Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)

Akibat Hasrat Terlarang (Suami untuk Ayunda)
Tentang Dimas


__ADS_3

Tania menyambut keluarnya Dika dengan senyum mengembang. Sementara Farel harus tertunduk lesu karena tuduhan kini mengarah padanya.


Bukti foto CCTV yang Tania berikan, membuat pihak berwajib percaya jika Farel adalah pelakunya. Apalagi beberapa saksi palsu berhasil Tania kumpulan, menguatkan tuduhan tersebut.


"Aku bukan pelakunya Pak! Dia yang sudah merusak wajah Vivian!!" Menunjuk kasar ke arah Dika.


"Sudahlah. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan mu."


"Mari saudara Farel."


Segera saja dua orang polisi membawa Farel ke dalam jeruji sementara Dika berjalan keluar bersama Tania.


"Aku tidak pernah bermimpi menginap di tempat ini!!" Umpat Dika bergegas memasuki mobil.


"Selama ada aku. Semuanya akan beres sayang." Dika menghela nafas panjang dan mulai melajukan mobilnya.


"Aku tidak perlu berterimakasih sebab ini sebenarnya adalah perbuatan mu."


"Aku ikhlas melakukan ini." Jawaban Tania sungguh memuakkan. Kebencian Dika padanya semakin bertambah ketika kegilaan Tania semakin terlihat tidak normal." Em bisa berhenti sebentar Dik." Pinta Tania menunjuk ke restoran yang terletak di kiri jalan.


"Untuk apa?" Jawabnya kasar.


"Sejak kemarin aku ingin makan seafood. Mungkin karena janin ku yang menginginkannya." Sontak Dika membuang nafas kasar. Dia kembali sadar jika Tania sedang mengandung anaknya.


"Jaga pola makan mu agar kau tidak terlihat buruk!" Dengan terpaksa, Dika memarkirkan mobilnya di bahu jalan restoran tersebut.


"Aku sedang hamil dan janinku butuh asupan gizi yang banyak. Mana mungkin aku menjaga pola makan? Tapi aku berjanji akan berdiet ketika anak ini sudah lahir. Tunggu sebentar." Tania turun dari mobil. Dika mengawasinya dari dalam dan baru menyadari soal perubahan wajah Tania.


Ada beberapa ruam merah terbentuk. Itu terlihat buruk sebab dari jarak sejauh ini, ruam merah tersebut sangat terlihat jelas.


"Kenapa wajahnya?" Gumam Dika dengan wajah masam. Beberapa kali tarikan nafas berat berhembus seakan tidak sabar menunggu Tania kembali.


.


.


Lima belas menit kemudian. Tania kembali duduk di sampingnya dengan wajah berseri-seri. Dika sendiri enggan melajukan mobilnya dan malah memutar tubuhnya ke arah Tania.


"Kenapa wajahmu?" Dengan gerakan kasar. Dika mencengkram rahang Tania untuk memeriksa.


"Mungkin bawaan bayi."


"Menjijikkan sekali Niah!" Umpat Dika menghempaskan kasar wajah Tania." Kenapa aku baru tahu!!" Umpatnya tidak terkendali.


"Aku tidak sempat memakai make up karena tidak sabar membebaskan mu."


"Lalu kau pergi dengan keadaan seperti itu? Apa kata orang jika mereka tahu wajah buruk mu." Tania malah terkekeh seakan tidak perduli dengan ucapan tersebut.


"Baik atau buruk, aku tetap Istri mu. Jangan sampai kau mencari kesenangan lain hanya karena perubahan ku ya Dik. Kau harus ingat! Kalau kau berani bermain api, siap-siap saja pasanganmu akan terbakar." Ancam Tania dengan raut wajah serius.

__ADS_1


"Kau tahu apa yang ku sukai kan?"


"Ya."


"Lalu? Untuk apa kamu mengancam?"


"Tapi aku tidak sebodoh dia. Itu bukan ancaman melainkan peraturan. Kau hanya milikku. Milik Tania." Dika mencengkram erat kepalanya seraya sesekali melirik ke arah Tania. Terlihat jelas ruam merah yang ada di sekitar pipi bahkan leher sehingga semakin membuatnya semakin di liputi penyesalan.


Ach!! Kenapa hidupku ini!!


🌹🌹🌹


Setelah memastikan Ayu terlelap. Samuel keluar kamar untuk menemui Dimas yang sejak tadi sudah menunggunya di ruang tamu.


Sesuai permintaan, Dimas mengumpulkan semua biodata tentang Alan dan usaha yang di geluti sekarang.


"Dia memiliki perusahaan kecil di daerah C Tuan." Ujar Dimas menyodorkan sebuah potret dan beberapa data soal Alan.


"Berapa cabang?"


"Hanya satu. Itupun ada di daerah pergudangan. Dia masih menyewa tempat karena usahanya memang baru di rintis." Samuel mengangguk seraya tersenyum tipis. Membaca semua biodata yang berhasil Dimas kumpulkan.


"Tanam saham sebanyak-banyaknya." Pinta Samuel lirih.


"Bukankah itu akan membuatnya semakin sukses Tuan."


"Hm kau benar. Tapi lebih sakit terjatuh ketika kita berada di puncak ketinggian." Dimas manggut-manggut dan sudah tahu tentang maksud perkataan Samuel." Aku ingin membantu usahanya agar cepat membesar agar nantinya aku bisa menghancurkan usaha itu dalam satu kali genggaman ketika dia masih berani mengangumi Istri ku." Ujarnya tersenyum tipis.


"Saya paham Tuan."


