
Ayu membereskan tasnya sebab dia yakin jika hari ini akan menjadi hari pertama dan terakhir berkerja di Cafe. Sesekali tarikan nafas panjang berhembus dengan tangan kanan menepuk-nepuk atas dadanya yang terasa sesak. Ayu berusaha meredam rasa sakit yang seharusnya tidak lagi bisa di sembunyikan.
"Mau kemana?" Ucap Mita lirih. Ayu menoleh sejenak kemudian tersenyum simpul. Kepala tertunduk sebentar untuk membersihkan sisa air mata yang sempat terjatuh sedikit.
"Aku akan di pecat pada hari pertama berkerja." Mita mendekat lalu menyerbunya dengan sebuah pelukan yang langsung di tolak." Tidak. Itu akan melemahkan." Imbuhnya tersenyum.
"Wanita memang makhluk yang lemah." Samuel yang akan masuk mengurungkan niatnya dan memilih menunggu di sisi pintu.
"Kecuali aku. Em.. Aku akan pulang dan berbicara pada Mas Sam untuk tidak melibatkan kamu." Ayu tidak ingin membebani Mita dengan masalah rumah tangganya apalagi sampai membuat Mita kehilangan perkerjaan.
"Jika kau di pecat, aku juga akan keluar. Ayolah Ayu, tidak ada salahnya menangis. Kau anggap aku apa?" Mita kembali memeluk, namun kali ini Ayu tidak menolak bahkan menyandarkan kepalanya pada pundak Mita.
"Baru tadi pagi aku menyuruhnya untuk tidak berhubungan dengan wanita itu. Aku berusaha merubah penampilan asal dia mengimbangi pengorbananku. Apa kamu ingat minuman yang paling ku benci?"
"Jus."
"Aku rela mengkonsumsinya setiap pagi dan malam hanya agar tubuhku kembali ideal!!" Ayu terdiam sesaat, mencoba mengendalikan perasaannya agar tangisnya tidak pecah.
"Jangan lakukan lagi. Itu akan membuatmu sakit."
"Dia menuduhku tidak menjaganya! Lalu apa yang bisa ku lakukan?" Mita melepaskan pelukannya lalu tersenyum menatap Ayu yang masih tidak memperlihatkan kelemahannya.
"Makan yang banyak. Agar tubuhmu semakin lebar dan dia akan menceraikan mu! Buang saja lelaki sialan itu!!" Teriak Mita berusaha menyemangati Ayu.
"Ya. Aku akan meminta cerai darinya."
"Nah bagus. Sekarang letakkan tasmu lalu kembali berkerja."
"Tidak Mit. Sudah pasti aku akan di pecat setelah tadi." Saat Samuel akan masuk, tiba-tiba Farel mendahului.
"Kamu tidak akan di pecat." Sahut Farel tersenyum. Dia berusaha mencuri simpati Ayu dengan merubah dirinya menjadi pahlawan kesiangan.
"Maaf Mas, seharusnya tadi saya tidak terbawa emosi." Farel berjalan menghampiri Ayu sementara Sam memilih jadi penonton.
"Wajar saja. Dia Suami mu." Farel menghembuskan nafas berat saat melihat kulit bersinar Ayu yang semakin menggemaskan dalam pandangannya." Buruk sekali. Dia berselingkuh? Buang saja lelaki seperti itu, masih banyak lelaki yang setia." Mata nakal Farel kembali menjelajahi tubuh Ayu seraya membayangkan betapa menyenangkannya ketika tangannya bisa bebas bermain di sana.
"Iya Mas." Ayu melirik sebentar ke arah Samuel. Dia sudah bisa membaca gelagat tidak baik Farel sejak tadi pagi. Simpatik nya malah tertuju pada Samuel yang terlihat lebih banyak diam namun perhatiannya begitu terasa.
"Kamu boleh beristirahat sejenak."
"Saya akan langsung berkerja."
"Kompres pergelangan tanganmu dulu." Sahut Samuel menatap fokus ke arah Ayu.
