Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Mabuk


__ADS_3

Sambil menunggu Tania memilih gaun. Dika berinisiatif memeriksa nominal yang ada di ATM Ayu. Dia berdalih pergi ke kamar mandi agar Tania tidak curiga.


Dengan sedikit tergesa-gesa. Dika memasukkan kartu ATM dan tercengang saat melihat jumlah uang yang ada di dalamnya.


Sebanyak ini?


Dika mencabut lagi kartunya lalu kembali dengan wajah datar. Dia mulai membayangkan bagaimana cara Ayu mengelola uang yang di transfernya setiap bulan.


Apa dia tidak pernah memakai uang itu?


Bukan tidak pernah memakai. Jawaban lebih tepatnya adalah. Ayu tipe wanita yang tidak banyak menuntut sesuatu. Keinginannya juga tidak banyak apalagi setelah pasca keguguran, dia tidak lagi pernah membeli makanan kesukaannya.


Biasanya uang Dika di pergunakan untuk membeli jajanan kesukaan atau gaun rumahan juga daster. Itupun hanya satu atau dua potong. Sisa uangnya sudah pasti terkumpul di dalam ATM sampai mencapai nominal yang cukup mencengangkan bagi Dika.


Lalu uang di dalam kotak? Darimana dia mendapatkannya?


Uang yang di rampas Dika, merupakan sisa belanja yang Bibik berikan setiap bulannya. Ayu sengaja mengumpulkannya untuk keperluan mendesak sehingga uang di ATM hampir utuh tidak tersentuh.


"Sayang, lihatlah." Dika menoleh ke arah Tania yang tengah mengenakan gaun berwarna biru. Setara dengan kemeja yang di pilihnya tadi." Bagaimana?" Tanya Tania menginginkan pendapat Dika.


"Bagus." Sudah ku katakan jika Ayu adalah wanita sempurna. Dia hanya perlu menurunkan berat badannya saja.


Walaupun sesal terbesit, tapi Dika masih sempat melontarkan protesan. Dia juga membandingkan tubuh seksi Tania dengan Ayu yang terlihat jauh berbeda meski untuk kecantikan, Dika masih menganggap Ayu wanita paling cantik.


"Aku ambil yang ini ya."


Dika mengekor ke mana Tania berjalan. Dia berdiri tempat di sampingnya seraya melihat proses pembayaran.


"Totalnya 97 juta Nona." Seketika Dika melebarkan matanya lalu mengambil nota belanjaan dari tangan kasir.


"Sebanyak ini?" Protes Dika seraya menddesah ketika sadar jika Tania tidak hanya membeli baju tapi tas juga sepatu." Koleksi tasmu banyak. Untuk apa membeli ini?" Mimik wajah Tania berubah. Dia merasa di permalukan atas sikap Dika.


"Warnanya setara Dik. Aku mau membelinya."


"Yah tapi tidak sebanyak ini Niah." Si kasir tersenyum ketika melihat perdebatan di hadapannya walaupun di dalam hatinya tengah mengumpat.


Kalau miskin, kenapa sok berbelanja di sini..


"Mobilnya juga terlalu mahal dan sekarang kau berbelanja sebanyak ini."


"Jangan buat aku malu Dik." Tania menyodorkan ATM lalu menyuruh Dika memasukkan pin nya.


Dengan terpaksa Dika melakukannya. Dia juga tidak ingin di rendahkan karena tatapan sekitar mulai berfokus ke arahnya.


Kalau satu kali belanja habis sebanyak ini? Bisa bangkrut aku! Dia fikir aku memiliki perusahaan!! Dasar wanita sinting!

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


Sambil menunggu Samuel keluar dari kamar mandi, Ayu duduk di sofa dengan wajah cemas. Dia menatap fokus ke pintu kamar mandi yang tertutup.


Samuel menuntut sentuhan ciuman darinya seusai makan malam. Dia menagih janji, ingin melakukan kegiatan itu seraya tiduran di ranjang pengantinnya.


Hanya berciuman Babe...


Aku sudah pernah melakukannya. Tapi kenapa hatiku berdebar-debar..


Ayu beranjak dari tempat duduknya menuju dapur kecil yang ada di kamar tersebut. Dia memperhatikan botol minuman yang berjajar di rak sebelum akhirnya membuka kulkas yang hanya di penuhi dengan minuman bersoda.


Walaupun aku tidak di perbolehkan berdiet. Aku juga tidak mau mengkonsumsi minuman yang akan membuat tubuhku semakin berkembang.


Eluhnya seraya ke menutup kulkas. Tatapannya beralih pada botol minuman yang berjajar. Ayu menyangka isi di dalamnya adalah sirup sehingga tanpa fikir panjang. Dia meraih gelas dan menuangkannya.


Ayu mengangkat gelas lalu menciumnya. Keningnya berkerut setelah tercium aroma aneh.


Apa kadaluwarsa?


Ayu mengambil lagi botol dan tidak menemukan keterangan apapun.


Satu gelas saja mungkin tidak apa..