"Lakukan dengan cepat."


"Siap Tuan. Saya permisi." Setelah membereskan beberapa lembar kertas dan foto, Dimas pergi meninggalkan kediaman Samuel untuk melakukan semuanya sesuai dengan perintah.


Dimas segera menelfon relasinya tepatnya si pemilik gudang di mana usaha Alan berdiri.


📞📞📞


"Suatu kehormatan Pak Dimas. Apa Pak Dimas sedang membutuhkan gudang tambahan sampai-sampai mau membeli gudang kecil itu?


Tentu saja si pemilik bertanya-tanya tentang permintaan Dimas yang tiba-tiba ingin membeli gudang yang menurutnya sangat kecil dan hanya di peruntukkan bagi perusahaan menengah ke bawah.


"Bapak tidak perlu tahu alasannya. Akan saya bayar dua kali lipat dari harga normal.


"Tapi ada beberapa gudang yang masih di sewa Pak.


"Tidak masalah. Bapak bisa berikan perinciannya setelah pembayaran selesai. Saya akan menunggu sampai waktu sewanya selesai.


"Baik Pak. Saya akan siapkan semuanya.

__ADS_1


"Saya tunggu sampai sore ini.


"Siap Pak.


📞📞📞


Dimas terbiasa bergerak dengan cepat sesuai keinginan Samuel. Dia sudah terlatih untuk patuh karena kedisiplinan yang Samuel terapkan sejak pertama kali dia di angkat sebagai orang kepercayaan.


Urusan pribadinya sering terbengkalai karena waktunya sudah di jual pada Samuel. Tidak ada yang bisa Dimas berikan kecuali baktinya. Samuel sudah memungutnya dari tempat buruk dan memberikan hidup terhormat seperti sekarang.


Apalagi Dimas hidup sebatang kara sehingga semua waktunya di fokuskan untuk urusan perusahaan. Tidak pernah terbesit di hatinya untuk mencari tambatan hati walaupun paras Dimas cukup tampan dengan tinggi badan 175.


Di umurnya yang masih menginjak 24 tahun, sekalipun dirinya tidak pernah tertarik pada sosok wanita manapun. Yang ada di depannya hanya perkerjaan, kepatuhan sebagai bentuk rasa hormatnya pada Samuel.


Sebaiknya aku membeli kopi dulu..


Mobil Dimas berhenti di bahu jalan sebuah Cafe. Dia berniat membeli secangkir kopi untuk menemani perjalanannya.


"Satu, di bungkus." Pintanya dengan wajah datar. Tubuhnya memutar ke arah jalan dan tidak sengaja mendapati Mita baru saja keluar dari salon bersama Alan.


Matanya memicing, menyadari raut wajah keterpaksaan yang di perlihatkan Mita.


Bukankah itu teman Nona Ayu? Kebetulan sekali. Dia bersama Pak Alan.


"Tunggu sebentar. Saya ingin menemui teman saya dan mungkin kopinya tidak jadi di bungkus." Ujarnya pada pelayan.


"Oh baik Kak." Dimas lalu bergegas melangkah keluar menghampiri Alan. Jalan yang cukup sepi memudahkan dia untuk menyebrang sehingga Dimas tiba tepat ketika Alan akan masuk ke dalam mobil." Selamat siang Pak Alan." Sapa Dimas mengulurkan tangannya.


"Saya tidak mengenal anda." Dimas mengambil dompetnya lalu memberikan sebuah kartu nama. Senyum Alan terlihat merekah ketika dia mengira jika Dimas pemilik perusahaan terbesar di kota tersebut." Pak Dimas? Pengusaha sukses itu?" Imbuh Alan sangat bersemangat.


"Astaga. Itu berlebihan. Em saya ingin menawarkan sebuah penawaran bagus. Bisa kita mengobrol di Cafe seberang? Mungkin Pak Alan sedang tidak sibuk?"


"Oh tentu saja. Sebentar." Dimas berjalan mengitari separuh body mobilnya lalu membuka pintu di mana Mita duduk." Kamu naik taksi saja ya." Pinta Alan mengeluarkan dompet dan memberikan satu lembar uang seratus.


"Aku masih punya uang Mas." Jawab Mita lirih. Dia sempat melirik ke arah Dimas dan merasa familiar dengan wajahnya.


"Maaf. Ini mendadak."


"Kita mengobrol bertiga tidak masalah Pak." Sahut Dimas merasa tidak enak ketika dia melihat Alan menyuruh Mita pulang sendirian.


"Tidak Pak. Ini urusan bisnis. Saya takut dia hanya merepotkan." Mita menunduk untuk mengambil tasnya tanpa sepatah katapun. Dia mengambil ponsel lalu segera memesan taksi untuk mengantarkannya pulang.


"Aku pulang." Mita hanya mengangguk sejenak ke arah Dimas dengan senyuman ganjil lalu berjalan menjauhi mobil Alan yang terparkir.


"Ya hati-hati. Em mari Pak Dimas." Alan menutup pintu mobilnya lalu menggiring Dimas untuk menyebrang.


Apa perlu aku membicarakan ini dengan Nona Ayu? Tapi.. Itu bukan tugas yang di berikan Tuan Sam.


Dimas kembali menoleh dan melihat wajah tertekan yang Mita perlihatkan.

__ADS_1


Gadis itu terlihat tertekan. Ahh... Ini bukan urusanku. Aku hanya perlu menanamkan saham sebanyak-banyaknya dan selesai. Jangan pernah ikut campur di luar perintah Dimas. Perkerjaan mu sudah sangat banyak..


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2