
Mita meluapkan kekesalannya yang selama ini di pendam. Dia menyebut Ayu selalu menjadi penghalang bagi dirinya. Apalagi ketika dia mengingat perubahan sikap Alan. Emosinya semakin meluap-luap sampai-sampai Mita berdiri seraya menunjuk kasar ke wajah Ayu. Seakan orang yang selama ini di anggapnya sahabat, sudah berbuat kesalahan fatal.
"Aku tidak pernah merespon mereka? Bukankah kau tahu aku tidak pernah memiliki hubungan selain dengan Mas Dika?"
"Tapi aku merasa di rugikan karena mereka memanfaatkan ku untuk mendekati mu! Lalu sekarang kau mau merebut calon Suami ku!!" Ayu menggelengkan kepalanya pelan. Menatap Mita dengan raut wajah tidak percaya. Dia tidak seperti Mita? Kenapa dia bisa semarah itu padaku?
Ayu tidak ingin menjadi bahan pembicaraan. Ingin sekali dia membalas perkataan Mita dengan umpatan. Namun, Ayu tidak kuasa melakukan itu dan masih menganggap mungkin perasaan Mita sedang tidak baik.
"Lain kali kita bicara lagi."
"Tidak ada lain kali! Ini terakhir kita bertemu. Jangan menganggu hubunganku dengan Mas Alan!"
"Please Mita. Aku mulai menyukai Mas Samuel. Mana mungkin aku menyukai Mas Alan. Aku hanya sedang memperingatkan mu untuk memikirkan lagi pernikahan itu." Jawab Ayu masih berusaha melontarkan kekhawatirannya.
"Kalau kau memang tidak berniat buruk! Pergi dari hidupku dan jangan pernah menemui ku lagi." Ayu menoleh ketika Samuel tiba-tiba duduk di sampingnya. Dia berpaling untuk membersihkan matanya yang terasa panas.
"Ada apa ini?" Tanya Samuel sempat mendengar lirih perdebatan mereka.
"Ini hanya salah faham.."
"Bukan salah faham." Sahut Mita cepat." Aku sudah dewasa. Aku tidak lagi membutuhkan teman. Aku membutuhkan seorang pendamping hidup yang nantinya bisa menemani ku sepanjang hari." Mita berdiri seraya meraih tas kecilnya." Mulai hari ini, kita bukan lagi sahabat. Jangan lagi mengurusi hidupku. Permisi." Ayu menatap kepergian Mita dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka jika selama ini Mita tersakiti oleh kehadirannya.
"Dia tidak menerima peringatan mu?" Tanya Samuel seraya mengusap lembut punggung Ayu.
"Aku merasa dia sudah marah sebelum aku mengatakan peringatan itu."
"Cinta itu buta Babe. Mungkin Mita sedang berada di tahap rasa penasaran yang menggebu pada pasangannya seperti yang terjadi padaku dulu." Ujar Samuel menebak.
"Tapi aku takut dia kecewa."
"Itu resiko yang harus di jalani ketika kita sudah memutuskan untuk mencintai seseorang." Jawab Samuel mencoba melapangkan hati Ayu agar dia bisa menerima keputusan Mita.
"Entahlah Bee. Perasaanku menjadi tidak enak."
"Doakan saja semoga tidak terjadi sesuatu. Mungkin Alan benar-benar menyukai Mita dan sudah melupakan mu." Walaupun kekhawatiran juga terbesit di hati Samuel. Namun dia tidak ingin melihat Ayu terbebani dengan permasalahan yang menurutnya tidak seberapa penting.
"Amin Bee. Tidak ada yang bisa ku lakukan lagi." Untuk kesekian kalinya, Ayu mengusap air mata yang sempat terjatuh karena rasa kecewanya pada sikap Mita.
"Aku ikut merasakan sakit kalau kamu menangis seperti ini." Samuel mengangkat kedua tangannya lalu membersihkan sisa air mata pada sudut pipi Ayu lalu mengecupi sekitar wajahnya.
"Ini tempat umum." Protes Ayu pelan seraya menjauhkan wajah Samuel darinya.
__ADS_1
"Hanya ciuman wajah. Tidak apa Babe."
"Tidak!" Jawab Ayu ketus. Dia meraih tisu lalu membersihkan sisa air mata dan memperlihatkannya pada Samuel." Sudah kering Bee. Jangan lakukan lagi." Imbuhnya lembut.
"Oke." Tangan kanan Samuel terangkat untuk memanggil salah satu waiters.
"Sudah mau memesan Kak." Tanya waiters sopan.
"Coba lihat menunya."
"Ini Kak." Si waiters meletakan buku menu di hadapan keduanya.
"Tolong rekomendasikan es krim yang bisa menghilangkan kesedihan." Pinta Samuel menutup buku menu lalu memberikannya kembali pada di waiters.
"Oh itu saya tahu Kak."
"Pesan 3 ya, kopi latte nya satu."
"Baik Kak. Di tunggu ya."
"3 Bee? Banyak sekali."
