
Kedatangan Dika di sambut Tania dengan wajah masam. Padahal kepulangannya hanya selisih 30 menit tapi Tania memperlihatkan wajah begitu garang seakan Dika sudah melakukan kesalahan fatal.
"Dari mana saja Dik!" Tegur Tania kasar.
"Mereka mengajakku ke Cafe sebentar."
"Cafe Delima!!!" Sepertinya aku harus menyuruh seseorang untuk mengawasi kegiatan Dika!!
"Mana mungkin." Ujar Dika mengelak." Cafe dekat perusahaan." Imbuhnya menimpali.
"Awas saja kalau kau menemui dia lagi!!"
Sial sekali hidupku? Apa aku sedang mendapatkan karma? Ya Tuhan. Aku menjadi takut kalau Tania melakukan sesuatu pada Mama.
"Dia sudah bersama pegawai Cafe itu." Jawab Dika menghembuskan nafas berat. Rasa rindu dan cemburu tiba-tiba saja menjalar. Sekalipun Ayu tidak pernah berkata kasar dan selalu menyambutnya dengan hangat walaupun dirinya terkadang pulang tidak tepat waktu.
Perbandingan antara keduanya jelas terlihat. Mendorong penyesalan yang sudah tidak lagi berguna.
"Hm oke. Bukankah hari ini kamu gajian sayang." Nada dan cara bicara Tania seketika berubah lembut.
"Iya." Dika membuka tasnya lalu memberikan sebuah amplop coklat cukup tebal pada Tania.
"Bukan lewat ATM?"
"Ini jatah untukmu. Aku lupa nomer rekening mu jadi ku ambil tunai saja."
"Tidak. Ini tidak benar." Tania mengambil amplop dan melihat uang 10 juta di dalam nya. Bibirnya mengerucut dengan tatapan tajam ke arah Dika.
"Apa yang tidak benar? Kita harus memiliki tabungan untuk kebutuhan mendesak."
"Ya. Mana ATM mu." Tanyanya merentangkan telapak tangan kanannya.
"Untuk apa?"
"Aku Istrimu. Biar ku bawa."
"Tidak Niah. Ini ATM pribadiku. Aku tahu kalau kamu punya uang pribadi di ATM milikmu." Bantah Dika menolak di kuasai.
"No no no! Itu uangku dan uangmu juga uangku! Serahkan padaku Dika!" Teriak Tania menggila. Nada bicaranya kembali kasar dengan bola mata hampir keluar.
Wah gawat ini! Kalau aku serahkan ATM, bagaimana bisa aku bisa memberi jatah untuk Mama?
"Aku juga butuh uang untuk keperluan ku."
"Butuh apa sih Dik? Makan siang? Kamu bahkan tidak merokok. Sini!!" Tania mengambil dengan paksa dompet Dika lalu mengambil ATM dari sana.
"Kamu keterlaluan sekali!!" Untung ATM milik Ayu aku simpan di lemari.
"Aku berhak." Tania mengambil sepuluh lembar uang seratusan lalu memberikannya pada Dika." Ini untuk uang bensin dan menongkrong." Dika melongok lalu tersenyum aneh.
"Satu juta? Kau gila? Mana cukup untuk menongkrong di Cafe."
"Jangan menongkrong kalau tidak cukup. Kamu hanya boleh menongkrong bersamaku."
"Tidak Niah. Kembalikan."
"Ini hak ku. Terima atau ku laporkan pada Ayah!!" Ancamnya seraya menunjuk ke wajah Dika.
"Mengancam terus!!"
__ADS_1
"Terserah! Aku hanya tidak mau kau memakai sembarangan uang lalu mengkhianati ku! Cepat mandi! Kita ke Showroom mobil lalu membeli gaun baru untuk menghadiri pesta pernikahan pemilik perusahaan." Tania melangkah pergi sementara Dika duduk lemah di sofa.
"Kenapa aku baru menyadarinya. Lalu jatah Mama bagaimana? Semoga saja uang di ATM Ayu masih cukup untuk memberi jatah bulanan untuk Mama."
Dika bergegas berdiri ketika suara buruk Tania memanggil namanya dan menyuruhnya bergegas mandi.
🌹🌹🌹🌹
Setibanya di Vila. Ayu menggiring Samuel ke kamar yang terletak di lantai dua. Tidak ada protesan terlontar walaupun Samuel cukup bingung melihat sikap Ayu sekarang.