"Tidak apa Mas." Ayu mengangkat tangan kanannya dan terlihat jelas luka lebam melingkar.
"Sakitnya akan terasa ketika malam hari."
"Biar saya kompres di rumah."
__ADS_1
"Tidak. Akan ku siapkan semuanya." Sam menatap kepergian Farel. Dia bisa membaca ketidakwajaran perhatian yang Farel berikan pada Ayu.
Apa rencananya?
"Maafkan saya Mas Sam." Sam beralih menatap Ayu lagi.
"Bos bohongan kita sudah berkata tidak masalah. Perkerjaan mu masih aman." Jawab Sam tersenyum.
"Aneh tapi. Tidak biasanya Mas Farel begitu."
"Memangnya biasanya bagaimana?"
"Pokoknya menyebalkan Ay." Ayu mengangguk seraya tersenyum. Salivanya tertelan kasar ketika dia merasakan bagaimana dalamnya ketika Sam menatapnya.
Mungkin hanya perasaanku saja..
"Sebaiknya kamu cepat mengompres lebam itu agar tidak bengkak." Ayu tersenyum aneh seraya menunduk. Dia tidak ingin terlalu percaya diri mengingat jika dirinya sudah bersuami.
"Terimakasih Mas Sam. Saya permisi." Ayu berjalan melewati Samuel di ikuti oleh Mita.
"Sama-sama." Jawab Sam lirih seraya tersenyum simpul menatap kepergian Ayu." Aku berharap kau benar-benar melayangkan gugatan cerai agar aku bisa memantapkan hati untuk memilihmu." Gumam Sam tersenyum mengembang seakan dia berbahagia di atas penderitaan Ayu.
Sementara di dapur, Farel menyuruh Ayu duduk di salah satu kursi sementara dirinya berniat mengompres. Perlakuan itu tentu membuat Ayu merasa tidak nyaman sehingga penolakan langsung di utarakan.
"Saya bisa Mas." Dengan gerakan kaku, Farel meletakan lap kecil di tangannya.
"Aku berniat membantu."
"Kamu tinggal di mana Ayu?"
"Saya tidak memiliki rumah. Itu bukan rumah saya."
"Rumah Suamimu?" Ayu mengangguk pelan seraya melirik ke jendela kecil yang menjadi satu-satunya pemisah antara ruangan dapur dengan dapur kecil milik Sam.
Aku tidak Nyaman..
"Nanti pulangnya aku antarkan ya."
"Saya bawa motor."
"Tanganmu kan sakit."
"Ini masih bisa Mas."
"Jangan terlalu memikirkannya. Masih banyak lelaki di luar sana yang lebih baik dari Suami mu."
"Saya tidak berniat mencari. Masalah saya masih banyak."
"Paling tidak saling mengenal dulu." Ayu menegakkan pandangannya menatap Farel yang ternyata fokus ke arahnya." Sejak awal bertemu kemarin. Aku tertarik denganmu." Dengan gamblang Farel menyatakan perasaannya karena hasrat yang terus mendorongnya. Bisa di pastikan jika dia tidak benar-benar tulus dan hanya merasa penasaran dengan tubuh Ayu.
__ADS_1
"Hehe Mas bercanda." Dasar playboy sialan!! Dia fikir aku mudah di kelabui!!
"Aku serius Ayu."
"Kalau Mas mempertahankan saya hanya untuk itu, sebaiknya saya berhenti berkerja." Ayu meletakkan lap basahnya lalu berdiri.
"Tidak. Duduk dulu." Pinta Farel hampir saja menyentuh jika Ayu tidak memundurkan tubuhnya.
"Saya duduk di depan saja Mas, permisi." Ayu yang merasa tidak nyaman langsung meninggalkan Farel begitu saja.
