
Setelah menyelesaikan sarapannya, Samuel menyuruh Bik Ijah untuk mempersilahkan si tamu masuk, sementara dirinya mencuci muka.
Ayu menatap Samuel yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah segar penuh air meski tidak mandi. Entah kenapa dia tersipu seakan baru sadar tentang ketampanan Samuel.
"Apa yang kamu tertawakan?" Tanya Samuel seraya mengganti kaos yang di pakainya.
"Kamu lebih tampan ketika tidak mandi."
"Eum benarkah Babe." Setelah mengganti baju Samuel berjalan menghampiri Ayu yang tengah berbaring di sofa. Dia duduk di bawah tepatnya di samping tumpuan kepala Ayu.
"Kenapa ke sini Bee? Tamunya sudah menunggu."
"Tetap di sini dan jangan ikut keluar." Tanpa Ayu sadari, Samuel sudah mengetahui tentang siapa sosok Tamu melalui CCTV yang sudah terhubung dengan ponselnya.
"Aku memang sedang tidak ingin keluar."
"Hm bagus." Samuel sedikit menunduk dan mellumat sebentar bibir Ayu." Aku berjanji akan sebentar." Ayu mengangguk dengan mata terpejam.
"Cepatlah. Aku akan tidur sebentar." Samuel mengecup bibir Ayu lagi dan lagi sehingga membuat Ayu terkekeh geli.
"Sebenarnya aku malas meninggalkan mu." Tutur Samuel ikut tersenyum ketika melihat wajah tersipu Ayu akibat ulahnya.
"Kasihan tamunya Bee."
"Ya baik. Ini yang terakhir." Samuel melummat bibir Ayu lagi tapi kali ini lummatan itu terasa lain sehingga nafas berat terbuang kasar begitu saja." Ingat untuk tidak keluar." Imbuhnya berdiri dan merapikan rambut dengan sapuan tangan.
"Iya aku akan tidur."
"Aku langsung masuk setelah tamu pergi. Siangnya kita keluar membeli bakso. Love you Babe."
"Love you to." Setelah mendapatkan jawaban yang di inginkan, Samuel keluar dengan mimik wajah lain meski dia sempat melemparkan sebuah senyuman sebelum pintu kamar tertutup.
Aku melupakan sesuatu.
Tiba-tiba saja Ayu teringat sesuatu yang seharusnya tadi di pertanyakan. Dia belum mengetahui jenis kelamin dari tamu Samuel sehingga dia memutuskan untuk melihatnya dari lantai dua.
Bagaimana kalau tamunya seorang wanita. Apa itu alasan kenapa dia tidak memperbolehkan ku keluar.
Ruang tamu yang terletak tepat di samping tangga, menggampangkan bagi Ayu untuk memeriksa.
Sementara Samuel sendiri, mencoba memasang sebuah senyuman seakan dirinya tidak tahu tentang kegilaan Alan. Dia masih ingin menjamu Alan selayaknya tamu pada umumnya asal niatnya baik.
"Astaga kamu. Ku fikir siapa." Sapa Samuel menuruni anak tangga lalu menyerbu Alan dengan jabatan tangan.
"Aku tidak sengaja melintas."
"Em silahkan duduk." Jawab Samuel mempersilahkan. Dia tidak menyadari keberadaan Ayu yang sudah melihat keduanya dari lantai dua.
Ini bisa gawat.
Batin Ayu tentu saja membayangkan hal yang tidak-tidak sebab tahu bagaimana buruknya Samuel ketika sedang cemburu.
Apa Mita yang sudah memberi tahu? Sebaiknya ku pantau dari sini. Kalau situasinya tidak kondusif baru aku turun.
"Bagaimana kamu tahu letak rumahku?"
"Waktu itu kartu nama mu tidak sengaja terjatuh." Samuel tersenyum simpul seraya manggut-manggut.
__ADS_1
"Tunjukkan padaku."
"Ada di rumah."
"Sebab aku tidak pernah membuat kartu nama." Sontak raut wajah Alan berubah aneh. Dia kehilangan ide untuk mencari alasan sementara keinginannya untuk bertemu Ayu kian menggebu.
"Em maaf. Mita menyuruh ku untuk tidak jujur. Dia merasa tidak enak pada Ayu."
"Tujuan mu ke sini?" Tanya Samuel tanpa basa-basi.
"Ingin menjaga hubungan baik."
"Denganku?"
"Dengan kalian." Alan mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan Ayu. Dia tersenyum ketika kepalanya sedikit mendongak dan mengetahui fakta jika Ayu tengah memperhatikan mereka dari lantai dua.
Sontak Samuel menoleh ke arah yang sama. Seketika nafasnya terbuang kasar ketika dia menyadari keberadaan Ayu.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Samuel dengan nada bicara mulai meninggi.
"Kenapa Ayu tidak ikut turun?"
"Aku sudah menemui mu dan itu lebih dari cukup." Ayu sendiri berjalan masuk untuk mengganti dress rumahan dengan setelan yang lebih sopan.
"Apa yang terjadi?" Tatapan Alan beralih pada Samuel yang seakan ingin memakannya hidup-hidup." Kenapa kamu seperti marah?" Imbuhnya tersenyum simpul.
"Aku memperlakukan tamu sesuai dengan niatnya. Jangan mengelak hanya untuk menutupi bau busuknya."
"Aku tidak mengerti."
"Aku sudah menganggap Ayu seperti adik kandung sendiri."
"Dia tidak membutuhkan itu. Kau lupa sudah ada aku."
"Jangan terlalu pencemburu. Ayu tidak akan berselingkuh. Dia wanita yang baik."
