
Secara gamblang Samuel menceritakan kisah rumah tangganya yang hancur. Butuh waktu bertahun-tahun untuk melewati keterpurukan sebab perasaan yang sulit untuk bisa menerima.
Samuel memiliki kesetiaan tingkat dewa ketika dia sudah menyukai sebuah nama. Tidak perduli tentang keburukan apa yang ada di sosok yang di sukai. Dia akan menerima semua kecuali kesalahan pengkhianatan.
Tidak ada seorangpun yang rela membagi cinta. Begitupun Samuel yang tidak ingin jika cintanya di bagi. Niat gila yang akan di lakukan selanjutnya adalah, ingin memasangkan belenggu dengan erat pada seseorang yang tepat.
"Maaf Mas. Aku tidak tahu. Mita hanya menceritakan soal hutangmu. Apa itu alasan kenapa hidupmu kesulitan sekarang?" Tanya Ayu menebak. Nada bicaranya terdengar lembut sebab dirinya merasa iba pada nasib Samuel.
"Iya. Seharusnya aku bisa membayar hutang Almarhum kedua orang tuaku dengan uang tabunganku yang di bawa lari." Jawabnya asal. Padahal, harta yang di ambil mantan Istrinya hanya setitik debu dari kekayaaannya.
"Astaga. Mas Samuel lebih parah dariku. Beruntung karena aku sudah melunasi hutang kedua orang tuaku." Ayu sengaja mengubah cara bicara yang tadinya baku. Dia merasa nyaman ketika berbicara sehingga membuat dia tidak sadar mengucapkannya.
"Dulu kamu berkerja di mana?"
"Sebuah perusahaan kecil."
"Kenapa keluar?"
"Bangkrut."
"Oh begitu. Aku berjanji tidak akan menyusahkan jika nanti kamu mau hidup bersama ku." Lagi lagi Samuel ingin tahu pendapat Ayu tentang hidupnya. Dia benar-benar tidak ingin salah dalam memilih dan ingin menyakinkan pada hatinya kalau Ayunda adalah orang yang patut di perjuangkan.
"Bukan masalah itu Mas. Kenapa Mas Samuel membicarakan itu terus menerus."
"Aku ingin tahu saja. Sejauh ini, aku selalu mendapatkan penolakan padahal aku sudah berjanji untuk bertanggung jawab."
"Itu bukan penolakan. Jodoh Mas Sam masih jauh jadi belum bertemu."
"Memangnya seperti itu."
"Ya. Terus bagaimana Mas? Kalau sudah menemukan orang yang tepat. Dia akan menerima keadaan meski Mas Samuel penuh hutang."
"Jika itu terjadi pada Suami mu?" Ayu menegakkan pandangannya dan membalas tatapan manik Samuel dengan sebuah senyuman." Jawablah. Jangan tersenyum saja." Imbuhnya tidak sabar.
"Untuk apa sih Mas?" Ayu memalingkan wajahnya yang memerah akibat paras tampan Samuel.
"Entahlah Babe. Aku merasa ada yang salah dengan hidupku. Sejak perceraian itu, aku tidak lagi menemukan seseorang yang mau menerimaku apa adanya."
"Aku tidak masalah. Asal Suamiku masih setia." Jawab Ayu cepat. Sontak Samuel tersenyum sebab hatinya begitu yakin atas pilihannya kali ini." Panggil nama saja Mas. Tidak pantas sekali jika di dengar yang lain." Samuel malah menghembuskan nafas berat seraya mengendalikan perasaan ingin memiliki yang semakin menggebu.
"Perduli apa aku soal pendapat orang lain." Samuel beranjak dari tempat duduknya." Sebaiknya kamu membersihkan diri. Aku akan ke Cafe dulu. Aku juga sudah memesankan sarapan untuk kita." Tangannya meraih kunci yang tergantung dan menyodorkannya pada Ayu.
"Mas Samuel tidak mandi?" Tanya Ayu terbata. Meski ragu, dia mengambil kunci tersebut.
