
Ayu terlihat berada di dalam mobil, menatap ke Samuel yang tengah bernegosiasi dengan penjual es durian.
Si penjual merasa keberatan pada permintaan Samuel yang ingin membeli beberapa buah duriannya sebab mereka juga kesulitan mendapatkannya. Sementara Ayu, menginginkan lima buah durian dan tidak bisa di tawar lagi.
"Kalau satu butir saya berikan Mas. Kalau lima, besok saya tidak bisa jualan." Jawabnya menjelaskan.
"Istri saya tidak mau satu buah."
"Biasanya satu buah cukup Mas."
"Nyatanya dia tidak mau. Memangnya berapa omset jualannya." Terpaksa Samuel mengeluarkan jurus ampuhnya agar keinginan Ayu bisa terpenuhi.
"Lumayan Mas, satu juta sehari. Itu laba bersihnya. Kalau laba kotornya sekitar tiga juta." Samuel menghela nafas panjang. Nominal itu sangat kecil menurutnya.
"Empat juta satu buah." Sontak si pedagang melongok lalu terkekeh kecil.
"Mas bercanda."
"Punya rekening. Akan ku transfer 20 juta untuk lima butir." Jawab Samuel memasang wajah serius.
"Yakin Mas. Ini durian loh bukan emas yang bisa di simpan lalu di jual lagi." Tanya si pedagang menyakinkan.
"Aku tidak ingin banyak bicara. Istriku sedang menunggu di mobil. Berapa rekeningnya." Dengan tersenyum aneh, si penjual menyebutkan nomer rekeningnya. Tidak perlu menunggu waktu lama, sebuah pesan bukti transaksi terlihat di layar. Samuel menunjukan bukti bersamaan dengan di terimanya pemberitahuan pada ponsel si penjual." Sudah kan." Imbuhnya kembali memasukkan ponsel.
"Iya Mas. Duuuh besok anaknya pasti tampan dan cantik hehe."
"Kenapa begitu?"
"Makan durian seharga empat juta." Samuel tersenyum simpul lalu mengacungkan jempolnya ke arah Ayu.
"Pilihkan yang manis."
"Ini durian pilihan Mas. Biar saya bantu membawanya."
"Tidak perlu. Terimakasih bantuannya." Ucap Samuel seraya membawa lima buah durian yang sudah di berikan tali.
"Beruntungnya si wanita. Punya Suami tidak itung-itungan hehe." Gumam si penjual menatap kepergian Samuel.
Setelah memasukkan durian, Samuel masuk ke dalam dan melajukan mobilnya.
"Mau beli apalagi?" Tanya Samuel menawarkan. Dia tidak pernah menceritakan berapa harga yang harus di keluarkan untuk menuruti permintaan Ayu setiap harinya.
"Sebenarnya aku ingin makan di luar Bee."
"Kenapa harus ada kata sebenarnya?"
"Wanita hamil itu jelek. Aku takut mempermalukan mu."
"Aku ingat kamu pernah berbicara soal kodrat wanita."
__ADS_1
"Iya tapi perkataan Mas Dika sepertinya benar." Jawabnya lemah.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Samuel tegas. Dia tidak ingin di samakan dengan sosok Dika.
"Di bungkus saja Bee."
"Itu bukan jawaban yang ku mau." Samuel memarkirkan mobilnya di bahu jalan." Katakan Babe. Aku tidak keberatan menuruti permintaan mu tapi jangan samakan aku dengannya." Imbuhnya berusaha berkata selembut-lembutnya meskipun hatinya sedikit kesal.
"Aku tidak sedang menyamakan. Aku hanya bicara fakta."
"Cintaku tidak serendah itu. Please Babe, jangan mengoyak emosi ku. Katakan, kamu ingin makan apa?" Sungguh luar biasa, sebab Samuel masih saja berusaha berkata lembut. Dia tahu kalau saat ini hati Ayu sangatlah sensitif. Kata-kata kasar sedikit saja bisa melukai perasaannya.
"Bakso Bee."
"Hm kita beli." Samuel melajukan mobilnya menuju depot bakso langganannya." Tapi tidak boleh terlalu pedas ya." Ayu mengangguk seraya tersenyum. Membayangkan bagaimana sedapnya makan bakso di tempatnya langsung.
Setibanya di lokasi, Samuel turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu mobil untuk Ayu. Dia meraih jemari Ayu erat, seakan tidak ingin membuat Ayu merasa tersingkir dan membenarkan ucapannya tadi.
Memang benar jika tubuh Ayu jauh berubah karena pola makannya yang tidak terkontrol. Namun sejak awal, Samuel memang tidak melihat dan menyukai Ayu dari segi fisik. Dia menyukai kesetiaan Ayu dan pola fikirnya.
Tentu saja keduanya menjadi sorotan sekitar. Ketidakseimbangan yang terlihat mulai jadi pembicaraan di dalam hati beberapa orang.