Ayu meletakkan botol dan beralih pada gelas. Dia menambahkan sedikit air lalu mengadukannya dengan sendok. Ayu kembali menciumnya sambil berusaha menerka rasa apa yang terkandung di sirup tersebut.


Seharusnya keanehan itu membuatnya berfikir berkali-kali lipat untuk meminumnya. Tapi ketika terdengar pintu kamar mandi terbuka. Secara refleks Ayu meneguk minuman tersebut dalam satu kali nafas.


Rasanya lebih enak dari aromanya..


Ayu tersenyum lalu meraih botol dan kembali menuangkannya. Samuel bergegas menghampirinya dengan wajah panik.


"Kenapa kamu meminum ini." Cegah Samuel mengambil botol dan gelas dari tangan Ayu.


"Rasanya seperti terbang Mas." Jawab Ayu seraya tertawa kecil. Dia menepuk-nepuk dada bidang Samuel dan sesekali memijat kepalanya yang terasa berat.


"Seharusnya ku bereskan dahulu. Ini minuman keras Babe."


"Sedikit lagi." Pinta Ayu merengek.


"Tidak." Samuel menahan tubuh Ayu yang mulai hilang keseimbangan lalu membereskan minuman dan menyimpannya di laci bawah.


Dulu Samuel sering mengkonsumsi minuman tersebut bersama mantan Istrinya. Mereka kerapkali melakukan itu untuk memberikan sensasi lain ketika sedang bercinta. Namun setelah penghianatan, Samuel yang sebelumnya memang tidak pernah mengkonsumsi minuman keras. Tentu saja tidak menyentuhnya dan membiarkannya begitu saja.


"Sedikit lagi Mas. Ayolah.." Pinta Ayu akan merebut kunci dari tangan Samuel yang langsung di letakkan pada tempat yang sulit Ayu jangkau.

__ADS_1


"Tidak boleh Babe. Astaga .. Wajahmu merah sekali." Samuel menelungkup wajah Ayu dengan kedua tangannya seraya tersenyum." Apa yang kamu rasakan." Tanya Samuel lirih. Mulai memikirkan sesuatu yang seharusnya di lakukan.


"Aku ingat haha... Kau Suami baruku kan?" Ucapnya seraya menyentuh ujung hidung Samuel dengan telunjuknya.


"Hm iya. Bagaimana pendapat mu tentangku?"


"Sangat tampan dan gila! Kenapa kau tidak menunggu semuanya membaik. Hatiku masih sakit!" Menunjuk ke dadanya." Lalu kau memaksaku untuk menerima semuanya." Ayu kembali tertawa kecil seraya bersandar lemah pada dada bidang Samuel.


"Aku akan menunggu sampai kamu menerima kehadiran ku."


"Bukan saatnya menunggu kalau sudah menikah. Aku tidak ingin Mamaku menangis di liang lahat ketika melihatku tidak mematuhi Suamiku. Itu peraturannya."


"Aturan seperti apa?"


"Harus patuh. Mendahulukan kepentingan Suami daripada kepentingan ku sendiri." Menepuk-nepuk dadanya lembut. Bibir yang tadinya tertawa kecil, kini berubah menjadi isakan tangis saat memori kehidupannya bersama Dika melintas." Seharusnya Mama melihat ini. Aku sudah melakukannya dengan sebaik-baiknya tapi dia tidak melihat bakti ku." Samuel menddesah lembut ketika sadar jika perasaan Ayu masih tertinggal di masa lalu.


"Aturannya sekarang berbeda. Bakti akan tetap di terapkan tapi bukan untuk saling menekan apalagi saling menyakiti." Samuel terbawa emosi. Seharusnya dia tidak merespon ucapan tersebut sebab Ayu tidak akan sepenuhnya mendengarkan.


"Kenapa lelaki seperti mu bisa memilihku hah?" Tanya Ayu kembali terkekeh. Samuel tersenyum simpul dan mulai memanfaatkan situasi untuk meredam emosinya.


"Kamu keberatan?"


"Tidak Samuel. Aku hanya belum siap. Kamu saaaangat tampan. Mantan Suamiku tidak ada apa-apanya."


"Hm. Kamu ingat kalau kita sudah menikah?"


"Bagaimana mungkin aku melupakan itu."


"Ini malam pertama kita bukan."


"Iya." Ayu menegakkan kepalanya." Kamu mau itu sekarang?" Kedua tangannya beralih pada kerah kaos yang Samuel kenakan.


"Kamu yang tidak memperbolehkan ku."


"Boleh. Aku hanya merasa canggung untuk mengawalinya." Jawab Ayu jujur pada perasaannya yang memang merasa canggung.


"Keberatan kalau aku minta itu sekarang."


"Tentu tidak."


"Kamu ikhlas Babe?"


"Asal hasilnya bisa setampan milikmu." Ayu mengusap pipi kanan Samuel lembut. Kakinya menjinjit lalu menempelkan bibirnya pada rahang kokoh di hadapannya." Ayo Mas. Panas sekali." Pintanya dengan suara berat.


Jika di paksa, tidak akan menjadi anak haram kan. Mari kita buat malam ini menjadi sangat indah Babe..

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2