Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Kedatangan Mita


__ADS_3

Setelah insiden mengerikan terjadi, Samuel semakin ketat menerapkan peraturan. Ayu di larang keras berada di rumah sendiri ketika dia pergi untuk pertemuan.


CCTV bahkan terpasang di setiap sudut ruangan di sertai kunci sensor sidik jari. Hanya para pembantu, penjaga rumah, Dimas juga Samuel dan Ayu yang bisa masuk ke dalam. Terdengar berlebihan tapi tentu saja Samuel tidak menerima protesan itu meskipun Ayu yang melontarkannya.


Ayu memperhatikan jari-jari miliknya. Terlihat buruk tanpa kuku yang menghiasi. Akibat insiden tersebut, dia harus rela kehilangan kuku yang terpaksa harus di bersihkan untuk menghindari infeksi.


"Kata dokter akan tumbuh beberapa bulan ke depan." Ayu menoleh ke arah Samuel yang baru saja datang dengan kopi di tangannya.


"Bagaimana menurutmu Bee. Ini kelihatan aneh dan buruk. Aku harus membeli kaos tangan untuk menutupi nya." Tanya Ayu memperlihatkan jarinya. Samuel tersenyum lalu meletakkan kopi di meja dan mengecup pipi Ayu sejenak baru menempelkan bokongnya tepat di samping Ayu.


"Tidak perlu di tutupi. Aku tidak malu. Kalau memakai sarung tangan, kesannya malah aneh."


"Iya sudah. Em cepat minum kopinya. Aku minta sedikit."


"Caffein tidak baik untuk wanita."


"Hanya sedikit. Ayolah. Aromanya sangat sedap Bee." Samuel mengambil cangkir kopi lalu meniup-niupnya sejenak. Dia menyeruput sedikit kopi dan menyodorkannya ke mulut Ayu.


"Hehe. Kopi pahit lebih terasa nikmat." Puji Ayu seraya manggut-manggut.


"Ini tidak baik Babe."


"Iya kan sedikit."


"Awas kalau minta lagi." Samuel meletakkan kembali cangkir kopi di atas meja.


"Tadi sedikit sekali Bee. Kopi nya masih panas."


"Kalau tidak panas nanti kembung." Jawab Samuel asal. Pembicaraan memang selalu berputar-putar namun dia sudah sangat terbiasa.


"Maksudku..." Ucapan Ayu tertahan ketika Samuel membungkam mulutnya dengan bibirnya.


"Kenapa kamu bandel sekali." Ayu menggeser sedikit tubuhnya untuk menghindari serangan bibir Samuel.


"Kalau panas kan memang..." Dengan cepat Samuel kembali membungkam bibir nya." Bee. Biarkan aku berbicara dulu." Rengek nya menjauhkan wajah Samuel.


"Pokoknya tidak boleh banyak minum kopi pahit." Karena seringnya Ayu mencicipi kopi hitam milik Samuel, membuatnya merasa ketagihan dan selalu meminta sedikit ketika Samuel membuat kopi.


"Iya kan sedikit Bee."


"Sudah cukup Babe."


"Kalau begitu ayo keluar membeli telur gulung. Pakai motorku Bee." Samuel terkekeh mendengar permintaan Ayu yang selalu membahas soal makanan. Keduanya bahkan sering pergi ke sekolah dasar terdekat hanya untuk membeli jajanan anak kecil.


Bukan hanya telur gulung. Ayu selalu lupa diri dan membeli semua jajanan dari banyaknya gerobak penjual yang berjajar di depan sekolah dasar.


"Hanya telur gulung?"


"Iya hanya telur gulung." Jawab Ayu pelan. Mulai membayangkan ketika dia berhasil merajuk Samuel membeli semua jajanan dari bakso bakar, cilok, cimol, telur gulung dan banyak lagi.


"Kamu tidak takut gendut?"


"Tidak. Katanya kamu mau menerima ku apa adanya?"


"Ya oke. Ayo kita pergi tapi memakai motorku. Lutut ku tidak muat Babe."


"Tapi aku ingin memakai motor ku Bee."


"Ayolah Babe. Jangan membuat semuanya sulit."


"Apa karena motorku murahan."


"Bukan begitu."


"Hanya sebentar dan sampai. Kamu bisa menahan kesakitan nya sedikit saja." Samuel menelungkup wajahnya lalu mengecupi nya karena merasa gemas." Atau aku akan berangkat sendiri." Ancamnya lagi.


"Hobi sekali mengancam. Kamu memang..."

__ADS_1


"Memang menyebalkan?" Tanyanya ketus.


"Tidak kamu salah lagi. Memang sangat menggemaskan. Aku sampai ingin mengigit pipimu." Samuel mengigit pipi Ayu lembut yang sontak membuat Ayu berteriak.