"Aku biasa mandi pagi. Aku sudah melakukannya tadi. Setelah aku keluar, kunci pintu rapat agar tidak ada yang menyerbu masuk. Aku tunggu di Cafe." Samuel melangkah keluar dengan ponsel di tangannya.
Seketika, wajahnya berubah serius saat dia mulai menombol kontak milik Dimas.
📞📞📞
"Sudah kau siapkan?
"Sudah Tuan. Coba periksa ponsel anda.
__ADS_1
"Hm baik.
📞📞📞
Samuel mengakhiri panggilan lalu melangkah tenang masuk ke dalam Cafe.
Dugaan tentang kelicikan Farel benar. Terlihat, Pak Ridwan sudah berada di sana bersama pegawai yang lain. Menunggu kedatangan Samuel dan Ayu yang di anggap sudah berbuat hal menjijikan di dalam Cafe.
Farel sengaja menunjukkan bukti CCTV ketika Ayu memeluk Samuel dan mencium dagunya. Sementara rekaman yang memperlihatkan keburukannya, sengaja di hapus agar dia bisa terlepas dari tanggung jawab atas perbuatannya.
"Ini dia orangnya." Ucap Farel menunjuk kasar ke Samuel.
Tidak mungkin Ayu melakukan itu.. Batin Mita tidak serta merta menerima tuduhan dengan bukti akurat. Dia mengenal Ayu lebih baik dari siapapun sehingga meski rekaman sempat di lihat. Mita tetap tidak mudah percaya.
"Apa orang bawaanmu masih berada di kamar kontrakan mu Samuel!"
"Ya. Dia di sana." Jawab Samuel santai.
Pak Ridwan menatap geram ke arahnya. Dia merasa kecewa dan menganggap Samuel tengah mematahkan kepercayaannya.
"Untung saja saya berada di sana Pak. Jika tidak, mereka akan melakukan hal keji itu di sini." Imbuh Farel menegaskan.
"Apa kau lupa peraturannya Sam! Tidak boleh ada pegawai yang memiliki hubungan kecuali hubungan Suami Istri! Kau mau menebar kesialan di sini?" Tentu saja Pak Ridwan merasa geram atas perbuatan Samuel. Dia seorang lelaki berwibawa yang sangat menjaga nilai kesopanan.
"Seharusnya Bapak mengatakan itu padanya, bukan pada saya."
Raut wajah Farel berubah garang seakan merasa kesal, padahal tuduhan tersebut benar adanya.
"Kau sok suci lagi!!"
Samuel merogoh saku celananya lalu mengambil ponsel miliknya. Dia menunjukkan pada Pak Ridwan rekaman video amatir rangkuman yang memperlihatkan ketika Farel menerima obat dari Bimo lalu mencampurkannya pada air mineral. Rekaman itu bukan di ambil dari CCTV sehingga dengan jelas persekutuan mereka terdengar.
"Tidak ada yang bisa mengendalikan diri ketika obat itu di campurkan dalam dosis tinggi Pak." Samuel berjalan ke arah loker lalu mengambil tas milik Farel dan menumpahkan semua isinya." Bukti mana yang lebih akurat." Pak Ridwan berjalan menghampiri lalu memungut sisa obat perangsang.
Segera, dia membelokkan langkahnya lalu melayangkan sebuah tamparan keras pada pipi kiri Farel. Dia merasa Farel lebih buruk dari makhluk manapun.
Aku yakin Samuel bersama Bimo saat itu! Kenapa dia bisa mendapatkan bukti rekaman?
Farel tertunduk tidak bergeming. Suara bisik-bisik mulai terdengar dari bibir para pegawai. Mereka ikut merasa lega sebab selama ini Farel satu-satunya orang yang menunjukkan perangai buruk.
"Saya terpaksa membawa Ayu pergi untuk memberikan obat penawar." Ujar Samuel bersamaan dengan datangnya Ayu.
Seramai ini? Apa karena masalah semalam..
