
Warning!!!!
Bagi yang tidak menyukai adegan fulgar. Mohon di skip😁😁
Terimakasih ❤️💙❤️💙
Happy reading 💦💦
"Buka saja kalau panas." Pinta Samuel asal bicara.
Tanpa banyak berprotes Ayu melepaskan kaos longgarnya dan menyisakan baju dallam miliknya.
"Sudah Mas." Jawab Ayu polos." Apa perlu aku membuka ini?" Menyentuh celana panjangnya.
Ini sudah menjadi hak ku..
"Biar ku bantu." Samuel menunduk untuk melepaskan pengait celana sehingga wajah keduanya berada sejajar.
Ayu yang sudah terbawa hasrat , langsung membenamkan kepala Samuel pada dua gundukan miliknya.
Segera saja Samuel mengangkat tubuhnya walaupun pengait celana jeans belum selesai di lepas.
"Ah.."
Dessah Ayu dengan bibir tersungging. Dia menunduk dan sesekali mendongak ketika bibir Samuel mulai menjelajahi leher dan dadanya.
"Sebelah sini Mas." Pintanya seraya menunjuk bagian tubuhnya. Samuel menghembuskan nafas berat atas permintaan Ayu yang mengoyak pertahanannya.
Tubuh Ayu di baringkan lalu di pandangi beberapa saat. Seakan tidak sabar, Ayu mengalungkan tangannya sambil menekan leher Samuel.
"Sabar dulu. Kita lakukan pelan-pelan."
"Sebelah sini. Aku tadi meminta nya." Samuel tersenyum simpul lalu mencumbu bagian tubuh yang tidak sesuai." Bukan di situ Mas." Protes Ayu di tengah lenguhannya.
"Yang mana Babe." Tanya Samuel menggoda.
"Ini Mas. Ayo, tempelkan bibirmu di sana dan berikan sedikit gigitan."
Samuel melepaskan kaosnya dan melakukan sentuhan sesuai perintah. Tubuh Ayu menggelinjang merasakan sensasi percintaan yang sudah lama tidak di rasakan.
"Katakan kalau kamu mencintai ku."
"Kenapa Mas Sam berhenti?" Tanya Ayu dengan nafas memburu.
"Katakan dulu baru ku lanjutkan."
"Kamu Suami ku. Sudah pasti aku mencintaimu."
"Aku tidak mau melakukannya jika setengah hati." Samuel akan menegakkan tubuhnya namun tangan Ayu melingkar erat di pinggangnya
"Tidak Mas. Jangan pergi." Fikiran Samuel seakan melayang entah kemana. Kata-kata Ayu sungguh membuat perasaannya jatuh semakin dalam.
Kebahagiaan ku tidak dapat di ukur oleh apapun..
__ADS_1
"Aku mencintaimu." Ayu mendekatkan wajahnya lalu melummat bibir Samuel lembut.
Itu sudah cukup. Aku akan memasuki mu sekarang. Semoga saja benih ini segera tumbuh agar kamu bisa ku miliki seutuhnya..
Samuel membalas lummatan dengan begitu panas. Tubuh Ayu semakin di rapatkan. Kedua bibir saling bertaut, saling memasuki sehingga pertukaran saliva tidak terhindarkan.
Apa dia masih menganggap ku mabuk?
Tanpa sepengetahuan Samuel, ternyata Ayu tidak semabuk perkiraannya. Minuman keras yang tercampur dengan air mengikis tingginya kandungan alkohol yang seharusnya mempengaruhi otak Ayu.
Ayu masih sadar dan sengaja berakting mabuk untuk membantunya melakukan kewajiban yang semestinya di lakukan.
Apalagi Samuel menyuguhkan sentuhan yang lebih memabukkan daripada minuman keras. Sehingga awan hitam yang ada di sekitar hati Ayu perlahan terhempas karena cinta tulus yang coba Samuel berikan.
Tubuh Ayu menegang dengan mata terpejam ketika Samuel berhasil memasukkan miliknya. Nafas panjang sempat berhembus karena Ayu merasakan sensasi sesak yang terjadi di dalam.
Entah milik Samuel yang lebih besar atau miliknya sudah lama tidak di masuki. Tapi rasa perih dan nyeri kini Ayu rasakan ketika benda panjang itu menyeruak masuk.
"Mas.. Sedikit sakit." Wajah Ayu meringis seraya menunduk dan berusaha memeriksa." Sebentar Mas. Lepaskan dulu." Pinta Ayu takut. Malam pertamanya bersama Dika bahkan tidak sesakit sekarang.
"Kalau di cabut akan semakin sakit. Lihat aku, jangan menunduk." Ayu tidak mendengar karena memikirkan ketakutannya sendiri." Babe.." Samuel mengangkat dagu Ayu sementara tangan kanannya menahan tubuhnya agar tidak ambruk.
"Cabut dulu Mas." Ayu berusaha berpaling dan merasa malu untuk melakukan kegiatan saling menatap.
"Tidak. Mana mungkin."
"Ugh.. Nyeri sekali." Eluhnya mendesis.
"Aku ingin menjadi sedikit jahat. Aku tidak yakin kamu sudah pernah menikah." Samuel merasakan sensasi pijatan pada miliknya. Rasanya seperti memasuki milik seorang gadis..
"Bukankah kamu tahu akan semakin nyeri nantinya."
"Iyha tapi..." Samuel membungkam mulut Ayu dengan bibirnya. Pinggangnya mulai bergerak perlahan seiring dengan tubuh Ayu yang mencoba menolak. Tangannya memukul-mukul pundak Samuel agar Samuel menghentikan lumattan nya.
