Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Kehamilan Tania


__ADS_3

"Kita harus melakukan tes DNA pada janin itu! Aku yakin itu bukan anakku!!" Umpat Dika menunjuk kasar ke arah Tania yang duduk di sampingnya.


"Aku melakukan itu hanya denganmu."


"Mana mungkin Niah! Selama ini kita memakai pengaman saat melakukan hubungan intim!!"


Meskipun dokter sudah menjelaskan akan kemungkinan kecil yang terjadi. Tapi Dika tidak serta merta menerima penjelasan itu karena dia ingat jika selalu menggunakan pengaman.


"Aku melubanginya." Dengan kasar Dika memarkirkan mobilnya di depan rumah bahkan hampir menabrak pagar, jika penjaga tidak cepat-cepat membuka pintu gerbang.


"Kenapa kau lakukan itu hah!!"


"Agar kita memiliki keturunan!"


"Kau tahu aku membenci wanita hamil!"


"Ya..Tapi kita butuh anak. Aku berjanji akan mengembalikan bentuk tubuhku setelah melahirkan." Dika mencengkram erat kepalanya lalu memukul-mukul kemudi mobilnya. Dia turun dari mobil dan bergegas masuk di ikuti oleh Tania.


"Gugurkan bayi itu!!" Pinta Dika menunjuk kasar.


"Tidak Dika! Ini anak kita!" Tolak Tania mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


"Kita bahkan baru menikah hei Niah! Apa kata orang?"


"Bukankah dokter sudah menjelaskan jika itu bisa terjadi karena kwalitas spperma yang bagus. Bilang saja begitu ketika ada orang bertanya." Tidak akan ku biarkan kau menghilangkan bayiku! Dia harus lahir agar kau bisa ku miliki selamanya..


"Bentuk tubuh mu akan buruk!!"


"Aku bukan dia!"


"Memang bukan! Aku mencintainya sementara kau." Menyentuh pundak Tania dengan ujung telunjuknya." Kau hanya sebuah kesalahan besar yang tidak seharusnya ada!!" Dika berlalu pergi meninggalkan Tania yang terlihat semakin memendam kekesalan pada Ayu.


"Aku tidak perduli kau menyebut ku sebuah kesalahan. Yang pasti aku sudah mengandung anakmu. Kau tidak akan bisa lari Dika. Kau hanya milikku!" Gumam Tania tersenyum simpul lalu mengikuti langkah Dika menuju kamar yang terlihat tertutup.


Tania menurunkan gagang pintu namun pintu tidak terbuka. Tangannya mengetuk-ngetuk seraya memanggil nama Dika sambil sesekali mengumpat. Sesaat setelah itu, Dika keluar dengan sebuah koper besar miliknya.


"Aku ingin kita tidur terpisah!" Dika meletakkan koper dengan gerakan kasar.


"Ke..." Belum sempat ucapan itu terlontar Dika menutup pintu kamar keras.


Braaaakkkkk!!!

__ADS_1


"Dika!!! Buka pintunya!!" Teriak Tania mengendor pintu. Dika menyalakan televisi dengan volume keras agar dirinya tidak mendengar teriakan Tania.


"Tuhan.." Eluh Dika tertunduk lemah seraya mencengkram erat kepalanya.


Rasa tidak rela masih menggelitik hatinya setelah pertemuannya dengan Ayu.


"Kenapa tidak ada kesempatan kedua? Kenapa kau begitu mudah memutuskan untuk menikah dengan lelaki asing itu. Aku tahu kau terpaksa Ayu. Aku melihat masih ada cinta di mata mu. Agh!!! Sial!!!"


Kecemburuan tidak beralasan melintas, ketika gambaran kemesraan yang di perlihatkan Samuel juga tanda kepemilikan yang terpampang pada leher belakangnya.


"Hanya aku yang boleh melakukan itu!!" Teriaknya tidak terkendali. Dika berdiri lalu mengobrak-abrik barang yang ada di dalam kamar sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi. Dia berharap perasaannya yang memanas bisa dingin ketika air mengguyur tubuhnya.


🌹🌹🌹


Keesokan harinya...


Ayu terjaga dari tidurnya tepat pukul delapan pagi. Dia terduduk seraya mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Samuel yang terlihat tidak ada.


Segera saja Ayu berdiri dan melihat pintu yang mengarah pada kolam. Dia berjalan keluar dan berharap Samuel berada di sana. Tapi tetap saja dia tidak menemukan keberadaan Samuel.


"Mas.." Panggilnya setengah berteriak.


Langkah kaki Ayu kembali terayun masuk ketika dia melihat secangkir kopi sudah tersedia di meja lengkap dengan sepotong sandwich. Tatapan Ayu lebih tertarik dengan secarik kertas yang ada di bawah kopi tersebut.


Rasanya Ayu sudah kenyang hanya membaca pesan manis tersebut. Seharusnya pesan itu bisa di sampaikan lewat ponsel. Tapi cara sederhana yang di pilih Samuel sangat ampuh menghadirkan perasaan berbunga-bunga dan berdebar-debar.


Segera saja Ayu duduk lalu menikmati sarapan yang di sediakan. Dia menyeruput kopi seraya melahap sandwich dengan dua kali gigitan.


"Ini sudah kenyang Mas." Gumam Ayu berbicara sendiri. Dia mencuci gelas dan piring lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri." Inilah hidup." Imbuhnya menguyur tubuhnya di bawah air shower yang mengalir seraya bersenandung kecil.


Namun ketika ingatan soal masa lalunya melintas, raut wajah Ayu seketika berubah. Rasa sakit itu masih saja ada apalagi Dika belum juga berhenti menyalahkannya.


