Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Rahasia masa lalu


__ADS_3

Setelah membersihkan diri, Ayu dan Samuel turun untuk menikmati makan siang di jam tiga sore. Selalu saja waktu berjalan begitu saja ketika keduanya terbuai dengan sebuah percintaan panas.


"Seharusnya tadi Bibik Istirahat dulu." Ucap Ayu seraya duduk.


"Tidak apa Nyah. Saya bisa langsung kerja kok."


"Setelah ini saya ambilkan uangnya Bik." Sahut Samuel menimpali.


"Terimakasih Tuan." Syukurlah Gusti. Nyonya Ayu sekarang sudah bisa hidup dengan normal. Tidak seperti saat bersama Tuan Dika.


Bik Ratih menuangkan air putih seraya memperhatikan Ayu yang tengah makan dengan lahapnya. Dia merasa ikut senang sebab sejak awal menjadi pembantunya, Bik Ratih sangat perduli pada Ayu.


"Makan yang banyak Nyah, biar cepat hamil." Pinta Bik Ratih tersenyum.


"Amin Bik. Ingin sekali rasanya. Tapi masih takut tidak bisa menjaganya Bik."


Sebaiknya ku katakan saja. Aku juga sudah tidak berkerja untuk Tuan Dika. Kasihan juga kalau Nyonya terus menyalahkan dirinya atas insiden itu.


"Nyonya sudah menjaganya dengan sangat baik."


"Kenyataannya dia tidak mau ikut saya Bik."


"Maaf Nyah. Itu bukan salah Nyonya. Itu salah Tuan Dika." Sontak Ayu berhenti mengunyah lalu menoleh.


"Dia memang tidak menginginkan anak Bik. Tapi tidak seharusnya dia mendoakan calon anaknya dengan begitu buruk." Ayu masih menganggap jika kala itu doa Dika yang sudah membuat janin di rahimnya gugur.


"Itu Nyah. Bibik lihat Tuan mencampurkan obat di susu yang Nyonya minum pagi itu." Ayu menelan makanannya cepat dan kembali menoleh." Saya di ancam Tuan untuk tidak berbicara. Soalnya waktu itu saya tidak sengaja memergokinya." Ayu meletakkan sendoknya sampai menimbulkan bunyi. Kebenaran yang Bik Ratih katakan cukup membuat emosinya terkoyak.


"Maksud Bibik, dia membunuh darah dagingnya sendiri dengan mencampurkan obat pada susu saya?"


"Iya Nyah." Samuel ikut merasa kesal dengan perbuatan keji yang di lakukan Dika. Tidak ada manusia yang lebih buruk dari pembunuh darah dagingnya sendiri.


"Tega sekali Mas Dika." Umpat Ayu dengan manik berkaca-kaca. Menimbulkan perasaan sesak yang sontak menghilangkan selera makannya." Bukankah lebih baik dia menceraikan ku saja setelah anak itu lahir daripada harus membunuh nya!!" Kebencian Ayu pada sosok Dika semakin menjadi-jadi. Rasa bersalah yang masih ada menimbulkan rasa sesak di hati.


"Bibik mau bercerita tapi Bibik takut Nyah. Maaf."


"Bukan salah Bibik. Mas Dika memang tidak waras."


"Dia juga melakukan hal yang sama pada Istrinya Nyah. Hanya saja, Non Tania lebih dulu tahu dan menaruh curiga."


"Dia mau mengugurkan anak Tania?" Bik Ratih mengangguk pelan.


"Itu masa lalu Babe." Sahut Samuel mengusap lembut punggung Ayu. Dia menyadari raut wajah Ayu yang langsung berubah tidak baik.


"Dia sudah berbentuk Bee. Memiliki tangan dan kaki juga kepala. Bagaimana mungkin dia tega melakukannya!"


"Nyatanya dia menyingkirkannya."


"Duh Bibik jadi buat Nyonya bersedih."


