakinya lalu kembali menempelkan tubuhnya pada Samuel yang berusaha menghubungi Dika.
"Tidak aktif. Ada nomer lain."
"Mungkin dia sudah pulang Mas. Coba hubungi nomer rumah."
"Apa nama kontraknya?"
__ADS_1
"Ah Mas Sam kenapa aku ingin itu sekarang." Samuel tersenyum simpul menatap wajah Ayu yang berubah merah padam.
"Sebutkan nama kontraknya."
"Home Mas. Rumah! Begitu saja tidak tahu."
"Aku memang tidak tahu." Samuel menghubungi kontak yang sesuai namun sialnya, ponsel Ayu tiba-tiba mati.
Ya Tuhan. Apa kau ingin aku menuntaskan ini! Kenapa ponselnya malah mati.
"Biar ku hubungi mengunakan ponselku. Berapa nomernya."
"Serius!?" Teriak Ayu geram. Darahnya berdesir hebat dan menginginkan sentuhan agar rasa itu bisa hilang.
"Serius apa?"
"Otakku tidak bisa berfikir dan mengingat itu! Apa Mas Samuel serius bertanya nomer rumah padaku!!!"
"Lalu bagaimana?" Ayu menggeser tubuhnya lalu melingkarkan kedua tangannya pada leher Samuel dan mulai memberikan gigitan-gigitan lembut.
"Mas.. Aku tidak tahan. Aku merasa gila dan aku tidak mengerti kenapa. Apa karena dia sudah tidak menyentuh ku sejak lama?" Ayu masih tidak menyadari jika tubuhnya sudah di pengaruhi obat perangsang." Berjanji padaku." Pintanya seraya menempelkan bibirnya pada rahang bawah Samuel.
"Berjanji apa?"
"Ini rahasia Mas. Jangan bercerita apapun dan pada siapapun. Tolong bantu aku. Ini menyiksa. Panas dan gatal. Aku tidak mengerti kenapa aku menjadi tidak waras."
"Kamu tahu ini berdosa."
"Hanya sekali! Tolong!"
Samuel tersenyum simpul karena mendengar sebuah penawaran dosa termanis yang sedang Ayu pinta. Segera, dia menekan tengkuk Ayu lalu mellumat bibirnya. Bibir bekas seorang lelaki yang kini sudah tidak menginginkannya.
Hasrat kian menjalar ketika Ayu membalas lummatan itu dengan begitu panas sehingga membuat Samuel melupakan jika wanita di hadapannya masih berstatus Istri seseorang.
Dalam sekejap, tubuh Ayu sudah berubah polos sementara Samuel berusaha untuk tidak membuka celana jeans yang tersisa meski benda panjang miliknya terasa sesak.
"Ayo Mas cepat." Ayu menuntun tangan kekar Samuel untuk menyentuh area sensitif yang sudah sangat basah.
"Aku akan membantumu tapi tidak untuk memasuki ini. Aku tidak ingin benih itu menjadi masalah."
"Terserah Mas. Bantu aku menghentikan ini."
Samuel memasukkan jari panjangnya lalu menggerakkan nya keluar masuk dengan bibir yang terus bermain bebas mencumbui tubuh Ayu.
Ini hal gila pertama yang pernah dia lakukan. Sudah sejak lama Samuel kehilangan selera bercinta akibat penghianatan mantan Istrinya.
Tahun-tahun berat di lalui agar dia bisa merubah perasaan cinta menjadi benci. Saat perasaan itu benar-benar hilang, dia mulai mencari cinta sejati dengan cara sederhana.
Samuel yang sejatinya seorang Tuan muda dan satu-satunya pewaris kekayaan kedua orangtuanya. Rela hidup sederhana dan berkelana dari tempat satu ke tempat lain hanya untuk mencari ketulusan. Hingga sampai Cafe Delima di temukan dan dia di terima menjadi barista di sana.
Apa yang salah dari tubuhnya. Dia cantik sekali apalagi ketika berkeringat seperti sekarang..
Postur tubuh tinggi dan tegap yang Samuel miliki membuatnya beranggapan jika tubuh yang di miliki Ayu begitu ideal bahkan sangat sempurna.
Berbeda dengan Dika yang hanya memiliki tinggi 168 sentimeter. Tentu bentuk tubuh Ayu yang sedikit berisi memberatkannya. Apalagi Ayu bukan tergolong wanita yang pendek.
Satu jam berlalu, Samuel menarik nafas panjang seraya menyelimuti tubuh Ayu yang tergolek lemah di ranjang kecilnya.
Samuel memilih duduk di bawah, tepatnya di atas lantai seraya sesekali melirik ke arah Ayu yang terlihat kelelahan.
__ADS_1
"Tidak adil sekali." Eluh Samuel menyadarkan kepalanya pada sisi ranjang. Tangan kanannya meremas benda panjang yang ada di balik celana. Dia meronta-ronta ingin memasuki lawan mainnya tapi Samuel mencoba menghalaunya." Ah Babe, kau harus membayar ini dengan menikah denganku." Imbuhnya terkekeh kecil seraya mengacak-acak rambutnya sendiri." Sebaiknya aku mandi dan membersihkan diri. Akan ku jadikan kejadian malam ini sebagai senjataku untuk mengikat mu." Samuel menddesah kemudian beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
🌹🌹🌹