"Ada siapa saja di sini Mas." Tanya setelah keduanya berada di kamar.
"Hanya ada tukang bersih-bersih yang datang setiap pagi saja."
"Em, ya sudah Ayo." Ayu membalik tubuhnya setelah mengunci pintu kamar lalu berjalan menghampiri Samuel. Keduanya berdiri saling berhadapan sehingga tampak jelas perbedaan tinggi badan mereka.
"Ayo apa?" Tanya Samuel bingung.
Kata Mama. Kalau membuat Suami marah akan menjadi dosa besar. Aku harus melupakan keinginan ku untuk bisa lebih kurus dan fokus pada Mas Samuel agar rumah tangga ku tidak lagi hancur. Aku tidak mau dia marah lalu menceraikan ku..
Ayu masih memegang teguh perkataan dari almarhum Ibunya, walaupun hasil akhir kehidupan rumah tangganya tidak sesuai harapan. Bakti selama bertahun-tahun di bayar Dika dengan sebuah perpisahan yang meninggalkan trauma pada perasaannya.
"Kamu berpura-pura tidak tahu Mas?" Meski canggung, kedua tangan Ayu terangkat dan mulai menggalung ke leher Samuel. Adanya perbedaan tinggi badan, membuat kaki Ayu menjinjit untuk bisa menjangkau.
Dia sedang apa? Och Babe.. Kulitmu lembut sekali..
Puji Samuel merasakan lembutnya lengan Ayu ketika menyentuh lehernya.
"Agar kamu tidak lagi menuduhku memikirkan dia, mari kita lakukan itu sekarang." Samuel tersenyum simpul seraya membalas sentuhan dengan melingkarkan tangannya ke pinggang Ayu.
"Aku tidak perduli Babe. Terserah jika di otakmu masih ada dia. Yang pasti, kamu milik ku sekarang."
"Kenapa di lepas?"
"Aku merasa di permainkan sekarang." Jawab Ayu berusaha mengeluarkan nada selembut-lembutnya. Mencoba menerapkan pada otaknya jika Suaminya bukan lagi Dika melainkan Samuel.
"Apa yang kamu fikirkan. Cepat katakan." Samuel mengeratkan pelukannya meski kedua tangan Ayu kini berusaha menjaga jarak.
"Kamu marah lalu menceraikan ku." Jawab Ayu pelan.
"Mana mungkin. Walaupun kau meminta perpisahan sampai menangis darah. Aku tidak akan melakukannya."
"Seharusnya aku tahu sebelum aku mempermalukan diriku sendiri." Tentu saja Ayu merasa konyol atas sikapnya barusan. Beruntung, dia belum sempat melontarkan ajakannya untuk melakukan malam pertama.
"Kamu mau melakukannya sekarang? Tapi.. Harus ikhlas agar nanti benih yang di hasilkan bisa tumbuh menjadi anak baik." Ayu mendongak seraya memperlihatkan wajah kesal. Dia tidak menerima perkataan Samuel mengingat kejadian malam buruk di kontrakan.
Ayu masih memikirkan itu bahkan takut kalau sentuhan ketidaksengajaan yang Samuel berikan akan menumbuhkan benih di rahimnya.
"Aku tidak akan melakukannya kalau kamu belum ikhlas menerimaku." Imbuh Samuel lagi.
"Serius kau berkata itu Mas." Tatap Ayu tajam.
"Sangat serius. Aku bukan lelaki brengsek yang hanya memikirkan sentuhan semacam itu."
"Kamu melakukan itu di kontrakan dulu. Kamu bahkan yakin jika benih itu sudah tumbuh di rahimku." Samuel kembali terkekeh lalu melepaskan tubuh Ayu dari dekapannya.
"Aku hanya membantumu menuntaskan hasrat dengan memasukkan ini." Menunjukkan jari telunjuknya." Aku memang menyentuh beberapa bagian tubuhmu tapi aku masih menahan diri." Karena kesal, Ayu mendorong tubuh Samuel lembut.
"Jadi? Kamu berbohong Mas?" Tanya Ayu memastikan.
__ADS_1
"Untuk kebaikan Babe. Kamu berhak bahagia."
"Ah! Tuhan.." Ayu duduk lemah di sofa. Seharusnya aku tidak begitu saja percaya. Aku merasa kalau Mas Samuel bukanlah lelaki brengsek. Mana mungkin dia melakukan itu!!