Sesak! Aku tidak bisa bernafas...
Ayu mengigit bibir bawah Samuel yang langsung menjauhkan wajahnya.
"Hah.. Aku tidaaak Ah... Bernafas..."
"Maaf. Agar kamu tidak berprotes. Sekarang, kamu menikmatinya kan." Samuel tersenyum simpul sesekali melenguh panjang seraya menatap wajah tegang yang Ayu perlihatkan.
"Iniihhh... Mas Sam.." Kedua tangannya Ayu mencengkram erat kedua pundak Samuel. Matanya terpejam dengan bibir setengah terbuka.
Milik Samuel menghantam dinding rahimnya kuat. Menimbulkan sensasi yang tidak sanggup di utarakan dengan kata-kata.
Bukan hanya dessahan saja yang menggema. Beberapa kali jeritan terdengar ketika Samuel menambahkan tempo gerakannya.
Dia lebih tangguh. Nikmat sekali...
Beberapa saat kemudian, Ayu kembali menjerit saat Samuel akan mencapai pelepasan. Gerakkan pinggang nya semakin brutal di iringi dengan suara erangan dan nafas memburu. Bukan hanya mengobrak-abrik. Tapi milik Samuel menusuk sedalam-dalamnya hingga memaksa Ayu mengigit pundak tegap itu saat benih terasa menyembur keluar.
"Sakit..." Eluh Ayu dengan tubuh bergetar.
__ADS_1
Samuel tersenyum dan berbaring di sisinya setelah mengenakan celana dallam.
"Syukurlah kamu sadar. Aku menjadi lega." Ayu menarik nafas panjang setelah menyadari kebohongannya terbongkar." Setelah ini kamu akan ketagihan." Imbuhnya tertawa kecil. Tangannya menelusup masuk ke bawah leher Ayu lalu merengkuhnya erat." Apa perlu aku menciumnya." Sontak Ayu mendongak.
"Apa yang di cium?"
"Yang terasa nyeri."
"Tidak." Memalukan sekali..
"Ya sudah. Terimakasih atas bonusnya. Aku tidak menginginkan itu tapi kamu menawarinya." Ayu kembali terdiam. Dia merasa malu walaupun kepuasan sudah beberapa kali di dapatkan." Seharusnya tidak perlu berpura-pura mabuk. Kamu tinggal berkata jujur. Aku akan memberikan sebanyak yang kamu mau." Ayu mencubit perut Samuel keras." Aahhh Babe... Ampun. Aku akan diam." Imbuhnya tidak berhenti berceloteh. Dia sengaja terus bicara agar Ayu terpancing.
Sudah terlanjur malu..
"Aku lapar Mas." Ucap Ayu setelah beberapa menit berjalan.
"Apa masih kuat untuk berjalan. Di sini sangat indah ketika malam hari. Aku tadi berencana mengajak mu makan di restoran favorit ku. Tapi kalau kamu masih lemas, biar ku pesankan saja." Ayu menahan tangan Samuel yang akan meraih ponsel.
"Sebentar Mas."
"Hm. Beristirahat saja dulu. Masih pukul delapan."
Kenapa Mas Samuel tidak lemas setelah pelepasan.
Ayu mengingat ketika Dika selalu meninggalkannya tidur saat pelepasan sudah di dapatkan. Kalaupun tidak tidur, dia tidak pernah mendekapnya seperti apa yang di lakukan Samuel sekarang.
Nyaman sekali...
Batin Ayu secara mencari posisi nyaman untuk kepalanya. Terlihat dia tersenyum karena berhasil mengalahkan egonya dan mampu memberikan percintaan yang Samuel inginkan.
Walaupun sudah merasakannya. Tapi aku tetap malu untuk mengawali permintaan itu..
Suara berat Samuel kini memenuhi telinga. Paras tampan berkeringatnya mulai menempel di ingatan. Di tambah dengan tubuh sixpack nya dan ketangguhannya. Sungguh itu merupakan surga dunia untuk sebagian wanita.
Aku yakin sangat banyak wanita yang menginginkannya. Sekarang aku takut jika ada seseorang yang lebih sempurna datang lalu kembali menghancurkan rumah tanggaku..
Ayu tiba-tiba duduk dengan selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Tangannya meraih baju namun dengan cepat Samuel meletakkan sebuah handuk kimono ke pangkuannya.
"Sudah lebih baik?" Tanya Samuel memastikan.
"Masih sedikit nyeri tapi aku yakin akan menghilang nanti." Ayu memakai handuk kimono lalu memungut baju yang tergeletak di lantai. Hatinya kembali di liputi kekalutan hingga membuatnya enggan menatap Samuel.
Ayu takut terlalu jatuh ke dalam perasaan cinta yang nantinya bisa membunuhnya sendiri. Meski kewajiban harus di lakukan. Ayu berjanji untuk melakukan semuanya bukan atas dasar cinta.
Maaf Mas. Aku tidak bisa menyerahkan hatiku sepenuhnya..
Kenapa lagi dia? Samuel berjalan menghampiri lalu merebut baju dari tangan Ayu.
"Kamu marah?" Tanya Samuel menebak.
"Tidak Mas." Ayu memperlihatkan senyum palsu." Em.. Aku akan membersihkan diri sebentar." Ayu berjalan masuk ke dalam kamar mandi tanpa perduli dengan tatapan Samuel yang tengah mencari-cari kesalahannya.
Kenapa kamu memperlihatkan wajah itu lagi? Padahal tadi kamu sangat bersemangat..
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