Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Jauh dari kata Tuan muda


__ADS_3

Rentetan kejadian aneh yang terjadi hari ini cukup membuat Ayu tidak memperlihatkan senyumannya. Walaupun Mita berusaha untuk menghibur dengan candaan receh, wajah Ayu terlihat datar dan hanya memperlihatkan sebuah senyuman getir.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Para pegawai mulai membereskan beberapa meja dan kursi walaupun beberapa pengunjung masih tampak bersantai.


"Ay." Sapa Mita menepuk pundak Ayu hingga membuatnya berjingkat.


"Ah! Mita!! Sialan!!" Mita malah terkekeh melihat kemarahan Ayu.


"Aku sungguh minta maaf."


"Maaf tapi kau ulangi lagi! Serius Mit! Aku tidak sedang ingin bercanda!"


"Iya iya. Tapi aku minta maaf bukan karena itu."


"Terus apa?" Mita menunjukkan isi chat tunangan Mita yang akan menjemputnya jam tujuh." Apa yang salah." Tanya Ayu pelan.


"Aku tidak bisa menepati janji."


"Pergilah. Tidak ada barang yang perlu di tata. Aku ke rumahnya hanya bermodalkan cinta dan kasih sayang yang sudah terkubur karena keputusannya!"


"Pelan-pelan. Nanti akan ku ambilkan barang-barang yang tidak terpakai di rumah. Sepertinya Kakakku punya." Ayu menoleh cepat.


"Barang apa?"


"Teko, gelas, panci dan kompor." Ayu menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar.


"Agar kostan itu meledak? Kau tahu aku tidak bisa memasak. Jangan bercanda kamu Mit."


"Sampai sekarang?"


"Hm. Aku bahkan lupa bagaimana cara memutar kompor gas." Mita kembali terkekeh seraya menepuk-nepuk pundak Ayu.


"Kita satu server."


"Lalu untuk apa kamu tertawa?"


"Untuk menertawakan kita dan agar kau tertawa! Sialan!! Kenapa sejak tadi wajahmu terlihat sangat buruk! Angkat ujung bibir ini sedikit saja." Kedua tangan Mita terangkat lalu mulai mencubit pipi Ayu sedikit keras.


"Singkirkan! Jangan banyak bicara. Cepat pulang." Jawab Ayu seraya menyingkirkan tangan Mita dari wajahnya.


"Aku akan ke kontrakan mu besok pagi."


"Ya baik."


"Habiskan air matamu untuk lelaki sialan itu malam ini. Lalu perlihatkan senyuman esok hari." Ayu kembali menghembuskan nafas berat.


"Mana bisa hati di atur seperti itu."


"Bisa. Kau harus bisa. Coba ingat ketika dia berkhianat. Itu akan memudahkan mu membencinya."


"Akan ku coba."


"Aku pulang ya."


"Hati-hati di jalan. Lain kali, kenalkan dia padaku. Aku ingin tahu bagaimana bentuk lelaki idaman mu."


"Akan ku bicarakan dengannya. Dia sedikit sulit di ajak negoisasi. Sampai jumpa besok." Mita mencium pipi kanan dan kiri Ayu kemudian pulang.


Aku akan mengambil tasku..


Ayu beranjak dari tempatnya lalu menuju ke belakang untuk mengambil tasnya.


"Pulang Ay?" Sapa Faris ramah.

__ADS_1


"Iya." Ayu tersenyum simpul kemudian melewati Faris dan mengambil tasnya.


"Ada pesan dari Mas Samuel." Sontak Ayu menghentikan langkahnya.


"Ada apa?"


"Dia menunggumu untuk makan malam."


"Di mana itu?" Faris terkekeh kecil.


"Aku tidak tahu."


"Aneh sekali!"


"Dia hanya menitipkan pesan itu."


"Oh. Apa tidak masalah jika aku pulang duluan?" Sejak tadi, Faris sudah menyuruh Ayu pulang lebih awal atas perintah Samuel.


"Tidak apa, Aku akan tinggal di sini. Mas Sam memilihku untuk menggantikan posisi Farel. Pak Ridwan memperbolehkan ku tinggal di sini karena jarak rumahku yang jauh."


"Hm. Aku pulang. Masih ada dua orang pengunjung di depan." Ayu melangkah keluar ruangan seraya menatap sekitar yang sudah sepi dan menyisakan dua orang pengunjung yang di bicarakan.


Ayu tersenyum sejenak pada Faris lalu berjalan keluar. Dia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Samuel yang katanya ingin mengajaknya makan malam.


Tidak tampak seorangpun di area parkir sehingga Ayu memutuskan untuk pulang saja. Namun ketika dia melewati jalan menuju kontrakan. Langkahnya terhenti saat melihat Samuel duduk menunggunya di trotoar.



Ayu yang merasa tidak yakin, mencoba melewati Samuel begitu saja setelah menyapanya dengan senyuman.


"Hei Babe." Samuel berdiri lalu menghampiri Ayu sudah menghentikan langkahnya meski masih memunggunginya." Kamu tidak menerima pesan dari Faris?" Kini keduanya berdiri saling berhadapan.


"Iya."


Lelaki ini baik! Tapi sedikit tidak waras. Aku merasa sungkan jika harus menolak. Padahal aku ingin sendiri.


"Aku sudah makan siang tadi." Jawab Ayu pelan.


