
Rumah Samuel
Penjaga rumah sengaja membiarkan mobil Tania masuk sebab peraturan tidak lagi di patuhi semenjak Ayu pergi. Samuel sudah tidak pernah mengeluarkan titah apapun walau kamar utama masih terjaga privasinya.
"Non Ayu sudah tidak di sini Non." Ucap Bik Ijah menyambut kedatangan Tania bersama dan Dika. Mereka kerapkali berkunjung untuk menjaga tali silaturahmi dan pertemanan.
"Pindah rumah Bik?" Tanya Tania tentu ingin tahu.
"Bukan Non."
Ada yang tidak beres..
"Dia sudah pergi dari rumah." Sahut Riska seraya tersenyum simpul. Dia menatap sinis ke arah Tania.
"Astaga kau masih di sini?" Jawab Tania tidak kalah ketus.
"Aku berhak tinggal di sini." Bik Ijah memilih pergi daripada harus melihat perdebatan yang selalu saja terjadi semenjak kehadiran Riska.
Kasihan Ayu. Tentu saja dia tidak akan mau tinggal di sini. Batin Dika sudah benar-benar sadar akan kesalahannya di masa lalu. Kini dia berubah menjadi seorang Ayah dan Suami yang baik untuk keluarga kecilnya.
Walaupun Tania sudah kembali cantik, namun sekalipun dia tidak pernah berselingkuh meski wajah Dika berubah buruk. Tania menghadirkan sebuah kesetiaan dan cinta yang luar biasa sampai-sampai Dika tenggelam di dalamnya.
"Seharusnya kau pergi dari sini. Kau itu sudah tidak memiliki hak. Hanya anak mu saja!" Seringnya Tania berkunjung membuatnya mengetahui permasalahan yang sedang di hadapi Ayu.
"Buktinya dia memilih pergi daripada mempertahankan hubungannya." Nafas Tania terbuang kasar. Dia berusaha membantu Ayu menemukan titik permasalahan namun sulit sebab Ayu melarangnya berbuat nekat.
"Kau akan menyesal sudah melakukan ini pada sahabatku!" Tunjuk Tania kasar lalu berjalan ke arah mobil dan masuk di ikuti oleh Dika.
"Jangan melibatkan diri terlalu jauh apalagi sampai melakukan hal di luar batas." Ujar Dika mengingatkan. Dia tidak ingin kehidupan rumah tangga hangatnya hancur hanya karena obsesi Tania pada Ayu.
"Seharusnya aku bisa menyeret paksa wanita itu pergi tanpa jejak."
"Tidak Niah. Fikirkan soal anak kita." Tania menghembuskan nafas berat. Hatinya di liputi kekesalan ketika ada seseorang berusaha menyakiti Ayu.
"Kasihan Ayu."
"Hm ya. Dia tidak akan mau tinggal di sana lagi."
"Seharusnya dia meminta bantuan ku. Kemana dia pergi? Apa Samuel bersama nya."
"Aku tidak tahu Niah." Tania menghembuskan nafas berat. Mulai memikirkan bagaimana caranya bisa menemukan Ayu dan memberikannya bantuan.
🌹🌹🌹
Sore menjelang petang. Suasana langit terlihat mendung di iringi angin cukup kencang. Terlihat, Ayu berjalan menyusuri gang sempit menuju ke jalan utama. Dia berniat ke mini market untuk membeli susu formula dan popok untuk Daniel.
Setibanya di sana, Dengan mengendong Daniel, Ayu masuk ke mini market tersebut. Dia mengedarkan pandangannya untuk mencari rak khusus susu. Setelah menemukan, segera saja Ayu berjalan ke sana.
Manik Ayu menatap lemah, ke arah bandrol harga susu. Uang miliknya bahkan tidak cukup untuk membeli satu kaleng susu apalagi popok.
Walaupun begitu, Ayu mengisi keranjang belanjanya dengan satu kaleng susu dan popok. Langkahnya terlihat ragu ketika akan mencapai meja kasir.
"Em maaf Kak. Apa merk susu ini tidak ada yang kaleng kecil?" Tanyanya lirih.
__ADS_1
"Kebetulan habis Kak. Tinggal yang ukuran besar saja." Jawab di pegawai ramah.
"Oh." Aku ganti merk lain saja. Semoga Daniel perutnya tidak sakit.
Ketika Ayu berbalik badan, dia terkejut saat melihat Radit sudah berdiri di belakangnya. Ayu terlalu memikirkan kekhawatirannya sampai-sampai tidak menyadari jika sejak tadi Radit mengikutinya.
"Eh Mas Radit." Sapanya dengan wajah canggung.
"Beli susu untuk Daniel?" Menunjuk ke susu yang ada di tangan Ayu.
"Iya Mas."
"Kenapa tidak langsung di bayar?"
"Terlalu besar. Saya.. Tidak memiliki cukup uang untuk membelinya, jadi mungkin saya ambil merk lain saja."
"Itu bahaya." Segera saja Radit mengambil kaleng susu lalu meletakkannya di meja kasir." Sekalian total belanjaan Nona ini juga." Ujarnya tersenyum. Meletakkan beberapa cemilan miliknya yang sengaja di beli untuk mencari alasan.
"Tidak bahaya Mas. Ti.. Tidak perlu.."
"Perutnya akan sakit Nona. Percaya pada saya." Ayu merogoh sakunya lalu menyodorkan uang dua ratus ribu pada Radit.
