Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Kemarahan Riska palsu


__ADS_3

Tania bergegas meraih ponselnya ketika terdengar suara pesan baru masuk. Sejak kemarin dia menantikan pesan balasan dari akun yang memposting tentang hilangnya Kean.


Setelah mengetahui seluk beluk bagaimana liciknya Riska. Tania lebih memilih jalur aman agar nantinya Abyan tidak terdampak akibat dari perbuatannya. Apalagi Dika terus menerus berprotes dan mengingatkan sehingga Tania kembali menimbang kegilaannya.


"Ugh bukan." Eluh Tania menghela nafas panjang. Pesan tersebut berasal dari salah satu customer nya.


"Siapa?" Tanya Dika ingin tahu.


"Ku fikir akun yang memposting penculikan Kean." Terdengar Dika menghela nafas panjang sambil memperhatikan Abyan yang sibuk bermain bersama Bu Erna.


"Di tunggu saja. Pelan-pelan, jangan gegabah. Fikirkan soal Abyan yang masih membutuhkan mu. Kalau sampai nanti kamu terlibat kriminal bagaimana?" Tania tertawa kecil. Sejauh ini dia selalu pintar terjerat dari hukum meski beberapa kali dia melakukan penganiayaan pada beberapa orang.


"Tidak akan terjadi Dika."


"Jangan lagi berkata itu."


"Aku berkata demikian bukan karena ingin melakukannya. Aku hanya ingin kamu tahu jika otakku lebih cepat berkerja daripada pihak berwajib." Jawab Tania mengetuk-ngetuk kepalanya dengan telunjuk.


"Katamu ingin hidup tenang bersama ku?" Sungguh Dika sudah sangat bersyukur memiliki Tania yang sanggup menerima kondisi wajahnya sekarang.


"Sudah kita dapatkan sayang. Tenanglah." Tania tersenyum simpul seraya menyandarkan kepalanya pada pundak Dika. Dia masih saja berharap akun itu menghubunginya untuk mendapatkan kejelasan.


🌹🌹🌹


Setelah mendapatkan pemberitahuan dari Dimas melalui telepon. Segera saja Riska keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya. Dia tidak bisa menerima jika Kean harus tinggal terpisah dengannya.


Perjuangan untuk bisa menculik Kean membutuhkan waktu dan banyak persiapan. Sementara keinginan dan tujuannya belum terwujud sehingga Riska tidak ingin berada jauh dengan Keano.


Riska memacu mobilnya cepat di tengah hiruk pikuk kota menjelang petang. Dia berniat menjemput paksa Keano bagaimanapun caranya.


Setibanya di kediaman Samuel. Setelah memarkir mobil, Riska bergegas berjalan menuju pintu utama yang tertutup.


Kenapa tidak bisa?


Eluhnya sambil menurunkan gagang pintu beberapa kali. Gerakannya terhenti ketika dia menyadari layar sensor pada pintu terlihat menyala.


Tidak mungkin! Apa maksud mereka melakukan ini!!


Dengan kasar, Riska menombol bel pintu tanpa henti. Wajahnya terlihat memerah dan mengkilap akibat efek samping dari operasi plastik.


"Buka pintunya!!!" Teriak Riska geram.


Sementara di dalam. Ayu sengaja menggiring Kean dan Daniel ke dalam ruangan bermain. Di sana ada Bik Ratih dan Bik Ijah yang mengawasi keduanya sementara dirinya ikut berjalan keluar bersama Samuel.


Ingin rasanya Ayu ikhlas ketika Samuel berniat keluar sendirian menemui Riska. Tapi dia terlalu cemburu dan akan menghadapi Riska bersama-sama. Mereka sengaja melewati pintu samping agar Riska tidak menerobos masuk.

__ADS_1


"Di mana Keano!" Teriak Riska kesetanan. Matanya terlihat hampir keluar dengan wajah memerah.


"Bukankah Dimas sudah memberitahu kalau Kean akan tinggal di sini selama satu pekan." Jawab Ayu santai.


"Tidak. Jika dia tinggal di sini! Aku juga tidak mau pergi!" Ancam Riska.


"Bukankah dia anaknya Mas Sam? Kenapa Kak Riska setakut itu?" Sontak wajah Riska berubah gelisah. Dia tentu takut kejahatan terbongkar dan usahanya harus berakhir sia-sia.


"Aku tidak bisa berpisah lama darinya." Jawabnya dengan nada rendah berusaha menahan amarah.


"Hanya satu Minggu Kak."


"Tidak! Bawa keluar Keano! Kenapa kalian memasang sensor pintu seperti ini! Apa kalian ingin memisahkan ku dengan Keano!"


"Saya mohon jangan samakan fikiran buruk Kak Riska. Em Mas Sam hanya ingin lebih dekat dengan Kean. Jadi dia ingin Kean tinggal di sini." Jawab Ayu kembali beralasan.


"Itu berarti aku juga harus tinggal!"