"Kita makan malam. Aku traktir."


"Tidak Mas. Kamu sudah banyak mengeluarkan uang. Aku takut kamu kesulitan nantinya." Bukan hanya merasa sungkan, tapi hari ini Ayu benar-benar ingin sendiri dan tidak berselera makan.


"Memangnya kamu mau makan di mana?" Sengaja, Samuel melontarkan pertanyaan tersebut.


"Aku tidak mau makan."


"Uangku masih cukup kalau hanya mentraktir makanan pinggir jalan saja." Paksaan dari Samuel tentu menumbuhkan rasa kesal di hati Ayu yang memang sedang tidak ingin di ganggu." Kalau kamu ingin makan di restoran. Tunggu sebentar lagi." Imbuhnya tersenyum. Kepalanya sedikit menunduk seraya menikmati wajah masam Ayu.


"Menunggu gajian maksudnya?!"


Bukan. Menunggu kamu resmi bercerai.


"Pakai uang itu untuk membayar hutang Mas. Aku tidak mau membuatmu semakin kesulitan."


"Kamu memang selalu membuat semuanya sulit. Jangan melawan, jadi semuanya akan terasa mudah."


"Mas Sam bicara apa sih?"


"Temani aku makan. Biar ku bawakan." Samuel meraih tas kecil Ayu sehingga otomatis Ayu mengikutinya tanpa di minta.


"Kembalikan Mas." Gerutu Ayu pelan. Dia tidak ingin menjadi tontonan mengingat malam itu adalah akhir pekan.


"Agar kamu tidak lelah membawa tas ini."

__ADS_1


"Itu tidak berat."


"Lama-lama akan berat. Sudahlah, berhenti melawan dan jangan mempersulit jalan kedekatan kita." Ayu membuang muka seraya menghembuskan nafas berat.


"Aku ingin sendiri."


"Tidak akan ku biarkan kamu sendiri."


"Serius? Butuh waktu lama untuk melupakan ini."


"Tidak akan lama. Akan ku bantu mempercepat semuanya."


"Aku tidak bercanda Mas."


"Aku juga Babe. Emm.. Bu, pesan dua porsi seperti biasanya." Pintanya pada Ibu penjual nasi yang sering di datangi.


"Pacarnya Mas?" Tanya si penjual.


"Saya tidak suka berpacaran Bu. Ini calon Istri saya." Ayu mengerutkan keningnya melirik Samuel yang tengah tersenyum mengembang.


"Wah. Memangnya hutangnya sudah lunas. Kok mau nikahi anak orang. Mau di beri makan apa nantinya." Pandangan Ayu beralih pada si penjual. Dia merasa tidak suka dengan pembicaraan yang seakan tengah mendahului takdir.


"Saya ajak kesini saja. Makanan di sini kan murah." Jawab Samuel santai. Dia menggeser sebuah kursi dan meminta Ayu duduk dengan isyarat.


Entah kenapa si Ibu penjual makanan itu tidak suka ketika melihat Samuel bersama Ayu. Padahal dia sudah mengurungkan niatnya untuk menjadikan Samuel sebagai calon Suami untuk anak perempuannya.


"Warung Ibu kan bukanya malam. Kalau siang bagaimana?"


"Di fikirkan nanti Bu. Yang terpenting syah dulu."


Duh bagaimana ini? Padahal aku sudah berjanji pada Ani..


Di luar kuasa si penjual makanan. Anak perempuan yang di ketahui bernama Ani, melontarkan keinginannya untuk bisa mengenal Samuel sejak dua hari yang lalu.


Ani mengaku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan paras dan gaya berbusana Samuel yang terlihat berantakan namun tetap tampan.


Dia mirip bintang idola Korea favorit ku.


Begitulah kesan pertama yang di lontarkan Ani. Sejak malam pertemuan itu Ani merengek pada kedua orang tuanya untuk mengenalkannya pada Samuel.


Tentu saja Ibu penjual makanan menolak pada awalnya. Dia menjelaskan jika Samuel lelaki yang penuh hutang dan hanya akan menyusahkan hidupnya. Tapi Ani tidak perduli dan mendesak kedua orang tuanya untuk menjodohkannya dengan Samuel.


"Memangnya calon Istri mu kerja di mana?"


"Sama Bu."


"Walah. Gawat itu. Seharusnya kamu cari yang gajinya lebih dari perkerjaan di Cafe itu." Samuel tersenyum dan menanggapi ucapan tersebut hanya candaan yang sering di katakan si penjual makanan." Bakalan tambah susah hidupmu, apalagi nanti kalau sudah punya anak." Celotehnya lagi dan lagi.


"Saya akan bertanggung jawab."


"Bagaimana bisa tanggung jawab kalau membayar hutang saja masih kembang kempis. Begini saja Nak Sam. Kamu bantu-bantu saja di warung Ibu. Nanti biar Ibu cicil hutang mu. Asalkan, kamu mau Ibu jodohkan dengan..." Ucapan di penjual terhenti ketika dia melihat kedatangan Ani, anak semata wayangnya.


🌹🌹🌹


Visual AyundaπŸ‘‡



Aku pakai fotonya Nancy 😁 Karena sangat cocok untuk karakter Ayu yang cantik dengan tubuh sedikit berisi. Semoga sukaπŸ₯°



πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™

__ADS_1


__ADS_2