"Aku punya banyak teman dan relasi, tapi aku tidak memiliki sahabat." Ujar Samuel tidak merespon protesan Ayu." Menemukan orang yang benar-benar tulus itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Mungkin untuk sebagian orang masih mempercayai sebuah pertemanan. Tapi menurutku, semua manusia pasti ada setitik rasa iri ketika melihat temannya lebih unggul darinya. Setitik rasa itu nantinya akan menumpuk dan menghasilkan sebuah kebencian yang berlipat-lipat lebih besar dari rasa perduli mereka." Samuel sedang membicarakan soal pola fikirnya agar Ayu tidak terlalu melepaskan perasaannya untuk seorang teman yang mungkin bisa menikam kapan saja.
"Dimas adalah jarum yang ada di tumpukan jerami. Sekalipun dia akan membawa kabur semua uangku, aku tidak perduli. Semua kekayaan ini tidak lebih penting daripada sebuah ketulusan. Sebab sakitnya pengkhianatan lebih mematikan rasa daripada harus kehilangan semua harta."
"Dia yang mendekat, bukan aku."
Ayu mengingat ketika Mita mengulurkan tangannya untuk pertama kali. Ayu yang sejatinya gadis acuh. Memang tidak pernah perduli pada sekitar.
Kedua orang tuanya hanya mampu menyekolahkan. Bukan memberikan uang lebih untuk bersenang-senang. Itu kenapa Ayu sibuk dengan dunianya sendiri. Belajar dengan maksimal walaupun hasil rapot nya tetap saja buruk.
"Aku hanya punya satu teman baik." Imbuhnya menjelaskan." Aku tidak ingin membuang waktuku untuk bersenang-senang dengan beberapa teman. Tapi hanya dia yang bertahan sampai sekarang." Sungguh Ayu tidak menginginkan sebuah persahabatan. Mita sendirilah yang mengakui Ayu sebagai sahabatnya.
"Memikirkan itu sangat tidak penting. Aku ingin kamu melupakannya."
"Kenapa kamu tidak cemburu dengan Mas Alan, Bee?"
"Tentu saja cemburu." Jawab Samuel cepat.
"Tapi kamu tidak seberapa marah."
__ADS_1
"Dia tidak di sini. Untuk apa aku marah?"
"Hm begitu. Akan ku coba untuk tidak ikut campur. Mungkin benar kalau Mita sudah dewasa dan bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Dia tidak membutuhkan teman wanita melainkan teman hidup." Ayu ingin menepis kekhawatirannya. Dia tidak mau membuat Mita marah seperti yang di lihatnya tadi.
"Silahkan Kak." Tiga porsi es krim di letakkan dengan satu cangkir kopi latte.
"Terimakasih." Jawab Samuel ramah.
"Astaga Bee. Coklat nya banyak sekali. Seharusnya pesan satu saja." Samuel tersenyum simpul lalu menggeser satu mangkuk es krim di hadapan Ayu. Dia bahkan membersihkan sendok es dengan tisu sebelum memberikannya pada Ayu.
"Makan dulu saja, sisanya aku." Seakan mengerti selera makan Ayu, Samuel sengaja memesan tiga cup es krim.
"Kamu makan satu porsi Bee."
"Aku sudah ada kopi." Jawab Samuel menyeruput kopi. Maniknya fokus menatap Ayu yang manggut-manggut menikmati es krim dengan rasa full coklat.
Sebentar lagi es krim itu akan menghilang dan berpindah ke perutnya. Hehehehe..
๐น๐น๐น
Mita di buat terkejut dengan keberadaan mobil Alan yang sudah terparkir di pekarangan rumahnya. Cepat-cepat dia membayar ongkos ojek lalu masuk. Terlihat Alan sudah berada di ruang tamu dengan di temani kedua orang tuanya.
"Loh Mas Alan? Katanya tadi tidak bisa menjemput?" Tanya Mita terbata.
"Ada hal penting yang ingin ku tanyakan."
"Oh."
"Ya sudah kalian mengobrol saja." Mita melirik ke arah kedua orang tuanya yang tengah memasang wajah masam padanya.
Ayah kelihatan marah padaku.
Setelah memastikan kedua orang tua Mita masuk. Alan meletakkan ponselnya yang sudah memperlihatkan deretan kolom pesan yang ada di WhatsApp.
Dia memiliki nomer Ayu? Tentu saja Mita terkejut ketika menyadari Alan sudah menyimpan nomer Ayu. Prasangka buruk pada Ayu semakin menyelimuti hatinya. Keputusan untuk menjauhi nya adalah keputusan tepat!!
๐น๐น๐น
Tunggu kelanjutannya besok ya ๐๐
Aku lagi tidak enak badan. Bawaannya ngantuk melulu jadi updatenya terganggu๐ฉ๐
__ADS_1
Doakan kondisi ku cepat membaik agar part-nya bisa panjang terus doubel update lagi..
Terimakasih dukungannya ๐ฅฐ๐ฅฐ