Para remaja menganggap jika Ayu tidak pantas bersanding dengan Samuel. Tapi para Ibu-ibu yang sudah merasakan kehamilan, berdecak kagum dengan cara Samuel menjaga pasangannya.
Satu mangkuk bakso yang sudah terpotong-potong di geser ke samping tepatnya di hadapan Ayu. Lalu Samuel melanjutkan membersihkan sendok dan garpu yang akan di pakai.
"Malu Bee. Ramai sekali." Samuel menghembuskan nafas lembut ketika melihat Ayu tidak juga mengambil sendok. Langsung saja dia menggeser mangkuknya kembali. Samuel yakin jika Ayu sedang memberikannya kode rahasia.
"Tidak perlu malu." Ayu tersenyum begitupun Samuel. Tebakannya sangatlah benar, karena Ayu langsung membuka mulutnya lebar ketika Samuel menyuapinya.
"Aku terpaksa mau kamu suapi Bee." Jawabnya tidak mengakui.
"Aku memang memaksa mu." Sudah satu bulan Ayu ingin di layani penuh. Memang untuk urusan memasak Bik Ijah yang menghandle tapi setiap kali tiba waktu makan, Ayu enggan menggerakkan tangannya.
Dunia seakan milik berdua. Cara Samuel menjaga perasaan membuat Ayu merasa sangat nyaman seakan dirinya makan di rumah. Dia tidak lagi merasa khawatir dan memikirkan pendapat juga tatapan sekitar.
"Boleh tambah sambalnya Bee?"
"Kalau nambah baksonya boleh."
"Lebih pedas lebih enak Bee."
"Kalau permintaannya untuk menyakiti salah satu dari kalian, aku tidak bisa mengabulkannya." Jawabnya tegas.
"Ya sudah aku minta bakso jatah mu Bee." Samuel mengurungkan niatnya melahap bakso di hadapannya. Dia kembali menyuapi Ayu sesuai permintaan.
"Apa perlu membungkus lagi?"
"Tidak Bee. Aku mau kerupuk kulitnya."
__ADS_1
"Hm iya. Nanti kita beli untuk di bawa pulang. Kamu tunggu di sini, biar ku bayar."
"Aku ikut saja, sekalian pulang." Ayu mulai kesulitan untuk berdiri sehingga tidak lupa Samuel mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan.
"Bagaimana? Apa dia tidak bergerak?" Tanyanya berusaha mengalihkan perhatian Ayu akan tatapan sekitar.
"Bergerak Bee. Dia semakin aktif." Jawab Ayu seraya mengusap perut besarnya.
"Sebentar ya. Em berapa Bu." Setelah membayar keduanya berjalan keluar ke arah mobil.
Padahal Samuel sudah membawa bungkusan kerupuk tapi Ayu masih saja berbelok arah ke seorang pedagang yang mangkal di sekitar area parkiran. Ayu membeli beberapa kerupuk berbahan dasar singkong tersebut bahkan memakannya langsung.
Setelah meletakkan bawaannya di jog belakang, Samuel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kamu pasti tidak pernah memakan ini Bee." Gumam Ayu lirih.
"Bukankah itu juga kerupuk."
"Hm terbuat dari singkong." Ayu menyodorkan kerupuk ke bibir Samuel." Cobalah." Segera saja kerupuk tersebut di lahap.
"Iya rasanya lain, emm.. Manis pedas dan gurih."
"Enak kan?"
"Sisakan untukku nanti." Jawab Samuel menggoda.
"Tidak mau. Ini untukku."
"Ada kerupuk kulit kan. Apa kamu akan menghabiskan semuanya."
"Iya Bee. Aku sering lapar."
Sampai sejauh ini dia selalu meminta makanan. Seharusnya dia bisa memanfaatkan uangku untuk membeli barang-barang bagus. Tapi Istri ku sangatlah lain.
"Satu saja ya." Tiba-tiba saja Ayu meletakkan satu bungkus kerupuk ke paha Samuel.
"Tidak Babe. Aku hanya bercanda."
"Terus kenapa diam? Aku fikir kamu marah Bee."
"Apa pernah aku marah? Kita langsung pulang kan?"
"Iya. Tapi kalau ada penjual es boba tolong belikan." Samuel mengangguk seraya tersenyum.
"Lalu apalagi?"
Lagi lagi Ayu melontarkan kata sudah tapi pesanan makanannya terus bertambah. Meski begitu Samuel mulai terbiasa. Dia tidak lagi memikirkan kepentingannya dan mendahulukan banyaknya keinginan Ayu. Seperti cinta yang di suguhkan pada mantan Istrinya, cinta Samuel mulai mengakar kuat tanpa perduli dengan keburukan yang ada pada pasangannya.
🌹🌹🌹
__ADS_1