Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Sweet dinner


__ADS_3

Semangat Dika semakin bergelora saat Pak Wira mengatakan kalau untuk satu bulan kedelapan, Vivian akan bergabung dengan perusahaan sampai proyek baru di daerah B selesai.


Insting play boy Dika sontak meronta. Dia sudah menyiapkan beberapa hal untuk menarik perhatian Vivian.


Seakan puber kedua tengah menghiasi hatinya. Dika selalu menuruti hasrat terlarang yang seharusnya sudah tidak layak ada pada seorang lelaki beristri.


Mungkin karena masa mudanya tidak menarik. Sehingga saat semua keinginan bisa di raih, Dika menjadi lupa diri akan statusnya.


Pantas saja. Sebab memang dulunya Dika menghabiskan waktunya untuk berkerja agar jabatan baik bisa dia sandang. Ayu satu-satunya wanita yang menjadi pacarnya sampai berakhir di pelaminan.


Dika tidak pernah mengenal sosok lain dan sekarang dia di tuntut untuk berinteraksi dengan banyaknya wanita berpenampilan menarik nan seksi.


Otaknya menjadi keruh, tidak sanggup berfikir bahkan berdebar-debar saat berhadapan dengan wanita seakan dirinya sedang jatuh cinta.


"Daripada memesan taksi, lebih baik Nona saya antar pulang." Ujar Dika menawarkan setelah dia memastikan mobil Pak Wira pergi.


"Oh Pak Dika."


"Panggil saja Mas Dika, ini sudah di luar jam kerja." Satpam perusahaan menddesah lembut saat mendengar bualan Dika. Dia merasa bosan melihat Dika bergonta-ganti pasangan di balik status pernikahannya.


"Ya Mas. Saya naik taksi saja. Apartemen saya cukup jauh dari sini." Tolak Vivian tidak sungguh-sungguh. Tidak dapat di pungkiri jika dia tertarik dengan Dika sejak awal berkenalan.


Meskipun tinggi tubuh Dika tidak seberapa, namun tubuh berototnya cukup membuat otak Vivian berfantasi liar.


"Tidak apa. Saya antarkan saja."


Tiba-tiba saja Farel muncul kemudian menarik kasar pergelangan tangan Vivian sampai hampir terjungkal. Sontak Dika membulatkan matanya lalu hendak mencegah perbuatan Farel.


"Lepas Farel! Kau mau apa! Kita sudah tidak ada hubungan apapun." Sejak Farel di keluarkan dari Cafe. Sampai sekarang dia belum juga mendapatkan perkerjaan baru sehingga membuat Vivian memutuskan hubungan dengannya.


"Aku sudah berkorban banyak Vivian. Kau jangan seperti ini. Kita harus bicara baik-baik."


"Lepaskan dia!!" Teriak Dika. Satpam perusahaan yang bertubuh tinggi langsung berjalan menghampiri.


"Kau siapa hah! Dia itu pacarku!!" Menunjuk ke Vivian.


"Tidak Mas Dika. Saya sudah putus dengannya." Jawab Vivian cepat.


Farel yang memiliki tubuh lebih tinggi cukup membuat nyali Dika menciut. Namun setelah kehadiran si satpam, Dika berubah menjadi lelaki sok gentle padahal dia sangat ketakutan kalau-kalau Farel menyerangnya.


"Lepaskan Pak. Ini masih ada di area perusahaan." Pinta si satpam seraya memberikan isyarat pada temannya untuk menyergap tubuh Farel dari belakang.


Greeepppp...


Farel meronta-ronta saat tubuhnya berhasil di lumpuhkan. Segera saja Vivian berjalan ke arah Dika untuk meminta perlindungan.


"Kau tidak akan bisa hidup tenang Vivian!! Aku mencintaimu!! Tidak ada seorangpun yang boleh memiliki mu kecuali aku!!" Teriak Farel seraya di seret paksa untuk keluar.


"Sebaiknya Bu Vivian pulang di antarkan Pak Dika saja." Bagaimana lagi? Sebenarnya aku tidak mendukung perselingkuhan. Tapi aku tidak mau di salahkan atas kerusuhan yang terjadi di sini.


"Dia pasti menunggu di luar."


"Ya Mas."


"Terimakasih Pak. Saya pulang dulu." Dika menepuk pundak si satpam lalu berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir.


"Ampun Gusti. Kemarin selingkuh sama Bu Tania, sekarang ada yang baru langsung saja di sambar. Padahal setahu saya, Istri Pak Dika itu cantik. Ah siapa ya namanya." Satpam menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengingat-ingat sosok Ayu yang sempat di temui beberapa tahun lalu.


