
Ayu sedikit was-was menunggu kedatangan Riska yang mungkin datang ke rumah bersama Samuel. Tapi kenyataannya, sampai pagi menjelang, batang hidung Riska tidak tampak ada.
Seperti biasa, setelah mencuci baju Ayu bergegas mandi sebelum Daniel terbangun. Sejak Daniel hadir, Ayu selalu rajin bangun pagi meski dulu dia tidak berkerja.
Semua baju dan keperluan Daniel selalu dia siapkan sendiri tanpa bantuan pembantu apalagi baby sister. Dia merasa jika semua kebutuhan Daniel adalah tanggung jawabnya.
"Bik, kalau nanti Mas Samuel datang bersama Kak Riska, tolong bilang kalau saya berkerja."
"Baik Nyah." Walah. Nyonya Ayu belum juga sadar kalau tetangganya itu Suaminya sendiri.
Saat melihat Daniel bangun. Ayu bergegas menghampirinya lalu memandikannya. Dia mempersiapkan keperluan Daniel bahkan tidak lupa membuatkan sebotol susu.
"Mama pergi berkerja dulu ya sayang." Pamitnya lirih. Rasanya sangat tidak tega, tapi jika Ayu bermalas-malasan, dia tidak akan mendapatkan uang.
"Papa."
"Ya Papa. Semoga kita bisa bersama lagi. Oke. Uch, anak Mama." Ayu memberikan kecupan singkat lalu berjalan keluar dengan langkah lemah. Seharusnya aku fokus merawatnya jika Kak Riska tidak datang dan menggangu kehidupan kami.
Mata Ayu membulat ketika dia menyadari ban miliknya kempes. Padahal saat mengeluarkannya pagi tadi, dia yakin jika ban miliknya baik-baik saja.
Kenapa bisa?
Ayu duduk berjongkok seraya memeriksa. Saat terdengar pergerakan dari kontrakan Samuel, bergegas saja dia berdiri seraya menatapnya tajam.
"Kenapa Nona?" Tanya Samuel berpura-pura bodoh padahal dia pelakunya.
"Serius kamu tidak tahu?" Menunjuk ke arah ban.
"Oh kempes." Samuel berjalan menghampiri lalu memeriksa ban motor milik Ayu." Sepertinya bocor Nona." Imbuhnya sok ramah.
"Padahal tadi baik-baik saja."
"Tidak apa. Aku bisa memberikan tumpangan." Hehehehe dia kalah. Lihatlah, wajahnya berubah kesal dan itu terlihat sangat mengemaskan.
"Tidak. Aku akan memesan ojek on...." Ucapan Ayu tertahan sebab dirinya baru ingat kalau tidak memiliki ponsel." Apa kamu punya aplikasi ojek online." Tanyanya pelan.
"Aku tidak pernah menggunakan jasanya." Ayu menghembuskan nafas berat dengan wajah kebingungan." Kita pergi berdua saja." Imbuh Samuel memaksa.
"Kau pasti sengaja membuat banku rusak kan." Jawab Ayu melontarkan tuduhan.
"Aku saja baru keluar dari kontrakan. Mana mungkin aku melakukan itu."
"Ada kemungkinan."
"Oh baiklah Nona. Sekarang sudah sangat siang. Kalau mau berangkat bersama ya ayo. Kalau Nona tidak berkenan, aku berangkat sendiri saja." Ayu menghela nafas panjang sambil melirik malas.
"Sebentar. Biar ku masukkan motorku ke teras."
__ADS_1
"Ku bantu." Dengan gerakan cepat Samuel memegang setir motor lalu mendorongnya masuk ke teras. Dia mencabut kunci lalu menyodorkannya pada Ayu.
"Hm terimakasih."
"Tidak pamit Bibik dulu?"
"Tidak. Nanti Daniel rewel."
"Padahal aku ingin melihat Daniel sebelum berkerja."
"Sudahlah Mas. Jangan berlebihan!"
"Oke Nona. Mari."
Samuel naik ke motor, di ikuti oleh Ayu. Sengaja Ayu tidak melontarkan pertanyaan dan hanya menjawab obrolan Samuel singkat. Dia tidak ingin berkhianat, meski rasa nyaman memang sudah terbangun.
Kadang-kadang Ayu mempertanyakan perasaannya yang mudah sekali merasa nyaman, padahal lelaki yang sedang memboncengnya memang Suaminya.
Singkat waktu, setibanya di gudang. Kedatangan Ayu di sambut John yang selalu datang lebih pagi darinya. Di tangannya ada secarik kertas.
"Ini absen para pegawai." Ucap John tersenyum. Menyodorkan kertas ke Ayu.
