
Berkat mengkonsumsi ikan gabus, penyembuhan keretakan pada lengan Ayu lebih cepat. Hari ini tepatnya 12 hari setelah insiden, Dokter menyarankan untuk melepaskan perban meskipun Ayu masih tetap harus mewaspadai sebuah benturan.
Rasanya sangat lega, ketika perban tebal itu di lepas. Bibir Ayu tersungging menatap ke lengan nya sambil menyentuhnya dengan ujung jari.
"Meski sudah di lepas, tapi tetap harus hati-hati Nona. Jangan melakukan perkerjaan berat." Ujar Dokter sambil menulis resep." Ini obat lanjutan yang harus di tebus." Samuel mengambil secarik kertas dari tangan sang dokter.
"Berarti Minggu depan juga harus cek lagi?"
"Tidak Tuan. Ini hanya obat lanjutan agar penyembuhannya lebih maksimal."
"Em begitu. Baik Dok terimakasih." Samuel berdiri di ikuti oleh Ayu. Keduanya berjalan keluar ruangan dengan senyum mengembang.
"Kamu merawatku dengan sangat baik Bee. Aku jadi cepat sembuh." Ayu memegang lengan Samuel dengan gerakan kaku karena masih merasa takut pada keadaan lengan kanannya.
"Sudah semestinya begitu Babe. Tapi ingat kata dokter untuk tidak mengerjakan perkerjaan berat."
"Berat apa?" Jawab Ayu menyangkal.
"Mengangkat keranjang baju kotor."
"Itu ringan."
"Lakukan kalau memang ingin patah lagi." Ayu tertawa kecil begitupun Samuel.
"Apa keranjang baju bisa membuat lengan patah?"
"Terus saja membantah."
"Aku tidak membantah Bee. Aku bertanya." Seketika senyum Ayu pudar ketika dia melihat sosok Tania tengah duduk di depan ruangan yang bertuliskan poli kandungan." Wanita itu." Gumam Ayu menatapnya lekat, ingin memastikan sebab wajah Tania terlihat sangat buruk.
"Siapa?"
"Istri Mas Dika. Kenapa wajahnya seperti itu?" Jawab Ayu lirih.
"Ingat untuk tidak ikut campur masalah mereka lagi."
"Aku juga tidak mau berurusan lagi dengan mereka Bee." Apa Mas Dika akan melakukan hal yang sama pada Tania? Bukankah dia menyukai fisik yang sempurna?
"Pak Samuel." Sapaan Pak Wira membuat Samuel terpaksa menghentikan langkahnya. Hari ini Pak Wira terpaksa menemani Tania melakukan pemeriksaan rutin untuk kandungannya.
"Oh anda." Samuel tidak mengingat nama dari Pak Wira. Tapi ingat kalau lelaki itu orang tua dari Tania.
"Saya Pak Wira. Masih ingat."
"Hm." Pak Wira melemparkan senyuman untuk Ayu.
"Apa ada keluarga yang sakit Pak Sam." Tanyanya ramah
"Istri saya." Ayu menghela nafas panjang mendengar jawaban singkat dari Samuel. Terdengar ketus dan tidak sopan.
"Tangan saya mengalami cedera Pak. Jadi em.. Memerlukan sedikit perawatan." Sahut Ayu menimpali.
"Ada perlu apa menyapa kami? Apa anda mau berprotes soal pemecatan itu?" Langsung saja Samuel melontarkan tebakannya.
"Tidak Pak. Saya tidak memiliki kuasa untuk itu walaupun memang rasanya sangat berat. Sekarang saya harus menanggung semua biaya pemeriksaan untuk Tania yang sedang mengandung. Em Dika memang sudah berkerja tapi gajinya sangat kecil." Anak Bu Broto dengan senang hati memberikan perkerjaan untuk Dika. Dia di percaya mengelola cabang rumah makan miliknya.
"Mau bagaimana lagi Pak. Kata Dimas, banyak para karyawan yang mengeluh soal itu." Ayu melirik ke Tania yang mulai berjalan ke arah mereka.
"Saya tahu Nona Ayu."
"Mengobrol apa sih Yah." Ucap Tania ketus. Ayu cukup terkejut melihat wajah Tania yang lebih mengerikan dari jarak dekat." Tidak perlu sok baik. Kamu mau menertawakan ku kan?" Imbuhnya seraya melipat tangan. Menatap Ayu dengan wajah garangnya.