🌹🌹🌹


Samuel mengajak Ayu makan malam di restoran yang terletak di dalam sebuah plaza. Selain ingin makan, dia juga berniat mengajak Ayu berjalan-jalan. Samuel berharap Ayu bisa melupakan masa lalunya agar hatinya bisa terbebas lepas.


Ayu berpenampilan sesuai keinginannya. Dia hanya memakai celana panjang dan jaket sweater. Itu tidak cukup membantu meredam rasa cemburu Samuel akan tatapan sekitar. Ayu masih terlihat cantik dengan busana sederhana tersebut.


Seusai memesan, Samuel terkekeh ketika mendapati Ayu tidur lemah sambil bertumpu pada meja restoran.


__ADS_1


Sejak di perjalanan, Ayu mengeluh sedikit lelah namun Samuel selalu bisa membuatnya bersemangat untuk menikmati makan malam di luar. Segera saja Samuel duduk lalu meraih jemari Ayu seraya menghembuskan nafas berat.


"Katanya sudah bahagia bersama ku. Tapi kenapa kamu selemah ini Babe?"


"Mungkin terlalu bahagia Mas." Jawab Ayu asal.


"Tunjukkan padaku. Kamu tidak ingin menyakiti hati Suami mu kan." Ayu menegakkan kepalanya sambil memperlihatkan senyuman.



Samuel tersenyum simpul bahkan tersipu melihat senyuman indah di hadapannya. Tanpa melepaskan genggaman tangannya, Samuel berdiri seraya mengambil kursi miliknya dan berpindah tempat duduk di samping Ayu.


"Jangan bersandar di sana." Ujar Samuel menuntun tubuh Ayu untuk bersandar padanya.


"Mas lihat kan aku sangat lelah. Jadi nanti, aku langsung tidur ya." Samuel kembali tersenyum simpul seraya meremas lembut jemari kecil Ayu.


"Lakukan jika kamu bisa menolak."


"Mana bisa Mas."


"Itu berarti kamu masih mampu Babe. Nanti akan ku pijat kakimu sepulang dari sini."


"Bukan mampu. Tapi Mas Sam yang memulai." Jawab Ayu ketus.


Samuel terkekeh dengan ribuan kebahagiaan yang berlipat-lipat. Rasanya sangat lain memiliki seorang Istri dengan sikap apa adanya dengan seorang Istri yang selalu terlihat sempurna namun menyimpan kemunafikan.


"Memang aku yang mulai. Lalu kamu menikmatinya dan memintaku untuk memanjakan mu. Bagaimana mungkin kamu menyuruhku berhenti kalau memulai itu sangatlah mudah."


Ayu begitu bersemangat dengan melontarkan permintaan-permintaan gila saat area sensitifnya di sentuh. Awalnya Samuel menebak kalau itu terjadi karena Ayu sudah tidak pernah melakukan sentuhan bersama Dika. Tapi setelah beberapa kali percintaan terjadi, Samuel baru menyadari kalau Ayu mudah terbawa arus hasrat jika ada yang memulai.


"Ya Mas . Jawaban masih sama. Terserah saja."


"Kalau jawabannya sama. Tidak perlu berprotes lagi. Aku tidak pernah memaksa. Tolak aku jika kamu mampu."


"Tidak mungkin.."


Ucapan Ayu tertahan. Perutnya langsung meronta ketika sajian yang di pesan Samuel datang. Menu yang sangat Ayu sukai, kaya akan bumbu rempah yang menggoda selera.


"Tidak ada salad nya Mas."


"Tidak ada. Kamu membutuhkan karbohidrat dan protein yang banyak agar cepat hamil."


"Tapi tidak sebanyak ini. Apalagi ini sudah malam." Jawab Ayu beralasan. Aku sangat bisa menghabiskan makanan ini dalam waktu satu jam. Haha konyol! Kau akan berubah jadi ikan buntal.


"Tidak perlu di habiskan kalau begitu."


"Jangan membuang makanan Mas."


"Habiskan jika memang tidak ingin membuang makanan." Astaga cerewet sekali hehe.


"Mas juga harus makan banyak."


Ayu tersenyum ketika kenangan masa kecilnya terlintas. Dia selalu tidak rela kalau makanan kesukaannya di ambil sedikit saja. Almarhum Ayahnya kerapkali menggodanya sampai terkadang dia menangis ketika makanan kesukaannya di sentuh.


"Iya kita makan sama-sama. Aku sengaja memesan nasi satu bakul kecil kalau mungkin kamu belum kenyang." Samuel tersenyum, menatap bibir mengerucut Ayu dari samping.