Samuel duduk di sisi Ayu lalu merangkul kedua pundaknya erat seraya mengecup puncak kepalanya sebentar.
"Maaf. Keinginan itu terasa menekan kuat. Aku berusaha melupakan perasaanku tapi menemukan wanita seperti mu sangatlah sulit. Aku menjadi lupa diri Babe. Ingin memilikimu dengan segera."
"Kamu tega sekali Mas. Aku takut kalau hasil dari perbuatan kita akan melahirkan anak haram."
Walaupun kesal, setidaknya Ayu merasa lega karena ternyata malam itu tidak semenjijikkan bayangannya.
"Aku juga tidak mau itu terjadi. Sekarang, semuanya sudah jelas kan. Kita tidak melakukan perbuatan itu. Aku masih menahan diri sampai kamu ikhlas memberikannya." Ayu menghela nafas panjang lalu membuangnya lembut.
"Mas Samuel sengaja mengatakan itu sekarang?"
"Hm iya. Kalau ku katakan sebelum akad. Kamu tidak akan bisa ku ancam."
"Mas tidak sebaik kelihatannya."
"Aku tidak pernah menganggap diriku baik. Tapi aku berjanji akan membahagiakan mu."
Suasana seketika menjadi canggung. Ayu kembali merasa tidak siap untuk melakukan sentuhan pada area sensitifnya.
"Jadi? Kalau seandainya aku belum siap untuk emm.. Melakukan itu. Mas tidak marah?" Samuel menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
"Kalau kamu ingin memberikannya. Aku sangat siap. Aku ingin segera memiliki keturunan." Ayu mengangguk sambil tertunduk.
Memory buruk tentang keguguran langsung melintas. Dokter mengatakan dua kemungkinan yang memicu keguguran. Obat keras atau rahim milik Ayu terlalu lemah.
"Aku tidak bisa berjanji Mas."
"Kenapa begitu?"
"Entahlah. Aku merasa tidak yakin." Dia sudah memiliki tangan dan kaki walaupun bentuknya sangat kecil.
"Apa karena keguguran itu?"
"Iya. Aku hanya takut tidak bisa menjaga sebuah amanat. Aku melihatnya. Aku ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali." Ayu menghela nafas panjang dengan mata berkaca-kaca." Seharusnya itu tidak di perbolehkan. Kata dokter akan menganggu mental dan itu terjadi padaku sekarang. Dia sangat kecil dan jika aku pandai menjaganya, mungkin umurnya sudah satu tahun lebih." Ayu menyimpan perasaan tertekannya begitu rapat.
Dia bahkan tidak pernah menceritakan penyesalan atas insiden tersebut pada Dika. Ayu paham jika eluhannya tidak akan di dengar. Dika tidak menginginkan kehamilan itu. Dari sanalah kisah kelam rumah tangganya di mulai.
Sejak hamil, sikap Dika begitu dingin. Dia tidak lagi memuji Ayu seperti dulu. Dika selalu melontarkan kata-kata buruk ketika melihat Ayu makan dengan lahapnya.
Ayu mengira jika setelah keguguran sikap Dika akan kembali baik. Namun tebakannya salah. Gunjingan Dika semakin menjadi-jadi. Kerapkali Ayu di bandingkan dengan wanita lain karena perubahan pada bentuk tubuhnya.
"Kita akan menjaganya bersama. Kamu lihat Babe. Aku hanyalah seorang pengangguran." Ayu membersihkan sudut pipinya kemudian menoleh.
"Jangan merendah Mas. Perusahaan mu banyak."
"Iya. Itu hasil kerja kerasku dan sekarang aku tinggal menikmati hidup. Kamu tidak perlu takut tidak bisa menjaga amanat." Tangan Samuel terangkat lalu mengusap lembut puncak kepalanya Ayu dan mendarat di pipi basahnya." Kita akan menjaganya." Imbuh Samuel mampu mendinginkan perasaan Ayu." Lalu.. Kita buat itu sekarang." Goda Samuel belum juga berhenti. Sontak Ayu berdiri dengan wajah menegang.
"Beri aku waktu Mas."
"Ya baik. Tapi berciuman tidak masalah kan."
"Memang tidak. Emmm.. Perutku mendadak sakit Mas. Sebentar ya." Ayu berlalu pergi meninggalkan Samuel yang lagi lagi merasa terhibur dengan sikap Ayu.
Selalu bisa mencari alasan. Aku akan menagihnya terus menerus..
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