"Bapak bisa tanyakan langsung pada Ayu." Menunjuk ke arah Ayu yang tengah berdiri di samping Mita.
"Pak Ahmad." Gumam Ayu lirih.
"Loh bukannya kamu anak Almarhum Pak Handoko?" Ayu berjalan mendekat seraya tersenyum manis.
"Iya saya."
"Jadi dia wanita yang kau tuduh berbuat macam-macam!" Tanya Pak Ridwan geram. Dia sangat mengenal keluarga Ayu dengan baik sebab ternyata, Ayah Ayu adalah sahabat baik Pak Ridwan yang memiliki nama panjang Mohammad Ridwan.
__ADS_1
Ayu menggeser tubuhnya mendekat ke Samuel. Dia tidak mengerti situasinya.
"Aku tidak menceritakan keindahan yang terjadi semalam. Aku mengatakan sudah memberikan obat penawar. Katakan saja jika semalam kamu tertidur di kontrakan ku." Bisik Samuel menjelaskan.
"Iya. Mas kan sudah berjanji." Samuel tersenyum dengan raut wajah kesal yang di perlihatkan Ayu.
"Oke Babe. Aku berada di pihakmu." Tangan kanan Ayu terangkat lalu mencubit keras lengan Samuel.
"Itu memalukan. Jangan panggil aku dengan sebutan itu!!" Mita menatap heran ke sikap yang di tujukan Ayu terhadap Samuel.
Ya apa ini? Tidak biasanya Ayu menyentuh sembarangan lelaki.
"Apa semalam dia memberikan air mineral pada mu?"
"Iya Pak. Setelah meminum air itu tubuh saya terasa panas. Beruntung Mas Sam menolong saya."
"Ini sudah kasus kriminal! Aku akan menghubungi polisi!" Ketika Pak Ridwan mengambil ponsel, cepat-cepat Farel bersimpuh di hadapannya.
"Jangan Pak. Tolong jangan membawa kasus ini ke polisi. Saya menyesal." Ujarnya memohon.
"Aku tidak menyangka jika kau berani berbuat keburukan lalu kau berusaha melimpahkannya pada Samuel! Otakmu di mana Farel!!"
"Saya khilaf. Jangan jebloskan saya ke penjara Pak. Tanggungan saya masih banyak." Ayu menatap iba ke arah Farel meski dia cukup merasa kesal.
"Yang berhak memutuskan adalah Ayu. Dia yang menjadi korban. Katakan Ayu, apa kau memaafkannya." Tanya Pak Ridwan menatap Ayu yang mulai berjalan mendekat.
"Bangun Mas." Pinta Ayu lirih. Farel berdiri lemah dengan wajah tertunduk.
"Maafkan aku Ay. Aku khilaf."
"Mas punya Ibu?" Tanya Ayu tegas.
"Ya masih."
"Tapi kenapa Mas Farel tidak bisa menghargai wanita."
"Aku khilaf Ay."
"Sebuah perbuatan bisa di sebut khilaf ketika niat itu timbul dengan cara instan. Ini perencanaan Mas."
"Maafkan aku Ay. Tolong jangan membawa kasus ini ke polisi." Ayu memundurkan tubuhnya ketika Farel akan menyentuh tangannya.
"Untung saja saya pemaaaf." Ayu tersenyum sehingga membuat Farel bernafas lega.
"Terimakasih Ay."
"Ya." Tanpa aba-aba Ayu mengayunkan tangannya dan melayangkan tamparan sebanyak dua kali." Semoga kamu tidak memiliki Adik perempuan." Ayu meraih botol minuman untuk membersihkan tangan lalu menyiratkan sisanya pada wajah Farel.
Sial!! Dia mempermalukan ku!!
"Saya sudah memaafkannya Pak." Tanpa rasa sungkan, Ayu memperlihatkan sebuah senyuman pada Pak Ridwan.
"Cepat pergi. Saya tidak mau melihat wajahmu lagi!!" Pinta Pak Ridwan kasar. Sambil menahan emosi, Farel melangkahkan kakinya pergi.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