"Mas jangan menyesal kalau aku nanti seperti ikan buntal."


"Sudah ku katakan. Aku masih akan mencintai mu bagaimanapun bentuk mu."


"Awas ya." Samuel meletakkan beberapa centong nasi ke piring Ayu." Seharusnya aku yang melakukan itu." Celotehannya belum juga berhenti.


"Tidak ada kamus yang menyebut kan itu. Kamu itu ratu ku. Tugasmu hanya melayaniku sesuai keinginan. Kalau aku memberikan pelayanan seperti sekarang. Itu adalah ungkapan rasa terimakasih ku."


"Aku tidak memberikan apapun Mas." Ayu mulai mengambil lauk berserta bumbunya.


"Kesetiaan dan pelayanan di atas ranjang. Itu yang ku butuhkan." Ayu hanya mengangguk-angguk seraya mengunyah makanan yang terasa menggoyang lidah.

__ADS_1


"Wah. Perfect." Gumamnya tidak merespon perkataan Samuel.


"Coba yang ini." Samuel malah menyendokkan lauk lain padahal piringnya masih terlihat kosong.


"Ini juga sedap." Puji Ayu mulai khilaf dan melupakan ucapannya tadi. Dia mengunyah makanannya cepat sambil manggut-manggut. Sementara Samuel malah mendukungnya dengan menambahkan nasi dan lauk lagi dan lagi.


Setengah jam berlalu, tidak terasa sajian hampir habis dan menyisakan satu centong nasi dan sedikit sayur. Piring Samuel bahkan terlihat masih bersih namun senyum mengembang yang di perlihatkan menandakan jika dirinya sudah kenyang hanya dengan melihat Ayu makan.


"Habiskan sekalian. Tidak boleh membuang makanan." Samuel akan menambahkan nasi tapi Ayu menggelengkan kepalanya.


"Tidak Mas. Aku sudah kenyang."


Hehehehe aku tidak percaya dia menghabiskan itu semua.


"Serius Babe?"


"Iya. Mas Sam saja yang menghabiskan itu." Sontak Ayu melebarkan matanya ketika menyadari piring Samuel terlihat bersih. Ah tidak mungkin!! Ayu baru ingat kalau sejak tadi hanya dirinya yang makan.


Ayu mengedarkan pandangannya ke arah meja dengan piring kosong dan hanya menyisakan menu cah kangkung.


Memalukan sekali! Jadi aku yang menghabiskan ini?


"Kenapa diam Babe? Masih lapar?" Tawar Samuel seraya meletakan sisa nasi pada piringnya.


"Ma maaf Mas Sam." Jawabnya lirih.


"Minta maaf untuk apa." Samuel menumpahkan sisa cah kangkung berserta kuahnya.


"Aku tidak sadar." Samuel mengangguk-angguk seraya menguyah.


"Tidak sadar apa?" Samuel malah menggoda padahal dia sudah tahu maksud perkataan Ayu.


"Makanan nya."


"Enak kan? Apa perlu di bungkus?" Tawar Samuel menimpali.


"Tidak. Seharusnya kita makan berdua tapi..."


"Aku tidak masalah." Sahutnya cepat.


"Biar ku pesankan lauknya."


"Ini sudah cukup Babe."


"Tidak ada lauknya."


"Aku sudah terbiasa hidup sederhana. Ini sudah sangat enak." Ayu menoleh dengan wajah menyesal.


"Maaf Mas."


"Astaga. Tidak apa. Aku sudah kenyang saat melihatmu makan."


"Mana mungkin begitu? Makanannya masuk ke dalam perutku."


"Asal melihatmu bahagia, tidak makan berhari-hari pun aku mampu."


"Menggombal lagi?"


"Bisa di buktikan kalau memang kamu tidak percaya. Aku lebih memilih tidak makan daripada harus tidak bisa bertemu dengan mu kalau memang hanya itu pilihan yang ada." Ingin sekali Ayu mengungkapkan perasaan bahagianya. Tapi dia masih ragu melakukan, padahal dia ingin membalas ucapan manis Samuel dengan sebuah sentuhan manis seperti kecupan singkat pada pipi.


Terimakasih Mas..


Di tengah hangatnya kebersamaan mereka, sebuah suara menyapa dengan tatapan tajam ke arah Ayu.


Siapa wanita ini?


🌹🌹🌹

__ADS_1


Untuk memuaskan pembaca😁Aku panjangin part-nya juga doubel update 🎉🎉🎉


Terimakasih dukungannya 🥰


__ADS_2