"Jaga bicaramu Tania!"
"Pak Wira yang menyapa kami duluan." Jawab Ayu tersenyum simpul.
"Sudah ku katakan jika mereka keluarga yang tidak waras!" Segera saja Ayu membungkam bibir Samuel seraya mengisyaratkannya untuk diam. Meskipun dia juga memikirkan hal yang sama, tapi Ayu tidak sampai hati berkata kasar ketika ada Pak Wira.
__ADS_1
"Kami permisi Pak. Senang bisa bertemu." Setelah tersenyum sejenak, Ayu mengiring Samuel untuk melanjutkan perjalanan saja.
"Ayah membenarkan mereka memecat Dika. Sikapmu sangat tidak sopan Niah. Walau bagaimanapun mereka itu Bos Ayah!" Tentu saja Pak Wira merasa murka pada sikap Tania yang sangat tidak sopan.
"Terserah Yah. Aku membenci wanita itu!" Tania melangkah pergi meninggalkan Pak Wira begitu saja.
.
.
.
Samuel melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit. Emosinya kembali terkoyak akibat perkataan kasar dari Tania. Dia merasa jika selamanya masa lalu Ayu akan berada di sekeliling mereka.
"Fokus pada Pak Wira Bee. Dia orang tua."
"Terserah Babe. Bukankah aku tidak bisa berbuat apa-apa." Jawab Samuel lemah.
"Kamu tidak sabaran."
"Bukan masalah sabar. Tapi keluarga gila itu masih saja berkeliaran. Aku muak melihat mereka."
"Aku minta maaf. Masa laluku sedikit membebani mu."
"Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?" Samuel meraih kepala Ayu lalu mengiringnya bersandar pada pundaknya.
"Emosiku sering tidak terkontrol."
"Hm aku melihatnya beberapa kali. Tapi anehnya kamu sabar ketika aku merepotkan mu."
"Karena aku memang tidak merasa kesal ketika kamu merepotkan. Lain hal ketika ada seseorang yang bicara dengan nada meninggi seperti tadi. Aku tidak sabar dan mungkin tidak sanggup sabar."
Ayu mengangguk agar topik pembicaraan berganti. Tapi fikiran masih saja terusik pada wajah buruk Tania yang mungkin kini sedang berada di posisinya dulu.
Tidak sadar Ayu tersungging. Seakan rasa sakit karena perbuatan Tania terbayar setelah pertemuannya tadi. Melihat Tania tidak lagi sempurna, meyakinkan Ayu jika Tuhan sedang berkerja di belakangnya.
Aku ikhlas tapi rupanya Tuhan tidak. Aku harap janin di perut mu baik-baik saja..
Setibanya di rumah, kedatangan mereka di sambut oleh Dimas yang tengah menunggu di teras. Di sampingnya duduk seorang wanita paruh baya yang tidak asing bagi Ayu.
"Bibik." Sapa Ayu bersemangat. Menghampiri pembantu lamanya bahkan tidak segan-segan memeluknya.
"Duh Gusti. Syukurlah di pertemukan sama Nyonya lagi." Dimas berpamitan pada Samuel lalu melangkah pergi. Tugas dari Samuel selalu di selesaikan dengan sempurna." Bibik di pecat Nyah padahal belum di gaji." Imbuhnya lirih.
"Kenapa begitu Bik?"
"Semenjak Tuan Dika menikah lagi. Bibik tidak betah sama tingkah Istrinya. Kalau marah-marah seperti orang tidak waras." Ayu mengangguk seraya mengusap lembut punggung si pembantu." Bibik sebenarnya mau keluar dari dulu. Tapi Bibik sadar kalau mencari perkerjaan itu susah jadi Bibik bertahan tapi malah tidak di gaji." Ayu memahami keluh kesah pembantu lamanya sebab dia tahu Dika tidak memiliki cukup uang untuk mengajinya.
"Bibik kerja sama saya saja." Jawab Ayu seraya melihat ke arah Samuel.
"Memangnya Nyonya belum punya pembantu?"
"Ada Bik tapi sekarang sedang pulang kampung."
"Jadi hanya sementara."