"Terserah saja. Dia Istriku." Alan terkekeh seakan tengah menertawakan tingkah Samuel yang di anggap kekanak-kanakan.
"Ya dia Istri mu."
"Pergi jika tahu."
"Aku sudah jauh-jauh datang ke sini."
"Tidak perlu datang jika memang kamu menganggap tempat ini jauh." Sahut Ayu lantang. Dia duduk di sisi Samuel dan langsung menggenggam jemarinya erat agar emosinya meredah.
"Kenapa keluar?"
"Ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan."
"Sekarang kau menjadi Istri orang kaya. Tapi sebentar lagi perusahaan ku akan berkembang pesat."
"Tinggalkan Mita Mas." Ayu tidak merespon pembicaraan yang di anggap tidak penting. Dia masih memikirkan nasib Mita yang mungkin akan berakhir seperti dirinya.
"Aku mencintainya."
"Aku bertemu Mbak Elis beberapa waktu lalu." Seketika Alan terkekeh nyaring. Dia merasa bodoh sudah bersandiwara padahal dua orang yang di kelabui sudah mengedus kejahatannya.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat, Ayu mengambil teko air putih di hadapannya lalu menyiratkan airnya tepat ke wajah Alan yang sontak menghentikan kekehannya. Tangannya mengusap-usap jas mahal yang kini menjadi basah.
"Kenapa kamu melakukan ini?"
"Agar kau cepat sadar." Kini Samuel tersenyum dan merasa puas atas sikap Ayu." Kau tidak berhak tertawa seperti tadi saat sedang bertamu." Imbuh Ayu sama sekali tidak memperlihatkan senyum.
"Lalu perbuatan mu?"
"Terserah. Ini rumahku. Aku berhak mengusir tamu yang tidak di terima dengan cara apapun termasuk menguyur wajahmu dengan air."
"Apa saja yang wanita itu katakan padamu?" Tanya Alan ingin tahu.
"Paling tidak. Jangan lepas tanggung jawab. Kau punya Mila yang harusnya kau biayai hidupnya!"
Sungguh Ayu merasa muak pada Alan. Dia yang awalnya menilai Alan begitu dewasa, ternyata tidak lebih buruk dari sifat Dika.
"Dia yang tidak ingin aku menemui Mila."
"Itu karena Mbak Elis tidak ingin anaknya di sentuh kau!" Tunjuk Ayu kasar. Nyeri pada perutnya membuat emosinya meletup-letup bagaikan gunung berapi." Aku tidak menyangka jika kau berusaha menyalahkan Mbak Elis hanya demi nama baik mu." Alan malah tersenyum simpul. Menelan bulat-bulat kemarahan Ayu meski wajahnya terlihat pucat tapi Alan masih menyebut itu sangat cantik.
"Berarti bukan salahku."
"Hm aku hafal itu. Aku sudah tahu bagaimana rasanya di salahkan."
"Ceritanya akan lain jika kau yang menjadi Istri ku."
"Pergi dari rumah ku!!" Pinta Samuel berdiri seraya menunjuk kasar pintu utama. Ayu sendiri memilih tetap duduk karena cairan darah semakin mengucur deras.
"Kau harus tahu jika Istri mu sangat di minati banyak lelaki." Alan berdiri seraya merapikan jasnya.
"Kau berjalan sendiri atau perlu ku seret!!"
"Aku sudah menyukainya sejak Dika mengenalkan dia sebagai calon Istri." Alan sengaja memicu emosi Samuel. Dia merasa tersaingi dan ingin membuat Samuel merasa kesal." Saat itu dia sangat cantik dan masih polos. Apalagi sekarang.." Tanpa fikir panjang, Samuel berjalan menghampiri Alan lalu menyeretnya keluar dengan cara menjinjing kerah kemejanya.
Ingin sekali Ayu melerai namun keadaan bagian bawah tubuhnya tidak dapat di kontrol. Dia hanya menyeringai seraya memposisikan tubuhnya agar cairan tidak tembus.
Astaga deras sekali. Eluhnya menatap ke pintu utama. Terlihat Samuel masih sempat cekcok mulut sebelum akhirnya menutup pintu kokoh itu keras.
Braaaakkkkk!!
Ayu sedikit berjingkat lalu berusaha berdiri dan berniat mengganti pembalut. Namun yang terjadi di luar kuasanya. Cairan keluar semakin tidak terkendali, sampai-sampai keringat dinginnya mengucur.
Segera saja tangan kirinya meraba bagian sensitif yang tertutup baju panjang. Sesuai dugaan, warna merah terlihat menempel pada jari telunjuk dan tengahnya.
Apa karena aku terlalu bersemangat saat bercinta? Aku harus kembali ke kamar..
"Apa yang terjadi?" Tanya Samuel membaca mimik wajah Ayu yang semakin pucat.
"Tidak ada Bee. Em waktunya mengganti itu.." Samuel melangkah maju sementara Ayu berjalan mundur sambil menyembunyikan tangannya yang terdapat noda darah.
"Apa yang kamu sembunyikan?"
"Tidak ada. Aku harus kembali ke kamar." Masih saja Ayu merasa sungkan untuk menjelaskan. Biasanya dia tidak pernah membicarakan hal itu pada lawan jenis tidak terkecuali Dika.
Ayu selalu di abaikan dan tidak di sentuh oleh Dika ketika dirinya menjelaskan tamu bulanan telah datang. Itu sebabnya dia merasa canggung menceritakan sesuatu yang di anggapnya kotor.
🌹🌹🌹
__ADS_1