"Ya Mas. Nanti saya masukkan datanya." Samuel membuang nafas kasar. Menatap geram ke arah John dengan kobaran api cemburu." Em Mas John pergi lagi?" Tanya Ayu pelan. Dia merasa canggung jika harus berdua satu ruangan dengan Samuel.
"Iya kan sudah ada Radit. Dia akan membantu mu."
"Seharusnya kamu memanggilnya Pak." Sahut Samuel menunjuk ke arah John.
"Dia yang menyuruhku memanggil Mas."
"Agar lebih akrab." Jawab John seraya terkekeh. Samuel tidak sanggup menahan diri untuk tidak cemburu padahal ini adalah rencananya sendiri. Kalau memang cemburu. Kenapa harus menyamar? Hahaha..
"Malah terdengar aneh."
"Aku juga ingin memberikan ini." John menyodorkan sebuah paper bag.
"Apa ini Mas?" Ayu menerima paper bag dan melihat sebuah kotak ponsel di dalamnya." Ponsel?" Imbuhnya bergumam.
"Ya. Kamu tidak punya ponsel kan." Samuel sendiri yang menyuruh John memberi Ayu ponsel tapi perintahnya malah membuatnya kebakaran jenggot.
"Saya tidak seberapa membutuhkannya." Ayu mengembalikan ponsel.
"Agar aku tidak kesulitan menghubungi mu kalau ada sesuatu yang penting."
"Saya benar-benar tidak butuh ini." Samuel mengambil ponsel dari tangan Ayu.
"Bukankah kau sibuk hari ini Pak John." Sahut Samuel ingin John segera pergi.
__ADS_1
"Iya sibuk sekali. Terima saja Ayu, itu gratis."
"Jadi saya harus bersama Mas Radit lagi?" Tanya Ayu cepat.
"Dia memang partner kerjamu. Kenapa? Apa dia tidak sopan?" Menunjuk ke Samuel.
"Bukan begitu Mas."
"Aku ada beberapa urusan. Nanti laporannya kirimkan ke alamat email ku ya." Setelah tersenyum sejenak, John melangkah keluar ruangan sehingga lagi lagi Ayu berada di situasi canggung. Merasa nyaman dengan lelaki yang di sebutnya asing membuatnya binggung.
"Kamu tidak nyaman denganku?" Ayu terdiam. Dia bergegas duduk di kursinya." Bukankah kita sedang berada di situasi yang sama. Kamu sedang tidak harmonis bersama Suami mu dan aku juga." Sontak saja Ayu menegakkan pandangannya.
"Hubungan kami sangat harmonis!" Jawab Ayu cepat.
"Kalau memang harmonis, kenapa pergi?"
"Jangan sok tahu Mas. Kamu itu tidak tahu permasalahannya seperti apa!"
"Suami Istri memang seharusnya tidak boleh berpisah terlalu lama. Sangat banyak godaan di luar."
"Aku bukan wanita yang seperti itu."
"Aku tidak sedang membicarakan mu Nona. Aku membicarakan diriku sendiri. Sepertinya aku tergoda denganmu." Ayu membuang muka dan tidak merespon ucapan Samuel." Daniel sepertinya sudah setuju." Imbuhnya memancing.
"Dia masih kecil. Bagaimana bisa kamu tahu kalau Daniel setuju."
"Buktinya dia nyaman bersama ku. Kami bahkan makan sepiring berdua."
"Dia hanya sedang merindukan Papa nya."
"Dia memanggilku Papa."
"Omong kosong Mas. Jangan bicara macam-macam."
"Itu bukan omong kosong tapi kenyataan."
"Terserah!" Ayu fokus pada laptopnya meskipun Samuel terus saja berceloteh seakan sengaja memancing kemarahan.
"Sudah siap di operasikan. Aku juga sudah menyimpan nomerku." Samuel menyodorkan ponsel pemberian John.
"Hm." Ayu mengambil ponsel lalu memeriksanya. Dasar gila. Umpatnya dalam hati ketika dia menemukan kontak bertuliskan emoji love. Ayu mendongak, menatap Samuel yang belum juga beranjak dan sedang memperhatikannya." Ada keperluan lagi Mas?" Tanyanya kembali fokus ke laptop.
Tiba-tiba saja Samuel mengangkat tubuh Ayu lalu mendudukkannya di atas meja kerja. Dia menghimpit tubuhnya, merasa tidak tahan dengan rasa rindu yang bergejolak.
Samuel sudah tidak memikirkan kalau penyamarannya terbongkar. Dia menginginkan sebuah sentuhan dan sedikit dessahan agar hasratnya terpenuhi. John juga menjadi alasan Samuel menghentikan penyamaran yang di rencanakan sendiri.
🌹🌹🌹
__ADS_1