"Anggap saja saya berhutang."
"Totalnya 759 ribu Kak." Seakan tidak perduli, Radit menyodorkan kartu ATM untuk melakukan transaksi. Hal itu membuat Ayu berdiri terpaku, menatap Radit dari samping dan kembali mengingat sosok Samuel.
Tidak. Dia sudah berkeluarga. Warna kulitnya juga berbeda.
Manik Ayu beralih pada tangan berotot Radit yang memiliki kulit lebih gelap. Ingin rasanya dia menyentuh kulit itu untuk memastikan tebakannya.
"Maafkan saya Mas. Jadi merepotkan."
"Tetangga harus saling membantu."
"Tolong terima uang ini." Ayu kembali menyodorkan uang miliknya.
"Simpan saja kalau memang Nona tidak memiliki uang." Radit melangkah keluar di ikuti oleh Ayu.
"Anak Mas juga pasti membutuhkan banyak uang. Saya juga tidak mau kalau nantinya Istri Mas marah karena membantu saya." Ucapnya lagi dan lagi.
"Istri saya malah selalu menyuruh saya membantu orang yang membutuhkan. Sudahlah Nona tidak apa."
"Saya tidak mau terjadi salah faham." Radit berhenti begitupun Ayu. Entah kenapa dia tersenyum mendengar celotehan Ayu yang sampai sekarang tidak bisa berhenti saat keinginannya belum terwujud.
"Nona mau langsung pulang. Sepertinya Daniel tidur pulas sekali." Radit mengalihkan pembicaraan seakan tidak ingin Ayu mengungkit bantuan darinya.
"I iya Mas."
"Saya tidak melihat motor Nona." Seraya mengedarkan pandangannya.
"Saya berjalan kaki karena tidak terbiasa membawa Daniel sambil naik motor."
"Motor saya di sana Nona. Mari saya antar."
__ADS_1
"Tidak perlu Mas."
"Sepertinya akan hujan. Daripada nanti Daniel kehujanan." Ayu mendongak ke arah langit yang memang terlihat mendung lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah Daniel.
"Saya merasa tidak enak Mas."
"Tidak enak pada orang sekitar?"
"Bukan. Tapi Istrinya Mas."
"Tidak ada salahnya menolong tetangga."
"Menjaga perasaan saja."
"Istri saya tahu kalau saya tipe lelaki yang setia. Mari Nona." Dengan terpaksa Ayu mengikuti langkah Radit karena bulir gerimis mulai turun." Posisinya salah. Saya takut Nona akan terjatuh." Pinta Radit merasa tidak yakin melihat posisi duduk Ayu dari spion motor.
"Maaf Mas." Segera saja Ayu mengganti posisi boncengannya agar cepat sampai rumah.
"Saya hanya takut Nona terjatuh."
"Memang posisi seperti itu sangat berbahaya."
"Syukurlah kalau Nona memahami."
Motor melaju pelan, menyusuri gang kecil menuju kontrakan. Tidak ada obrolan, sebab Ayu merasa canggung dan lebih memilih diam sementara Radit terdengar bersenandung lirih seakan menikmati perjalanan mereka.
Dua menit kemudian, keduanya sampai di kontrakan bersamaan dengan turunnya hujan. Ayu bersyukur karena tidak harus kehujanan dan mendapatkan bantuan susu meski nantinya dia akan mengganti uang Radit.
"Terimakasih untuk bantuannya Mas."
"Sama-sama."
"Kalau gajian nanti saya ganti uangnya."
"Jangan terlalu di fikirkan. Saya ikhlas."
"Meski begitu nanti saya ganti kalau ada uangnya."
"Hm ya sudah. Sebaiknya kamu masuk. Udaranya sangat dingin."
"Ya Mas. Mari." Setelah tersenyum sejenak, Ayu berjalan masuk dan menutup pintu kontrakannya.
Radit berjalan lemah masuk ke dalam kontrakan. Dia menutup pintu lalu menguncinya. Punggungnya di sandarkan pada sofa lapuk seraya menarik laci dan mengeluarkan botol penghapus makeup.
Kumis tipisnya di lepaskan lalu di letakkan. Tangan kanannya mengusap lembut wajah yang sengaja di hitamkan agar Ayu tidak lagi mengenalinya.
"Sudah ku katakan kalau aku tidak akan membiarkan mu sendiri." Gumamnya menghembuskan nafas berat ketika dia di hadapkan dengan watak keras kepala Ayu." Akan ku lakukan segala cara asalkan kita tidak berjauhan." Samuel sengaja menyamar hanya demi menjaga Ayu dan Daniel.
Samuel sudah kehilangan cara untuk merajuk dan meminta Ayu agar mereka menghadapi Riska bersama-sama. Namun rupanya tekanan batin membuat Ayu memilih pergi. Dia sedang memikirkan cara untuk membawa Ayu kembali ke rumah.
Awalnya Samuel ingin menemui Ayu secara langsung tapi Dimas mencegah. Sehingga langkah seperti ini harus rela Samuel ambil.
Sabar Babe. Aku akan menyingkirkan wanita itu dan mencari bukti bahwa Keano bukanlah anakku. Dengan cara ini juga aku bisa tahu, apa kamu merasakan kalau Radit adalah aku, Suami mu..
__ADS_1
🌹🌹🌹