"Bibik ingat bagaimana sikapnya waktu itu kan?" Bukan hanya umpatan yang Ayu terima. Dika juga menertawakan dirinya yang di anggap tidak becus menjaga janin itu. Dika yang tidak ingin di salahkan, dengan tega mengolok-olok Ayu seakan gugurnya janin terjadi karena Ayu.


"Memang Nyonya Ayu terlalu baik untuk Tuan Dika. Yang penting sekarang Nyonya sudah dapat penggantinya." Jawab Bik Ratih berusaha menghibur.


"Entahlah Bik." Ayu berdiri cepat.

__ADS_1


"Mau ke mana? Kita belum selesai makan."


"Sudah kenyang Bee." Jawabnya berjalan keluar ruang makan.


"Dia melarang ku membalas perbuatannya tapi kamu selalu saja mengoyak emosiku." Gumam Samuel mengikuti langkah Ayu untuk merajuknya makan.


Semoga tidak menjadi masalah besar. Batin Bik Ratih sedikit menyesali pembahasannya sampai membuat Ayu kehilangan selera makan.


.


.


.


Samuel membuka pintu kamar dan terlihat Ayu tengah berdiri di samping jendela. Tatapannya lurus ke depan dengan kedua tangan terlipat di perut.


Segera saja Samuel menghampirinya, melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Ayu dan mendekapnya dari belakang.


"Mau ikut mengambil uang?" Tanya Samuel menawarkan. Berharap suasana hati Ayu kembali membaik setelah berjalan-jalan sebentar.


"Aku di rumah saja Bee." Samuel menghela nafas panjang. Kepalanya tertunduk lalu bersandar lemah di pundak Ayu.


"Ya sudah kita di rumah saja."


"Kamu sudah berjanji pada Bibik."


"Mana mungkin aku meninggalkan mu dalam keadaan tidak baik seperti sekarang. Besok juga bisa."


"Bibik mungkin membutuhkan uangnya untuk keperluan lain."


"Kamu menggoda ku?" Tangan kanan Ayu terangkat lalu mendorong lembut kepala Samuel agar menempel di pipinya.


"Kamu hanya tergoda dengan makanan anak kecil itu. Jika kamu menyukai hal seperti tas dan lainnya, mungkin aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke mall."


"Mereka enak. Walaupun harganya sangat murah."


"Hm kita beli itu sekarang sekalian mengambil uang untuk Bibik." Ayu menghela nafas panjang. Dia berusaha mengendalikan rasa benci yang kini berkecamuk di dalam hatinya. Ingin sekali dia mendatangi Dika dan mengumpat lelaki tidak berhati itu atau paling tidak menampar wajahnya sebagai pelampiasan amarahnya." Ikhlaskan saja Babe. Setelah ini kamu akan memiliki anak yang lucu-lucu dariku." Rajuk Samuel lagi.


"Aku sedang mencoba."


"Jangan terlalu lama atau perlu aku menyeretnya ke sini agar kamu bisa melampiaskan amarah mu?"


"Tidak. Aku yakin dia sudah bahagia di sana." Tapi tetap saja aku tidak bisa menerima semua ini. Kau sudah membunuh anakku Mas Dika!!


"Jangan mengelabuhi ku untuk tidak bertindak. Setiap kali nama itu melintas, aku hanya melihat kesakitan saja. Menurutmu aku bisa diam dan tahan melihat semuanya?"


"Tidak Bee. Tetap pada rencana awal. Tidak boleh lagi berhubungan dengan mereka. Aku hanya terkejut." Ayu mencium pipi Samuel lalu merenggangkan dekapan tangan Samuel. Dia membalikkan badannya sehingga keduanya berdiri saling berhadapan.