"Sampai kapan." Eluhnya membuang nafas kasar." Bagaimana kalau selamanya dia seperti itu. Menjadi bayang-bayang hidupku. Aku takut itu berpengaruh pada pernikahanku sekarang." Ayu menyudahi acara mandinya. Dia meraih handuk kimono lalu berjalan keluar kamar mandi menuju lemari kecil yang terletak di sudut ruangan.


Ada beberapa baju sesuai seleranya tergantung, seakan Samuel menginginkan Ayu bisa kembali menjadi dirinya sendiri seperti dulu.


Sebuah baju setelan kaos dan celana panjang di ambil. Ayu tersungging memandanginya lalu mengenakan baju yang mirip seperti baju pemberian Ayahnya.


"Ini mirip walaupun lebih bagus." Pujinya tersenyum. Ayu seakan kembali ke keceriaan yang di dapatkan ketika dirinya kecil.


Ayahnya selalu menyuruhnya memakai baju tertutup sejak kecil. Itu di lakukan untuk bertujuan menjaga Ayu dari mata nakal lelaki sebab sejatinya Ayu sudah cantik sejak kecil.

__ADS_1


Namun semenjak mengenal Dika. Cara berpakaian Ayu berubah. Dika senang menunjukkan kecantikan yang di miliki Ayu dengan rasa bangga. Menyuruhnya mengganti baju setelan kesukaan Ayu dengan gaun atau dress yang lebih memperlihatkan kesan seksi.


"Aku jadi rindu Ayah." Eluhnya menddesah lembut. Kakinya melangkah ke sofa lalu meraih remote dan menyalakan televisi.


Ibu jarinya menekan tombol remote hingga dirinya menemukan sebuah acara musik. Bibir Ayu tersungging, bahkan sesekali bernyanyi.


"Hari ini Mas Sam tidak mengajakku lari pagi." Sebuah niat terlintas. Ayu mematikan televisi dan beralih mengambil ponsel mahal pemberian Samuel." Ah ini dia." Ayu berdiri lalu meletakkan ponselnya dengan posisi tegak. Saat musik di mulai, tubuhnya bergerak mengikuti irama.


Lima belas menit kemudian, Ayu mulai terlihat berkeringat dengan nafas tersengal. Tubuh yang tidak lagi ramping membuatnya mudah lelah apalagi sudah sejak lama dia tidak melakukannya.


"Ahhh... Andai Mita ada di sini." Ayu menyeka keringat dengan lengannya lalu duduk lemah di sofa." Kenapa aku jadi lemah sekali padahal dulu aku selalu suka bergerak seperti tadi." Eluhnya menunduk. Menatap perutnya yang masih terlihat rata walaupun sedikit lebar." Yah. Tubuhku yang membuat ini terasa melelahkan atau aku belum terbiasa melakukannya. Ahh entahlah." Ayu berbaring di sofa seraya melirik jam dinding. Dia kembali menyalakan televisi sambil sesekali melihat ke arah pintu. Mas Sam pulang jam berapa. Kenapa rasanya lama sekali..


Sementara Samuel sendiri masih berada di sebuah Cafe yang terletak tidak jauh dari apartemen. Meskipun telinganya mendengar pembicaraan, namun matanya fokus menatap layar ponsel yang terhubung pada CCTV ruangan apartemen.


"Haha konyol." Tidak sengaja Samuel berkata demikian ketika dia melihat kegiatan yang di lakukan Ayu. Sontak para relasi menoleh bahkan ikut tersenyum saat melihat bibir Samuel tersungging.


"Apa yang konyol Pak?" Tanya salah satu relasi.


"Em tidak. Maaf." Walaupun berkata demikian, Samuel masih saja fokus ke layar ponselnya sehingga membuat Dimas tersenyum aneh ke arah para relasi.


"Bagaimana? Apa Pak Samuel setuju." Segera saja Dimas memiringkan tubuhnya untuk membisikkan jawaban agar para relasi tidak merasa di abaikan.


"Saya setuju asal keuntungannya di naikkan 10 persen lagi. Itu harga yang cukup pantas karena saya yang akan menanggung semua biaya produksi dan renovasi gudang." Ujar Samuel hanya menatap lawan bicaranya sebentar lalu kembali menatap layar ponsel.


"Itu masalah kecil Pak Sam. Kami membutuhkan suntikan dana penuh untuk pembangunan perusahaan baru. Kami cukup senang Pak Samuel bisa hadir dan membantu menyediakan dana."


"Ya sama-sama. Apa sudah mencapai mufakat?"


"Em Tuan Samuel sedikit sibuk hari ini." Sahut Dimas menimpali. Dia selalu bisa menjaga nama baik Samuel yang pasti berubah gila kalau sudah jatuh cinta.


"Oh begitu. Saya rasa ini sudah cukup Pak Sam."


"Hm. Sisanya biar Dimas yang mengurus. Saya sudah menandatangani surat persetujuan dan itu berarti saya setuju dengan proyek ini."


"Baik Pak. Kami akan segera membuat surat kontrak perjanjian agar proyeknya segera di laksanakan."


"Hm." Samuel berdiri di ikuti oleh yang lain. Setelah bersalaman, dia pergi meninggalkan area Cafe.


"Pak Samuel lebih banyak tersenyum sekarang." Gumam salah satu relasi.


"Saya dengar dia baru menikah lagi. Apa benar itu Pak Dimas?"

__ADS_1


"Iya benar. Baru kemarin beliau menikah." Para relasi tersenyum seraya melihat satu sama lain. Mereka sudah bisa menebak arti dari kata sibuk yang di lontarkan Dimas tadi.


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2