"Tidak Bik. Saya sudah membicarakan ini sebelumnya dengan Suami saya."
"Bibik sih mau saja Nyah."
"Namanya Tuan Samuel." Si pembantu langsung tersenyum seraya mengangguk ke arah Samuel.
"Saya Bik Ratih Tuan."
"Em kebetulan pembantu saya juga sudah terlalu tua Bik. Jadi Bibik bisa bantu-bantu perkerjaannya."
__ADS_1
"Siap Tuan. Saya itu asal bisa kerja."
"Hm oke. Bibik bisa langsung kerja. Kamar pembantu berada di belakang bangunan ini. Kamar yang terkunci itu milik Bik Ijah. Jadi Bik Ratih bisa menempati kamar satunya." Bik Ratih tersenyum senang sebab dia tidak harus pulang ke kampung halaman.
"Berapa gaji yang belum di bayar Bik?"
"Satu bulan penuh Nyah. Maaf Bibik butuh untuk di kirimkan ke kampung."
"Kamu punya uang cash Bee?" Samuel mengambil dompetnya dan memperlihatkan beberapa lembar uang saja.
"Aku sudah jarang menyimpan banyak uang cash. Nanti kita ambilkan dulu."
"Besok-besok tidak apa-apa Nyah."
"Nanti saya ambilkan Bik. Em sekarang Bibik Istirahat saja dulu."
"Terimakasih ya Nyah."
"Sama-sama Bik."
Samuel membuka pintu rumah. Bik Ratih bergegas masuk dengan membawa tas besarnya.
"Apa Dimas sudah menikah Bee?" Tanya Ayu seraya melingkarkan tangannya ke perut belakang Samuel.
"Belum. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa. Em dia tidak pernah menolak tugas darimu."
"Namanya juga kaki tangan. Umurnya sama seperti mu."
"Oh ternyata masih muda."
"Ya. Aku yang tua." Ayu terkekeh kecil seraya mendongak ke wajah Samuel yang terlihat sedikit kesal.
"Maaf Bee. Aku hanya merasa tidak ada kata-kata lain selain perkerjaan di kehidupannya."
"Memang tidak. Tapi dia tidak pernah mengeluh."
"Mungkin takut untuk mengeluh."
"Aku tidak tahu. Dia tidak pernah mengatakan apapun dan selalu berkerja seperti robot."
"Apa mungkin dia sudah punya kekasih Bee?"
"Mustahil." Samuel tersenyum simpul sambil menombol lift.
"Kenapa begitu?"
"Untuk apa bertanya tentangnya terus. Apa kamu menyukainya?" Ayu tersenyum aneh.
"Tidak."
"Maka jangan buat aku cemburu."
Tanpa aba-aba Samuel mengangkat tubuh Ayu seraya mengecupi bibirnya Terbesit rasa cemburu walaupun dia yakin jika Ayu tidak akan mudah berpaling.
"Sudah ada yang menyiapkan sajian untuk makan siang. Mari rayakan kesembuhan mu dengan perkerjaan yang menguras keringat." Ayu tidak menolak malah menikmati ketika bibir Samuel mulai menjelajahi sekitar wajahnya. Tangannya di tempelkan pada sensor dan seketika pintu kamar terbuka. Dengan mengunakan kaki, Samuel menutup pintu kokoh tersebut lalu mulai melakukan pemanasan.
"Apa menurutmu aku sudah hamil Bee." Tanya Ayu dengan mata terpejam. Menikmati hangat dan betapa kokohnya tubuh yang sedang menindihnya lembut.
"Apa kamu sudah merasakan sesuatu hmmm. Kenapa bertanya seperti itu?"
"Tidak. Tapi aku ingin cepat memilikinya."
"Aku juga Babe. Itu kenapa kita harus sering melakukannya." Tubuh Ayu menggelinjang tidak terkendali saat Samuel mulai melancarkan permainannya. Hanya butuh beberapa menit, Ayu sudah mendapatkan pelepasan akibat pemanasan yang selalu terasa melenakan." Kamu harus rileks Babe. Ingat dengan tanganmu. Biar aku yang bergerak." Senyum jahat Samuel perlihatkan, menatap wajah berkeringat yang tengah berada di kungkungannya.
🌹🌹🌹
__ADS_1