"Jika tidak ingin itu terjadi. Jangan memperlihatkan amarah ketika nama itu melintas. Aku bisa jadi sangat bijaksana, tapi dengan kekuasaan yang ku miliki. Apapun bisa ku lakukan. Apalagi kalau hanya menyingkirkan satu nama. Itu hal yang sangat mudah." Segera saja tangan Ayu terangkat lalu menjewer telinga kanan Samuel keras.


"Aku tidak ingin punya Suami pembunuh!!"


"Ah Babe. Maka dari itu jangan perlihatkan wajah sedih mu."


"Aku terbawa suasana." Setelah menjewer, Ayu mengusap lembut pipi Samuel sejenak." Aku tidak yakin penjual bakso bakar masih ada." Imbuhnya mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Kalau tidak ada, kita beli sosis bakar saja."


"Bakso dan sosis Bee. Kamu tadi menyebutkan dua."


"Hm kalau ada."


"Harus ada." Ayu melepaskan diri dari Samuel untuk mengganti bajunya.


"Apa kamu sedang mengidam?"


"Aku sedang belajar mengidam."


"Baik. Kita cari sampai dapat."


"Kalau tidak ada."


"Pasti ada. Suami mu akan mengabulkannya, apapun caranya." Samuel menutup pintu dan jendela lalu menatap Ayu yang tidak lagi malu untuk berganti baju di hadapannya.


🌹🌹🌹


Dika duduk bersantai seraya sibuk melihat layar ponselnya. Dia masih saja berhubungan dengan Della bahkan hubungan keduanya sudah begitu jauh. Dika kerapkali mendatangi kost-an Della secara diam-diam dan melampiaskan hasratnya.


Rasanya sangat melelahkan menjalani hubungan tersembunyi tanpa mengerti sosok yang harus di hindari. Sehingga hari ini, Dika merencanakan sebuah jebakan agar orang suruhan Tania bisa memperlihatkan sosoknya.


Tepat ketika Dika berjalan keluar untuk menerima panggilan. Dia melihat sebuah mobil cukup mencurigakan.


Apa itu? Coba ku periksa.


Setelah panggilan berakhir, Dika berjalan menghampiri lalu mengetuk kaca mobil. Terlihat tidak berpenghuni tapi Dika tidak berhenti mengetuk sampai akhirnya kaca mobil terlihat turun.


"Ada perlu apa Tuan." Tanya si pemilik mobil. Dika tersenyum, cukup familiar melihat sosok yang beberapa kali pernah bertatap muka dengannya.


"Keluar dulu Pak. Ada yang ingin saya tanyakan."


"Saya terburu-buru." Ujarnya akan menutup kaca mobil tapi tangan Dika cepat-cepat mencabut kunci mobil sehingga orang suruhan Tania terjebak di dalam.


"Berapa banyak Tania membayar mu!!" Tanya Dika tegas.


"Tuan bicara apa? Tania itu siapa?"


"Aku akan memberikan tarif lebih tinggi kalau kau mau berbalik haluan." Orang suruhan Tania terdiam sesaat. Dia memikirkan penawaran Dika yang terdengar menggiurkan." Ku berikan kau 200 juta kalau kau mau berkerja sama dengan ku." Dika memanfaatkan uang pesangon yang seharusnya bisa di gunakan untuk modal membangun usaha.


"Serius Tuan."


"Hahaha ternyata benar?"


"Saya hanya orang suruhan dan membutuhkan uang."


"Hm. Kau menerima tawaran ku?"


"Asal tarifnya lebih tinggi saya mau." Senyum Dika seketika mengembang. Uang yang di berikan Dimas sangat banyak sehingga dia menghambur-hamburkannya untuk kesenangannya sendiri.


"Berikan informasi palsu setiap harinya. Berapa rekening mu? Uangnya akan ku transfer sekarang." Orang suruhan Tania mengangguk patuh tanpa perlawanan membuat senyum Dika kian terlihat mengerikan.


Setelah ini aku bisa bebas berpergian tanpa takut ketahuan wanita gila itu hahaha..

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2