"Tidak. Kak Riska silahkan pergi atau akan saya suruh orang menyeret paksa." Jawab Ayu balik mengancam.


"Dia anakku!!"


"Anak Mas Sam juga." Samuel hanya menghela nafas panjang sebab sebelumnya Ayu sudah meminta izin untuk mengunakan dugaan Riska sebagai ancaman.


"Silahkan Kak. Saya sudah konfirmasi dengan Kean. Dia setuju untuk tinggal di sini. Kalau tuduhan tidak terbukti, itu berarti saya yang akan menuntut balik atas tuduhan pencemaran nama baik." Samuel kembali menghela nafas panjang tapi kali ini dengan sebuah senyuman simpul. Ayu sudah cukup berpengalaman untuk melawan orang yang berbelit walaupun terkadang rasa belas kasihan membutakan itu semua.


"Sialan kau Ayu!!" Umpat Riska lantang.


"Kau yang sialan!!" Sahut Samuel cepat. Telinganya terasa panas mendengar cacian tersebut.


"Dia mencoba merebut Kean!"


"Kau bicara omong kosong lagi. Bukankah kau sendiri yang berkata jika dia adalah anakku? Untuk apa kau takut." Walaupun bibir Samuel terasa canggung namun terpaksa dia melontarkan pembelaan tersebut.


"Kekuasaan bisa saja membuat wanita ini mengambil Kean dari tanganku." Menunjuk ke Ayu.


"Kau tidak mengenalku dengan baik Riska. Sejak awal aku memang melihat orang lain di sini." Sontak manik Riska membulat ketika mendengar kecurigaan Samuel.


"Kamu bicara apa Sam?" Riska berusaha menyangkal.


"Sangat tidak mungkin aku tega memisahkan Ibu dan anak dengan memanfaaatkan kekuasaan. Aku bukan orang seperti itu. Kau tahu?"


"I iya aku tahu." Jawab Riska terbata." Ucapan itu untuknya." Menunjuk Ayu lagi.


"Saya tidak mungkin melakukan itu Kak."

__ADS_1


"Mana ku tahu?"


"Saya tidak ingin banyak bicara. Sebaiknya Kak Riska pergi." Meski ingin pergi nyatanya Riska masih tidak beranjak. Dia masih menginginkan Keano ikut bersamanya.


Hanya satu Minggu. Daripada mereka curiga.


Kegelisahan yang di perlihatkan Riska semakin menguatkan tuduhan Samuel jika wanita di hadapannya bukanlah mantan Istrinya. Setelah beberapa tahun bersama, tentu saja dia sangat mengenal bagaimana tingkah laku dan sikap Riska.


Biar ku pancing sedikit..


"Kenapa kau gelisah sekali? Apa kau pernah kehilangan Keano dulu?" Tanya Samuel bertujuan memancing pendapat Riska.


"Tidak. Aku sangat menyayanginya dan tidak ingin kehilangannya walaupun.. Em aku memang kasar ketika berbicara dengannya."


Ayu menghela nafas panjang begitupun Samuel. Mereka menganggap jika keputusan menjauhkan Keano dari Riska adalah jalan yang benar untuk di ambil.


"Itu wajar terjadi jika mungkin Keano bukan anak Kak Riska. Aku pribadi tidak pernah tega memperlakukan anak kecil dengan kasar meski dia bukan anakku." Wajah Riska kian gelisah meski mencoba di sembunyikan.


"Kau menuduhku?"


"Tidak Kak. Itu pemikiran ku."


"Kau tidak bisa menyamakan pemikiran seseorang."


"Ibu tetaplah Ibu. Dia tidak mungkin tega menyakiti buah hatinya meski dalam keadaan kesulitan."


"Kita berbeda hei Ayu!!"


"Kenapa Kak Riska sangat marah. Kalau memang Kak Riska Ibu kandung dari Keano, seharusnya tidak menggubris ucapan ku." Riska menelan salivanya kasar. Dia tertunduk dengan wajah kebingungan. Memikirkan cara untuk pergi tanpa harus meninggalkan kecurigaan.


"Awas saja jika terjadi sesuatu dengan Keano!" Ujarnya menatap tajam Ayu dan Samuel lalu melangkah pergi menuju mobilnya.


"Mungkin dia kembarannya Bee." Ayu semakin yakin jika Riska bukanlah Ibu kandung Keano.


"Sudah ku katakan kalau wanita itu anak tunggal."


"Kamu dengar sendiri jika dia tidak tahu menahu soal postingan yang di bicarakan Tania."


"Aku juga tidak mengerti siapa wanita itu. Yang pasti Keano sudah berada di tangan kita sampai semuanya jelas."


"Syukurlah. Jika kita tidak cepat mengambil Keano, dia bisa dalam bahaya."


Samuel hanya mengangguk sambil menatap kepergian Riska. Dia hanya bisa berharap semoga Dimas cepat menemukan kejelasan agar masalah yang seharusnya bukan tanggung jawabnya bisa cepat terselesaikan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2