"Sakit Bee!!"


"Hehehehe. Ayo pergi." Samuel tidak perduli dengan eluhan Ayu dan langsung meraih pergelangan tangan Ayu untuk memaksanya berdiri. Dia meminum sisa kopi dan berjalan keluar kamar.


"Sakit Bee. Pipiku nanti kendor."


Masih saja Samuel tersenyum tanpa membalas perkataan Ayu. Dia mengambil kunci yang tersimpan di sebuah laci dan masuk ke dalam bagasi.


Terlihat, lututnya membentur body depan motor Ayu namun apalah daya, Samuel tidak ingin membuat Ayu menebaknya macam-macam. Dengan menuruti permintaan, dia bisa menikmati senyum Ayu lewat spion motor.


Setibanya di tujuan, Ayu yang merasa antusias langsung turun dan memesan sebelum anak sekolah dasar beristirahat. Dan benar, bukan hanya satu menu yang di pesan. Melainkan semua jajanan yang ada di sana.


Samuel menunggu di atas motor, sementara Ayu menunggu pesanannya di buat. Beberapa menit kemudian, Ayu kembali dengan banyaknya bungkusan makanan di tangannya.


"Katanya hanya telur gulung?" Tanya Samuel seraya menatap Ayu yang tengah menunduk untuk menggantung kantung makanan.


"Sudahlah Bee. Ayo pulang." Jawab Ayu naik ke boncengan.


Samuel melajukan motornya kembali. Baru saja motor terparkir di bagasi. Bik Ijah yang sudah kembali dari kampung menghampiri keduanya.


"Ada tamu Non. Saya suruh tunggu di teras."


"Siapa Bik?"


"Em kalau tidak salah namanya Mita." Ayu menoleh ke arah Samuel yang langsung memperlihatkan wajah tidak suka.


"Sebenarnya aku malas berhubungan dengan orang semacam mereka. Tapi kalau bukan karena Mita, mungkin saja nyawamu tidak terselamatkan." Gumam Samuel belum sempat mengucapkan kata terimakasih pada Mita.


"Jadi boleh ku temui." Tanya Ayu pelan.


"Ya asal bersamaku."


"Hm Bee." Ayu masuk lewat pintu samping lalu meletakkan bungkusan makanan di atas meja. Sementara Samuel duduk di sofa ruang tamu, Ayu berjalan ke pintu utama untuk menyambut kedatangan Mita.


"Silahkan masuk." Jawab Ayu mempersilahkan. Walaupun dia masih was-was pada Mita, tapi dia cukup terenyuh mendengar kenyataan jika Mita yang sudah memberikan kabar pada Samuel.


"Terimakasih untuk informasinya dan maaf sudah menuduh mu macam-macam." Ucap Samuel tidak ingin basa-basi.


"Sama-sama Mas Sam. Aku juga kebetulan datang karena ada keperluan." Mita mencoba menjaga pandangannya karena tidak ingin Ayu menyebut nya macam-macam." Bagaimana keadaan mu Ay." Tanyanya pelan.


"Aku baik Mit. Tangan ku saja yang masih tidak baik. Em aku tadi membeli banyak makanan. Silahkan di coba. Bik sekalian ambilkan piring." Pinta Ayu setengah berteriak.


"Iya Non." Jawab Bik Ijah dari dalam.


"Hehe jadi ingat waktu sekolah dasar." Tanpa sadar Mita tertawa ketika melihat jenis makanan yang di beli Ayu. Dia benar-benar sudah melupakan ketertarikannya pada Samuel dan lebih memilih ingin menjalin pertemanan dengan Ayu lagi.


"Dia menginginkan itu setiap hari." Jawab Samuel lirih.


"Rasanya enak Mit. Tidak ada tandingannya hehe."


"Em sebenarnya aku ada sedikit keperluan Ay. Bagaimana ya. Seharusnya ini bukan lagi urusan ku tapi aku kasihan pada Bu Erna." Bik Ijah datang dengan membawa sirup dingin dan piring kosong pesanan Ayu.


"Bu Erna? Kenapa dia Mit?" Tanpa di suruh Samuel menyiapkannya makanan di atas piring kecuali si telur gulung dan bakso bakar.


"Mas Alan Ay. Itu, keadaannya memprihatinkan. Dia stres berat setelah..." Mita menatap ke arah Samuel.


"Setelah aku menjatuhkan perusahaan nya." Sahut Samuel menimpali.


"Ya Mas."


"Mereka manusia yang tidak tahu terimakasih. Aku sudah membantunya tapi dia ingin merebut Istriku."


"Jadi itu benar Mas."

__ADS_1


"Tidak sepenuhnya benar. Aku hanya mencabut saham yang ku tanam. Aku tidak menyentuh usahanya apalagi menjelek-jelekkan nya."