"Agh sialan!!!" Umpat Farel meremas bagian tubuhnya yang sudah menegang." Dia sok alim! Aku pastikan jika dia kesepian dan menginginkan sentuhan." Farel tersenyum jahat seraya memperhatikan Ayu dari tempatnya berdiri. Aku berjanji hanya satu kali melakukannya. Ku fikir tidak akan jadi masalah sebab tubuhnya sudah bekas orang lain. Aku bisa bermain bebas tanpa menggunakan pengaman haha. Aku tidak sabar menantikan saat kamu merengek untuk ku puaskan..
๐น๐น๐น
"Singkirkan tanganmu!!" Teriak Dika tidak juga membuat Tania berhenti menyentuhnya.
"Kamu dengar sayang. Dia akan menggugat cerai. Itu berarti kalian akan berpisah dan kita akan menikah." Seakan tidak menghiraukan ucapan Dika. Tangan Tania malah asyik membelai senjata Dika yang ada di bawah.
"Aku masih mencintainya. Hentikan Tania." Ujar Dika seraya mendesis. Godaan dari Tania begitu ekstrim dan mampu mengoyak pertahanan imannya yang setipis tisu.
"Kamu diam saja sayang. Aku akan memanjakan mu." Tania membungkukkan tubuhnya seraya membuka resleting celana Dika. Dia mengeluarkan sesuatu yang sudah berdiri tegak lalu menggullumnya dengan mulut.
"Niaahhh jangaaaan." Cegah Dika malah meminggir mobilnya ke bahu jalan yang kebetulan sepi.
"Kamu menikmatinya. Ini akan membuat suasana hati mu membaik." Nafas Dika terengah merasakan sensasi percintaan yang dulu hanya di lakukan bersama Ayu. Tidak ada niat terbesit sedikitpun untuk melakukan perbuatan keji yang kini mulai menjadi candu.
Punggungnya di sandarkan seraya memperhatikan kepala Tania yang terlihat naik turun. Dika kembali terbawa arus hasrat hingga membuat tangan kanannya menelusup masuk ke benda kenyal milik Tania dan memainkannya.
"Lebih cepat.." Tangan kiri Dika menekan-nekan kepala Tiara untuk mempercepat gerakan, namun tiba-tiba Tania mengangkat kepalanya." Kenapa berhenti?" Tanya Dika dengan mimik wajah sendu.
"Itu bukan tempatnya." Tania pindah duduk ke jog belakang.
"Tuntaskan ini dulu."
"Di situ terlalu sempit." Segera saja Dika keluar lalu menyusul Tania dan duduk di jog belakang.
"Ayo lakukan." Tania menurunkan celananya." Dengan mulutmu saja." Dika tidak ingin jika benihnya akan tumbuh di rahim Tania.
"Aku membawa pengaman." Tania menunjukkan sebuah pengaman." Biar ku pasangkan." Seolah tengah memasang pengaman, Tania menunduk lalu mengangkat kepalanya dan berdalih pengamanannya sudah terpasang.
"Sudah."
"Beres sayang." Tania melebarkan pahanya lalu duduk di pangkuan Dika sehingga penyatuan keduanya terjadi lagi. Bodoh! Pengaman itu sudah ku lubangi haha. "Kau mencintaiku?" Tanya Tania di sela dessahan akibat hantaman kuat yang tengah mengaduk-aduk miliknya.
"Ya aku mencintaimu sebagai pacar. Em milik mu sempit sekali.. Aku berjanji tidak akan meninggalkan mu asal kau selalu memberikan ku ini." Naffsunya yang sudah berada di ubun-ubun membuat Dika melontarkan kata-kata yang tanpa sadar semakin membuat Tania menggila.
"Tentu saja ah sayang! Aku akan keluar lagi." Kau memang hanya akan melakukan ini denganku!!
Gerakan Dika semakin brutal, begitupun Tania yang tidak ingin kalah. Dia menarik turunkan pinggangnya agar pelepasan bisa segera Dika Dapatkan. Tujuannya tidak lain ingin benih Dika bisa tumbuh di rahimnya agar nantinya Dika bisa di miliki seutuhnya.
__ADS_1
๐น๐น๐น
Jadikan like sebagai uang parkir๐ Terimakasih ๐ฅฐ