"Tapi perusahaan itu bangkrut Mas."


"Itu karma instan!" Jawab Samuel ketus.


"Keadaannya benar-benar memprihatinkan Mas. Seharusnya dia di bawa ke rumah sakit jiwa tapi Bu Erna tidak memiliki uang untuk itu." Jawab Mita menjelaskan.


"Masih tidak percaya soal larangan ku Mit." Ayu menghela nafas panjang saat pertemuan terakhir dengan Mita melintas." Aku lupa kita tidak lagi berteman jadi lupakan ucapan ku tadi." Mita tersenyum simpul seraya menatap Ayu.


"Aku ingin jujur Ay. Aku memang tidak tahu diri. Aku menyalahkan mu atas ketidaksempurnaan ku. Seharusnya aku bersyukur ada orang secantik kamu yang mau berteman dengan orang berwajah standar seperti ku."


"Kamu bilang apa sih Mit?"


"Aku sejak awal memang iri padamu. Tapi kamu terlalu lugu untuk menyadarinya."


"Aku tidak seberapa cantik kenapa kamu iri." Samuel menghela nafas panjang. Melirik malas ke arah Ayu yang sampai saat ini tidak mau mengakui kecantikannya sendiri.


"Kamu cantik. Obrolan ini terlalu jauh. Aku harus berkerja setelah ini. Em aku sebenarnya sudah tidak mengharapkan apapun dari Mas Alan. Aku hanya merasa kasihan dengan Bu Erna. Katanya Dika sudah tidak lagi perduli semenjak hidup bersama Istri barunya. Sementara untuk meminta bantuan tetangga, Bu Erna merasa sungkan. Jadi aku tidak ada tujuan lain selain kamu. Aku harap kamu mempertimbangkan permohonan ku."


"Aku terserah Mas Sam. Dia mengurungku sejak kejadian kemarin." Jawab Ayu pelan.


"Nanti ku bicarakan dengan Dimas." Jawab Samuel pelan.


"Benar begitu Mas Sam."


"Ya daripada harus membicarakan ini tiada henti. Lebih baik aku mengalah saja." Samuel yakin kalau Ayu akan merajuknya sampai dia mendapatkan keinginannya sehingga Samuel mengiyakannya saja.


"Terimakasih ya Mas Sam."


"Hm sama-sama."


"Aku permisi ya Ay. Aku harus kembali berkerja."


"Bagaimana dengan makanan nya?" Menunjuk ke piring yang penuh dengan jajanan anak kecil.


Serius dia menawarkan nya. Semua itu akan berpindah ke perutnya dalam waktu setengah jam..


"Makanlah bersama Mas Sam Ay. Aku benar-benar tidak ada waktu banyak." Mita meminum sedikit sirup dingin kemudian berdiri di ikuti oleh Ayu." Aku berharap kamu mau memaafkan khilaf ku tempo hari." Ucap Mita melontarkan harapannya.


"Entahlah akan ku fikirkan. Maaf." Ayu masih tidak menginginkan seorang kerikil tajam hadir untuk merusak rumah tangganya.


"Ya aku mengerti. Hubungi aku kalau kamu berubah fikiran. Aku permisi, terimakasih Mas Sam." Mita melangkah pergi dan secara otomatis Bik Ijah mengekor untuk kembali menutup pintu.


Ayu kembali duduk lalu memangku piring penuh jajanan anak kecil dan mulai melahapnya.


"Kamu serius kan Bee?"


"Hm akan ku hubungi Dimas untuk mengurus itu." Ayu mengangguk seraya bergumam." Enak?" Tanyanya pelan.


"Enak Bee."


"Berarti bakso bakarnya untukku." Dengan gerakan cepat Ayu mengambil bakso bakar dan telur gulung lalu menjauhkannya dari Samuel.


"Tidak. Ini untuk ku. Tadi kamu tidak bilang minta."


"Bagi sedikit saja." Selalu saja Samuel menggoda Ayu dengan berpura-pura meminta jajanan yang di beli.


"Tidak Bee. Ini saja kurang. Seharusnya tadi kamu pesan sendiri."


"Tapi kamu menawari Mita." Ayu memelankan kunyahannya lalu melirik banyaknya jajanan yang di beli.


"Cicipi yang ini saja, jangan bakso dan telur gulung nya." Dengan berat hati dia menyodorkan piring ke arah Samuel.


"Berarti ini untuk ku." Samuel mengambil alih piring cepat.


"Di cicipi Bee, bukan di ambil semua." Protes Ayu panik.

__ADS_1


"Hahaha dasar." Samuel malah menyuapi Ayu karena dia memang tidak seberapa menyukai jajanan tersebut." Biar ku suapi. Ambil semuanya aku tidak minta." Imbuhnya lirih.


🌹🌹🌹


__ADS_2